Bertindak Seolah tidak Terjadi apa-apa

963 Kata
Bab 4: Seketika, wajah Laura berubah kelabu, senyumnya pudar, dan matanya kembali menunjukkan rasa sakit yang ia coba redam. Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya yang kini ia mainkan gelisah di pangkuannya, seakan mencari kekuatan di dalam dirinya untuk mengungkapkan kebenaran pahit yang ingin ia sampaikan. “Semalam…” Laura menarik napas panjang, suaranya sedikit bergetar. “Ada salah satu pengunjung hotel yang menyeret saya ke dalam kamarnya. Dia mengira saya adalah wanita panggilan… lalu memperkosa saya.” Vincent membeku di kursinya, wajahnya tiba-tiba memucat seakan baru saja diterpa angin badai yang menderu. “Apa?” Suaranya terdengar kasar, penuh dengan amarah yang berusaha ia redam. “Siapa pria yang berani menodai pegawaiku? Kurang ajar!” tinjunya mengepal, menggigil dalam marah. “Kau masih ingat wajahnya, Laura? Aku akan mencarinya sampai dapat! Aku bersumpah!” Laura mengangguk pelan, rasa lega muncul di sela-sela ketakutannya, melihat betapa serius Vincent mendengar pengakuannya. “Saya masih ingat dengan wajahnya, Tuan… Tapi, saya lupa menanyakan namanya karena saya langsung pergi setelah kejadian itu.” Air mata yang ia tahan jatuh, mengalir pelan di pipinya. Vincent meresapi setiap kata Laura, nadanya berangsur lembut, meski matanya masih menyala marah. “Aku mengerti, Laura. Tidak apa. Kau tak perlu menyesal. Aku yang akan mencari tahu siapa pria tak tahu malu itu.” Tatapan Vincent mengeras. “Anakku akan mulai bekerja di hotel ini hari ini. Aku akan memintanya ikut mencari tahu siapa orang yang telah menodaimu. Jangan khawatir, Laura. Ini tidak akan dibiarkan begitu saja.” “Terima kasih, Tuan. Maaf sudah merepotkan…” ucap Laura dengan suara parau, hatinya terasa sedikit ringan, meski trauma itu masih mengikatnya erat. Vincent menggeleng pelan, memandang Laura penuh simpati. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Laura. Kau pegawaiku, dan kau berhak mendapatkan keadilan. Aku tidak akan biarkan dia hidup tenang, sementara kau dihantui kejadian itu. Keadilan harus ditegakkan.” Laura mengangguk lagi, kali ini dengan senyuman samar penuh terima kasih. Meskipun rasa sakit itu masih segar, keberanian Vincent memberinya kekuatan baru, seperti tangan yang terulur untuk membantunya bangkit dari kegelapan. Suara ketukan pintu menginterupsi percakapan mereka. Seketika, pintu terbuka, dan seorang pria muda melangkah masuk. Ia tampak tinggi dan gagah dengan raut wajah yang tampan, sepasang mata penuh kecerdasan dan senyuman tipis yang tersungging di bibirnya. “Hi, Dad. Maaf, aku baru tiba. Aku harus mengisi perutku terlebih dahulu, kau tahu, mendengar ocehanmu perlu energi ekstra,” ucapnya dengan nada penuh canda, melirik Vincent dengan tatapan jahil. Tubuh Laura mendadak menegang. Suara pria itu menyambar telinganya seperti petir di tengah malam yang sunyi. Matanya melebar saat ia mengenali siapa pria itu, dan perlahan, ia melirik ke arahnya, perutnya terasa mual seketika. Tatapan tajamnya menatap sosok pria itu, yang kini berdiri tepat di sampingnya. “Oh, Smith…” Vincent menggelengkan kepalanya dengan wajah lelah, namun tak bisa menyembunyikan senyuman kecilnya. “Kau memang selalu membuatku kesal.” Smith hanya tertawa kecil, namun pandangannya akhirnya tertuju pada Laura yang tampak kaku di kursinya. Ia mengamati ekspresi wajah wanita itu, yang menunduk sembari mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Senyuman miring muncul di bibirnya. ‘Oh, rupanya wanita ini benar-benar melaporkan kejadian semalam pada ayahku,’ pikir Smith dalam hati, merasa geli. Vincent melanjutkan dengan nada tenang, tak sadar ketegangan yang muncul antara keduanya. “Smith, kenalkan. Dia Laura. Mulai besok, dia akan menjadi sekretaris pribadimu.” Tatapan Vincent penuh harapan, seakan yakin bahwa putranya dan Laura akan bekerja sama dengan baik. Seolah tersambar oleh ucapan itu, Laura dan Smith saling memandang dengan intens. Mata Laura menyala dengan amarah yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Sorot matanya penuh kebencian yang mendidih, seakan menuntut jawaban dari pria yang berdiri di hadapannya. Sementara Smith, tetap dengan senyum seringainya, memandang Laura dengan tatapan penuh kesenangan, seakan menantikan reaksinya. “Senang bertemu denganmu, Nona manis,” ucap Smith, suaranya tenang namun penuh dengan keangkuhan. Laura menggigit bibirnya, berusaha menahan diri agar tidak melontarkan kata-kata kasar yang sudah berada di ujung lidahnya. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena ketakutan, tapi karena marah dan jijik yang bergumul di dadanya. Vincent, yang tak menyadari ketegangan di antara mereka, melanjutkan dengan nada ramah. “Laura, kau bisa mulai menyesuaikan diri dengan Smith hari ini. Dia akan memandumu memahami tugas-tugas barumu.” Ia menatap Laura dengan ekspresi penuh kepercayaan, seolah ini adalah kesempatan terbaik untuknya. Laura menarik napas panjang, menelan rasa sakit yang kembali menyeruak. Matanya menatap Vincent, mencoba berbicara namun lidahnya kelu. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi Smith dengan sengaja menyeringai, mempermainkan ketegangan yang jelas-jelas ia tahu Laura rasakan. “Saya… saya akan berusaha, Tuan,” ujar Laura dengan suara rendah, namun dalam hatinya, ia telah bersumpah untuk menemukan cara agar kebenaran terungkap, meski ia harus menghadapinya seorang diri. Smith mengamati Laura dengan tatapan penuh arti, memandang wanita itu yang jelas-jelas tidak akan membiarkan perkara ini berakhir begitu saja. Namun, baginya, semua ini hanyalah permainan kecil, dan ia senang melihat ekspresi takut bercampur marah di wajah Laura. Setelah Vincent memberikan instruksi, ia meninggalkan keduanya di ruangan itu. Begitu pintu menutup, Laura langsung berdiri, menatap Smith dengan penuh rasa jijik. “Beraninya kau bertindak seolah tak terjadi apa-apa,” desis Laura, matanya menyala-nyala. Smith hanya mengangkat bahu, mengamati wanita di depannya yang bergetar karena emosi. “Aku hanya menjalankan tugasku. Kau yang memilih untuk mendekat, Nona manis,” ucapnya sambil tersenyum penuh kepuasan. Laura mengepalkan tinjunya, seluruh tubuhnya bergetar dalam marah. “Aku akan melakukan apa saja agar kau mendapatkan balasan atas semua yang telah kau lakukan padaku. Jangan berpikir ini akan berakhir begitu saja, Smith.” Smith mendekat, tatapannya berubah lebih dingin, wajahnya menunjukkan sisi sinis yang menyeramkan. “Kau bisa mencoba, Laura. Tapi ingat, tidak semua hal di dunia ini berakhir sesuai keinginanmu,” bisiknya tajam. Laura mengepalkan tangannya mendengar ucapan Smith tadi. “Aku akan memberitahu ayahmu jika kaulah yang sudah menodaiku semalam!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN