Sesuai janji nya Kusumo mendatangi salah satu rumah khusus untuk selir nya, sebuah rumah sederhana jauh dari kata mewah berlahan kaki nya menyusuri jalan setapak menuju depan pintu berwarna coklat tersebut. ' tok..tok..tok' " Siapa itu?" Heran nya pada dirinya sendiri di tatap wajah pulas si anak Trinil, pelan-pelan pergi dari ranjang untuk membukakan pintu kamar nya. " Kang mas, ada apa kemari" tak lama atas ke-kagetan nya ia menunduk kan badannya terbilang pendek menjadi lebih menunduk di hadapan orang berkasta tinggi dari nya. " Gendis pie kabar'e" ucap nya memandangi dari daun pintu ke arah ranjang besi di mana anak nya terlelap di sana, " gendis baik-baik saja Ndoro" " Kata nya jatuh bareng Nirmala waktu mereka bermain" " Benar, Raden" " Trinil, jangan pangil aku Raden jika be

