"Kalau bilang pasti, saya takut mendahului kekuasaan Allah. tapi mungkin saja ada karena seperti yang tadi saya bilang Allah memberikan ke luar biasaan terhadap makhlukNya, yang mungkin tidak akan masuk akal, tapi keyakinan kita bisa menerima."
"Contohnya Pak Ustad?" tanya Karsa sambil menatap tetuah kampungnya.
"Jadi Allah menurunkan keluar biasaan terhadap makhlukNya terbagi lima. ada Irhas, ada mukjizat, ada Karomah, ada maunah, ada sihir. semuanya diturunkan oleh Allah untuk menunjukkan kuasaNya."
"Nah, nah....! pembahasannya semakin seru. Coba tolong jelaskan satu persatu Pak Ustadz, agar kami yang gelap ini bisa sedikit mendapat penerangan!" Pinta Wisman yang terlihat mengambil rokok dari dalam gelas, kemudian dia pun membakarnya karena memang begitulah kebiasaannya kalau bapak-bapak sedang mengobrol asap putih akan memenuhi ruang obrolan.
"Jadi Irhas itu adalah suatu kejadian yang luar biasa yang diberikan kepada para calon Rasul, seperti ketika nabi Allah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam lahir ke alam dunia. Beliau memancarkan cahaya sampai tembus ke langit ketujuh, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang tidak masuk akal lainnya."
"Kalau mukjizat Seperti apa pak ustad?"
"Kalau mukjizat diturunkan atau diberikan kepada para Rasul, untuk menjadi tanda atau bukti bahwa mereka adalah utusan Allah. salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah terhadap Rasul kita yaitu Alquran. dan yang ketiga ada Karomah yaitu diberikan kepada para waliyullah, yang keempat ada maunah diberikan kepada orang-orang sholeh, yang kelima adalah sihir, biasanya diberikan kepada kahanah atau dukun. ketiga itu juga sesuatu yang luar biasa, yang kadang tidak bisa dimengerti oleh akal tapi bisa diterima dengan keyakinan, bahwa semua itu bisa terjadi atas izinNya Allah," jelas pak ustad.
"Nah, nah....! kalau sihir seperti santet itu benar adanya?"
"Iya karena Rasul juga pernah disantet, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Waktu itu Rasul disantet oleh orang Yahudi bernama lubabil bin Aqsam, dia mengambil rambut dan potongan sisir Rasul, lalu diikatkan ke batang pohon kurma kemudian disimpan di salah satu sumur, sehingga membuat kala itu Rasul menjadi lupa. jadi masalah sihir kita Jangan menganggap remeh atau tidak percaya, Karena itu adalah salah satu ilmu yang Allah turunkan untuk menguji keimanan kita."
"Kembali lagi ke pokok permasalahan pak ustad, terus apa hubungannya dengan orang yang bisa menggandakan uang?" tanya Heri yang masih belum mendapat jawaban.
"Dunia....., ada orang yang menjelaskan bahwa kekayaan dunia itu seperti bayangan, ketika kita kejar maka dunia itu akan menjauh, tapi ketika kita diam dunia itu akan tetap tinggal. sama seperti uang ketika kita terus mengejarnya maka uang seperti berlari menjauhi kita, padahal sebenarnya uang itu tetap diam, namun kerakusan lah yang membuat kita tidak pernah puas dengan apa yang kita dapat. dan Ada lagi satu keterangan ketika kita sudah tidak membutuhkan kekayaan dunia, maka dunia itulah yang akan menghampiri."
"Sebentar, sebentar.....! Saya masih kurang paham nih pak ustad, bagaimana coba Tolong diperjelas!"
"Jadi begini Mas Heri, ketika kita sudah tidak membutuhkan haliyah dunia, kita terfokus beribadah terhadap Allah maka sesuai janji Allah ketika kita mendahulukan kewajiban kita, maka Allah akan tanggung semua kebutuhan kehidupan kita, seperti yang terjadi kepada para wali atau para Kekasih Allah yang menggunakan seluruh kehidupannya hanya untuk beribadah, maka dunia sudah berada di genggamannya. banyak cerita para wali yang mencangkul tanah tiba-tiba keluar emas, itu mungkin saja terjadi karena itu salah satu bentuk Karomah atau Kemuliaan bagi para waliyullah. namun meski begitu mereka tidak mengambil, karena mereka tidak membutuhkan, mereka tidak tertarik dengan keindahan dunia, mereka hanya tertarik dengan keindahan akhirat."
"Apa sekarang Wali Allah itu masih ada?" tanya Heri yang semakin antusias karena di dalam hatinya tetap Kukuh ingin mengembalikan uang yang sudah hilang.
"Mungkin saja ada, tapi mereka tidak akan menunjukkannya terhadap kita, karena seperti yang sudah tadi dijelaskan bahwa mereka tidak membutuhkan kehidupan dunia, salah satunya adalah mereka tidak butuh pengakuan dari kita-kita yang masih Manusia Biasa."
"Kenapa kamu Heri menanyakan seperti itu?" tanya Karsa sambil mengulum senyum.
"Nggak apa-apa, kalau kenalan kita Wali maka kita tidak harus susah-susah bekerja, kita suruh saja mereka untuk menggandakan uang kita atau mencari emas seperti yang tadi Pak Ustad bilang."
"Haduh otakmu Heri, Heri.....! ngawur aja kamu," ujar Karsa sambil menepuk pahanya, menganggap kalau omongan sahabatnya hanya gurauan belaka.
"Hehehe, kalau kita mau uang yang banyak atau kekayaan yang melimpah, maka Islam mengajarkan, Bekerjalah seperti kita mau hidup selamanya, beribadahlah seolah kita akan mati esok pagi. jadi kita tidak harus berharap dengan yang tidak tidak, kita berusahalah sekemampuan kita, sebisa kita, biarkan Allah yang menentukan hasilnya, karena pilihannya akan menjadi pilihan terbaik bagi kehidupan kita. dan seharusnya kita harus bangga menjadi orang miskin atau tidak punya, karena tidak mungkin ada orang kaya Kalau tidak ada orang seperti kita-kita ini," jelas Pak Ustad sambil mengulum senyum, kemudian dia pun meneguk air kopi yang disuguhkan oleh tuan rumah.
Mereka pun terus berlanjut mengobrol, namun kira-kira pukul 16.30 Pak ustad pun berpamitan karena dia ingin mengecek air di sawahnya, maklum waktu itu keadaan musim kemarau kalau tidak sering dicek, takut nanti sawahnya kekeringan.
Orang-orang para warga Kampung Donorojo yang masih bertahan di rumah Pak Wisman, akhirnya mereka pun berpamitan mengikuti ketua kampungnya yang sudah meninggalkan mereka, sebelum mereka pergi tidak lupa membawa berkat masing-masing, yang sudah disiapkan oleh tuan rumah.
Sepulangnya ke rumah, Heri yang dari tadi mendengarkan pembicaraan pak ustad dia mulai tertarik dengan pengetahuan orang itu. yang jadi penarik hatinya adalah orang yang bisa menggandakan uang, dia ingin mengetahui siapa tahu saja pak ustad kenal dengan orang yang disebut Wali, dia tetap Kukuh ingin mencari kekayaan dari jalan yang sangat instan, tapi sekarang dia akan lebih selektif ketika memilih guru, takut kejadian yang menimpa dirinya terulang kembali.
Sore itu Suasananya sangat cerah, matahari yang berada di atas ubun-ubun tidak terlalu terik memancarkan sinarnya, membuat anak-anak Betah bermain di halaman rumah diawasi oleh orang tuanya yang sedang beristirahat selepas seharian bekerja. suara grapung terdengar begitu nyaring dari arah kebun disahuti dengan suara burung-burung yang terdengar riang seperti sedang mencari penginapan.
Heri yang baru pulang dari acara syukuran tetangganya, dia duduk sambil menikmati rokok yang tadi diambil dari jamuan, matanya menatap ke arah halaman yang ditumbuhi dengan rumput-rumput yang sudah liar, khayalannya terbang membayangkan kalau dia sudah menemukan guru spiritual yang bisa mengubah hidupnya, mungkin kehidupannya tidak akan seperti sekarang, dia akan tinggal di rumah gedung yang bertingkat bak istana, ditemani istri-istri yang sangat cantik, tidak seperti darmini yang sudah keriput dan mulai tercium bau minyak kayu putih, sehingga jangankan untuk memeluknya berdekatan dengannya seolah enggan.
"Kapan aku kaya? padahal aku sudah berjuang semaksimal mungkin, sampai berbulan-bulan tinggal berguru di orang pintar, tapi hasilnya sangat nihil. benar memang aku harus secepatnya mencari guru yang baru, yang sangat terpercaya, yang bisa merubah kehidupanku agar si darmini tidak terus mengomel," gumam hati Heri sambil menghempaskan asap dari mulutnya.
"Kebiasaan ngelamun aja terus, Emang tidak memiliki pekerjaan lain apa, selain diam merenung tanpa memiliki arti." gerutu suara seorang perempuan yang baru saja duduk di kursi teras rumah, membuat mata Heri mendelik ke arah orang yang baru datang.
"Mengganggu kesenangan orang aja, Biarkan saja aku melamun, Lagian tidak bayar ini kan?" jawab Heri sambil menekuk wajah menjadi masam.
"Memang tidak bayar, tapi mau sampai kapan hidup ini hanya dipenuhi dengan lamunan. usaha hanya katanya saja, tidak membuahkan hasil, pulang ke rumah tidak membawa uang sepeserpun, nanti mau berangkat kerja Pinjam ke tetangga untuk ongkos. usaha macam apaan itu?"
"Mulai deh kamu membahas yang tidak penting bukannya kamu sudah memberi tenggang waktu sampai bulan depan. Sudahlah jangan banyak mengomel biarkan suamimu istirahat, karena kalau sudah waktunya suamimu akan bekerja." Jawab Heri tidak mau kalah.
"Mending kalau beneran bulan depan kamu ngasih uang, bagaimana kalau itu hanya omong kosong saja, tidak sesuai dengan pembuktian. nanti aku yang rugi, sawah yang sedikit sudah dijual, tapi tidak menjadi dandanan, uangnya berceceran habis tak berbentuk."
"Sudahlah......! bingung aku ngobrol sama kamu!" jawab Heri sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia memakai sandal lalu pergi meninggalkan rumah, membuat darmini mendengus kesal karena suaminya selalu seperti itu, sebelum dia selesai berbicara suaminya akan pergi.
"Dasar tua bangka tidak punya otak! kerjaannya begit7 aja. kalau tidak diingatkan apalagi, mungkin hidupnya akan semakin tidak berguna." gumam Darmini yang masih tetap menatap tajam ke arah sang suami, sampai Heri tidak terlihat baru dia menarik nafas dalam, membayangkan kehidupan ke depannya.
"Aku kayaknya tidak kuat kalau dia tidak berubah, masa aku yang sebagai tulang rusuk dijadikannya sebagai tulang punggung. aku harus bangun subuh-subuh pergi ke pasar, sedangkan kerjaan Dia hanya main, yang ngakunya kerja buka tambal ban di luar kota, tapi tidak membuahkan hasil. ruwet.....! ruwet hidupku ini.....!" ujar darmini sambil bangkit lalu masuk ke dalam rumah, untuk menutup jendela dan menyalakan lampu.