Pak Ustad Menjadi Penengah

1364 Kata
Sore itu, di kampung Donorojo cuacanya sangat cerah, matahari yang berada di ufuk Barat terlihat membulat sempurna, namun teriknya tidak seterik tadi siang karena mungkin sebentar lagi matahari itu akan bersembunyi ke balik gunung. Anak-anak terlihat riang bermain di halaman rumah yang sangat luas, ada yang bermain karet gelang, ada yang bermain kucing-kucingan, Ada pula yang bermain petak umpet, diawasi oleh orang tuanya yang duduk di teras rumah sambali sambil mengistirahatkan tubuh setelah seharian bekerja di ladang. Dari arah kebun terdengar suara gerapung yang begitu nyaring, di Sauhuti oleh gemericit burung kecil yang sedang mencari sarang untuk penginapannya, menambah suasana Asri perkampungan. Darmini yang hendak menemui pak ustad, dia terus berjalan menyusuri jalan besar, tidak memperdulikan orang yang bertanya, dia hanya menjawab menggunakan telunjuk menunjuk ke arah depan membuat orang-orang yang bertanya sedikit merasa aneh, namun mereka tidak terlalu mempedulikan karena mungkin mereka menganggap bahwa bukan urusannya. Sesekali tangannya terlihat mengusap pipi, menyeka cairan bening yang terus keluar dari kelopak mata. kala itu hati darmini sangat hancur, Dia tidak memiliki tempat Curhat sehingga semua masalah yang menimpanya dihadapi sendirian, tidak ada orang yang mampu berbagi kesusahannya. suaminya yang harusnya mampu menenangkan, tapi ini malah sebaliknya suaminya itu malah membuat dirinya semakin terpuruk. Lama berjalan, akhirnya dia pun tiba di salah satu rumah yang halamannya ditumbuhi dengan berbagai bunga-bunga indah yang sedang mekar, maklum istri Pak Ustad sangat menyukai kerapihan, berbeda dengan rumah darmini yang sudah reyot halamannya pun banyak ditumbuhi rumput-rumput liar, sehingga rumah itu terlihat tidak berpenghuni. "Assalamualaikum, assalamualaikum......!" ujar darmini mengucapkan salam Setelah dia tiba di ambang pintu. "Waalaikumsalam.....!" terdengar jawaban dari dalam. diikuti suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu hingga tak lama daunnya pun terbuka. "Eh Mbok Darmi, Ada apa Mbok?" tanya istri pak ustad yang kebetulan membukakan pintu. "Pak Ustadnya ada Bu Hajah?" jawab darmini dengan suara Parau balik bertanya. "Ada....,kenapa kok matanya merah, Mbok Darmi habis nangis?" Darmini tidak menjawab, namun dengan segera dia memeluk tubuh wanita itu. membuat Ibu Haji terkejut merasa aneh dengan tingkah tamunya, namun meski begitu bu haji yang terkenal sangat ramah dan sangat baik dengan segera menuntun tubuh darmini masuk ke dalam rumahnya, kemudian menundukkannya di kursi sofa yang berada di ruang tamu. Sebelum bertanya kembali, Dia pun masuk ke dalam rumah kemudian tak lama Bu Haji keluar kembali dengan membawa nampan berisi gelas, di tangan kanannya tertenteng teko berisi air. Bu Haji datang diikuti oleh pak ustad yang merasa heran dengan pengaduan istrinya. Sesampainya di ruang tamu, dengan segera Bu Haji pun mengisi gelas yang ia bawa dengan air, lalu diserahkan terhadap Mbok Darmi, agar wanita paruh baya itu sedikit lebih tenang. bu haji bersama suaminya tidak bertanya terlebih dahulu sebelum memastikan tamunya bisa menguasai dirinya. "Terima kasih....! Maaf merepotkan." hanya kata itu yang keluar dari mulut wanita tua itu. "Nggak merepotkan kok Mbok, lagian cuma Air putih doang. oh iya Kenapa Mbok Darmi menangis?" tanya Bu Haji sambil menatap ke arah tamunya. "Sebelumnya saya mohon maaf kalau saya mengganggu ketenangan, mengganggu waktu istirahat Pak Ustad dan Bu Haji. Saya datang ke sini saya mau merepotkan." "Mau merepotkan tentang apa?" tanya bu haji yang semakin penasaran. "Suami saya bu haji, suami saya.....!" darmini tidak sanggup lagi menyampaikan perasaannya, air mata yang sudah kering kembali membasahi pipi, membuat kedua tuan rumah itu saling menatap. "Kenapa dengan mas Heri?" ujar pak ustad yang ikut bertanya. "Suami saya sangat keras kepala pak ustad, Saya bingung harus menasehatinya dengan cara apa, karena sama sekali dia tidak pernah mau mendengarkan apa yang saya sampaikan." "Sebentar, sebentar....! Ini urusannya Bagaimana, Coba tolong ceritakan agar saya paham!" "Begini pak ustad....!" akhirnya darmini pun mulai menceritakan masalah dalam keluarganya, masalah suaminya yang tidak mau berangkat Kembali ke tempat kerjanya dengan alasan dia mau beristirahat terlebih dahulu, tapi ketika suaminya diajak untuk mengembangkan jualan yang di pasar, suaminya menolak. darmini terus menceritakan semuanya tidak ada yang terlewat, dari awal sampai akhir, dan keputusannya dia memutuskan menemui pak ustad, untuk meminta suaminya agar menjatuhkan tolak walaupun tolak secara agama. Mendengar penjelasan dari tamunya, Pak ustad pun manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang darmini sampaikan, namun dia tidak menyela cerita yang dibawakan oleh tamunya. "Nah begitu Pak Ustad ceritanya. kira-kira pak ustad bersedia tidak menolong saya, untuk meminta si Heri agar mau menjatuhkan tolaknya?" pungkas darmini mengakhiri ceritanya. "Masalah bersedia atau tidaknya, itu urusan gampang. tapi yang berat Apakah Mbok Darmi sudah memikirkan matang-matang keputusan ini, karena walaupun talak diperbolehkan dalam Islam, tapi pekerjaan itu adalah pekerjaan yang paling dibenci oleh Allah, sehingga kalau masalahnya sepele tidak harus berakhir dengan perceraian, karena perbedaan dalam berumah tangga itu sudah menjadi kewajaran, Soalnya di dalam, rumah tangga itu ada dua kepala yang otaknya Berbeda, sehingga perdebatan perdebatan akan muncul, tinggal kita pandai-pandai mensiasatinya." jawab Pak Ustad tidak langsung memutuskan. "Saya sudah memikirkan semua ini dengan matang, bahkan dari jauh-jauh hari saya sudah menimbang baik buruknya. setelah lama akhirnya keputusan pun saya ambil karena suami saya tidak terlihat mau berubah, dari semenjak saya menikah sampai sekarang dia masih menjadi orang yang sangat pemalas, tidak mau bekerja, tidak mau memajukan rumah tangganya, bahkan mengurus rumah, membetulkan bocor, Dia terlihat ogah. dia lebih memilih menyuruh orang lain Mending kalau mau membayar sendiri, semuanya harus menggunakan uang saya. terus apa gunanya Saya memiliki suami?" "Istighfar Mbok....! istighfar.....! Mbok tidak boleh berkata seperti itu, Mbok harus sabar karena semenjak Mbok memutuskan mau dinikahi oleh suami Mbok. itu tandanya Mbok sudah siap dengan segala Resiko yang akan menimpa setelah pernikahan. tapi mohon maaf menurut saya Mas Heri sangat rajin, sekarang saja ketika dia berada di rumah dia mau membantu Mbok berjualan di pasar, bahkan dia sangat rajin berjamaah di Masjid. Mungkin ini hanyalah Masalah sepele, jadi tidak harus mengambil langkah terlalu jauh." "Memang kelihatannya seperti itu, tapi saya yang tinggal serumah, saya lebih paham dan lebih mengerti dengan sikap suami saya. jadi sekarang Tolong bantu saya untuk berbicara sama si Heri, agar dia mau menjatuhkan talak!" jawab darmini yang tetap Kukuh ingin berpisah dengan suaminya. Melihat permintaan tamunya yang terlihat sungguh-sungguh, membuat pak ustad menghela nafas dalam, merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Bukan dia tidak bisa menyampaikan permintaan itu, tapi melihat dari masalahnya rasanya tidak harus sampai menjatuhkan talak, mungkin hanya komunikasi yang tidak terjalin begitu baik, sehingga salah paham pun tidak terelakkan. "Bagaimana pak ustad bisa menolong saya atau tidak?" Tanya darmini setelah tidak mendapat jawaban dari tuan rumah. "Kalau begitu Begini saja Mbok, tadi Mbok Darmi bilang mbok hanya menginginkan agar Mas Heri mau berangkat Kembali ke tempat kerjanya dan Kalaupun dia tidak mau Mas Heri harus mau menjual alat-alat tambal bannya. Bagaimana kalau saya membantu Mbok agar Mas Heri mau menuruti kemauan mbok, jadi jangan sampai ke masalah talak, soalnya itu sangat berat Mbok, Saya takut nanti terbawa-bawa di akhirat, karena secara tidak langsung saya membantu memutuskan tali kekeluargaan." "Sudah saya bilang seperti itu pak ustad, tapi si Heri tidak mau mengerti dia malah membentak saya." "Iya mungkin Mas Heri lagi emosi dan Mbok juga begitu, sehingga perkataan Mas Heri dan Mbok tidak terkontrol. Ya sudah kalau begitu saya akan panggil Mas herinya ke sini, agar masalah ini bisa secepatnya telah selesaikan, karena kita ini sudah tua Mbok, kita selayaknya memperbanyak amal ibadah kita daripada mengurusi masalah yang tidak penting seperti ini." "Iya maunya juga saya seperti itu, saya ingin tinggal di rumah beribadah seperti Ibu Haji, biarkan suami yang menafkahi saya, tapi ini malah sebaliknya saya yang harus menafkahi si Heri si kurang ajar itu." "Sudah, sudah mbok jangan diteruskan. Tenangkan pikiran sambil ngemil....!" tawar pak ustad sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk ke dalam rumah untuk mengganti sarungnya dengan celana. Awalnya dia mau menyuruh anak yang untuk Memanggil Heri, tapi setelah dipikir dia merasa takut kalau Heri pun masih terbakar emosi, sehingga bisa membahayakan anaknya. akhirnya mau tidak mau Pak ustad pun keluar dari rumah, untuk mendamaikan kedua orang yang salah paham. Sedangkan Heri sepeninggal istrinya, dia terus berpikir mencari cara agar dia tidak sampai kelepasan lidah menceraikan istrinya, karena walaupun dalam hatinya dia sudah ingin mengganti teman hidupnya itu. tapi untuk saat ini dia masih butuh, karena darmini adalah wanita yang sangat Mandiri. Semenjak dia menikah mungkin kalau dihitung Heri lah yang lebih sering memakan keringat Darmini daripada istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN