Mendengar penjelasan Heri yang mengaku nama Wagiman, Darman pun terlihat terdiam seperti kehabisan kata-kata, karena dia belum bisa membuktikan bahwa Ustad Ma'ruf termasuk orang yang sesat atau bukan. Suasana di halaman dan teras rumah terlihat begitu ramai, hilir mudik orang terus silih berganti berdatangan, ada yang pulang dengan membawa Harapan Baru bahwa penyakit yang sedang mereka derita bisa sembuh. Suasana siang itu terasa sangat panas, karena matahari sebentar lagi berada di atas ubun-ubun. Heri yang sudah mengetahui Kenapa di rumah itu banyak orang dia pun berpamitan terhadap Darman untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pengemis, sambil mencari orang yang mau dijadikan sebagai orang kaya. Heri terus berjalan menyusuri trotoar menuju salah satu masjid terdekat untuk beristir

