Marah

1548 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Gerimis kecil dan suhu udara yang mulai turun, menemani perjalanan rombongan itu. Membuat Asha sedikit merapatkan jaketnya dan sesekali meniupkan udara dari mulutnya ke tangan. Mencoba untuk mencari sedikit kehangatan. Setelah sampai di area perkemahan, dengan kompak semua orang memasang tenda secara bersama-sama agar cepat selesai sebelum malam tiba. Sedangkan Asha sendiri telah menyelesaikan tendanya dalam waktu 5 menit karena bantuan Mahesa dan Brian. Memang sempat ada sedikit pertengkaran tentang siapa yang akan mendirikan tenda itu. Namun pada akhirnya, berdua kembali fokus memasang tenda milik Asha dengan cepat dan walaupun sesekali saling menyenggol. Karena terlalu hectic sejak pagi, Asha sampai lupa membuka ramalan hariannya. Gadis yang sekarang memakai syal rajut itu memang memiliki kebiasaan untuk mengecek warna-warna yang mengeluarkan keberuntungan dan cinta setiap hari. Agar bisa ia sesuaikan dengan baju yang akan dipakai, katanya. Senyuman yang sebelumnya selalu melekat di bibir merah muda itu tiba-tiba memudar saat membaca warna kesialan hari ini adalah warna putih. Asha kembali menatap bajunya yang juga berwana putih lalu meneguk ludahnya kasar. Tak ingin pikirannya kemana-mana, gadis itu kemudian menaruh ponsel pintarnya di dalam tenda, dan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar area perkemahan. Baginya, berjalan-jalan adalah cara yang tepat untuk mengusir kebisingan serta rasa overthinking yang muncul di dalam otaknya akibat membaca ramalan tadi. Suasana di daerah perkemahan ternyata sangat jauh dari ekspektasi Asha. Lebih indah, lebih sejuk, dan lebih rindang. Ia sendiri merasa terkejut karena masih ada hutan yang tumbuh dengan subur di tengah kota seperti ini. Kakinya terus melangkah mengikuti seekor kunang-kunang dan berakhir di suatu tempat yang entah dimana. Terdapat banyak kunang-kunang di sana. Sangat indah hingga membuat mata gadis itu berbinar cerah. Kemudian tunggu, ada dimana ia sekarang? Asha menghentikan langkah kakinya. Ia mengedarkan pandangan ke area sekitar yang sangat sepi. Tidak ada teman-teman, semua digantikan dengan pohon-pohon tinggi yang mengelilingi tubuh kecilnya. Asha sendiri lupa dari mana ia berjalan sebelumnya. Ah, gadis itu benar-benar mendapat kesialan hari ini. "Sialan!" gumamnya. Harusnya tadi Asha berdiam diri saja di depan tenda sembari menatap pertengkaran kecil yang terjadi di antara Mahesa dan Brian. Bukan berjalan-jalan mengelilingi area perkemahan, dan berakhir di tempat antah berantah seperti saat ini. Di satu sisi, Brian memberanikan diri untuk membuka resleting tenda milik Asha. Pasalnya, sudah hampir 5 menit pemuda itu memanggil Asha dari luar, namun tidak mendapat jawaban apapun. Meskipun sudah cukup dekat dengan Asha sejak kecil, Brian masih menjaga sikapnya dengan tidak sembarangan mencampuri urusan pribadi Asha seperti saat ini. Bisa saja gadis itu sedang berganti pakaian, atau melakukan hal lain yang nantinya malah membuat Brian mimisan. “Sha, ayo–“ ucapannya terhenti saat melihat bahwa Asha tidak ada di dalam tenda, hanya sebuah handphone yang masih menyala. Brian bergegas mengambil handphone itu. Melihat bahwa tampilan layarnya masih menunjukkan sebuah ramalan yang sempat Asha baca tadi, Brian ingat betul warna baju yang dipakai gadis tersebut saat ini adalah warna yang menunjukkan kesialan. Dengan cepat Brian berlari keluar dari tenda. Ia mulai berteriak memanggil nama Asha, berharap gadis itu masih berada di sekitar sini. Namun nihil, Asha tidak menyahut. Justru semua orang yang mendengar Brian berteriak kini mulai mengerumuninya tak terkecuali dengan Mahesa. “Ada apa? Kenapa Asha?” tanya pemuda itu. “Nggak tau, kayaknya jalan-jalan,” jawab Brian sekenanya. Ia tidak ingin berkata bahwa Asha hilang karena mungkin saat ini gadis itu sedang perjalanan kembali ke tenda. “Jalan-jalan apa hilang?” Mahesa kembali bertanya dengan penuh selidik, mencoba mencari kebohongan di wajah Brian. “Nggak tau, dia nggak ada di tendanya, ponselnya juga ditinggal,” jelas Brian membuat wajah Mahesa kembali mengeras, bukan karena marah tetapi karena khawatir. Mahesa tau bahwa tidak ada orang apalagi perempuan, yang berjalan-jalan sendirian di sekitar area perkemahan ketika langit mulai menggelap. Terlebih lagi ia tidak membawa ponsel pintarnya, Mahesa berpikir bahwa mungkin Asha tersesat. “Kita tunggu sampai jam 7. Kalau belum balik nanti kita cari,” ucap Banyu. Berusaha setenang mungkin karena tidak ingin membuat semua orang termasuk Mahesa khawatir. Bisa dimarahi habis-habisan nanti dirinya oleh papa Mahesa jika lelaki itu tiba-tiba terkena serangan panik. *** Satu jam berlalu, Asha masih berputar-putar di tempat yang sama seperti ia menemukan gerombolan kunang-kunang tadi. Bedanya kini semua kunang-kunang menjauh dari Asha. Gadis itu enggan untuk mengikuti mereka karena takut akan semakin tersesat nantinya. Dan lagipula, bagaimana jika ternyata kunang-kunang tersebut adalah jelmaan makhluk halus? Asha menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang berada di otaknya saat ini. Jam yang melingkar di tangan sudah menunjukkan pukul 7 malam. Beruntung cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi cerah membuat sang bulan purnama bersinar tanpa takut tertutup oleh awan. Selama tidak ada suara petir, Asha cukup berani untuk kembali memutari area ini. Berharap menemukan jalan keluar atau menemukan manusia yang akan membantunya keluar. Sepersekian detik kemudian, "Ah!" Asha memekik. Kakinya tak sengaja menabrak sebuah ranting pohon yang patah. Ujungnya yang lancip akibat patahan membuat tungkai bawah Asha berdarah. Di tempat lain, semua orang sudah mulai berpencar mencari gadis tersebut. Mereka membagi kelompok berisikan tiga orang agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Brian bersama Mahesa dan Banyu berjalan menyusuri hutan dengan bermodalkan senter kecil serta flash light ponsel milik Asha. “Asha!!” “Sha!!” “Lo dimana?” “Anjing!” Ini teriakan Banyu saat tak sengaja melihat anjing hutan berlari melewatinya. Teriakan itu terus berbunyi bersahut-sahutan. Memecah langit malam. Berharap ada balasan dari gadis yang entah sedang berada dimana sekarang. Brian yakin Asha tidak dibawa ke alam lain oleh makhluk astral karena genre cerita ini bukan horor. Mahesa juga enggan memberi nuansa horor pada ceritanya. Sedangkan Mahesa sadari tadi hanya terdiam. Pikirannya berkecamuk. Otaknya kembali berisik. Sudah lama sekali ia tidak merasakan rasa takut seperti ini. Terakhir kali ia merasakan takut yang amat sangat adalah saat kejadian bertahun-tahun lalu. Mahesa tidak pernah lagi merasa ketakutan yang hebat kepada apapun dan siapa pun setelah kejadian itu. Tapi malam ini, pikirannya memaksa lelaki itu untuk kembali ke perasaan di sembilan tahun yang lalu, yaitu kalut. Takut, Mahesa takut Asha meninggalkannya seperti Sang ibu. Terlalu sibuk mengusir kebisingan di otaknya, tangan Mahesa tiba-tiba berkeringat. Tubuhnya gemetar dan ia merasakan dadanya yang sakit serta nafas yang tersengal. Mahesa sedang takut. “Tenang, Hes. Semuanya baik-baik aja. Ayo atur nafas lo!” bisik Banyu yang melihat perilaku Mahesa berubah. Banyu sangat mengerti Mahesa luar dalam, ia tau bahwa lelaki ini terkena serangan panik. Kepalanya pusing. Berulang kali ia mencoba memukul kepalanya sendiri dengan tangan, dan berulang kali juga Banyu berusaha mencegahnya. Ia tidak bisa membiarkan Mahesa seperti ini, namun ia juga tidak bisa memberikan obat untuk lelaki tersebut. Brian melihat itu semua,ia yakin ada yang tidak beres dengan Mahesa, “Bang, kalian mending balik aja, deh." “Nggak! Biarin gue cari Asha!” bentaknya keras. Brian sudah siap membalas perkataan Mahesa, namun Banyu membisikkan sebuah kalimat yang detik berikutnya langsung membuat lelaki tersebut kembali terdiam. “Dia kena panic attack, tolong jangan dipancing amarahnya." *** Asha yang berjongkok sembari menelungkup-kan wajahnya seperti orang yang tengah bermain petak umpet, tiba-tiba mendengar suara yang meneriakkan namanya. Suara itu terdengar semakin dekat, membuat Asha yakin mereka memang sengaja mencarinya. Siapa? Brian? Mahesa? “Halo, Asha disini!!” Balas Asha sekeras mungkin sembari berdiri dan kembali mengedarkan pandangannya. “Asha!!” “Disini!!” Gadis itu tidak tau sekarang berada dimana. Ia tidak bisa menyebutkan bahwa sedang berada di dekat pohon besar, karena di sekitar sana juga terdapat banyak pohon besar. Asha hanya berharap ada yang mencarinya sampai kesini. Brian, Mahesa, dan Banyu seketika berlari menuju sumber suara. Langkah kaki mereka sangat cepat bahkan tidak menghiraukan lagi apa yang mereka injak sekarang, seakan Asha akan dimangsa serigala jika telat sedetik saja. “Asha!!” koor mereka bertiga saat melihat Asha sedang berusaha membalut kakinya yang berdarah dengan kain syal. Asha melihat raut wajah khawatir dari ketiga lelaki itu. Ia berusaha berdiri dan menghampiri Mahesa yang wajahnya terlihat paling khawatir. Mungkin Asha akan memeluknya dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi sayangnya itu hanya kemungkinan belaka. “Lo ngerti nggak sih kalau bikin semua orang khawatir!?" Langkah kaki Asha terhenti. Raut wajah khawatir yang tadi ia temukan di wajah Mahesa, kini berubah menjadi marah. “Lo sekali aja nggak ngerepotin orang kenapa sih, Sha? Kenapa lo selalu buat masalah? Kenapa lo selalu ngehancurin suasana?” lanjut Mahesa dalam satu tarikan napas. Lelaki itu mengacak rambutnya kasar, lalu pergi dari tempat dimana Asha ditemukan disusul dengan Banyu yang mengejarnya, takut Mahesa melakukan hal yang berbahaya. Asha hanya diam. Ternyata benar, ia selalu merepotkan semua orang. Ia selalu melibatkan semua orang dalam masalahnya. Tapi di situasi seperti ini, bukankah tidak pantas Mahesa memarahinya seperti tadi? Ia juga tidak ingin tersesat, bahkan tak dicari pun tak masalah. Tanpa sadar air matanya terjatuh, Asha terisak pelan. “Hey, diem. Ada gue.” Kali ini Brian yang berkata sambil memeluk dan mengusap puncak kepala Asha. “Mau pulang aja, nggak? Gue gendong ke mobil ya?” tanyanya. Asha mengangguk mengiyakan. Brian lalu menggendong tubuh kecil Asha. Membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh air mata di pundaknya. Ia sendiri cukup terkejut saat Mahesa memarahi Asha dan pergi begitu saja. Padahal, sedari tadi lelaki itu yang terlihat paling panik. Tetapi di satu sisi, ia juga merasa senang saat Asha akhirnya mengetahui sifat buruk Mahesa. Salahkah Brian merasa bahagia untuk saat ini? Salahkah jika ia bersikap egois sekali ini saja?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN