Ide Brilian

1484 Kata
"Bisa nggak pak? Tolong bantu saya untuk diterima bekerja di tempat bapak! beneran saya nggak apa-apa nggak dibayar, yang terpenting saya bisa makan." tanya Heri setelah tidak mendapat jawaban. Mendapat pertanyaan seperti itu Wira pun menatap memperhatikan seluruh tubuh Heri yang sudah terlihat tua, dan seharusnya dia berada di rumah di bahagiakan oleh anak-anaknya, bukan berkeliaran mengemis pekerjaan ke tempat orang lain. "Kenapa Bapak masih diam, Bapak tidak percaya dengan keseriusan saya?" "Bukan begitu Pak, tapi di restoran saya semua pekerjaan sudah ada yang memegang," jawab Wira dengan ramah. "Aduh Tolonglah saya Pak! Saya bingung Saya harus mencari ke mana lagi tempat bekerja. bapakla Harapan satu-satunya. saya sudah tidak makan dari kemarin sore Pak, tolonglah saya.....!" ujar Heri sedikit mengiba karena kala itu dia benar-benar membutuhkan pertolongan orang lain. "Maaf banget pak! beneran di tempat saya tidak ada lowongan pekerjaan, tapi kalau bapak mau makan, bapak tunggu di sini nanti saya akan suruh bawahan saya Untuk mengantarkan makanan buat bapak." "Tolonglah Pak....! tolong terima saya bekerja disini!" "Maaf Pak tidak bisa, ya sudah tunggu saja! saya masuk dulu," ujar Wira tanpa menunggu jawaban dari Heri Dia pun masuk kembali ke dalam mobil, lalu memarkirkan mobil di tempat yang kosong, setelah itu dia pun masuk ke dalam restoran, tanpa mempedulikan lagi keadaan Heri yang masih berdiri. Sepeninggal Wira Heri hanya terdiam mematung, merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan, namun itu tidak lama dengan segera Heri melangkahkan kaki untuk meninggalkan halaman parkir, tapi Firman dengan segera menahannya, karena mungkin dia sudah mengetahui bahwa atasannya tidak pernah berbohong. "Benar kan kalau mental pengemis itu hanya pembohong, katanya belum makan dari kemarin sore tapi sekarang mau pergi." "Kenapa kamu ngomong seperti itu?" tanya Heri sambil mendelik merasa kesal terhadap Pemuda yang menahannya. "Kalau kamu lapar Tunggu dulu! sebelum makanannya datang, nanti setelah mendapat makan, secepatnya kamu tinggalkan tempat ini, karena walaupun atasan saya baik tapi dia tidak akan suka kalau keinginannya tidak diturut." "Terus aku harus bagaimana sekarang?" "Ya sudah tunggu di situ!" seru Firman sambil menunjuk ke arah salah satu kursi yang biasa dipakai duduk olehnya, sedangkan dia mengatur mobil yang baru masuk untuk diparkirkan dengan tertib. Heri yang sudah mulai menyerah, Sebenarnya dia ingin cepat pergi meninggalkan tempat itu, namun setelah dipikirkan Tidak ada salahnya dia menunggu beberapa menit demi makanan pengganjal perut. benar saja Wira pun menepati janjinya, terlihat ada salah seorang yang memakai baju seragam restoran mendekat ke arah Firman, kemudian dia pun mengobrol lalu menyerahkan bungkusan nasi. Setelah selesai menjalankan tugasnya, orang yang berseragam restoran pun masuk kembali ke dalam, sedangkan Firman mendekat ke arah Heri. "Nih nasinya! dan sekarang Cepat kamu pergi dari tempat ini sebelum Nanti Bos saya marah, karena dia tidak mau melihat mukamu lagi ketika dia keluar." ujar Firman sambil menyodorkan kantong hitam yang di bawahnya. Meski merasa jengkel dan merasa terhina, perut Heri yang sudah keroncongan tidak mampu menolak pemberian itu, dengan mata Sayu dia pun mengambil kantong yang diberikan oleh tukang parkir, lalu dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. "Dasar mental pengemis dikasih makan bukannya berterima kasih, malah ngeloyor pergi!" gerutu Firman yang terdengar jelas oleh telinga Heri. Kalau keadaannya tidak seperti sekarang, mungkin dia akan kembali lagi untuk menghajar pemuda itu, karena meski sudah tua Heri merasa masih sanggup untuk bertarung satu lawan satu, tapi itu hanya berada dalam angan-angannya karena kenyataannya, dia terus berjalan keluar dari pintu gerbang. Heri terus berjalan menyusuri trotoar, mencari tempat sunyi untuk menikmati makanan hasil pemberian Wira. setelah berada di taman kota dengan segera Heri pun mencari tempat yang jauh dari orang-orang, kemudian dia membuka bungkusan nasi terlihatlah nasi putih berlaukan Ayam, membuat perut Heri yang sejak kemarin tidak mendapat isi bergejolak ingin segera memindahkan nasi itu ke dalam perut. Tanpa berpikir panjang Heri pun mulai menyantap makanannya, makanan yang terasa nikmat. karena ketika lapar jangankan makan dengan ayam seperti itu, makan dengan garam dan menggigit cabe ijo saja sudah terasa nikmat. Makanan pemberian itu habis bersih tak tersisa, bahkan kalau tidak malu mungkin pembungkusnya Heri akan lahap, karena meskipun nikmat nasinya sangat sedikit membuat perutnya tidak terisi dengan sempurna, namun beruntung Sekarang heri sudah memiliki kekuatan untuk mencari pekerjaan kembali. Meski terasa tidak sempurna, karena biasanya Sehabis makan nikmat Heri akan mengasapi mulutnya dengan rok0k, tapi waktu itu jangankan untuk membeli rok0k untuk membeli air minum aja Heri tidak memiliki uang. Kenyataan yang begitu pahit, tidak membuat Heri mengeluh, dia terus berjalan mendatangi satu toko yang satu, pindah ke toko yang lain, untuk menanyakan Siapa tahu saja toko itu membutuhkan orang yang mau bekerja. Namun sayang Heri yang jauh dari luar kota, membuat orang orang yang hendak menerimanya berpikir dua kali, apalagi Heri tidak diketahui asal-usulnya seperti apa, sehingga sampai maghrib hari berjuang dia belum mendapat pekerjaan, Akhirnya dia pun duduk di bangku trotoar sambil memperhatikan mobil yang berlalu Lalang, dengan memancarkan cahaya lampu yang menerangi pijakannya. Dari arah masjid-masjid terdengar suara Adzan berkumandang, namun kala itu hati Heri yang sedang dilanda kesusahan tidak sedikitpun merasa terpanggil, dia lebih memilih Merenung memikirkan nasib yang begitu sial, jangankan bertemu dengan orang pintar yang bisa menggandakan uangnya, untuk bertahan hidup saja sekarang dia kesusahan karena uangnya sudah habis tidak tersisa. "Aku harus tidur di mana, Kalau tidur di masjid tubuhku sangat kotor, Mungkin aku akan diusir oleh pengurusnya?" gumam hati Heri yang semakin bingung. Dia terus terdiam berpikir, mencari cara agar bisa keluar dari masalah yang sedang dia hadapi, namun semakin lama berpikir kepalanya semakin terasa pening, hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke taman kota. Heri pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia berjalan menyusuri trotoar wajahnya yang dekil, terlihat samar-samar ketika ada mobil yang lewat di hadapannya, langkah Heri terhenti ketika dia tiba di perempatan jalan dia pun memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, karena kepalanya semakin lama semakin terasa mengenut. Heri duduk di tembok pagar sebuah bangunan yang berada tepat di samping trotoar, matanya memindai keadaan sekitar yang terlihat sudah gelap, hanya diterangi oleh lampu-lampu jalan yang sudah menyala, suara Deru mesin kendaraan dan klakson tidak pernah berhenti, karena jalan yang berada di hadapan Heri adalah jalan yang padat dilalui. ketika lampu merah menyala, mobil-mobil pun berhenti terlihatlah banyak orang yang menghampiri mobil yang sedang menunggu lampu hijau dengan mengasongkan tangan ke pintunya, ada yang membuka kemudian memberikan sesuatu, Ada pula yang cuek karena mungkin sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. "Apa aku juga harus mengemis, tapi kalau mengemis mau ditaruh di mana Harga Diriku, tapi kalau tidak mengemis mencari kerja sangat susah," gumam hati Heri yang sedikit terilhami oleh orang-orang yang menghiasi lampu merah. "Benar tidak ada cara lain untuk bertahan hidup di kota seperti ini, kecuali dengan mengemis, karena tadi siang saja ketika melamar di restoran, aku sudah disangka sebagai pengemis." Akhirnya dia pun membangkitkan tubuh kemudian berjalan mendekat ke arah lampu merah, ketika lampu merah itu menyala dengan segera dia pun turun ke jalan, lalu menadahkan tangannya ke depan pintu mobil, mengikuti orang-orang yang dia lihat. Mobil yang pertama tidak membuka kaca pintunya, dengan segera Heri pun pindah ke mobil yang satunya lagi dan kebetulan kaca pintu mobil itu dibuka, lalu sopirnya memberikan uang yang belum diketahui berapa jumlahnya, membuat hati Heri sedikit merasa bahagia karena dia sudah bisa menghasilkan uang. "Terima kasih banyak Pak! semoga rezeki Bapak semakin bertambah banyak," ujar Heri sambil pergi menuju mobil selanjutnya yang belum dimintai oleh rekan seperjuangannya. Setelah lampu kuning menyala, dengan segera orang-orang yang pengais rezeki di lampu merah itu berjalan ke tepian, karena sebentar lagi mobil yang berhenti akan melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di tepian jalan dengan segera Heri pun melihat uang yang ada di tangannya, ternyata dia mendapat Rp5.000. "Satu kali lampu merah saja aku mendapatkan Rp5000, Bagaimana kalau sejam, Bagaimana kalau sehari? Wah kayaknya daripada mencari kerja yant susah, Mendingan aku menjadi pengemis saja!" ujar Heri sambil mengulum senyum seolah merasa mendapat jalan terbaik untuk mengumpulkan uang, untuk bertahan hidup di kota Kudus. Tak lama terdiam, dengan segera Heri pun turun kembali ke jalan, karena lampu merah sudah mulai Menyala kembali, Heri menyisir satu persatu mobil mencari orang yang mau sedikit membagi hartanya, karena menurut pemikiran Heri mengemis lebih baik daripada harus mencuri. Heri terus berjuang mengumpulkan uang recehan dari mobil satu pindah ke mobil yang lain, ada orang yang mengasih, ada pula orang yang cuek, Ada pula yang memberikan nasehat tapi tidak memberikan uang. namun meski begitu Heri tetap merasa bahagia karena dia sudah memiliki jalan usaha. Kepala yang tadinya terasa sakit, sekarang sedikit terobati dengan uang hasil yang diperolehnya, Heri terus melakukan pekerjaan itu sampai jam 09.00 malam karena setelah Jam 9 malam, lampu merah pun otomatis ditiadakan karena tidak terlalu banyak mobil yang menumpuk. Merasa waktu kerjanya sudah selesai, Heri pun kembali merasa bingung karena dia belum memiliki tempat untuk tidur, Awalnya dia Berencana untuk kembali ke Masjid Agung tapi kalau dia kembali lagi ke masjid itu sangat jauh dan dia juga lupa jalannya ke mana. hingga akhirnya dia pun berjalan menyusuri trotoar, untuk mencari tempat yang bisa digunakan untuk menginap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN