"Kau membohongiku." dengan suara seraknya, Aiden berseru lirih. Ia melompat ke atas ranjang, bersembunyi di balik selimutnya.
Di atas meja sudah tersedia dua piring berisi sarapan dan makan siang milik tuan muda ini yang belum tersentuh sama sekali. Astaga pelayan di rumah ini benar benar tidak berguna! Meskipun kamar ini selalu gelap, bukankah seharusnya mereka tahu kalau Aiden duduk di lantai sejak pagi?! Bagaimana mungkin tidak ada yang berhasil membujuknya untuk pergi ke tempat tidur. Padahal mereka tahu kalau ia sedang sakit. Mereka benar benar terlihat tidak peduli.
"Meskipun anda marah pada saya, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mogok makan. Ayo bangun, Tuan Muda!" Aku menarik selimut Aiden. Kali ini aku yang menang karena dia sedang tidak bertenaga.
"Pergi sana! Jangan menggangguku!" mata tajam Aiden menatap garang. Uh, dia terlihat seperti kucing yang berusaha menjadi harimau.
"Saya tidak mengganggu anda. Saya hanya ingin anda makan."
"Tidak semua keinginanmu harus kulakukan. Memangnya aku pelayanmu?!" Aiden membentak, menarik kembali selimutnya, tiduran menghadap tembok.
Saat marah begini, Aiden mengesalkan sekali. Tapi entah kenapa ia juga jadi sangat menggemaskan. Dengan wajahnya yang masih merah, bibir pucat, mata tajam yang melotot kesal. Dia jadi mirip kungkang yang kurang tidur.
"Saya yang pelayan anda, Tuan Muda. Karena itu saya harus memastikan anda makan dan minum obatnya. Ayo bangun." Setelah berhasil kutarik, aku membuang selimut itu ke sofa, cukup jauh untuk bisa diambil oleh Aiden.
"Kau ini!" Aiden mengepalkan tangannya.
Aku duduk di sebelahnya, mengusap rambutnya yang lembut.
"Kalau tidak makan Anda tidak bisa tumbuh tinggi lo."
Aiden menepis tanganku dengan kasar.
"Siapa kau berani bicara begitu?!"
"Aku calon dokter. Dokter Anda. Sekarang ayo, buka mulut. Aaa...."
Meskipun dia masih ingin marah lagi tapi Aiden tidak bisa menolak suapanku. Ahh... Benar kan, Aiden ini hanyalah anak yang ingin sedikit dimanja. Karena sejak kecil tidak ada yang memperlakukannya seperti ini, Aiden tidak tahu soal bagaimana remaja pada umumnya harus bersikap. Usia mentalnya seperti anak sepuluh tahun.
"Aku makan bukan karena takut tidak tumbuh tinggi..." gumamnya.
"Iya iya, saya mengerti. Anda makan karena saya suapi kan?"
"BUKAN ITU JUGA!"
Lihatlah, pipinya bersemu merah. Apa dia malu? Manis sekali.
"Jadi?" aku bertanya lagi, senang sekali usil padanya.
"Aku makan karena lapar! Manusia tidak bisa hidup tanpa makan. Aku juga tidak mau sakit, aku ingin bermain game tanpa merasa pusing."
Aku terkekeh. Aiden makan dengan lahap.
"Baiklah baiklah, jadi demi game ya."
Ia mengangguk angguk. Kalau Aiden itu adikku, pasti sudah aku peluk karena sangat menggemaskan.
"Adik saya sakit. Namanya Lora, gadis kecil yang usianya baru 8 tahun. Sebenarnya saya sudah mau berangkat sejak pukul 8 pagi tadi, tapi tiba tiba saja Lora tidak mau ditinggal. Tidak mau tidur dan istirahat jika tidak dengan saya."
Aku berbohong. Sebenarnya Lora sudah menyuruhku pergi, tapi aku sendiri yang tidak mau meninggalkannya. Aku ingin memiliki sedikit waktu dengan adikku juga. Dua Minggu terakhir waktu liburku kuhabiskan untuk berusaha berteman dengan tuan muda ini.
"Adikmu membutuhkanmu?" tanya Aiden. Dia sudah tidak mau membuka mulutnya, hampir muntah lagi tapi ia tahan dengan minum banyak air mineral, sepertinya Aiden ingin terlihat baik baik saja. Aku meletakkan piring di atas meja.
"Iya, di rumah, saya yang paling dekat dengan Lora." aku harap Aiden mau mengerti.
"Lalu bagaimana denganku?"
Eh.
"...Kau pikir aku tidak membutuhkanmu?"
"Tapi adik saya sedang sakit, tuan muda."
Aiden menatap kesal. Keningnya tertaut sempurna.
"Kalau begitu pulanglah sekarang. Tugasmu hanya memastikan aku makan dan minum obat kan? Aku sudah melakukannya, sekarang pergilah."
Ternyata dugaanku salah. Aiden tidak mau mengerti. Ia sudah mengambil kembali selimutnya, kemudian tidur menghadap tembok. Aku menghela napas, haruskah aku pulang? Atau aku membujuknya saja?
Kalau aku pulang, aku yakin besok Aiden akan tetap bersikap dingin seperti ini. Aku juga khawatir dia memperlakukanku sama seperti kita pertama bertemu dulu, masa semua yang sudah kulakukan selama ini jadi sia sia hanya karena satu kesalahan.
Apalagi kesalahan yang kulakukan bukanlah kesalahan yang besar, alasanku juga kuat. Bagaimana mungkin aku meninggalkan adikku yang sedang sakit sendirian? Ibu panti juga sedang sibuk. Lora saja paham akan situasiku, mengizinkanku untuk pergi. Kenapa Aiden sama sekali tidak mau mengerti. Padahal dia jauh lebih dewasa daripada Lora.
Aku menghela napas untuk kesekian kali. Rasanya mau jadi amoeba dan membelah diri atau menguasai jurus seribu bayangannya Naruto agar bisa berada di banyak tempat sekaligus.
"Anda marah karena saya lebih memilih menemani adik saya daripada Anda?"
"Bukan urusanku."
"Apa seharusnya saya meninggalkan adik saya yang sedang sakit dan lebih mengutamakan anda?"
"Aku tidak peduli."
Demi apapun Aiden menyebalkan sekali. Jauh lebih menyebalkan dari Lora yang harus kejar kejaran dulu kalau waktunya mandi.
Jika Aiden ini salah satu anak panti, aku pasti sudah memukul pantatnya sampai merah agar dia tahu kalau kata katanya benar benar tidak sopan.
Tapi aku juga tahu kalau aku salah. Aku berjanji datang pagi tapi baru sampai pukul 2 siang.
"Apa kamu tidak mau memaafkanku, Aiden?"
Aiden mendengus.
"Jangan berisik, aku mau tidur."
"Haruskah aku pergi?"
"Terserah." Aiden menjawab cepat.
Baiklah. Mungkin cukup untuk hari ini. Aku tidak bisa membujuk Aiden. Yang terpenting dia sudah makan dan minum obatnya.
"Kalau begitu sekarang saya akan pulang, Tuan Muda. Jangan lupa makan malam dan minum obat lagi."
Lagi lagi hal yang kemarin terjadi, hari ini terjadi lagi. Aiden menghentikan ku di saat aku mau melangkah keluar. Tangannya menahan ujung bajuku.
"Jangan menoleh! Jangan melihatku dan dengarkan saja." serunya dengan suara bergetar.
Aku mengangguk. Dia tidak ingin aku melihat ekspresinya.
Terdengar suara Aiden menarik dan menghembuskan napas panjang.
"Jangan berbohong lagi. Aku tidak suka dengan orang yang tidak menepati janji apapun alasannya. Seharusnya kau menghubungiku jika tidak bisa datang tepat waktu."
"...Aku menunggu... Sejak pagi... Aku bangun pagi pagi sekali, mandi, mengenakan pakaian yang bagus untuk sarapan denganmu. Aku sengaja menunggu di depan pintu untuk mengejutkanmu."
Ah, jadi begitu ya. Aku benar benar jahat. Aku sudah membuat anak kesepian ini menunggu sangat lama. Dia marah bukan karena aku lebih mengutamakan Lora. Dia marah karena aku membohonginya, mengecewakannya, dan tidak menepati janjiku untuk sarapan bersama.
"Maaf.... Maafkan aku, Aiden." aku tidak peduli lagi pada larangan Aiden untuk tidak berbalik. Ini adalah reflek yang akan kusesali suatu saat nanti. Karena merasa sangat bersalah, lagi lagi aku memeluk Aiden seperti dia adalah adikku sendiri.
Aiden membeku. Tidak membalas pelukanku.
"Meera kau menangis? Apa kalimatku membuatmu sedih?"
Aku menggeleng. Aiden yang tingginya sejajar denganku mendorong pelan, mata tajamnya menatap khawatir. Ia menghapus air mataku dengan jemari panjangnya yang lembut.
"Ah jangan menangis Meera. Aku minta maaf jika kata kataku kasar."
Aku menggeleng cepat. Menatap wajahnya yang entah kenapa jadi terlihat lebih dewasa daripada biasanya.
"Aku tidak akan berbohong lagi, aku janji." ujarku sembari menatap Aiden, meyakinkannya.
Aiden menempelkan telunjuknya di mulutku.
"Sudah kubilang jangan berjanji." ia tersenyum tipis.
Senyum yang sungguh menghipnotis. Aku sempat tidak bisa melepaskan pandanganku dari wajahnya.
"Bahkan berjanji untuk tidak berbohong tidak boleh?"
Aiden mengangguk. Mengalihkan pandangannya ke tempat lain, menghindari tatapanku.
"Ngomong ngomong aku suka saat kau memanggilku dengan namaku. Jadi teringat masa masa di sekolah dulu."
Eh, aneh. Aku pikir Aiden benci sekolahnya.
"Anda masih ingat? Saya dengar Anda terakhir bersekolah saat sekolah dasar."
"Meski ingatanku sedikit samar, tapi aku masih ingat. Aku juga punya teman di sana."
Itu hal yang baru kutahu. Tidak tertulis dengan rinci bagaimana kehidupan sekolah Aiden di tablet yang diberikan Nyonya Askara padaku.
"Ah Meera, apa kau sibuk? Kalau tidak, apa aku boleh minta tolong?"
"Ya, apapun!" seruku.
"Sungguh?" mata Aiden berbinar.
Aku mengangguk, tentu saja. Aku akan mengabulkan apapun permintaannya untuk menebus kesalahanku.
"Nanti malam aku mau keluar membeli mikrofon untuk streaming. Apa kau bisa menemaniku?"
Mataku mengerjap tidak mengerti. Ini telingaku yang salah dengar atau otakku yang jadi bodoh dan salah menyimpulkan kata katanya?
"Ya? Maksud anda apa, Tuan Muda?"
"Aku memintamu untuk menemaniku mencari mikrofon."
"Di online shop?" aku bertanya lagi, memastikan kesalahpahaman.
"Tidak tidak, aku sering membeli barang online tapi kualitasnya tidak pernah sesuai dengan yang kuinginkan. Aku akan beli langsung di toko, tapi aku tidak bisa pergi sendiri, aku juga tidak mau ditemani bodyguard, mereka selalu mencolok dan membuatku menjadi pusat perhatian. Jadi kita pergi berdua."
Astaga! ternyata aku tidak salah paham. Aiden benar benar berencana untuk keluar dari sarangnya malam ini. Dia mengajakku untuk keluar.
Ini sangat mengejutkanku karena begitu mendadak. Mengingat betapa bencinya Aiden pada keramaian dan orang lain yang mengajaknya bicara. Bukankah ini progres yang luar biasa?! Nyonya Askara pasti senang sekali!
"Meera, kau belum menjawab."
"Iya, saya bisa. Saya akan datang tepat waktu, pukul berapa?"
"Pukul 11 malam. Saat semua orang sudah beristirahat dan tertidur, aku akan keluar diam diam." Aiden nyengir.
Apa? Apa maksudnya ini? Jadi dia mau kabur ya, keluar dengan cara ilegal?!
"Kalau begitu pulanglah. Tunggu aku di terminal bus dekat perempatan jalan sana. Aku akan datang secepat mungkin." Aiden mendorongku keluar dari kamarnya. Tanpa menunggu aku bereaksi lagi. Hei jika caranya begitu bukankah itu sangat berbahaya?!
Oh Tuhan, aku tidak tahu tuan muda ini hanya bercanda atau sungguhan ingin melakukan rencana gilanya. Tapi yang jelas, jika ia serius, Aiden mungkin sudah lelah denganku dan ingin nyonya Askara memecatku. Kalau sampai ketahuan atau ada apa apa di jalan nanti, aku pasti akan dipenjarakan dengan tuduhan penculikan.
Aiden adalah tuan muda terkejam di dunia. Wajah dan sikapnya saja yang polos, tapi aslinya dia nakal sekali.