BAB : 22

1220 Kata
Mana ada, baru kenal beberapa hari doang dan dengan santainya baik Darrel maupun Kinara seolah bersikap layaknya sudah kenal lama. Ditambah lagi sikap Kinara yang membuat Darrel seolah merasakan arti kehidupan. Hidup dalam perasaan yang hampa tanpa rasa, kini tiba-tiba merasakan semua. Hangat sentuhan dia, rasa sakit ketika dia menonjoknya. Dan ada sesuatu perasaan yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Tepat saat waktu menunjukkan pukul satu dini hari, Darrel mengantarkan Nara kembali ke rumah dia. Maaf, jika malam ini membuatnya menjadikan dia sebagai tumbal kesendiriannya ... hanya saja rasanya begitu bahagia jika bersama dia. Tadinya masih melek, tapi baru setengah perjalanan Kinara sudah terlelap di kursi sampingnya. Tersenyum, saat helaian rambut jatuh menutupi wajah tidur itu ... karena dirinya mengambil paksa ikatan rambut Nara. Berhenti di pinggir jalan, menyambar sweater miliknya yang ada di kursi belakang. Kemudian mengenakan pada dia yang masih tertidur. “Benar-benar mengantuk, ya,” gumam Darrel ketika tak ada respon dari Nara, saat dirinya sibuk mengenakan benda itu pada tubuh itu. Melanjutkan perjalanan. Sampai di sana, pak satpam langsung membukakan pagar sebagai akses masuk ke dalam area rumah. Mobil berhenti di dekat teras, langsung turun dan membuka pintu untuk Nara. Masih tidur, bahkan saat mobil terhenti dan pintu dibuka pun dia tak perduli. Di saat yang bersamaan, pintu rumah dibuka dari arah dalam. Pandangan Darrel fokus pada sepasang suami istri yang keluar dan menghampirinya. Senyuman tersirat dari raut wajah keduanya. “Maaf, jika saya lancang membawa dia pergi malam-malam,” ujar Darrel langsung. Hanya sekadar meminta maaf. Karena ia tahu, baik Marion ataupun Tiara memang menginginkan dirinya bersikap begini pada Kinara. Bahkan tadi, saat ia membawa Kinara pergi saja, mereka melihatnya. Ya, setidaknya hanya menjaga sedikit etika saja lah. “Tidak apa-apa, Darrel. Sebagai orang tua yang pernah muda, kami paham.” Entah apa yang sedang berada di pikiran Marion. Membuatnya sedikit tak terima saja. Dikira dirinya dan Nara habis berbuat apa, hingga laki-laki paruh baya ini malah seolah memandang keduanya begitu negative. “Jangan berpikiran aneh dulu, saya dan Nara tak melakukan apa-apa. Hanya minta ditemani sebentar.” Tiara menghampiri Nara, hendak membangunkan putrinya itu agar segera bangun dan turun dari mobil. Hanya saja niatnya terhenti ketika Darrel malah melarangnya. “Ijinkan saya membawa dia ke kamar.” Tiara tak langsung menjawab, tapi beberapa detik kemudian mengangguk pertanda setuju ... setelah mendapatkan respon dari Marion. “Silakan.” Jadilah, Kinara tak dipaksa untuk segera bangun. Karena Darrel memilih untuk menggendong dia ke kamar. Hanya merasa kasihan, karena dirinya, karena menemaninya di tengah malam ... membuat dia harus menahan kantuk. Maaf, padahal tadi dia sudah mengatakan kalau besok ada jadwal kuliah, dan dengan kukuhnya ia memaksa. Sampai di kamar yang berada di lantai atas. Tak perlu bertanya dan mencari, karena pengalaman pernah masuk kamar dia ... jadinya ia tahu di mana letaknya. Menurutnya, Marion dan Tiara termasuk parah, sih. Bahkan ketika ia mengantar Kinara ke kamar, keduanya seolah tak perduli. Kalau orang tua yang benar-benar menjaga anak gadisnya, pastilah ikut mengekor sampai ke kamar. Lah, ini malah dibiarkan saja dirinya. Menidurkan dia di kasur, kemudian menutupi dengan selimut agar tak kedinginan. Sebelum pergi, Darrel juga menutup jendela kamar yang saat itu masih terbuka. Segera berlalu dari kamar itu dan turun menuju lantai bawah. Menghampiri Marion dan Tiara yang ternyata masih menunggunya. “Bisa mengubah sikap padanya, kan?” tanya Darrel memastikan. “Mengubah sikap. Maksudnya bagaimana?” tanya Tiara dengan raut bingung, tak jauh berbeda dengan reaksi Marion. Darrel menghela napasnya, kemudian bersidekap d**a dihadapan sepasang suami istri itu dengan raut serius yang terlihat jelas di wajahnya. Itu artinya, ini adalah saat di mana kata-katanya merupakan sebuah hal yang tak bisa bisa dan tak boleh diganggu gugat. Pandangan mata Darrel fokus pada Marion. “Kita sudah bicarakan ini, kan. Dan apa yang saya katakan, bukan sebuah hal yang dianggap main-main.” “I-ini ada apa, sih?” Tiara lagi-lagi bertanya. Karena seolah dirinya di sini tak mendapatkan info apa-apa dari suaminya. “Mendekatkanku dengan Nara demi sebuah harta dan tahta.” Seketika Tiara dibuat tersentak. Berpikir jika apa yang dikatakan Nara perkara niatnya dan suaminya sudah ketahuan adalah bohong, tapi ternyata benar adanya. Darrel tersenyum sinis, seakan sedang menertawakan niat mereka. “Berurusan denganku, itu tak mudah. Hanya ada dua pilihan, aku yang mengalah atau aku yang menang. Tak akan berlaku aku yang kalah.” Dari kalimat peringatan yang dikatakan Darrel saja keduanya sudah paham kemana arah tujuan dia bicara begitu. Marion mencoba memaksakan dirinya untuk bersikap santai. Bahkan senyuman berat pun ia paksakan untuk muncul. Jujur, berhadapan dengan Darrel tak semudah yang ia pikirkan sebelumnya. Apalagi saat sikap dingin dia muncul. Seolah kata-kata pembelaan yang sudah dirancang jauh-jauh haripun bisa lupa dalam seketika. “Tapi sepertinya kalian berdua ...” “Jangan salahkan aku ataupun dia nanti, jika semua niat kalian tak berhasil,” timpal Darrel memotong perkataan Marion. “Kami benar-benar tak berniat buruk,” ungkap Tiara. “Oke, mungkin di awal memang benar. Tapi saat melihat kamu dan Kinara tampak dekat, kami berpikir untuk melupakan niat di awal.” Dunia memang sebuah hal yang tak bisa dipercaya, ya. Termasuk makhluk dua yang ada dihadapannya. Seakan sedang berhadapan dengan kisah drama dengan sejuta hal licik. Sekarang bilang A, sebentar lagi bilang B. “Niat di awal adalah sebuah kejujuran. Bukan yang paham menyikapi niat seseorang, tapi pengalaman mengajarkanku agar sensitive pada semua orang. Karena apa? Di dunia bisnis, kebanyakan isinya adalah orang-orang bermental rendahan, tapi menginginkan sebuah posisi tanpa harus mengeluarkan pemikiran. Seperti menginginkan sesuatu dalam waktu cepat, tanpa harus mengalami pasang surut.” Sebenarnya Marion tahu dan paham kemana arah pembicaraan Darrel, hanya saja tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi sampai melawan. Karena apa? Seorang Darrel bukanlah lawan yang seimbang dengannya. Memang masih jauh lebih muda darinya, tapi kekuasaan dia membuat posisi dia jauh lebih di atasnya. Itulah sebab mengapa ia ngebet mendekatkan Darrel dengan Nara. Karena otomatis dirinya bakalan kecipratan. “Apa yang kamu inginkan?” “Aku nggak menginginkan apa-apa. Karena aku punya segalanya.” “Lalu?” “Bersikaplah sewajarnya pada Nara. Karena apa? Mood dia, akan jadi jantung dari keinginan kalian. Kalau dia bad mood, itu artinya titik kehidupan kalian akan berhenti.” Marion dan Tiara dibuat tak berkutik kali ini. Keduanya padahal berniat menekan Darrel agar dekat dengan Nara. Iya, sepertinya itu sedang berlangsung. Tapi justru sekarang Darrel seolah yang jadi pemegang kedali. Dia dengan kekuasaannya, justru melakukan serangan balik. Menarik napasnya panjang setelah memberikan peringatan pada sepasang suami istri itu. Anggaplah ia tak sopan pada orang tua Kinara, tapi di matanya sebuah kesopanan bukan tergantung pada umur ataupun status. Percuma kita sopan, kalau ternyata ada yang mereka inginkan. Karena semakin kita terdesak dan berada di bawah, semakin kita ditekan. Dan ia tak menginginkan itu terjadi. Berniat melangkah pergi, tapi tiba-tiba Marion kembali menghentikan langkahnya. “Kamu sudah tahu dari awal, kan. Jadi, kenapa terus melakukannya seolah tak tahu apa-apa.” Tersenyum simpul dengan perkataan Marion. “Hanya menikmati.” “Kita lakukan yang lebih gampang?” “Maaf, aku lebih suka tantangan daripada menerima bersih tanpa usaha. Kembali ke niat di awal saja. Karena itu justru lebih menyenangkan, bukan.” Setelah mengatakan hal itu, Darrel segera berlalu dari hadapan Marion. Emosinya jujur saja langsung naik dengan sikap dia. Tapi mencoba bersikap biasa saja. apalagi perkara Kinara yang seolah dianggap seperti sebuah barang yang bisa diberikan pada siapa saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN