Berdamai

1276 Kata
Rasa capek setelah seharian bekerja, ditambah mengurusi suami yang baru pulang. akhirnya mata darmini pun mulai terpejam, kesedihan yang dia alami terbawa ke dalam impian yang menyeramkan, di mana kala itu Dia tersesat bersama suaminya di salah satu lembah yang tidak ia ketahui. berhari-hari berjalan dia tidak menemukan jalan keluar, hingga akhirnya dia pun memutuskan duduk di bawah pohon yang sangat rindang, tiba-tiba tubuhnya tidak bisa bergerak, semakin dia memberontak semakin erat pula genggaman terhadap tubuhnya. Tempat duduknya Terasa bergelinjal seperti ada yang menusuk belahan pant4tnya, itu membuat darmini dengan perlahan membuka mata, namun Alangkah terkejutnya ketika bibirnya ada yang melumat, dia hanya membulatkan mata karena tidak bisa berbicara. "Apa-apaan kamu Bapak....! kita udah tua kita tidak pantas melakukan hal seperti ini," ujar darmini sambil mendorong tubuh suaminya agar menjauh. Mendapat penolakan seperti itu, Heri hanya mengulum senyum penuh arti, kemudian dia pun memeluk kembali istrinya lalu melumat bibir dengan begitu rakus, membuat darmini semakin kalang kabut, namun Heri tidak sedikitpun mengendorkan serangannya dia semakin beringas melumat bibir istrinya itu. "Bapak kangen Bu, bapak kangen sama Ibu!" gumam Heri dengan nafas yang memburu membuat darmini menggelinjang geli, karena hembusan nafas suaminya menyapu ke telinga. Darmini tidak berbicara lagi, dia hanya memejamkan mata menikmati setiap lumatan bibir suami yang begitu menggairahkan, maklum mereka sudah hampir 6 bulan tidak bertemu, membuat kebutuhan manusiawinya menjadi terpanggil. Ciuman Heri mulai merambah turun ke bawah, menjelajahi leher yang sudah mulai keriput, namun bagi Heri itu sangat menggairahkan, sehingga dengan segera dia menanggalkan baju istrinya, memamerkan dua gunung kembar yang terbalut bra berwarna hitam. Dengan ganas Heri pun mulai menarik bra itu, kemudian meremas gunung kembar milik istrinya, lalu menempelkan ujung lidahnya di atas ubun-ubun gunung itu, membuat darmini hanya bisa memejamkan mata menikmati sentuhan bibir dan lidah suaminya Eregan dan desahan terus keluar dari mulut darmini, tangannya meremas sprei yang digunakan, namun tiba-tiba saja matanya terbelalak ketika Heri menghentikan aktivitasnya. "Ibu kangen nggak sama bapak?" Tanya Heri sambil mengatur nafas yang memburu, nafsunya sudah memenuhi ubun-ubun. Mendapat pertanyaan seperti itu, darmini tidak menjawab namun dengan segera dia menarik kepala Heri mendekatkan ke bibirnya, hingga pergulatan kedua bibir itu tidak terelakkan, meski mereka sudah berumur tapi mereka sangat membutuhkan sentuhan-sentuhan dari pasangan masing-masing. Setelah puas bermain dengan bibir, perlahan Heri pun melepaskan rok yang digunakan oleh istrinya, kemudian dia mendekatkan bibirnya ke arah sel4ngkangan milik sang istri, membuat darmini hanya meremas rambut Harry tidak kuat menahan rangs4ngan yang begitu luar biasa. Malam itu, mereka saling memanjakan saling memberikan hak dan kewajibannya, sehingga terdengar rancuan rancuan dan desah4n-desah4n kenikmatan yang keluar dari mulut masing-masing, mungkin mereka sedikit menurunkan egonya demi memenuhi kebutuhan masing-masing. Setelah setengah jam berlalu, akhirnya keluarlah teriakan kenikmatan dari mulut masing-masing, lalu Heri pun menjatuhkan tubuhnya di samping istri kemudian dia mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang, membuat darmini luluh sehingga dia memeluk suaminya dengan begitu erat. Keesokan paginya, darmini dan Heri sudah terbangun karena mereka sudah terbiasa bangun sebelum subuh. darmini harus bersiap-siap untuk pergi ke pasar, sedangkan Heri yang sudah dipenuhi keinginannya, dia pun ikut bangun karena merasa tidak enak kalau dirinya masih tidur, sedangkan istrinya sudah sibuk bersiap-siap pergi ke pasar. "Mau ditemenin pergi ke pasarnya?" tanya Heri setelah menyeruput kopi yang terlihat masih mengepul, karena baru dibuatkan oleh istrinya. "Emang bapak nggak capek?" "Nggak kok Bu....! Bapak sangat seger apalagi habis mandi begini. hehehe," jawab Heri mengenang kembali perbuatannya tadi malam. "Ih apaan sih Bapak....! kita udah tua kita nggak pantas melakukan hal seperti itu," ujar darmini yang terdengar manja. "Siapa bilang tidak pantas, walaupun kita sudah tua tapi kita masih terikat dengan hubungan suami istri. Lagian ibu juga tadi malam mendes4hnya begitu kuat, berarti Ibu juga menginginkannya kan?" ujar Heri sambil mengedipkan sebelah mata membuat darmini tersipu malu. "Sudah ah pak Jangan bahas yang begituan, Kalau Bapak mau bantu ibu di pasar, ayo siap-siap! nanti kesiangan." seru darmini sambil mencubit pergelangan suaminya membuat Heri mengulum senyum. Dengan segera dia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. setelah selesai dia pun duduk kembali sambil menunggu darmini yang masih bersiap-siap, mata Heri terus memperhatikan istrinya yang begitu baik, sehingga dia memiliki pikiran kalau istrinya sering marah-marah karena tidak pernah dia kasih nafkah secara batiniah. "Ternyata kamu suka uring-uringan itu karena kamu gatal ya?" gumam hati Heri sambil tersenyum penuh kemenangan. "Kenapa Bapak senyum-senyum seperti yang baru mendapatkan lotre?" "Ternyata walaupun ibu sudah paruh baya, tapi Ibu tetap masih cantik!" goda Heri yang membuat wajah darmini berubah memerah seperti tomat. "Udah ah Pak! jangan ngegombal terus. ayo kita berangkat nanti kita kesiangan." "Iya Bu, dari tadi juga bapak sudah siap." Akhirnya kedua orang itu pun keluar dari rumah, sebelum pergi tak lupa mereka Mengunci pintu . walaupun mereka termasuk orang miskin tapi kalau rumah itu seperti tangkai padi, Meski banyak yang kosong tapi pasti masih ada salah satu yang berisi. Setelah semuanya dirasa rapi, pasangan suami istri itu pun berjalan menyusuri Jalan Besar, diiringi dengan suara jangkrik, dikendangi dengan suara kodok. waktu itu angin tidak terlihat sehingga dedaunan terdiam , udaranya terasa dingin, karena sudah waktunya hujan air embun turun membuat Heri dan istrinya melipatkan tangan ke ketiak, tapi meski begitu darmini tidak menyerah dia terus bersemangat menjalani kehidupan. Lama berjalan akhirnya mereka pun sampai di jalur angkot, Heri yang kedinginan dengan segera dia menyalakan rokok sambil menunggu angkutan umum lewat, sedangkan darmini dia hanya berdiri, matanya menatap ke arah jalan berharap mobil yang ia tunggu segera datang. Benar saja, tak sampai lima menit dari arah jauh terlihat cahaya lampu yang semerbak menerangi Jalan, semakin lama lampu itu semakin mendekat hingga akhirnya tiba di hadapan Mereka. tampak berbicara terlebih dahulu kedua orang pun naik mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, setelah kedua penumpangnya duduk dengan tertib, pak sopir pun mulai menginjak gas melepaskan koplingnya, sehingga mobil angkutan kota itu melaju membelah heningnya malam. Lampu-lampu yang berjejer di tepian jalan terlihat sangat terang, seterang harapan darmini yang melihat suaminya sudah berubah, sampai dia mau menemaninya untuk berjualan di pasar, tangan yang sudah mulai menunjukkan keriput menggenggam erat tangan Heri seperti anak muda yang sedang dimabuk cinta, beruntung kala itu mobil yang mereka tumpangi belum mendapatkan penumpang, ditambah tidak ada penerangan di dalam mobil sehingga mereka bisa leluasa bermesraan. Namun ketika ada penumpang yang naik, dengan segera darmini pun melepaskan genggaman tangannya sambil melempar senyum ke arah sang suami. darmini sebenarnya tidak terlalu banyak menuntut, karena dari berjualan di pasar Dia bisa menghidupi keluarganya, tapi kadang juga dia suka mengeluh kalau harus berjuang sendirian. tidak banyak yang diminta olehnya darmini, hanya meminta suami mau membantunya berjualan di pasar. Dan ketika bekerja di luar bekerjalah dengan benar jangan sampai setiap pulang tidak membuahkan hasil. Mobil yang mereka tumpangi semakin lama semakin menjauh dari kampung Donorojo, sampai akhirnya mereka tiba di pasar, dengan segera darmini dan Heri pun turun lalu membayar ongkosnya, kemudian mereka berjalan berdampingan menuju salah satu kios yang biasa digunakan darmini berjualan. Sesampainya di sana, dengan segera darmini pun membuka rolling door tokonya, kemudian dia mengajak Heri untuk menemui Bandar sayuran buat melengkapi jualannya Yang kemarin sudah habis. Pagi itu suasana di pasar sudah mulai ramai, karena biasanya para penjual sayur keliling dan penjual sayur rumahan, mereka akan berbelanja sepagi buta itu, supaya orang-orang tidak kesiangan ketika mereka hendak memasak. Heri terlihat bersemangat ketika membantu istrinya, Dia tidak terlihat mengeluh sedikitpun, karena biasanya jangankan membantu istrinya berjualan, diajak ke pasar pun dia tidak pernah mau. Melihat suaminya yang sudah berubah, membuat darmini merasa bahagia, selain pekerjaannya terbantu dia merasa tenang ketika berada di samping suami. Setelah mengambil barang jualannya, darmini pun mulai menata satu persatu sayuran di kiosnya. tak lama setelah itu para pembeli pun datang, dengan Sigap darmini dan Heri melayani semua pelanggannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN