Lisa menghembuskan napas panjang saat ia telah berada di depan ruang kelas. Matanya menyipit menuju meja guru. Jantungnya mendadak sedikit bergetar saat melihat Bu Ariska telah duduk manis menghadap layar laptopnya.
"Assalamualaikum," ucap Lisa dengan mengetuk pintu sebanyak dua kali.
Bu Ariska menghela napas berat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Beliau lantas memutar kedua bola matanya jengah dan kembali menatap layar laptop. Dengan berat hati guru itu menjawab salam dari Lisa.
"Waalaikumsalam, masuk!” perintah Bu Ariska dengan sangat malas.
“Kebiasaan sekali datang telat! Sekarang, alasan apa lagi kamu?" tanya Bu Ariska yang tak lepas dari layar laptopnya.
Lisa menempatkan diri pada tempat duduknya seraya berpikir. "Itu, Bu ...."
"Sudah! Jangan banyak alasan! Saya sudah kebal dengan semua alasan kamu!" tegas Bu Ariska yang kini menyorot Lisa dengan tatapan tajam.
Lisa tersenyum kecut mendengar penuturan gurunya itu. Seperti biasa, ia mengeluarkan sebuah buku tipis yang berada di dalam tas untuk dijadikan sebagai kipas dadakan.
"Baiklah, saya akan mengumumkan Nilai tertinggi dan terendah pada ujian kemarin," kata Bu Ariska dengan memencet tombol yang berada di keyboard laptop.
Wajah Lisa langsung berseri-seri saat mendengar penuturan Bu Ariska. Ia bahkan menghentikan gerakan mengipasnya. Terdengar helaan napas panjang yang keluar dari kedua lubang hidung orang yang berada di depan kelas. Hal itu membuat Lisa semakin bersemangat mendengar namanya disebut.
"Sebenarnya, saya sangat terkejut melihat nama ini! Seperti ... impossible!" Bu Ariska terdiam sejenak untuk mengambil napas, kemudia beliau bersuara, "Selamat untuk Lisa Maherendra, kamu mendapat nilai sembilan puluh dua. Wow, hebat sekali," ujar Bu Ariska dengan nada yang sangat datar.
Hening.
Semua murid yang berada di dalam kelas langsung melongo mendengar nama yang tidak mungkin itu tersebut. Begitu pula dengan Salsa yang tengah menatap Lisa dengan mulut yang menganga lebar. Ia benar-benar speechless dengan apa yang barusan ia dengar.
"Lis ... gue gak lagi mimpi, kan?" kata Salsa tidak percaya.
Plak
"Aww ... sakit, sia*lan!" ringis Salsa dengan mengusap lengannya yang memanas akibat pukulan Lisa yang sangat keras.
"Gak mimpi, kan?" Lisa dengan tersenyum bangga. Walaupun dari dasar hatinya, dia tidak ada bangga-bangganya dalam meraih nilai tersebut.
Salsa terdiam beberapa saat. Ini benar-benar di luar penalarannya. "Ini gak mungkin, Lis!" Salsa berucap sangat yakin.
"Sembarangan! Gini-gini gue pintar, kali!" Lisa mengibaskan rambutnya yang panjang dengan pongah. Membuat Salsa gemas untuk menjambak rambut gadis itu.
"Dan nilai terendah diraih Salsa, dengan jumlah tiga puluh lima," lanjut Bu Ariska seraya menutup layar laptopnya.
Salsa yang mendengar namanya tersebut dengan nilai terendah semakin mengerucutkan bibirnya kesal. Karena biasanya, Lisa lah yang selalu berada di posisi itu, dan sekarang ...? Lisa langsung tertawa terbahak-bahak dengan mengusap punggungnya seolah tengah memberikan sebuah kekuatan batin.
"Gila! Kiamat sudah dekat, Lis!" ucap Salsa menolehkan pandang ke arah Lisa dengan keringat dingin yang membasahi kedua telapak tangannya.
"Sembarangan lo!" Kedua bola mata Lisa memutar dengan malas.
Beberapa menit kemudian, bel sekolah mulai berdendang, membuat sebagian murid mulai berhamburan. Hanya beberapa siswi yang setia duduk di kursinya untuk mengerjakan tugas, bermain ponsel atau memilih untuk tidur.
"Sal, ke kantin, yuk! Laper banget gue," ujar Lisa seusai memasukkan laptop ke dalam loker meja.
"Yuk! Gue juga mendadak laper!" Orang yang dipanggil namanya menyahut dan beranjak dari duduknya.
Di sepanjang koridor, dahi Salsa tampak berlipat-lipat. Sangat kentara jika anak itu kini mencoba berpikir keras. Anak itu menoleh ke samping, menatap Lisa dengan penuh curiga dan bertanya, "Eh, Lis, gue masih bingung, kok ... lo bisa dapet nilai sembilan? Lo ngapain di kamar mandi kemarin? Panggil setan ya!” picing Salsa penuh kecurigaan.
Sepasang mata Lisa langsung membulat setelah mendengar pertanyaan yang justru terdengar seperti tuduhan. Ia pun menjawab sinis, namun sorot matanya terlihat sedikit gugup. "Enak aja kalau ngomong! Nanti dah gua ceritain, lagi sariawan males ngomong!”
Salsa berdecak kesal. Terlebih saat melihat kantin yang telah penuh oleh orang-orang kelaparan. “Rame, Lis.”
Lisa memajukan bibirnya beberapa senti. Matanya kini menyapu ke seluruh ruangan dan terhenti di pojokan kantin.
"Kita duduk di sana!" ucap Lisa seraya menunjuk tempat yang ia maksud. Salsa mengikuti arah tunjuk Lisa. Detik itu juga dia kembali berdecak sangat kesal.
"Maksud lo di pojok sana?" timpal Salsa yang juga menunjuk tempat itu. Anggukan mantap Lisa berikan kepada dirinya.
"Gak ada tempat lain, apa?" sahut Salsa dengan rengekan kecil.
Lisa menghembuskan napas kasar dengan memutar kedua bola matanya malas. "Lo mau makan sambil berdiri? Kalau lo mau yaudah! Gue sih, ogah!" jawab Lisa dan berlalu pergi meninggalkan Salsa.
"Eh, Lis, tunggu ...!”
Salsa dengan amat terpaksa melekatkan bokongnya pada kursi yang berada di pojokkan kantin. Sejujurnya, ini spot yang paling ia benci. Pasalnya, tempat itu seperti tak dianggap dan terlupakan. Karena letaknya berada di balik sebuah pilar dengan meja dan kursinya yang mulai sedikit peyok. Hawanya juga berbeda dan sedikit pengap. Itu sebabnya tempat itu jarang sekali digunakan, seperti jika kehabisan tempat duduk.
"Lo mau makan apa, Sal?" tawar Lisa kepada sahabatnya yang dari tadi menggerutu tidak jelas.
"Makan teman ada?" lontar Salsa yang terlihat sangat kesal.
"Gue serius!" tajam Lisa yang terikut emosi.
"Terserah lo aja deh, Lis!" jawab Salsa lesu dengan bertompang dagu. Lisa memutar kedua matanya, kemudian bangkit dari sana untuk memesan makanan.
Beberapa menit kemudian, Lisa telah siap membawa nampan berisi dua mangkuk mi ayam dan dua gelas es jeruk peras segar.
"Mi, lagi? Gila, gue tiga hari berturut-turut makan mi terus!” cibir Salsa saat Lisa memindahkan benda yang berada di atas nampan ke atas meja.
"Cerewet banget, sih! Tadi katanya terserah? Kalau lo gak mau yaudah buat buat gue aja semua." Lisa langsung menarik dua mangkuk mi itu dengan kesal.
"Enak aja!" teriak Salsa dengan mata melotot, "Gue juga laper!" Salsa menyeret salah satu mangkuk untuk ia santap, walaupun dengan sedikit terpaksa.
Ketika Lisa sedang enak-enaknya menyantap makanan panas dan gurih itu, sepasang matanya tidak sengaja menangkap sosok laki-laki tampan yang tengah bermain basket di tengah lapangan, persis pada tempatnya kini berada. Saat itu juga, jantung Lisa berdetak aneh. Dia bahkan tidak sadar jika sudah menahan napas Darahnya dingin di belakang kepala. Pipinya pun menghangat. Kini, mata bulatnya terpaku tanpa kedip. Astaga! Lisa seolah baru mengetahui ada laki-laki itu di sekolahnya.
Tanpa Lisa sadari, dirinya mulai senyum-senyum tidak jelas. Membuat gadis di hadapannya kontan mengernyitkan dahi heran melihat kelakuan temannya itu. Dan dengan refleks implus manusia, Salsa turut mengikuti arah pandang Lisa. Detik itu juga, helaan naaps kasar keluar dari lubang hidungnya.
"Lis, ngapain lo lihat Kak Arkan kayak habis gajian gitu?"
Hening.
Salsa berdecak kesal karena ucapannya hanya dianggap sebagai angin lalu. Dia pun dengan gemas meinggikan suaranya untuk menyadarkan gadis itu.
"LIS!" Dan satu teriakan kencang itu membuat banyak kepala menoleh kaget ke arah mejanya.
Eh, iya-apa, Sal?" ujar Lisa yang sedikit gelagapan.
"Lo ngapain lihatin Kak Arkan kayak kucing kelaperan?" tanya Salsa mengulangi pertanyaannya tadi.
Sepasang mata Lisa kontan membulat sempurna. Hingga mata bulatnya itu seolah hendak menggelinding dari tempatnya.
"Eh, lo kenal dia?" tanya Lisa mendadak semangat. Bahkan sendok dan garpu di tangannya ia genggam erat-erat sampai menampakkan otot-otot yang menyembul dari dalam kulitnya.
"Enggak sih, cuman tahu namanya doang. Dia kakak kelas gue pas SMP," jelas Salsa seusai meneguk habis es jeruk di hadapannya.
Lisa membentuk mulutnya menjadi bulat seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Saat Lisa sedang nyaman-nyamannya memperhatikan cowok bernama Arkan, tiba-tiba saja suara berat dari orang yang sangat ia kenali membuyarkan lamunannya. Seketika itu, Lisa langsung menatap sengit segerombolan cowok yang tengah bernyanyi-nyanyi sumbang dengan berjalan mendekat ke arah kantin ini.
Dan dengan seenak jidat, gerombolan itu mengusir para manusia berseragam putih abu-abu di salah satu meja kantin untuk mereka duduk. Dan anehnya, para wanita yang mereka usir, bukannya marah, malah tersenyum senang dan rela berdiri dari tempatnya. Semua kepala nyaris mengarahkan pandang pada enam orang laki-laki dengan julukan geng petir yang semua personilnya sangat good looking.
Nama-nama orang yang tergabung dalam geng tersebut diantaranya ada, Dino, Dani, Gensa, Ardi, Gagas dan Rezha. Awal mula mereka bertemu ialah, ketidak sengajaan dikumpulkan dalam satu kelas. Dan lima diantaranya pemain basket yang sangat populer di sekolah, sedangkan Gensa, ialah penyanyi solo band dengan jumlah followers terbanyak diantara yang lainnya. Dan label petir ini, terbentuk oleh para siswi yang tergila-gila oleh mereka. Katanya, keenam laki-laki tersebut seolah mampu menyetrum tubuh mereka hingga ke tulang-tulangnya. Sangat tidak jelas memang.
"Kamu adalah bukti, dari cantiknya paras dan hati, kau jadi harmoni saat ku bernyanyi, tentang terang dan gelapnya hidup ini ...," lantun Gensa bernyanyi lagu Bukti dari Virgoun dengan empuknya. Sontak saja seluruh teman-temannya langsung menyambung lagu itu.
Dan seketika, suasana kantin langsung heboh menyoraki keenam lelaki tampan yang memang dieluh-eluhkan di sekolah. Terutama kaum hawa yang terus senyam-senyum sendiri, seolah lagu itu ditujukan untuk mereka.
Semua tampak terhibur dengan nyanyian tersebut. Bahkan Ibu dan Bapak Kantin juga turut menyanyikan lagu itu. Akan tetapi tidak dengan Lisa Maherendra. Darah Lisa langsung mendidih hingga ke ubun-ubun. Kepalanya terasa sangat pening. Dia melotot, berdiri dari tempatnya dengan kedua tangan yang terkepal kuat di sebelah rok seragam.
Brak ...!!
Dobrakan keras dari tangan yang menghantap meja langsung membuat pusat perhatian dari semua orang. Bahkan, keenam laki-laki itu kontan menghentikan nyanyiannya.
"BERISIK ...!!!" teriak Lisa dengan napas yang naik turun.
Semua orang yang berada di dalam kantin langsung menutup erat telinga mereka saat merasakan serangan berupa dengung tajam yang menusuk gendang telinga. Bahkan, banyak siswa yang berada di lapangan basket juga mengarahkan pandang menuju kantin dengan sedikit kaget mendengar intonasi suara Lisa yang sudah mirip dengan toa masjid.
Geng Petir langsung tertawa keras mendengar aduan Lisa. Terutama Rezha yang tertawa hingga terpingkal-pingkal.
"GAK LUCU!" bentak Lisa dengan sorotan tajam. Sementara banyak siswa kini menatapnya dengan sorot tidak suka. Mereka bahkan merutuki gadis itu yang sialnya adik kandung dari Rezha. Sehingga mereka tidak bisa membencinya. Lisa memang kerap menjadi pengacau suasana.
"Emang, gue peduli?" balas Rezha dengan menyeka sudut matanya akibat tertawa yang begitu keras. Amukan dari adiknya memang menjadi penghibur tersendiri untuknya.
Lisa mengangkat kedua tangannya dan meremas jemarinya di udara. Amarahnya kini telah sampai hingga ke ubun-ubun. Napasnya pun mulai memburu menatap cowok menyebalkan yang berada di seberangnya itu.
"Perdebatan antara kakak dan adik mulai memanas, Bung!" kata Gagas bak penyiar bola sebagai pemandu jalannya acara.
Beberapa detik setelah Gagas berucap demikian, suara keras berbunyi Buk! langsung menyihir semua orang untuk terdiam dengan mulut yang menganga lebar.
"KAM*PRET!!" aduh Gagas dengan mengusap dahinya yang mungkin bewarna merah merona dan benjol kecil.
Selang beberapa detik kemudian, semua orang yang berada di sana kembali tertawa dengan sangat keras. Begitu pula dengan Lisa yang menyeringai penuh kemenangan. Lemparan sepatunya mendarat tepat pada sasaran.
Dan asal kalian tahu, selain suara toa yang Lisa miliki, ia juga mempunyai bakat terpendam. Yaitu, lemparan yang selalu tepat sasaran. Kecuali dalam lemparan perasaan.
"Mampus, lo!" Lisa meledek seraya menyilangkan tangannya di bawah dadaa dengan angkuh. Sementara sang korban hanya bisa menekuk wajahnya dengan terus mengusap dahinya yang mulai terasa perih.
"Sal, cepetan ambil sepatu gue!" perintah Lisa kepada Salsa dengan tegas. Entah ada angin apa sehingga Salsa menuruti perintah Lisa. Salsa pun memungut sepatu hitam itu dan menyerahkannya kepada teman sebangkunya.
"Ayo, Sal!" ajak Lisa seusai mengikat sepatu dan berlalu meninggalkan kantin. Meninggalkan banyak pasang mata yang terus menyorot kepergiannya.
Salsa yang masih terlihat sedikit linglung di tempatnya kini mengangguk kecil dan mengikuti langkah Lisa yang mulai menjauh. Dia begitu terkejut melihat kelakuan barbar temannya yang tidak pernah berubah.
"Gila! Adik, lo ganas juga, ya!" protes Gagas yang masih setia mengusap dahinya.
"Biasalah, emang si Cumi!" jawab Rezha sedikit tergelitik melihat raut wajah Gagas yang tersiksa.
"Gak habis pikir gue sama adek lo! Selain judes dia juga--"
"Bang*ke!" umpat Rezha tiba-tiba saat merasakan sebuah benda keras menghantam kepala belakangnya.
Semua orang yang berada di tempat itu kembali tertawa keras saat batu berukuran sedang menggelinding dari punggung Rezha. Laki-laki dengan cepat membalikkan tubuhnya untuk membalas melempar orang yang berani menimpuknya seperti ini. Namun ia telah terlambat, karena Lisa sudah pergi menjauh tanpa dosa.
"Ngapain kalian semua ketawa? Gak lucu!" gertak Rezha melotot menahan kesal luar biasa pada adiknya itu.
Hening sejenak di antara mereka kala melihat sang pentolan mengamuk. Namun, seperdetik berikutnya, kantin kembali ramai karena suara tawa yang justru kian membumbung tinggi, menertawakan nasib sial sang idola sekolah yang kini sama-sama kesakitan dengan mengusap-usap bekas timpukan Lisa.