Perang

1359 Kata
Suara tembakan masih berdengung di telinga Surya meski penembak jitu itu sudah menghilang di balik kegelapan hutan. Hujan yang sempat reda kini turun kembali dengan deras, membasahi sisa-sisa bangunan gudang yang masih mengeluarkan asap hitam. Di tanah yang basah dan berlumuran debu, tergeletak tiga jenazah anak buahnya yang mati tertembak, dan di dekatnya tergeletak bunga mawar putih tanda yang hanya dimiliki Keluarga Angkasa. Surya mengepal tangan hingga buku jarinya memutih. Di matanya, bukti ini sudah jelas. Tidak peduli siapa yang sebenarnya menarik pelatuk, tanda itu adalah tantangan yang tidak bisa dibiarkan. "Kumpulkan semua orang! Persiapkan senjata dan amunisi!" perintahnya dengan suara berat dan penuh amarah. "Keluarga Angkasa berani bermain api, maka mereka harus siap terbakar!" Di saat yang sama, berita tentang serangan itu dengan cepat sampai ke telinga Baskara Angkasa. Ia berdiri di ruang kerjanya dengan wajah memerah menahan emosi. Di hadapannya, Sekar Ayu berdiri tegak, berusaha menjelaskan meski ia tahu bukti yang ada terlihat sangat buruk. "Ayah, aku tidak memerintahkan ini! Tidak ada orang di bawah komandonya yang dikirim ke gudang itu!" tegas Sekar. "Tapi mawar putih ditemukan di sana!" bentak Baskara sambil menunjuk meja yang penuh laporan. "Selama tiga generasi, itu adalah tanda kebesaran kita. Siapa lagi yang berani menggunakannya selain kita? Mereka sengaja menyerang dan mempermalukan nama Aditama tepat di hari pergantian kekuasaan. Ini adalah perang terbuka!" "Tapi bisa saja ada yang memalsukannya..." "Cukup!" Baskara memotong tegas. "Di dunia ini, bukti yang terlihat adalah kebenaran. Jika kita diam, mereka akan mengira kita takut dan terus menyerang. Kita harus membalas, sebelum mereka menghancurkan kita lebih dulu." Sekar terdiam. Ia mengerti logika ayahnya, dan ia juga tahu bahwa di dunia mafia, keraguan bisa berujung pada kematian. Meskipun ada suara kecil di hatinya yang merasa ada yang tidak beres, ia tidak bisa mengabaikan kewajibannya sebagai pewaris keluarga. Ia harus bersiap melawan, meski hatinya masih dipenuhi pertanyaan. Saat fajar mulai menyingsing, suasana di seluruh bagian kota berubah menjadi mencekam. Berita menyebar seperti angin: Keluarga Aditama telah menyatakan perang terbuka terhadap Keluarga Angkasa. Di markas besar Aditama, Juanda Aditama berdiri di hadapan ratusan anak buahnya. Wajahnya dingin dan penuh wibawa. "Mereka telah menginjak harga diri kita dan membunuh saudara-saudara kita! Tidak ada tempat untuk belas kasihan! Mulai hari ini, setiap orang yang membawa lambang Angkasa adalah musuh yang harus dilenyapkan!" Surya berdiri di samping ayahnya. Di dadanya hanya ada amarah dan tekad. Ia mengingat ajaran yang ditanamkan sejak kecil: musuh harus dihancurkan sampai ke akarnya. Bayangan wanita yang ia temui tadi malam hanya terlintas sekilas, lalu dihapus oleh rasa benci yang sudah tertanam lama. Dia putri musuh. Tidak ada yang lain, gumamnya dalam hati. Di sisi lain kota, persiapan serupa berlangsung. Baskara membagi pasukannya menjadi beberapa kelompok. Sekar memimpin salah satu kelompok terkuat, mengenakan jas hitam ketat, memegang pistol dengan gagang perak. Tatapannya tajam dan tanpa emosi. Baginya, Surya Aditama hanyalah penerus keluarga kejam yang telah memusuhi mereka selama puluhan tahun. Tidak ada ruang untuk perasaan lemah. Pertempuran pertama pecah di perbatasan wilayah kedua keluarga. Suara tembakan, ledakan, dan teriakan memenuhi udara. Jalanan yang biasanya ramai kini kosong, hanya diisi oleh orang-orang yang saling menyerang dengan kejam. Darah mulai membasahi aspal kota. Surya memimpin serangan dari depan. Ia bergerak lincah, matanya tajam mengamati setiap sudut. Di balik tembok sebuah bangunan tua, ia melihat sosok yang dikenalnya Sekar Ayu sedang bersembunyi, sedang membidikkan senjatanya ke arah salah satu anak buahnya. Tanpa berpikir panjang, Surya melompat keluar dan menembakkan peluru tepat di dekat kaki Sekar, membuatnya terkejut dan kehilangan keseimbangan. "Jangan bergerak!" teriak Surya sambil mengarahkan senjatanya tepat ke arah d**a wanita itu. Sekar dengan cepat bangkit dan mengangkat senjatanya sebagai balasan. Keduanya berdiri saling berhadapan, jarak hanya beberapa meter, saling mengarahkan senjata tepat ke arah tubuh masing-masing. Di sekeliling mereka, suara pertempuran masih bergema, namun seketika terasa hening di antara keduanya. "Jadi kau benar-benar berani memulai semua ini?" tanya Surya dengan nada dingin, matanya menyipit tajam. "Membunuh orang secara diam-diam lalu bersembunyi di balik tanda kebesaranmu?" Sekar menatapnya dengan pandangan yang sama dinginnya. "Kita tidak melakukan itu! Tapi kau dan keluargamu terlalu buta amarah untuk mau mendengar alasan!" "Alasan? Bukti sudah ada di depan mata!" Surya melangkah sedikit mendekat, ujung moncong senjatanya tidak bergerak. "Sejak lahir, kita sudah ditakdirkan bermusuhan. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Bahkan jika kau berdiri di sini memohon, tanganku tetap akan menarik pelatuk." "Lakukan saja jika kau berani!" tantang Sekar, suaranya tegas tanpa sedikit pun rasa takut. "Aku pun sama. Darah Aditama dan Angkasa tidak akan pernah bisa bersatu. Satu dari kita harus jatuh hari ini." Mereka saling menatap, dan di dalam hati masing-masing, tidak ada perasaan lembut yang muncul hanya kewajiban, benci yang diwariskan, dan rasa curiga yang mendalam. Surya melihat di matanya musuh, Sekar pun melihat hal yang sama. Meskipun ada rasa penasaran samar tentang sosok di hadapannya, itu segera tertutup oleh dinding permusuhan yang sudah dibangun bertahun-tahun. Namun sebelum salah satu dari mereka sempat bertindak, sebuah ledakan besar terjadi tidak jauh dari tempat mereka. Sebuah mobil yang dipasangi bahan peledak meledak hebat, membuat tanah berguncang dan debu beterbangan ke mana-mana. Keduanya terpental mundur dan jatuh ke tanah, senjata mereka terlempar jauh. Saat debu mulai menipis, Surya bangkit terbatuk-batuk dan melihat sosok yang muncul dari balik bangunan yang tidak ikut hancur. Bukan orangnya maupun orang Angkasa melainkan sekelompok pria dengan lambang elang di d**a mereka, wajah penuh kebencian. "Keluarga Garuda!" gumam Surya menyadari siapa mereka. Seorang pria tua berjalan mendekat sambil tertawa sinis. "Lihatlah! Dua anak kecil yang saling membunuh karena kita! Mudah sekali memanfaatkan kebencian yang sudah ada sejak lama!" Sekar yang juga sudah berdiri berdiri di samping Surya, meski keduanya masih saling curiga. "Kalian yang melakukan semua ini?" tanya Sekar geram. "Tentu saja! Kita ingin melihat dua keluarga besar ini saling membinasakan, lalu kita yang akan mengambil alih seluruh kota ini!" pria itu mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengarahkan senjata ke arah Surya dan Sekar. "Dan sekarang, kalian berdua akan mati bersama!" Surya dan Sekar saling pandang sekilas. Di situasi terjepit ini, mereka terpaksa bekerja sama untuk selamat, namun hati mereka tetap dipenuhi permusuhan. Ini bukan kerja sama karena perasaan, melainkan karena bahaya yang sama. "Di belakang mereka ada tiang penyangga," bisik Surya pelan, hanya agar didengar Sekar. "Jika kita bisa menjatuhkannya, kita bisa melarikan diri." Sekar hanya mengangguk singkat, tanpa senyum atau rasa percaya. Mereka berdua bergerak serentak, menghindari tembakan sambil berusaha mencapai tiang yang dimaksud. Pertarungan sengit pun terjadi, namun saat mereka akhirnya berhasil melarikan diri dan bersembunyi di tempat yang aman, mereka segera menjauh satu sama lain, kembali pada posisi sebagai musuh. "Jangan berpikir ini berarti kita berdamai," ucap Surya dingin sambil membenahi pakaiannya yang robek. "Kita selamat dari musuh yang sama, tapi besok kita tetap akan berperang lagi." Sekar membalas dengan tatapan tajam. "Sama. Jangan berharap lebih. Begitu situasi aman, kita akan kembali berhadapan." Mereka berpisah, masing-masing kembali ke kelompoknya. Namun di tengah kekacauan itu, sebuah pertanyaan mulai muncul di benak mereka: bagaimana jika selama ini mereka berperang melawan orang yang salah? Tapi rasa benci dan kesalahpahaman yang sudah mengakar terlalu kuat belum bisa hilang begitu saja. Saat malam tiba, berita tentang serangan Keluarga Garuda mulai menyebar, namun banyak orang masih tidak percaya. Di markas Aditama, Juanda menerima laporan tentang lambang yang ditemukan, namun ia masih ragu. "Ini bisa jadi akal-akalan mereka untuk menenangkan kita dan menyerang lagi," ucapnya. Di sisi lain, Baskara pun memiliki pendapat yang sama. "Jangan percaya begitu saja. Ini bisa jadi jebakan." Surya berdiri di balkon, menatap kota yang gelap. Ia teringat wajah Sekar, namun hanya sebagai musuh yang sama-sama terjebak. Tidak ada cinta, hanya pertanyaan yang belum terjawab. Namun ia tahu, perang ini belum selesai bahkan bisa menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya. Tiba-tiba, telepon di ruangannya berdering. Ia mengangkatnya, dan suara yang tidak dikenali terdengar dari seberang sana. "Kau pikir dengan selamat hari ini berarti semuanya selesai? Aku tahu rahasia yang akan membuat keluargamu hancur selamanya. Jika ingin tahu kebenaran, datanglah sendirian ke dermaga tua pukul dua pagi. Dan jangan beritahu siapa pun termasuk ayahmu." Telepon itu terputus. Surya menatap gagang telepon dengan dahi berkerut. Siapa orang ini? Dan rahasia apa yang dimaksudnya? Di saat yang sama, di tempat lain, Sekar juga menerima telepon yang sama dengan pesan yang hampir identik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN