Semua yang terjadi hari ini benar-benar aneh. Aku menjadi begitu dekat dengan cewek misterius yang sekarang bahkan sedang berada di pelukan ku. Awalnya dia hanya diam dan mematung. Sepertinya dia kaget aku memeluknya tiba-tiba. Perlahan aku merasakan tangan nya mulai membalas pelukan ku.
"Seekor b******n ngambil gambar, arah jam 3"
Hah? Aku pun panik dan mulai mencari-cari seseorang yang lagi ngambil foto kami.
"Dasar bodoh, pura-pura gatau aja"
Dia kembali berbisik di telinga ku dengan memegangi kepala ku agar tidak menoleh-noleh mencari orang yang dia maksud. Dia juga mengisyaratkan untuk melepas pelukan dan mengejar orang dengan hoodie abu-abu itu dalam hitungan ke tiga. Tapi aku tidak tau mana orang yang dia maksud. Dia kan juga ga bolehin liat orang nya. Gimana mau ngejar?--
"Satu... dua... tiga!"
Sekejap mata dia menghilang dari pandangan ku. Dia mengejar seseorang yang juga langsung hilang dari kerumunan. Sempat melongo b**o beberapa saat, aku pun segera mengikuti arah lari mereka. Aku juga baru ingat kalo kaki Shein lagi ga dalam kondisi bagus. Tapi bocah bandel itu malah lari seenak nya.
Mana larinya cepet banget. Aku bahkan tidak bisa melihat jejaknya. Aku terkejut saat dapat telfon dari teman-teman ku bahwa makanan yang dipesan sudah datang. Aku memberi tau mereka bahwa Shein kabur sambil ngejar seseorang yang sempat memotret kami.
"Hah? Trus gimana? Dia kan harusnya masih pake kursi roda!"
"Ya gatau. Ini gue lagi nyari. Kalian bantuin gue deh sini"
"Si Harel gaada nih, dia juga keluar. Oke, lo lanjut nyari aja, bentar lagi kami sampe di sana"
Aku pun langsung pergi mencari nya lagi. Di tempat seluas ini anak itu bisa nyasar di mana aja. Apalagi Harel yang juga ikutan ilang.
Tunggu.. Harel kan yang paling curiga sama cewek itu. Apa jangan-jangan Harel sengaja ikut keluar pas kami keluar? Atau.. Harel yang memotret kami berdua? Kalo pun iya, kenapa dia harus memotret kami? Apa ini semacam bagian rencana abal-abal nya itu.
Aku pun kehabisan ide mau mencari anak itu di mana lagi. Dia gabisa ditemukan, kami sudah berkeliling di setiap sudut. Harel juga ga bisa dihubungi. Kalo terjadi sesuatu sama Shein, pasti lah paman nya yang punya badan gede itu akan membunuh ku. Aku bahkan ga berani menelfon paman Shein.
Aku pun duduk tersandar di sebuah pohon dengan penerangan remang-remang dan agak sepi. Pantas saja, ini sudah hampir jam 11 malam dan gaada seorang pun yang kami temukan. Namanya juga taman rs, makin malam ya pasti makin serem. Aku sedikit frustasi karna tidak bisa menemukan siapa pun.
Roby dan Ren mengajak ku untuk kembali ke kamar Shein. Siapa tau paman nya sudah sampai atau Shein dan Harel sudah kembali. Aku pun berjalan dengan sangat-sangat tidak semangat. Betul saja, tetap tidak ada seorang pun di kamar itu. Makanan yang dipesan Shein tak tersentuh sama sekali.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Hmm?"
Aku pun mendapati diriku tertidur di sofa dan teman-teman ku juga tertidur dengan pulasnya. Samar-samar aku melihat dua orang berjalan masuk ke kamar. Aku pun mengucek-ucek mataku karna penglihatan yang kabur.
"Shein?"
Ternyata yang baru masuk itu adalah Shein dan paman nya. Saat aku melihat jam, ternyata udah jam 2. Dari mana saja dia sampe-sampe baru kembali jam 2? Yang paling mencolok dari dia adalah pakaian rumah sakit dengan darah mewarnai nya. Sepertinya luka nya berdarah lagi tapi dia terlihat baik-baik saja.
"Lo kenapa?"
"Oh big baby yang udah bangun? Bagun karna ngompol?"
"Plis deh, gue lagi ga minat becanda-- kenapa lo berdarah-darah LAGI?"
Aku sengaja menekankan nada bicara di bagian lagi. Toh aku beneran udah liat dia berdarah-darah dua kali. Tapi dia hanya cuek. Membuka bajunya dan memamerkan darah di perban-perban nya serta badannya yang bagus untuk standar cewek. Dia mengambil hoodie hitam lalu memakainya.
Tanpa memperdulikan ku yang masih kebingungan, dia pergi mengambil sekotak es krim lalu duduk di balkon. Kamar ini memang terhitung cukup mewah karna ada balkon yang bisa membantu kita melihat-lihat dari lantai 10.
Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi apa ya? Itu.. Harel! Mana anak s****n itu? Dia bahkan membuat ibu angkatnya yaitu si Berbi kawatir berlebihan. Aku melihat dia tertidur lemas di samping tempat tidur pasien. Untunglah dia sudah kembali. Aku pun segera menyusul Shein ke balkon.
"Lo belum jawab gue"
Dia masih terus melahap es krim nya. Persis seperti bocah yang baru dapet es krim.
"Bocah bobok aja sana"
"Justru elo yang bocah-- badan kayak anak tk, makan es krim belepotan pula"
"Kalo mau es krim beli dong. Modal man"
Siapa juga yang mau es krim?-- aku pun menyerah untuk bertanya pada anak aneh itu. Aku memberanikan diri untuk bertanya pada paman nya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ehm, maaf ya om saya gabisa jagain Shein. Tapi, tadi ada kejadian apa?"
"Oh itu. Hahaha, don't worry. She's okay. Bukan darah dia, punya yang memotret"
Saat aku masih melongo tidak mengerti, paman Shein pun pergi. Katanya dia ada urusan mendadak di luar kota. Dia juga sangat percaya Shein bisa sendiri. Makanya dia santai-santai saja ninggalin keponakan nya yang aneh itu.
Anak itu masih saja makan seember es krim di balkon. Mana gamau bagi-bagi pula. Gimana makanan nya bakal jadi berkah dan bikin dia tambah tinggi kalo dia ga berbagi ke sesama. Lagian siapa juga orang normal yang makan es krim malam-malam sambil berangin-angin di balkon.
Karna sangat mengantuk, aku pun segera tidur di samping Roby yang asik ngiler. Sementara cewek itu masih aja duduk dengan ember es krim nya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pagi hari nya, kami semua terbangun karna suara perawat yang sedang ngomel-ngomel. Saat aku membuka mata, aku melihat Shein yang sedang duduk cemberut di tempat tidur nya dengan seorang perawat yang membawa makanan. Perawat itu menggeleng-geleng saat Shein menunjukkan baju rs nya yang bersimbah darah. Dia juga bilang kalau dia tidak mau makan karna sudah kenyang dengan es krim yang dia makan semalaman di balkon.
Ternyata perawat itu menemukan dia masih di balkon dengan ember es krim yang sudah kosong. Perawat itu langsung memaksa nya untuk makan makanan dari rumah sakit dan duduk diam di temat tidur. Aku juga melihat dia sudah dipasangkan infus kembali.
Bener sih dia terlihat kurus. Apalagi matanya yang hitam beneran (bukan karna hiasan) gara-gara tidak tidur. Ngapain aja anak itu di balkon? Ga dingin apa-- Ternyata hal yang membuat perawat itu semakin jengkel adalah Shein tidak mau makan dan memaki-maki makanan rumah sakit yang jujur saja memang sangat-sangat tidak enak.
"Mending gue mati kelaparan dari pada makan sampah itu. Makanan kok ga berkelas gini sih?"
"Gausah sem.."
"Ehm, maaf ganggu mbak. Maafin dia ya. Tapi inget lho, beberapa hari yang lalu pelayanan di sini emang ga memperhatikan dia. Mau saya lapor ya?"
"Itu.. engga mas. Tolong gausah lapor"
"Oke, bawa aja makanan nya pergi biar saya yang ngurus makan nya dia"
Akhirnya si perawat pergi dengan setengah kesal karna aku mengungkit-ungkit pelayanan yang buruk. Wajah Shein pun cerah kembali lalu mengambil jus dari lemari es. Dia meloncat dari tempat tidur dan menyeret infus nya ke balkon. Lagi-lagi dia duduk santai di sana.
Saat aku akan menghampiri cewek itu, aku dihentikan oleh Harel yang bilang kalo barusan pelatih nelfon buat latihan basket nanti siang. Berarti kami juga harus pulang sekarang untuk persiapan. Kami pun pamit dulu pada Shein yang masih duduk di balkon.
"Sampe ketemu besok"
"Besok??"
Kami semua heran apa maksud nya besok. Anak itu kan masih harus di rumah sakit dan ngomong-ngomong dia sebenernya juga belum boleh lepas dari kursi roda nya.
"Iya besok, di sekolah. b**o dipiara, piara kodok dong, untung"
"Kan elo masih sakit--"
"Apanya? Gue udah bisa loncat-loncat. Lagian gue kasian sama perawat yang liat gue mulu tiap hari"
Oke, kali ini dia benar. Perawat itu pasti dapat siksaan batin di sini. Kami pun pamit ke rumah masing-masing dengan tampang kumal. Yah belum sempat mandi sih. Lagian Shein ga bolehin make fasilitas kamar milik NYA. Air aja dia gasudi bagi-bagi apalagi es krim nya itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku pun menuju sekolah dengan motor ku seperti biasa. Aku sedikit penasaran sih dengan keadaan si cewek aneh. Sedikit penasaran kok, ga banyak-banyak. Tapi apalah daya, nomor hp nya gapunya, kontak lain-lain juga engga, apalagi tau rumahnya. Lagian masak ke rumah cewek aneh itu. Mau ngapain coba? Ya kali jemput dia--
Saat baru masuk gerbang, aku bisa melihat kerumunan orang yang banyak sekali dan memadati area berkumpul di sana. Lagi ada apa ya? Apa jangan-jangan ada pembagian sarapan gratis lagi? Tapi wajah semua orang terlihat serius sekali. Perasaan ku mulai memburuk.
Aku pun berjalan perlahan ke sana sambil membuka helm ku. Entah kenapa hawa nya semakin aneh saat aku sudah semakin dekat. Dari sini aku dapat melihat yang di sana itu bukan hanya kumpulan siswa. Ada juga guru dan... polisi?! Kalau ada keributan pastinya giru dan polisi segera bertindak. Aneh nya, saat ini mereka hanya berlalu lalang masuk-keluar kerumunan.
Firasat buruk ku benar. Aku segera berlari ke sana secepat yang ku bisa. Aku melihat mata semua orang tertuju pada ku. Sebagian dari mereka ada yang mata nya sembab, sedang menangis, melihat dengan kasian, merasa mual dan jijik serta berpikir ini sangat tragis.
Aku melihat sekitar dan menemukan Harel dan Ren sedang berdiri di hadapan ku. Yang aku pertanyakan sekarang adalah 'dimana Roby?'
Aku mendengar sebuah suara yang sudah akrab di telinga ku. Suara tersebut menangis terisak-isak. Ren dan Harel yang mencoba menghalangi pandangan ku langsung ku tepis. Yang ku lihat adalah Roby sedang menangis. Menangisi seseorang tepatnya. Darah mulai membanjiri telapak sepatu ku yang berkilau karna baru saja dibersihkan. Banyak sekali daah di sana. Air mata Roby tak henti mengalir.
♡
Dia sudah pergi..
Tapi rasanya dia masih saja di sini, menemaniku belajar sampe tengah malam, mengomeli ku karna belum makan malam, ngambek karna tadi aku menyebut nama pria lain..
Di sini sunyi, sepi..
Gaada lagi omelan dia yang bahkan lebih bawel dari mama ku..
Dia manis, baik, dan aku bisa merasakan cinta nya yang teramat dalam untuk ku..
Aku bahkan merasakan detak jantungnya..
Tapi kenapa aku sudah tidak dapat merasakannya lagi?
Apa ini karna perasaan ini sudah berbeda?
Apa karna..
Sudah ada seseorang lain?
Entahlah..
Yang aku tau
Aku sangat merindukan nya..
Aku ingin menyelesaikan semua masalah antara kami dan menjalani sendiri-sendiri..
Tapi kami bahkan sudah tidak saling bicara..
Juga tanpa keputusan..
Aku ingin bicara dengan nya..
Benar-benar ingin..
Selamat tanggal 1
Semoga dia mendengarnya