"Semoga saja aku mendapat wangsit Di mana keberadaan orang pintar itu karena kalau aku belum bisa menemukan mereka, maka Hidupku akan begini terus, hidup berkubang dalam kemiskinan, tidak ada kemajuan." doa Heri sebelum tidur, matanya menatap ke arah langit-langit masjid, lamunannya terbang ke mana-mana. dia membayangkan ketika dia sudah berhasil bertemu dengan orang yang dia cari, hidupnya tiba-tiba berubah menjadi kaya raya rumah mewah bertingkat istri banyak sampai empat.
Membayangkan lamunan yang indah seperti itu, membuat kedua sudut bibir Heri terangkat dengan sempurna, karena begitulah orang pemalas, mereka akan mementingkan melamun daripada bekerja, mereka lebih percaya dengan perkara-perkara yang tidak pasti daripada perkara yang sudah pasti. Padahal kalau dia berpikir realistis kejadian tertipu Oleh Dimas Kanjeng tidak akan terjadi, Namun sayang keserakahan yang sudah meliputi jiwanya sehingga dia lupa dengan jati dirinya.
Terlalut dalam khayalan-hayalan yang belum pasti, akhirnya Mata Heri pun mulai tertutup khayalan Indah mulai pindah ke impian karena biasanya mimpi hadir dari apa yang sudah kita pikirkan sebelum tidur. Heri tidur dengan nyenyak meski hanya berbantalkan tas yang sudah butut berselimutkan sarung yang sudah lusuh.
Suara Adzan Subuh berkumandang dengan begitu merdu, membangunkan jiwa-jiwa yang terlelap dalam tidurnya, Begitu juga dengan Heri Dia yang terbangun dari tidurnya. sebelum bangkit dia pun duduk terlebih dahulu matanya memindai keadaan sekitar mengingat-ingat mimpinya semalam, dia berharap bahwa di dalam mimpi itu Heri mendapatkan petunjuk Namun sayang mimpi yang dia alami adalah mimpi indah buah dari khayalan sebelum tidur.
Meski tidak mendapat petunjuk, tapi Heri sedikit merasa bahagia karena menurut pemikirannya impian yang dialaminya, itu adalah impian kehidupannya di masa depan, di mana Hidupnya akan bergelimang harta tidak susah seperti sekarang.
Setelah roh halusnya terkumpul, Akhirnya hari pun bangkit untuk mencuci wajah sekalian mengambil air wudhu. seusai melaksanakan salat subuh berjamaah dia pun keluar dari area Komplek pemakaman untuk mencari kopi agar tubuhnya terasa hangat.
Setelah sampai di luar, Heri pun berjalan menuju salah satu kios penjual kopi, sebenarnya kios itu tidak hanya menjual kopi karena di meja panjang terlihat banyak gorengan yang dijajakan. dengan segera Heri pun memesan satu gelas kopi, lalu ia duduk di bangku panjang untuk menunggu pesanannya.
"Kenapa Tadi Malam tidurku sangat nyenyak dan kenapa aku tidak mendapat petunjuk apapun, Apakah aku salah mendatangi Wali, sehingga aku tidak mendapatkan gambaran sedikitpun." gumam hati Heri sambil mengunyah goreng pisang yang masih terasa hangat, karena mungkin baru diangkat dari penggorengan.
"Kalau begini terus bisa-bisa uang Yang Kumiliki habis sia-sia karena tidak sampai ke tujuanku. kalau begini kayaknya aku harus melanjutkan tujuan awal yang akan pergi ke Kudus, Siapa tahu saja di sana Aku Bisa mendapat sedikit pencerahan di mana ada orang yang bisa menolong kehidupanku," gumam hati Heri yang sudah menyerah, Padahal dia belum berjuang dengan ekstra hanya baru satu malam dia sudah mengeluh.
Dari arah samping kopi pesanannya pun datang, dengan segera dia pun menyeruput kopi yang masih mengepul itu rasanya terasa hangat di perut. kemudian dia mengeluarkan rok0k yang tinggal beberapa batang lalu membakarnya, asapnya terlihat mengepul memenuhi kepala.
Sambil menikmati sebatang rok0k, Heri terus menimbang-nimbang antara Tetap Bertahan di kadilangu atau melanjutkan perjalanannya ke Kudus, setelah dipertimbangkan baik dan buruknya, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya karena dia takut kalau dia tetap bertahan di situ, tujuannya tidak tercapai sedangkan uangnya keburu habis.
Suasana kala itu meski masih pagi terlihat begitu ramai dengan orang-orang yang sedang menghangatkan tubuhnya dengan minuman hangat, Dari ufuk timur terlihat cahaya kuning keemasan sudah menyebar menandakan sang surya sebentar lagi akan menjalankan tugasnya. setelah menghabiskan kopi dan membayarnya Heri pun keluar dari kios, kemudian dia berjalan menuju ke arah terminal Bintaro karena dia ingin menghemat ongkos.
30 menit berlalu, akhirnya Heri pun tiba di terminal dengan segera dia pun membeli tiket sesuai dengan kota tujuannya. setelah mendapat tiket Heri pun naik ke bis jurusan Kudus. tak diceritakan lamanya di perjalanan akhirnya Heri pun tiba di masjid Sunan Kudus atau Masjid Al Aqsa yang tidak jauh dari terminal.
Mata Heri memindai keadaan sekitar yang dia merasa terheran, karena makam wali yang sekarang berbeda dengan maqom Wali Yang sebelumnya. di tempat itu terlihat banyak batu bata merah seperti candi, karena metode pembelajaran yang dibawa oleh Sunan Kudus tidak jauh dari mentornya yaitu Sunan Kalijaga, yang mengajarkan toleransi sangat tinggi sehingga ada salah satu larangan yang sebenarnya dalam ajaran islam tidak dilarang, tapi untuk menghormati penduduk yang menganut agama Hindu, Sunan Kudus melarang muridnya untuk menyembelih seekor sapi.
Keadaan maqom yang berada di pusat kota, membuatnya terlihat sangat rapi, di sini tidak terlalu banyak orang yang berjualan kaki lima, mereka lebih memilih kios untuk mencari nafkah sehingga keadaan pun terlihat sangat indah.
Setelah puas memindai keadaan sekitar Heri pun masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan salat zuhur terlebih dahulu, sebelum dia pergi ke makam.
Awalnya setelah melaksanakan salat berjamaah Heri mau pergi ke makam, tapi perutnya yang sudah berbunyi hingga akhirnya dia memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan masuk ke makam. Sesampainya di area makam hari pun berdoa dengan begitu khusuk meminta petunjuk agar dia dipertemukan dengan orang yang bisa menggandakan uang, supaya kehidupannya bisa berubah . Heri yang tidak memiliki keimanan begitu kuat, sehingga ketika bertakziah ke makam para wali dia tidak didasari dengan keimanan membuatnya menjadi salah jalan.
Heri terus berdoa sampai adzan Ashar berkumandang, dia beristirahat terlebih dahulu untuk melaksanakan salat berjamaah, setelah selesai melaksanakan salat, dia pun kembali masuk ke area pemakaman, dia berdoa kembali sampai waktu magrib tiba.
Hari itu Heri habiskan dengan terus berdoa, namun doa yang dipanjatkan berbeda dengan doa orang lain, karena mungkin hanya dialah orang yang menginginkan bertemu dengan orang pintar, yang benar benar bisa menggandakan uang, dan dia berdoa agar jangan sampai dia bertemu kembali dengan orang seperti gurunya yang hanya bisa menipu.
Malam itu, ketika dia tidur di teras masjid Heri pun memutuskan bahwa dia akan tetap tinggal di tempat itu, sampai dia benar-benar mendapatkan petunjuk, karena kalau dia pulang tidak membuahkan hasil, Sama saja itu bunuh diri. sudah bisa dipastikan istrinya yang sangat rewel akan terus menghujaninya dengan pertanyaan, ditambah ketika berangkat dia pun menerima pinjaman uang dari pak ustad dan ketika dia pulang uang itu harus dibayar.
Malam itu Heri pun tidur dengan nyenyak, karena dia merasa capek sehabis melaksanakan Perjalanan yang sangat jauh. Keesokan paginya Heri terus berdoa di sekitar makam, dia hanya berhenti ketika melaksanakan salat berjamaah dan mengisi perut.
Kegiatan itu terus dilakukan Heri sampai makam pun tutup, sehingga Heri kembali ke teras masjid untuk beristirahat, malam itu adalah Malam Kedua Heri menginap di Masjid Al Aqsa.
Hari-hari berikutnya, Heri terus berdoa tanpa melakukan usaha, sehingga uang yang dibawa dari rumah semakin lama semakin menipis, tapi keinginan dan tujuannya sampai saat itu belum menunjukkan tanda-tanda dia akan berhasil, karena setiap malam dia selalu berharap bahwa akan ada petunjuk lewat mimpinya, tapi sampai beberapa hari berlalu petunjuk itu tidak kunjung datang.
Sebenarnya keyakinan Heri terhadap Karomah para Wali sudah sedikit tergoyangkan, dia menganggap bahwa kuburan itu tidak bisa merubah hidupnya namun untuk pulang kembali ke kampung Donorojo, dia tidak berani karena Ketika pulang ke rumah dia harus membawa uang sedangkan uang yang dimiliki sudah semakin terkikis.
Tujuh hari berlalu, uang Heri pun tinggal Rp50.000 lagi, sehingga mulai hari itu Dia memutuskan untuk makan sehari sekali, dia tidak akan ngopi tidak akan merok0k, dia akan bertapa agar keinginannya cepat tercapai. Namun sayang perjuangan yang sudah dia lalui dengan begitu sulit tetap tidak membuahkan hasil, karena memang dari awal tujuan dia mendatangi makam para wali sudah salah. orang lain ingin bertafakur melihat Bagaimana keadaan orang soleh setelah meninggal, tapi berbeda dengan Heri yang ingin mendapatkan petunjuk di mana keadaan orang pintar yang bisa menggandakan uang, seperti kisah-kisah para wali yang ia dengar dari berbagai orang.
Di hari kesepuluh uang Heri pun sudah habis, bahkan pakaiannya sudah mulai ditawarkan untuk ditukar dengan makanan, Namun sayang pakaian yang sudah butut tidak ada orang yang mau menerima, hingga akhirnya Heri yang merasa bingung, dia duduk di teras masjid sambil merenungi kehidupannya yang selalu ditiban kesialan.
"Uang sudah habis, pakaian dijual tidak laku, terus ke depannya aku harus bagaimana. aku ini manusia hidup yang harus makan." gumam Heri dalam hati, perutnya terus berbunyi menagih isi.
"Kenapa hidupku selalu sial, Kenapa hidupku selalu ditipu, dulu ditipu oleh Kanjeng Dimas sekarang aku ditipu oleh pak ustad. kenapa dia menyuruhku mendatangi makam para wali kalau hanya untuk sengsara seperti ini?" tanya Heri dalam hatinya dia mulai menyalahkan pak ustad yang tidak tahu apa-apa, karena sebelum Heri meminta pendapat Pak Ustad sudah mewanti-wanti ketika mau mendatangi maka makam para wali, Heri harus menguatkan iman terlebih dahulu, jangan sampai dia salah niat karena sebagus apapun pekerjaannya, kalau niatnya sudah jelek maka pekerjaan itu tidak akan berarti, seperti yang pernah dilakukan Sunan Kalijaga ketika dia merampok untuk dibagikan orang-orang Fakir, meski tujuannya sangat mulia tapi caranya yang salah, maka itu tetap salah.