BAB : 20

1286 Kata
Keduanya menuju lantai atas. Kinara berpikir kalau di sini hanya ada ruangan pribadi seperti kamar. Tapi justru lebih dari perkiraannya. Karena langkah keduanya justru berlanjut menuju lantai tiga. Ayolah, ia pun tak berpikir kalau rumah ini memiliki tiga lantai. “Ini kita mau ngapain, sih?” Bukan hanya bingung, tapi ia juga capek berjalan dengan begitu susah. Tahu sendiri kakinya lagi sakit, malah diajakin menaiki anak tangga sebanyak itu. “Masih kuat jalan nggak?” Menatap horor ke arah Devan. “Hmm, masih,” jawabnya. Takut, dia melakukan tindakan yang membuatnya kaget lagi. Cukup dengan tiba-tiba masuk kamarnya saja, jangan ada adegan yang lebih parah lagi dia lakukan padanya. “Lebih baik perbanyak jalan, agar otot kakimu nggak kaku.” Terserah deh apa kata dia, karena sekarang dirinya justru lebih penasaran Darrel akan membawanya kemana? Tadinya penasaran, tapi saat berada di anak tangga paling atas, hasil jalan kakinya yang menguras keringat seolah membuahkan hasil. Pandangannya langsung fokus pada langit malam yang terbentang di atas kepalanya tanpa hambatan. “Ya ampun, bagus,” gumamnya dengan pandangan berkeliling. Kali ini bukan Darrel yang menyeretnya, tapi justru ia sendiri yang membawa cowok itu mengikuti langkahnya. Kinara sibuk dengan pandangan langit malam penuh bintang yang terbentang luas di depan matanya, sementara Darrel justru lebih fokus pada sikap Nara padanya. Terutama tangan dia yang kini menggenggam erat tangannya. Jujur, awalnya ia tak ada rasa atau apapun terhadap gadis ini. hanya kagum dengan paras dia yang manis, tapi saat dia berhasil menyentuhnya, kenapa rasanya justru jadi berbeda? Sentuhan yang berharap ia rasakan selama ini, kenapa justru didapatkan dari Kinara? “Aku suka tempat ini,” ujar Nara langsung berbalik badan, tanpa ia sadari Darrel ada dihadapannya. Otomatis membuat dirinya langsung jatuh di dekapan dia. Darrel tersenyum dihadapan Kinara yang posisi dia masih berada dalam dekapannya. Saking dekatnya, aroma manis yang berasal dari tubuh dia seakan menghipnotisnya. “Hmm, maksudmu suka yang seperti apa?” Pertanyaan Darrel sontak membuat Nara tersadar dari lamunan dan fokus menatap dia. Langsung menjauh, tapi lagi-lagi kondisinya seakan memperparah keadaan. Berpikir lepas, tapi kakinya tak memberikan tolerir sama sekali, hingga akhirnya ia masih saja bergelayut di lengan Darrel sebagai pegangan. “Maaf,” ucapnya. Lagi-lagi hanya membalas dengan senyuman. Serius, ya ... sebagai seorang cewek normal, diberikan sikap seperti itu dari cowok sejenis Darrel, jujur udah bikin jantung nggak karuan. Tahu dari orang-orang, kalau dia bukan tipe yang terbuka pada siapapun. Entah kenapa sekarang justru malah terlalu terbuka padanya. Dikenal dingin, tapi yang ia dapati justru sebaliknya. Apa hanya pemikiran orang-orang saja, yang bilang Darrel itu dingin. Karena dengannya, dia justru berbanding terbalik. Oke, di awal mungkin jutek. Hanya saja, makin ke sini kenapa makin parah sikap manis dia. Keduanya menuju sebuah kursi sofa yang berada di sana, dengan Darrel yang membantu Nara hingga duduk. Dahi Kinara berkerut, sedikit bingung dengan apa yang didapati saat ini. Sebuah kue yang ada di meja. “Maksudnya?” tanya Nara. “Temani aku malam ini.” Kalimat yang kalau tak berpikiran positive, pasti sudah membuat dirinya memikirkan hal kotor. “Untuk?” tanya Nara. “Menikmati pergantian usia.” Awalnya membuatnya bingung, tapi saat kalimat itu dia katakan, Kinara langsung paham dan mengerti kemana inti pembahasan dia. “Kamu ulang tahun?” “Kemarin,” jawab Darrel singkat. Menyambar sebuah piring berukuran kecil, kemudian memotong kue dan meletakkan di wadah itu. lanjut, menyodorkan ke arah Nara. “Untukmu.” Kinara tak langsung menerima pemberian Darrel. Tahu, kan, orang pertama yang diberikan potongan kue ulang tahun, merupakan seseorang yang kita anggap spesial. Kini, Darrel memberikannya itu. Jadi, bagaimana seharusnya ia bersikap sekarang? “Ingat, potongan pertama untuk seseorang yang kamu anggap spesial.” Darrel sedikit tertunduk saat mendengar perkataan Kinara, kemudian kembali menatap gadis itu. “Bisa, kan, memposisikan dirimu sebentar saja jadi seseorang yang spesial itu? Menurutmu, aku mau memberikan pada siapa saat ini. Kita hanya berdua di sini.” Sontak, Nara terkekeh mendengarnya. Benar juga, ia hanya berdua di sini dengan Darrel. “Hubungi orang tuamu.” “Ada di luar negri.” “Sahabat?” “Nggak mungkin, kan, aku memberikan suapan pertama penuh cinta pada Reza?” “Hmm, kekasih?” Sejujurnya lidahnya berasa kelu saat memberikan pertanyaan itu. “Untuk saat ini, ku berikan padamu saja.” Tingkat bapernya seakan naik berkali-kali lipat saat sikap Darrel seperti ini. Semoga saja dia tak sadar jika kata-kata dan sikap dia itu sudah membuat hatinya resah dan gelisah. Nara tak langsung menerima kue pemberian Darrel. Tapi ia justru mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya. Mencari sesuatu, kemudian tersenyum saat mendapatkan apa yang ia cari. “Tentunya harus ada adegan tiup lilin,” ujarnya mengarahkan layar ponsel dihadapan Darrel. Yap, sebuah sticker berbentuk kue ulang tahun dengan dua lilin yang tengah menyala terpampang di layar datar itu. “Haruskah?” “Iya,” jawab Nara. “Jangan lupa make a wish. Katakan apa yang kamu inginkan di kehidupan mendatang.” Darrel menatap fokus pada Kinara yang ada dihadapannya, memegang ponsel. “Semoga hari ini terulang lagi di setiap tahun.” Langsung, setelah mengucapkan harapan dan kata-kata itu, Darrel meniup layar ponsel dengan sticker lilin yang tengah menyala hingga apinya padam. Dia tersenyum puas, sementara Kinara malah dibuat membeku. Tak membohongi, kalau ia memang fokus pada permintaan Darrel. Otaknya mulai nggak karuan, dia minta hari ini terulang lagi setiap tahun. Maksudnya yang mana? “Nara ...” “Hem, apa?” Saking bengong dengan pikirannya sendiri, ia tak sadar kalau satu suapan kue sudah berada dihadapannya. “Bisa mengabulkan permintaanku barusan?” “Hah?” Memasang wajah bingung. Langsung, tanpa menunggu jawaban dari Kinara, Darrel menyuapkan satu suapan kue ke dalam mulut gadis itu ... yang mau tidak mau pasti dia makan. “Darrel,” berengutnya dengan sikap Darrel yang tiba-tiba, tapi tetap ya ... kue itu ia nikmati. Yakali mau dimuntahkan. Entahlah apa yang telah terjadi pada dirinya, hingga sampai berpikiran aneh. Dan lagi, apa yang sedang dipikirkan oleh Darrel, sampai berucap seperti tadi. Berasa udah kenal lama, padahal keduanya baru kenal beberapa hari. Itupun perkenalan sampai bentrok dan adu jotos. Herannya kenapa sekarang malah justru berbanding terbalik. Kinara menyambar segelas minuman yang ada di meja. Menerawang dan menelisik sebelum menikmatinya. Jujur saja, ia kapok main asal sembarang minum. Takut, kejadian di pesta kemarin terulang lagi. “Kamu pikir aku menaruh racun di minuman itu?” “Siapa tahu saja memang begitu.” “Kamu ...” “Aku kapok tahu, nggak. Tiap ke acara atau pesta, pasti endingnya pulang dalam kondisi mabuk. Padahal aku nggak niat minum, tetap saja orang-orang pada iseng. Jadilah, di rumah malah kena omelan pasangan suami istri itu.” Meneguk minuman itu hingga menghabiskan setengah gelas. “Nggak berniat mabuk?” Kinara tersenyum simpul. “Terkadang berniat, sih.” Menghela napasnya panjang. “Setidaknya saat ada masalah, bisa sejenak melupakan.” Darrel bersandar di sofa, kemudian bersidekap d**a, menatap fokus pada Kinara yang duduk di sampingnya. “Seorang mahasiswi dengan kehidupan yang bergelimang harta juga punya masalah?” Ikut bersandar, kemudian tersenyum menatap hamparan langit luas yang membentang dengan rentetan bintang yang berada di depan mata, tapi begitu jauh dan mustahil untuk digapai. “Kalau boleh memilih, aku mau hidup miskin harta, tapi kaya kasih sayang. Percuma kaya, tapi sendiri.” Terkekeh seolah menertawakan dirinya sendiri. “Lucu sekali, bukan. Sudah enak hidup mencukupi, malah meminta yang tidak-tidak. Tapi aku nggak kuat ... saat ada masalah, harus selesaikan sendiri. Saat sedih, hadapi sendiri. Sakit, nikmati sendiri. Dan sekarang, ketika mau melakukan apa yang ku inginkan, malah mengatur kehidupanku seolah selama ini aku bergantung pada mereka.” Menatap Darrel yang ada di sampingnya. “Apa seorang anak memang seharusnya begitu, ya. Dibiarkan begitu saja tanpa kasih sayang, tapi saat ada maunya malah menjadikannya seperti sebuah boneka?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN