Malam semakin larut. Bahkan suara binatang malam terus bersautn di luar sana. Namun, semua remaja di kediaman Maherendra masih terjaga. Seolah tidak ada kantuk yang menyergap di sepasang mata mereka. "Sal ... Sorry ya udah buat lo kurang nyaman." Gagas menahan napas melihat gadis di hadapannya yang kini menunduk. Dia menatap kedua tangan Salsa yang meremas-remas di sisi pakaiannya. "Eng-enggak apa-apa kok, Kak." Gadis itu menjawab lirih. Terdengar sekali jika dia sedang gugup. Gagas tersenyum karena itu. Jeda dalam beberapa saat. Merasakan dinginnya angin malam yang menembus masuk ke dalam pori-pori. "Kok nunduk terus. Aku panggil kamu ke sini cuma mau lihat kamu loh." Gagas mulai menggoda. Membuat Salsa semakin tidak keruan. Detak jantung anak itu berdebar gila. Salsa benar-benar meru

