Diandra berbaring di ranjang besar kamar itu. Kepalanya terasa berat, seperti baru bangun dari tidur yang terlalu dalam. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat adalah Leon. Pria itu duduk di kursi samping ranjang, tubuhnya tegap, kedua tangan bertaut di depan. Tatapannya datar, sulit dibaca—tidak marah, tidak juga hangat. Seketika ingatan sebelumnya menyerbu. Halaman mansion. Kemal. Ucapan Leon. Dan kalimat itu— dia akan menjadi istriku. Diandra langsung bangkit duduk. Napasnya memburu. Tapi… tunggu. Ia menoleh ke sekeliling kamar. Lampu redup. Selimut menutup tubuhnya dengan rapi. Tidak ada suara keributan. Tidak ada ketegangan seperti yang ia rasakan tadi. Apakah itu hanya mimpi? Ia menatap Leon dengan bingung, mencoba mencari jawaban dari ekspr

