Hari sudah berganti namun matahari belum waktunya bersinar, beberapa kali Maura terus mencoba menghubungi seseorang, dan akhirnya orang tersebut menerima panggilan telepon Maura.
"Hallo, Mr.Matheo maaf aku mengganggu istirahatmu. Saat ini aku sudah memiliki bukti, dan akan segera aku kirim padamu." Ucap Maura pada pengacaranya.
Maura lalu mengambil gambar wajah dan tubuhnya yang penuh lebam dan luka cambukan dengan menggunakan ponselnya. Lalu segera mengirimkannya pada sang pengacara.
"Mr. Matheo, apakah anda bisa melaporkannya ke kepolisian secepatnya? Dan memberiku perlindungan sebagai korban dan juga saksi?" Tanya Maura setelah mengirim semua gambar bahkan video tentang keadaannya saat ini. Dia tak peduli lagi dengan Ben.
"Sangat bisa Duchess, saya akan melaporkannya saat ini juga dan anda akan segera dijemput dari rumah itu menjelang pagi ini. Sementara jagalah diri anda baik-baik." Sahut Mr. Matheo, lalu sambungan telepon pun segera dimatikan.
Perlahan Maura keluar dari kamar mandi, dia melihat Ben sedang tertidur pulas. Maura segera mengamankan ikat pinggang Ben yang terdapat bercak darahnya, sebagai barang bukti.
Maura segera keluar dari kamar itu perlahan supaya tidak membangunkan Ben. Maura segera berlari ke kamar Quinzy dan menguncinya dari dalam, bersembunyi sampai Mr.Matheo datang bersama para polisi.
"Nyonya, apa yang terjadi pada anda?!" Tanya Lidya yang ternyata masih berada di kamar Quinzy.
"Lidya, kau tidak pulang semalam?" Tanya Maura heran dengan keberadaan Lidya.
"Saya tak berani meninggalkan Quinzy sendirian Nyonya. Saya mendengar Tuan berteriak pada Nyonya, pasti terjadi masalah lagi. Saya memutuskan untuk menjaga Quinzy disini." Sahut Lidya.
Maura sangat bersyukur dan berterima kasih atas loyalitas dan pengertian Lidya. Lidya sangat bisa dipercaya menjaga Quinzy.
"MAURA!!! MAURA!!! DIMANA KAU?!!!" terdengar teriakan Ben yang keluar dari kamar dengan membanting pintu.
Maura sangat ketakutan, tapi dia juga takut jika Ben akan melukai Quinzy. Maura akhirnya memutuskan untuk keluar, meski awalnya Lidya menahannya, tapi Maura tetap membuka pintu kamar Quinzy dan keluar dari sana, sambil terus berdoa bahwa Mr.Matheo bisa secepatnya datang.
"Aku disini Ben." Sahut Maura menunduk sambil melangkah mendekati Ben. Ben tampak tersenyum lega melihat Maura tidak kabur lagi darinya.
"Kupikir kau pergi lagi dariku, Maura." Ucap Ben lalu hendak memeluk Maura tapi Maura menghindarinya.
"Tubuhku masih terasa perih jika tersentuh Ben, maafkan aku." Ucap Maura.
Ben akhirnya meraih tangan Maura, Maura juga meringis karena pergelangan tangannya juga perih akibat ikatan yang Ben lakukan padanya.
Ben menangis berlutut dihadapan Maura.
"Maafkan aku Maura, aku sangat emosi, aku marah, aku takut kehilanganmu Maura. Kumohon jangan tinggalkan aku Maura. Aku mati tanpamu Maura." Ucap Ben menunduk mencium kedua tangan Maura.
Maura hanya menatap kosong ke arah Ben, tak tahu harus bersikap apa.
"Maura, apa kau tahu Dixie itu seorang mafia senjata terbesar di pasar gelap? Dia tidak lebih baik dariku Maura. Kau tahu kehidupan dunia gelap sangat dominan dengan para wanita jalang dan mabuk. Dia tidak pantas untukmu Maura." Ucap Ben lagi berusaha membujuk Maura.
Tapi bagi Maura saat ini bukan Dixie yang terpenting. Keselamatan Quinzy dan dirinyalah yang terpenting. Maura tetap ingin keluar dari rumah ini dan menjauh dari Ben, demi menyelamatkan Quinzy. Maura tak bergeming dengan segala ucapan Ben, dia tetap mematung tak berkomentar apapun.
Tak lama terdengar sirine mobil polisi yang masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Ben segera berdiri dan terkejut dengan kedatangan para polisi. Ben segera berlari ke pintu utama dan membuka pintu untuk mengetahui apa maksud kedatangan mereka. Maura segera ke kamar Quinzy untuk mengambil Quinzy, menggendongnya demi melindunginya dari apapun kemungkinan yang akan terjadi, Lidya mengikuti langkah Maura dari belakang.
Ben melihat dari jendela bahwa ada dua orang polisi sedang berdebat dengan kevin dan para pengawal Ben lainnya. Dua orang polisi segera memberi hormat saat Ben membukakan pintu bagi mereka.
"Good morning Duke Benjamin. Berdasarkan surat perintah penangkapan atas diri anda, dimohon anda bisa ikut bersama kami ke kantor." Ucap polisi itu.
"What's?!!! Apa saya tidak salah dengar? Surat penangkapan atas diri saya?! Apa yang sudah saya lakukan?!" Bentak Ben pada polisi itu.
Mr.Matheo entah kapan hadir disana, akhirnya melangkah maju melewati kedua polisi tadi dan berdiri berhadapan dengan Ben.
"Berdasarkan laporan istri anda, atas tindak kekerasan yang sudah anda perbuat padanya." Ucap Mr. Matheo tanpa rasa takut.
Kedua polisi itu segera memborgol Ben meski Ben sedikit meronta menolak untuk dibawa, namun pada akhirnya dia hanya bisa mengikuti kedua polisi itu, sedangkan Kevin dan pengawal lainnya hanya memilih untuk minggir.
"Aku butuh pengacaraku!" Bentak Ben.
"Anda bisa menghubunginya saat di kantor polisi." Sahut salah satu polisi yang membawanya masuk ke dalam mobil polisi.
Saat Ben sudah pergi dengan mobil polisi itu, Mr. Matheo segera masuk ke dalam mencari Maura.
"Duchess, mari ikut saya. Apakah anda sudah berkemas?" Tanya Mr.Matheo saat melihat Maura yang berdiri di tangga sambil menggendong putrinya dengan raut wajah ketakutan bersama Lidya disampingnya.
"Apakah Ben sudah dibawa pergi?" Tanya Maura balik sebelum menjawab Mr.Matheo.
"Sudah Duchess, anda sudah aman untuk keluar dari tempat ini. Mari ikut saya, anda akan tinggal di rumah perlindungan korban dan saksi. Disana sudah tersedia pengawalan yang sangat ketat." Ucap Matheo.
"Mr. Matheo, bisakah anda membawa saya dan Quinzy ke tempat Princess Anggy saja? Saya takut Ben dan para pengawalnya akan menyerbu ke rumah perlindungan." Tanya Maura.
"Baiklah Duchess, saya akan mengantar anda kesana." Sahut Matheo.
"Terima kasih Mr. Matheo." Ucap Maura lalu melangkah keluar dari rumah itu bersama Mr. Matheo dan juga Lidya.
Kevin dan pengawal lainnya menghentikan langkah Maura dan Mr. Matheo.
"Maaf Duchess, anda dilarang keluar dari rumah ini. Itu perintah Duke Benjamin pada kami." Ucap Kevin pada Maura.
"Kevin, kumohon biarkan kami pergi." Ucap Maura.
"Kalian sebaiknya tidak menghalangi kami, atau kalian juga akan ikut terseret ke penjara bersama Tuan kalian." Ucap Matheo pada Kevin.
Kevin dan pengawal lainnya akhirnya minggir membiarkan Maura pergi bersama Quinzy, Lidya dan Mr. Matheo.
***
Anggy sangat terkejut melihat keadaan Maura, dia segera menggendong Quinzy dan mengajak Maura juga Lidya masuk ke dalam. Mr. Matheo segera pamit undur diri dan akan datang nanti siang guna mengurus kelanjutan perkara Maura.
"Apa yang terjadi? Mengapa Ben melakukan ini lagi padamu? Parah sekali keadaanmu. Aku akan memanggil dr. Leonard untuk memeriksa dan mengobatimu." Ucap Anggy.
"Entahlah, ada pengawal Ben mungkin yang mengambil gambar saat Dixie di seberang restaurant kemarin sore." Sahut Maura.
"Huh!...dasar Ben bastard!!! Aku akan melarang Ben untuk bisa masuk ke rumah ini, bahkan ke dalam halaman pun tidak akan kuijinkan!" Ucap Anggy sangat geram dan marah.
"Kau beristirahatlah dulu, sambil menunggu dr. Leonard datang kemari. Aku tahu kau semalam pasti tidak tidur. Aku akan bicara dengan mommy nanti saat sarapan. Mommy harus bisa tegas terhadap Ben." Anggy masih terus menggeram dan emosi melihat keadaan Maura.
"Lidya, antar Maura segera beristirahat, begitu juga denganmu dan Quinzy" perintah Anggy dan Lidya mengangguk.
Lidya mengambil Quinzy dari gendongan Anggy lalu mengajak Maura untuk masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Anggy. dr.Leonard tiba dan langsung memeriksa dan mengobati luka ditubuh Maura.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Anggy.
"Sudah saya obati semua lukanya, tapi akan ada beberapa bekas luka yang sulit hilang meski sudah sembuh, saya sudah memberinya antibiotik supaya tidak infeksi dan juga vitamin. " Ucap dr. Leonard.
"Baiklah, terima kasih dokter." Ucap princess Anggy dan dokter itupun melangkah keluar dari mansion Anggy.
"Tak apa hanya bekas luka, aku yakin Dixie masih bisa menerimamu." Ucap Anggy menggoda Maura.
" Anggy, Ben sudah menyelidiki siapa Dixie. Menurut Ben, Dixie adalah seorang mafia besar di pasar gelap, hidupnya tak jauh dari para jalang dan juga mabuk. Apakah kau sudah menyelidiki Dixie juga?" Tanya Maura.
"Hari ini aku akan mendapatkan beritanya, kemungkinan siang atau sore, kemarin aku segera meminta seorang detektif untuk menyelidikinya." Sahut Anggy. Maura tersenyum
Entahlah siapa sosok Dixie sebenarnya, Maura hanya tahu dia sosok yang sangat melindungi dan menghargai wanita. Maura menghela napas dengan berat, tak berani berharap banyak pada sosok Dixie.
***
Berita penangkapan Ben sudah tersebar di penjuru negeri bahkan dunia, kini semua orang tahu bahwa Ben adalah sosok yang suka melakukan kekerasan kepada istrinya. Maura juga banyak dihubungi oleh para pencari berita, namun dia menolaknya. Tak akan pernah ada konferensi pers sampai proses perceraian selesai dikabulkan.
Saat ini Maura sedang menatap bingung pada seikat bunga Lily yang sengaja dikirim untuknya ke mansion Anggy tanpa kartu, namun siapa pengirimnya dia tak tahu.
"Siapa pengirimnya?" Tanya Maura dalam hati.
"Hai Maura, bunga Lily lagi?" Sapa Anggy yang baru saja masuk ke ruang tengah melihat Maura menatap bunga Lily yang sudah seminggu ini selalu datang setiap hari untuk Maura tanpa kartu.
"hmm...entahlah siapa pengirimnya." Jawab maura mengedikkan bahunya.
"Secret admire huh?!" Tanya Anggy lagi. Maura hanya mengedikkan bahunya lagi.
"Ada kabar tentang kasus Ben? Bagaimana proses perceraianmu?" Tanya Anggy.
Maura menghela napas lalu berjalan ke sofa dan duduk, diikuti oleh Anggy.
"hhh...huuhh.! Ben sudah bebas dengan syarat dan juga jaminan dari keluarga dan pengacaranya. Ben hanya dijatuhi hukuman dengan hidup dalam pengawasan selama dua tahun tidak boleh ada tindakan kejahatan apapun selama waktu pengawasan itu. Perceraianku masih minggu depan baru diputuskan. Entahlah, semoga keputusan yang terbaik." Sahut Maura menghela napas lemah.
Anggy hanya mengelus punggung Maura, memberi dukungan dan kekuatan pada saudara sekaligus sahabatnya.
"Bagaimana dengan pria bernama Dixie? Apa dia masih mengejarmu? atau sudah menyerah dengan Ben?" Tanya Anggy tersenyum menggoda.
"Sejak saat itu tak ada kabar lagi darinya bahkan aku juga tak pernah bertemu dengannya dimanapun. hhh....huuuuhhhh! Lagipula sesuai informasi yang kau dapatkan bahwa dia seorang mafia senjata di pasar gelap, rasanya hidupku akan kembali sulit." Ucap Maura seolah membangun dirinya dengan sebuah tembok besar terhadap Dixie.
"Jadi siapa menurutmu pengirim bunga Lily itu?" Tanya Anggy menatap ke arah bunga Lily itu diletakkan oleh Maura dalam sebuah vas.
"Aku tak tahu, aku tak pernah bergaul dengan banyak orang." Jawab Maura juga ikut menatap ke arah bunga Lily yang selalu datang setiap pagi untuk Maura.
****
Dixie terlihat frustasi mendengar kabar Ben sudah bebas dari penjara. Dia mulai khawatir dengan keadaan Maura, setelah seminggu ini dia merasa tenang karena Ben berada di penjara yang brarti dia tak akan bisa menyakiti Maura. Hati Dixie sesungguhnya bagai terasa diremas kencang saat melihat di berita bagaimana foto-foto Maura dengan bekas lebam bahkan luka cambukan. Namun dia harus tetap menahan dirinya sesuai dengan janjinya pada Maura. Dixie akan menunggu hingga Maura bercerai. Rencana yang sudah dia susun bersama para sahabatnya pada malam pertemuan mereka, juga mengharuskan Dixie harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan Maura, bahkan tidak menghubungi Maura meski hanya pesan chat.
Drrttt....drrtt..
Ponsel Dixie berbunyi dan tertulis Brandon calling.
"Hai sobat"
"Dixie, aku ada di rumah sakit, Anna akan segera melahirkan, jika kau tidak sibuk datanglah kemari."
"Baiklah, aku akan segera kesana, apakah Xander dan Elsa sudah mengetahuinya? Apa kau sudah mengabari orang di rumah pantai?"
"Aku sudah mengabari mereka semua, Pete sedang menjemput Elisa dan anak lainnya dari rumah pantai."
"Baiklah, aku berangkat sekarang."
Dixie segera mengambil jas dan melangkah meninggalkan ruangan kerjanya, segera menuju ke mobilnya yang selalu siap di lobby bersama Ken, sopir pribadinya itu. Saat Dixie baru saja masuk ke dalam mobil dan Ken menutup pintu baginya, Dixie melihat sosok Maura yang berjalan masuk ke dalam sebuah cafe yang ada di deretan diseberang kantornya bersama princess Anggy. Sesaat Dixie ingin segera turun keluar dari mobil untuk mengejar dan menyapa Maura, namun dia harus menahan dirinya saat ini atau segala rencana yang telah disusun akan berantakan. Akhirnya Dixie tetap pergi menuju rumah sakit.
****
Anna sudah melahirkan seorang putri cantik dengan sehat dan sempurna, terlihat raut bahagia di wajah Brandon, tak hentinya Brandon terus mencium Anna dan juga putrinya itu bergantian.
"Apakah ciumanmu itu tak akan pernah selesai huh?!" Protes Dixie kesal melihat keromantisan sahabatnya, sedangkan Xander juga sedang merangkul Elsa di sofa dengan putranya yang berjalan-jalan lucu di sekitar mereka.
Spontan protes Dixie itu menimbulkan riuh tawa di seluruh ruang perawatan Anna.
"Salahmu sendiri! Mengejar wanita yang sulit." Sahut Brandon tak kalah sambil tertawa.
"Aarghh!! selalu saja seperti ini!" Keluh Dixie kesal.
"Tenanglah, sebentar lagi juga kau akan tersenyum bahkan mengabaikan kami semua." Ucap Anna sambil tersenyum bermain mata dengan Elsa.
"Iya, kita tunggu saja sebentar lagi juga akan ada yang melupakan kita semua." Sahut Elsa juga tersenyum penuh arti.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu diketok dari luar.
Tok! Tok!
Suara pintu diketuk dari luar.
"Bukalah Dixie, kau pasti akan tersenyum." Elsa menyuruh Dixie untuk membuka pintu.
"Kenapa harus aku?! Kau lebih dekat dengan pintu itu!" Protes Dixie enggan membuka pintu.
"Aku tak ingin meninggalkan suamiku yang masih memelukku ini. Ayolah buka pintunya, kau pasti akan tersenyum." Sahut Elsa tersenyum sambil memeluk pinggang Xander disampingnya.
Dixie akhirnya melangkah menuju pintu dengan langkah berat, membuka pintu itu dan terkejut namun segera tersenyum saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu itu.