Duapuluh sembilan

1361 Kata

Zasya menumpahkan semua kekecewaannya. Kekecewaan akan takdir yang begitu kejam kepada dirinya. Kenapa saat ia menjatuhkan pilihan pada seseorang tetapi seseorang itu malah mengecewakan. Zasya kembali menangis, tangis yang pilu. Kecewa akan apa yang ia lihat. Bayang bayang akan Arjuanda yang ia kenal dulu kembali terngiang. Arjuanda yang suka gombal walaupun receh, yang suka bergurau berlebihan, yang suka menelfonnya saat wajahnya sedang jelek, dan momen yang akan terus Zasya ingat yaitu, saat Zasya pertama kali memakaikan baret merah kepada Arjuanda untuk pertama kalinya. Sia sia. Penantian Zasya sia sia. Zasya merasa ini tak adil. Sungguh, hidup harus sebegitu kejam nya kah kepada Zasya?. Zasya menghembuskan nafas lelah. Ya. Zasya lelah sudah menangis sesegukan hampir 2 jam. Zasya men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN