Rin menolehkan kepala. Menemukan Adora masuk sembari menyeret senjata yang berlumuran darah ke dalam ruangannya. Napas Rin tertahan, terlebih ekspresi gadis itu benar-benar mengerikan sekarang. "Dari dulu mau pun sekarang, kedua kapten tak berguna itu tetap saja lemah. Mereka seharusnya dipecat," kekeh Adora dingin. Dia melempar senjata itu asal dan duduk di sofa yang nyaman. Menatap Rin yang juga menatapnya dingin. "Apa penampilan sempurnaku berantakan sekarang?" Adora memegang pipinya sendiri. "Ah, Kapten Davira memang pintar membuatku berantakan." Dia tertawa lagi. "Kau tidak melukai Adonia, bukan?" Adora terdiam. Matanya menyipit tajam pada Rin yang termangu. "Aku melukai adik kembarku sendiri? Ayolah." "Kau akan melakukannya, Adora," desis Rin tajam. "Ya. Untuk duduk di posisiny

