TERLIHAT

1626 Kata
Saat ini sudah hampir sebulan Maura berada di rumah pantai milik Dixie. Maura selalu berpikir bahwa dia tak bisa selamanya bersembunyi seperti ini. Maura harus segera keluar dari rumah ini, dia memutuskan untuk segera menemui pengacara juga keluarganya. Apapun resikonya, Maura harus segera bercerai dengan Ben. Setelah menghubungi saudara dan keluarganya, maka siang ini Maura meminta Lidya untuk menjaga Quinzy sebentar, Maura harus pergi hari ini, tak mau ditunda lagi. Maura berpakaian tertutup, sedikit menutup wajahnya namun tidak mencolok supaya tidak menarik perhatian orang dan pengawal Ben.   "Hati-hati Nyonya,, apa kau yakin ingin pergi sendiri? Bukankah lebih baik meminta tolong pada Nyonya Elsa atau Anna untuk mengantar anda?" Ucap Lidya. "Tidak, mereka juga pasti sedang dalam pengawasan Ben jadi aku tidak bisa mengambil resiko mencelakai mereka. Tolong kau jaga Quinzy dengan baik ya, jika sampai malam nanti aku tidak kembali, baru kau hubungi Elsa dan Anna." Sahut Maura lalu bergegas pergi. "Hati-hati Nyonya." Ucap Lidya dan Maura tersenyum mengangguk keluar dari pintu rumah itu.   Maura berjalan keluar perumahan pantai itu, dan menemukan taxi yang sudah dia pesan tadi dari rumah. Maura sengaja meminta taxi itu untuk menunggu di depan perumahan itu, supaya tidak ada yang mencurigai. Maura pergi ke tempat pengacara pribadinya, dia menceritakan semua tentang perlakuan kasar Ben dan perselingkuhan Ben, segala alasan yang membuatnya saat ini ingin mengajukan proses perceraian dengan Ben.   "Mr. Matheo, kumohon bantulah aku. Aku yakin anda pasti bisa. Hanya anda satu-satunya tempat yang bisa aku percaya. Aku tak ingin terus bersembunyi seperti ini dari Ben, seandainya aku kembali pada Ben, pasti perlakuan kasarnya akan melebihi dari sebelumnya. Kuharap anda bisa mengerti posisiku." Ucap Maura memohon bantuan pengacara pribadinya. "Baiklah Duchess, saya akan membantu anda, dan anda bisa membuat surat kuasa bagi saya sehingga anda tak perlu datang bertemu dengan Duke Benjamin selama proses perceraian ini." Sahut Mr. Matheo.   Mr. Matheo sudah berusia paruh baya, pengalamannya di bidang hukum tak perlu dipertanyakan lagi. Dia adalah pengacara yang selektif, tak mau membantu klien yang jelas melanggar hukum, tapi dia juga mati-matian membela kliennya yang menjadi korban. "Menurut anda apakah proses ini akan berjalan lambat atau cepat?" Tanya Maura. "Kalau memang tak ada yang anda tuntut dari Duke Benjamin, hanya hak asuh putri anda saja, sepertinya akan cepat, tapi kita harus melihat dulu reaksi dari Duke Benjamin. Jika anda bisa mendapatkan bukti perselingkuhan Duke Benjamin, maka saya bisa pastikan bahwa hak asuh akan jatuh ke pihak anda." Sahut Mr. Matheo. "Baiklah, aku akan mengusahakan bukti itu secepatnya dan memberikannya pada anda." Ucap Maura.   Lalu Maura menandatangani surat kuasa untuk memberikan kuasa pada Mr. Matheo kuasa untuk mengurus segala hal perceraiannya. Selesai dengan urusan perceraiannya, Maura lalu melanjutkan untuk menemui keluarganya. Maura kembali naik ke dalam taxi, namun kali ini ada yang mengikuti taxi Maura. "Nyonya, sepertinya mobil yang ada di belakang kita itu selalu mengikuti kita sejak anda naik tadi. Apa anda mengenalinya?" Ucap sopir taxi bertanya pada Maura.   Maura langsung terkejut dan menoleh ke belakang untuk melihat dan mencoba mengenali mobil siapa itu. Maura tak mampu mengenali mobil siapa itu. Maura mulai merasa ketakutan, namun berusaha tetap tenang. Maura segera mengganti tujuannya tidak ke rumah keluarganya, tapi menuju ke pusat perbelanjaan. Maura segera turun dari taxi itu, dan membaur dengan keramaian. Untunglah Maura menemukan tempat yang aman untuknya bersembunyi dan melihat siapa yang mengikutinya.   "Dixie??? Bukankah itu Dixie?! Mengapa dia mengikutiku?" Tanya Maura dalam hatinya saat melihat bahwa Dixie lah yang sedari tadi mengikutinya.   Maura menulis sebuah catatan kecil di kertas, lalu kembali berjalan mendekat ke arah Dixie namun dari arah belakangnya. Maura melewati Dixie sambil menyelipkan catatan kecil itu di tangan Dixie. Dixie terkejut saat ada yang menggenggam tangannya dari belakang, saat dia menoleh, dia melihat Maura berjalan melewatinya. Dixie merasa ada suatu yang diselipkan di tangannya lalu membuka kertas kecil itu, dan tersenyum saat membacanya.   "Mengapa kau mengikutiku? Temui aku di ruang private restaurant Hills,yang ada di lantai 3 ujung pusat perbelanjaan ini. aku akan memesan tempat atas namamu."   Itulah catatan yang Maura berikan pada Dixie. Seketika hati Dixie berbunga-bunga karena akan bertemu dengan Maura. Dixie telah mencoba membujuk Elsa dan Anna supaya diperbolehkan untuk menemui Maura, namun selalu dilarang. Dixie telah merindukan Maura, meskipun dia tahu bahwa itu salah, Maura masih resmi istri orang. Dixie melangkah namun tidak langsung ke restaurant yang Maura maksud, Dixie sengaja mampir ke butik yang menjual bunga segar yang ada di dalam pusat perbelanjaan itu. Setelah membeli sekuntum mawar merah, Dixie segera menuju restaurant yang Maura maksud. Pelayan segera mengantarnya ke ruang private setelah Dixie menyebutkan namanya.   Pintu ruangan private itu terbuka dan Dixie langsung menatap Maura yang duduk menghadap ke arah pintu, dengan banyak sekali makanan yang sudah tersaji di atas meja. "Terima kasih" ucap Dixie pada pelayan itu lalu masuk dan mengunci ruangan itu dari dalam setelah pelayan itu pergi. "Kau yang memesan semua makanan ini?" Sapa Dixie membuka pembicaraan. Maura hanya mengangguk sambil meneruskan makannya. "Duduklah, jangan sungkan untuk ikut makan bersamaku, lagipula aku juga tak mampu menghabiskannya sendiri." Sahut Maura. Dixie menyodorkan bunga mawar yang tadi dia beli kepada Maura. "Untuk wanita cantik yang sedang kelaparan." Ucap Dixie tersenyum dan Maura jadi tertawa mendengar ucapan Dixie. "Terima kasih." Sahut Maura seraya menerima bunga mawar itu. Maura menatap sejenak bunga itu lalu meletakkannya di meja. "Kau tak menyukai mawar merah?" Tanya Dixie melihat respon Maura terhadap bunga yang dibawanya. "Maaf, dulu aku menyukainya, tapi kini mawar merah selalu mengingatkan aku pada suamiku. Dia selalu memberiku mawar merah setiap meminta maaf atas perlakuan kasarnya padaku. Maaf, kalau aku menyinggung perasaanmu, tapi lain kali lebih baik berikan aku bunga Lily.." Sahut Maura menatap Dixie.   Dixie tersenyum mendengar ucapan Maura. "Jadi aku boleh memberimu bunga lagi di lain waktu?" Tanya Dixie yang membuat Maura kikuk bahkan tersedak makanannya. Uhuk!!uhuk!! Uhuk!!! Dixie segera mendekat dan memberikan segelas air pada Maura. Saat Maura hendak menerima gelas itu, tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Dixie, dan itu kembali membuat Maura kikuk sehingga gelas itu terjatuh, namun sempat diraih oleh Dixie kembali, tapi airnya jadi tertumpah membasahi bagian bawah celana panjang Dixie.   "Ach maafkan aku.. uhuk..uhuk...uhuk!" Ucap Maura masih terbatuk-batuk, Dixie segera menyodorkan gelas yang masih berisi setengah itu ke bibir Maura. Maura langsung meminumnya untuk menghentikan rasa tersedaknya. "Terima kasih" ucap Maura setelah batuknya mereda. Maura segera mengambil tissue di meja dan sedikit membungkuk dari duduknya untuk membersihkan air yang membasahi celana Dixie. "Maafkan aku, aku tidak sengaja, tadi aku...ach ceroboh sekali aku ini, maafkan aku Dixie." Ucap Maura sambil terus membersihkan celana Dixie dan beberapa kali mengambil tissue dari atas meja.   Dixie hanya tersenyum melihat Maura sedekat ini dengan dirinya. "Sudahlah, tak apa, hanya bagian bawahnya saja, tidak begitu terlihat." Sahut Dixie meraih tangan Maura, perlahan menariknya supaya Maura berhenti menunduk membersihkan celananya.   Maura mengangkat kepala dan menatap Dixie. Matanya bertemu dengan mata Dixie, Dixie tersenyum dan segera menyadarkan Maura. Wajah Maura terasa memanas pasti sudah merona merah akibat tatapan dan senyum yang Dixie berikan tadi. Maura kembali membenahi posisi duduknya dan menunduk. Dixie masih tetap saja menatapnya dengan tersenyum. Entah apa yang Maura rasakan saat ini karena dia menjadi sangat kikuk berada di dekat Dixie.   "Ehem! Kau makanlah." Ucap Maura masih tak berani menoleh menatap Dixie, hanya kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya. Dixie segera pindah ke tempat duduk yang berhadapan dengan Maura. Dari sini dia lebih puas menatap Maura daripada dari samping. "Ach iya, kenapa kau tadi mengikutiku? Dan kenapa kau tahu kalau aku pergi dari rumah pantai?" Tanya Maura penasaran. "Ach itu tadi, sebenarnya aku sudah mengikutimu sejak dari rumah pantai, tapi mungkin kau tak menyadarinya. Saat aku hendak ke rumah Brandon, aku melihatmu naik masuk ke dalam taxi, jadi kuputuskan untuk mengikutimu." Sahut Dixie seraya mengambil makanan juga dan memakannya. "Kalau boleh aku tahu, mengapa kau ke kantor Mr. Matheo?" Tanya Dixie. "Ach itu tadi aku membuat surat kuasa bagi Mr. Matheo untuk mengurus perceraian ku. Aku tak ingin terus bersembunyi dari Ben. Aku ingin kembali hidup normal, terutama demi pertumbuhan Quinzy." Jawab Maura. "Kau ingin bercerai dengan suamimu?" Tanya Dixie seakan mendapat angin segar terhadap perasaan hatinya. "Iya, aku sudah tak tahan dengan perselingkuhan yang dia lakukan, yang tidak lagi dibelakangku saja, tapi sudah berani dilakukannya di rumah kami." Jawab Maura. "Asalkan aku bisa mendapatkan bukti perselingkuhannya, maka aku bisa dengan mudah mendapat hak asuh atas putriku, aku tak menuntut harta apapun darinya. Tapi jika aku yang terbukti berselingkuh maka hak asuh Quinzy akan jatuh ke tangan Ben. Aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi, maka dari itu maaf bukan aku menolak bantuanmu dan para sahabatmu, tapi aku harus segera pergi dari rumahmu, supaya aku bisa mendapatkan hak asuh Quinzy." Ucap Maura menjelaskan pada Dixie. "Aku akan membantumu mendapatkan bukti perselingkuhannya. Aku kenal baik dengan Kevin dan juga wanita itu, Ellyane namanya. Aku pernah memiliki one night stand dengannya." Ucap Dixie dan mata Maura langsung membelalak terkejut.   Dixie hanya menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, menyadari pengakuannya itu mengejutkan Maura. "Terima kasih Dixie. Tapi sebaiknya kita tidak bertemu lagi setelah ini setidaknya sampai hak asuh Quinzy jatuh padaku, dan aku akan segera keluar dari rumahmu itu besok pagi. Aku akan memberitahu Elsa dan Anna nanti malam." Ucap Maura. "Tapi kau akan tinggal dimana? Bagaimana jika Ben menemukanmu sebelum perceraian kalian resmi?!" Tanya Dixie. "Aku akan tinggal di rumah saudaraku,dia putri sang Mulia Ratu. Disana Ben tak akan berani menyakiti aku juga Quinzy. Aku sudah menghubungi saudaraku itu, dan dia sangat menerimaku." Ucap Maura. "Baiklah, aku akan mengantarmu besok pagi." Sahut Dixie "Jangan! Sudah kukatakan ini pertemuan terakhir kita! aku tak ingin semuanya berbalik menjadi aku yang dituduh berselingkuh dan akhirnya harus kehilangan hak asuh atas putriku. Maafkan aku Dixie." Ucap Maura. "Tapi katamu tadi aku boleh memberimu bunga lily di lain waktu, itu berarti ini bukan pertemuan terakhir kita." Sahut Dixie tersenyum.  Maura menghela napas menyerah, karena kegigihan Dixie. "Baiklah, setidaknya bersabarlah sampai perceraianku selesai dan hak asuh Quinzy jatuh padaku. Kuharap kau bisa mengerti posisiku saat ini." Ucap Maura. "Lalu setelah semua itu selesai, apa yang akan terjadi pada kita?" Tanya Dixie tanpa basa-basi.   Maura menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Dixie, tak tahu harus menjawab apa, Maura hanya menatap Dixie dan Dixie juga menatapnya tersenyum.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN