Aku berjalan lunglai, pikiranku malayang entah kemana. Aku di bantu Clarisa menaiki anak tangga menuju kamarku. Aku duduk di tepi ranjang, Clarisa masih setia menemaniku. Kembali lagi tangisku pecah melihat perutku yang membesar, Clarisa ikut menangis di sampingku. "Kak, bagaimana sekarang?" tanya Clarisa, aku melihat dia semakin terisak. Hatiku sangat rapuh saat ini, tapi aku harus kuat. Sebenarnya aku butuh sandaran, tapi aku juga mengerti, kalau Clarisa belum kuat akan hal ini. "Tidak apa Sa" ucapku, aku menghapus air mataku yang mengalir di pipiku. "Bagaimana dengan kakak?" tanyanya lagi. "Kakak tidak apa-apa. Kakak hanya ingin meluapkan emosi saja, makanya kakak menangis. Sekarang kakak sudah lega, dan sudah bisa berfikir jernih. Kakak akan memikirkan cara, dan memutuskan apa yan

