Asha kini memilih duduk di depan sebuah minimarket. Menunggu seseorang yang kemarin berjanji akan mengajaknya ke toko buku.
Ia berpindah tempat karena sudah satu jam menunggu Mahesa di depan gedung apartemen, tetapi tak kunjung melihat kedatangan lelaki itu. Bisa-bisa, ia dikira pengemis jika terus menunggu di sana.
Sembari memakan onigiri hasil merampasnya dari Brian, Asha kembali melihat jam di ponsel dan yang melingkar di tangannya secara bergantian. Hanya sekedar mengecek apakah jamnya eror, atau jam milik Mahesa yang ternyata tidak berfungsi.
Asha juga sedari tadi sudah merutuki dirinya sendiri karena lupa tidak meminta nomor telepon Mahesa kemarin.
Bagaimana jika Mahesa hanya berbohong. Bagaimana jika Mahesa ternyata hanya mengerjai dirinya seperti masa ospek dulu. Bagaimana jika ....
“Lo telat,” ujar seseorang berhasil membuyarkan lamunan Asha.
“Gue suruh tunggu di depan apartemen kenapa malah kesini? Gue udah nunggu lo lima belas menit,” lanjut Mahesa dengan wajah yang selalu serius.
Gadis itu melongo. Ia bahkan sudah menunggu Mahesa di depan apartemen sejak pukul 5 sore, dan Mahesa baru keluar 15 menit yang lalu saat ia sudah berada di minimarket.
Lalu, dengan enteng berkata bahwa Asha yang telat. Sungguh, ia ingin sekali menjambak rambut pemuda tersebut.
Tak ingin mendengar alibi adik tingkatnya, Mahesa melangkah lebih dulu diikuti Asha yang berlari kecil di belakangnya.
Pemuda itu sore ini memakai kaos polos berwarna putih, dipadukan dengan celana jeans yang ukurannya terlihat pas.
Dari belakang, Asha dapat melihat tag brand bertuliskan Louis Vuitton di kaos Mahesa. Ah, dan jangan lupakan juga jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Ornamen sepele itu ikut menambah level ketampanannya.
“Ini mobil Kakak?” tanya Asha saat telah memasuki mobil.
Bukannya menjawab, Mahesa justru mendekat ke arah Asha. Sangat dekat hingga membuat Asha secara otomatis menutup matanya. Ia tidak tau apa yang akan Mahesa lakukan, tapi jantungnya berdetak begitu cepat.
"Kalau naik mobil, sabuk pengamannya dipakai."
Ucapan disertai bunyi sabuk pengaman sukses menyadarkan Asha dari pikiran bodohnya. Ternyata, Mahesa hanya membantunya memasang seat belt, lalu kembali ke kursi kemudinya.
Namun, bisa dipastikan bahwa saat ini wajah Asha sudah semerah tomat karena malu sekaligus tersipu di waktu yang bersamaan.
“Iya, motor gue sekalian diservis jadi belum selesai,” ucap Mahesa menjawab pertanyaan Asha yang mungkin sudah gadis itu lupakan.
Setelah kurang lebih 15 menit mereka berada di dalam mobil, Mahesa tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengajak Asha berbicara.
Suasana yang tercipta hanya hening. Ditemani dengan suara kendaraan dari luar yang sayup-sayup terdengar memasuki sepasang telinga keduanya.
Tak lama kemudian, sebuah lagu terputar dari saluran radio yang sengaja Mahesa nyalakan. Suara ketukan jari pada kemudi juga mulai terdengar mengiringi lagu dari Fourtwnty berjudul "Fana Merah Jambu".
Jalanan yang semula lengang kini berubah menjadi ramai akibat banyak pekerja yang baru pulang dari tempatnya bekerja.
Mahesa membelokkan mobil ke dalam parkiran bawa tanah sebuah mall di bilangan Jakarta. Setelah dirasa sudah memarkirkan mobilnya dengan benar, mereka berdua turun dari mobil dan menaiki lift menuju toko buku ternama di dalam mall tersebut.
Suasana di dalam toko buku itu tidak terlalu ramai, namun juga tidak bisa dibilang sepi.
Bau-bau buku yang khas, ditambah dengan lagu santai yang diputar secara samar membuat siapapun yang masuk ke dalam toko itu enggan untuk keluar.
“Cari buku yang lo maksud,” ujar Mahesa lalu berjalan menuju rak bagian novel. meninggalkan Asha yang kebingungan harus kemana.
Di sisi lain, tangan kekar milik pemuda tersebut sesekali tergerak untuk mengambil sebuah novel dan membaca bagian belakangnya, lalu ia kembalikan lagi ke tempat semula.
Kegiatan itu berlangsung berulang kali sampai akhirnya ia mengambil sebuah novel yang stok di dalam rak-nya hanya tersisa 2 buah.
Ia membalik novel itu. Melihat tanda tangan dari sang penulis bernama Kelana, dan sebuah tulisan best seller di bawahnya. Senyumnya tiba-tiba merekah seakan telah menemukan harta karun.
“Kak, aku nggak tau dimana bukunya,” ucap Asha lumayan keras hingga membuat salah satu staf toko buku itu menghampiri mereka berdua, dan memberikan sebuah isyarat agar tidak berisik.
“Mau cari apa ya, Kak?” Staf tersebut bertanya sambil menampilkan senyum terbaiknya untuk Mahesa, kemudian memberikan tatapan sinis pada Asha.
“Cari buku pemrograman dasar buat anak kuliah, ada nggak?” Asha balik bertanya dengan nada yang sengaja ia buat sinis.
Staf itu kembali tersenyum, ia berjalan menuntun Asha dan Mahesa ke sebuah rak berisi buku-buku pelajaran dan mengambil sebuah buku yang mereka maksud.
Mahesa mengambil buku itu dan mulai meneliti bagian depan hingga belakang sampul. Setelah dirasa bahwa buku ini mirip dengan buku yang ia hilangkan, Mahesa memberikannya kepada Asha.
“Lo bayar, gue tunggu di depan,” ucapnya yang sejurus kemudian membuat gadis itu menghela nafas lelah, lalu memilih untuk mengalah dan mengambil dompet di dalam tasnya.
Asha sedikit panik saat tidak menemukan benda yang ia cari di dalam tas. Ia mengeluarkan seisi tasnya yang berisi beberapa kertas penarikan uang dari ATM, riasan wajah, dan uang recehan untuk pengamen.
“Kak, dompet Asha kayaknya ketinggalan, deh,” seru Asha saat melihat Mahesa sudah berjalan pergi. Mau tak mau lelaki itu menoleh malas dan datang menghampiri gadis yang lebih muda.
“Terus gimana? Gue nggak mau pinjemin lo uang,” ujar Mahesa angkuh.
Demi Tuhan, Asha benar-benar ingin memukul kepala lelaki itu menggunakan buku setebal 500 halaman yang ia pegang sekarang.
“Lah terus aku belajarnya gimana? Lusa ada mata kuliahnya, loh."
Lelaki itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh, lalu menjawab, “Nggak tau."
Asha yang jengkel dengan perilaku Mahesa, tiba-tiba melempar buku tadi ke sebuah tumpukan buku lain yang sengaja ditata rapi di atas lantai, hingga membuat beberapa bagian atasnya terjatuh.
Sedangkan staf yang sedari tadi menahan kesabaran melihat tingkah laku mereka berdua kini menatap Asha dengan senyum seakan ingin membunuh. Sepersekian detik kemudian, Asha dan Mahesa sudah berada di luar toko buku tersebut.
“Kalau tidak membeli setidaknya jangan membuat kerusuhan ya, Kak,” kata staf toko itu dengan tetap mempertahankan senyumannya sebagai formalitas, lalu kembali masuk ke dalam.
Mahesa berani bersumpah, baru kali ini ia menemukan gadis ajaib seperti Asha yang tidak punya malu. Ia sendiri juga tidak tau kenapa dengan mudah mau menemani gadis itu mencari buku yang justru malah membuang-buang waktunya.
Di dalam mobil, suasana hening kembali menyelimuti mereka berdua. Sungguh, Asha lebih baik pulang sendiri daripada harus bersama manusia apatis satu ini. Ingin membuka percakapan pun ia tak berani, takut jika Mahesa masih marah akibat kejadian di toko buku tadi.
Tak lama kemudian, terdengar suara renyah yang berasal dari perut seseorang.
Sepertinya perut Asha kali ini tidak menyetujui egonya untuk tetap diam dan tidak banyak bicara. Gadis tersebut menepuk perutnya pelan, kemudian meringis merasakan sakit karena baru ingat bahwa ia sempat melewatkan makan siang bersama Brian dan Maya.
Mahesa yang mendengar perut Asha berbunyi hampir saja tertawa karena gadis ini sepertinya benar-benar takut dengan dirinya.
Tanpa meminta persetujuan dari Si gadis, mobil Mahesa kembali berbelok ke sebuah rumah makan yang menyediakan layanan drive thru.
“Gue nggak mau bikin anak orang mati kelaparan,” katanya saat melihat tatapan bingung Asha, kemudian memesan 2 porsi makanan paket murah.
Kejadian tadi dan sekarang ini membuat Asha paham bahwa ternyata Mahesa adalah orang yang cukup hemat. Padahal, jika dilihat dari penampilannya, Mahesa termasuk pantas untuk disebut sebagai orang kaya.
“Nanti sampai asrama ganti uang gue."
Mungkin Asha salah menebak. Dan sepertinya, mulai sekarang ia harus memberi cap Mahesa sebagai orang yang pelit, bukan hemat.
***
Dering ponsel yang sengaja Asha letakkan pada pahanya berbunyi. Menampilkan sebuah notifikasi pesan dari Maya, Sang teman sekamar.
Maya: Sha, gue lupa bilang kalau baru aja pulang ke rumah Mama, kuncinya kebawa.
Ashafile: Lah gue pulangnya gimana?
May: Lo sama Brian aja atau pulang ke rumah Bunda aja deh, besok kan libur. Dah!!
Asha mematikan data seluler di ponselnya dengan kesal. Ia bingung harus pulang naik apa karena dompetnya yang tertinggal di asrama.
Ingin meminta bantuan kepada Brian, tapi gadis itu merasa tidak enak karena Brian sendiri sedang disibukkan dengan kegiatan bisnis papanya.
Netra Asha beralih menatap lelaki yang sedang menyetir dengan tenang di sampingnya. Berharap Mahesa memiliki sedikit hati untuk mengantarnya pulang ke rumah Bunda.
"Ngapain lo lihat-lihat gue?" sinis Mahesa.
“Kak, anterin aku pulang ke rumah Bunda mau?”
Terkejut, Mahesa langsung menginjak rem mendadak. Ia lalu menepikan mobilnya dan menatap Asha tak percaya.
“Gue mau nongkrong sama temen-temen,” ucap Mahesa mengingat bahwa Banyu dan Yeremias kini sedang menunggu dirinya di suatu cafe.
Kalaupun ia tak memiliki janji dengan temannya, Mahesa juga tetap enggan mengantar Asha kembali ke rumah. Mereka bahkan baru akrab hari ini.
“Maya lagi ke rumah orang tuanya, kuncinya dibawa, Kak,” cicit Asha semakin tak berani menatap wajah Mahesa.
“Gimana kalau aku turun aja disini?” lanjutnya saat lelaki itu tak memberikan tanggapan apapun, tetapi mobilnya juga tak kunjung kembali ke jalan besar.
Tak disangka, tiba-tiba Asha mendengar suara kunci pintu mobil terbuka, dan Mahesa yang menatapnya seakan menyetujui permintaan gadis itu untuk diturunkan di tengah jalan.
"Ayo turun. Tunggu apa lagi?" tanya Mahesa tak sabar.
Dengan kasar Asha langsung menyambar tasnya yang berada di kursi belakang, lalu turun dan menutup pintu mobil dengan sekuat tenaga.
“Dasar apatis!” teriaknya.
Mahesa tak mengindahkan celaan Asha, ia kembali menghidupkan mobilnya dan berangkat menuju cafe.
Masa bodoh jika dirinya dianggap telah menelantarkan anak orang di tengah jalan. Baginya, gadis itu hanyalah seorang pengganggu yang teramat sangat menjengkelkan.
Asha sendiri kini berjalan entah kemana, mengikuti arah mobil Mahesa yang mulai menghilang. Tidak ada uang dan tak ada air, ia benar-benar merasa haus karena lupa tak sempat minum saat telah selesai makan tadi.
Di sisi lain, ada lelaki yang belum sampai 10 menit tiba-tiba berubah pikiran dan memutar balik mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mahesa lupa bahwa ada suatu hal yang harus ia lakukan.
Mengingat tingkah gadis itu yang cukup aneh. Mahesa takut jika tiba-tiba Asha terkena masalah.
Bagaimana jika Asha diculik? Bagaimana jika Asha mengalami tabrak lari, lalu ia dicari sebagai seseorang yang terakhir kali bersamanya?
"Sial!"
Mahesa sedikit memelankan laju mobil dan memfokuskan matanya untuk melihat ke tepi jalan. Lalu tak lama kemudian, jelaganya menangkap seorang gadis yang tengah berjongkok membelakangi jalan raya sembari mengelus seekor kucing kecil.
Ah, sepertinya ada dua kucing sekarang.
Asha terkejut ketika melihat ada mobil berhenti di sampingnya. Ia ingat betul bahwa mobil ini beberapa menit yang lalu telah menurunkannya di tepi jalan.
“Cepetan sebelum gue berubah pikiran." Singkat Mahesa saat membuka kursi penumpang, hingga membuat Asha tersenyum senang lalu berlari masuk ke dalam mobil, meninggalkan kucing kecil yang dirinya siksa.
Setelah sampai rumah, Asha sempat menawari Mahesa mampir untuk sekedar minum cokelat hangat karena hujan yang tiba-tiba turun. Namun, lelaki itu menolak dengan alasan teman-temannya yang sudah menunggu sejak tadi.
Hujan yang menghantam bumi sepertinya tak menyurutkan senyuman Asha.
Setidaknya, lelaki apatis bernama Mahesa itu masih punya rasa tanggung jawab untuk mengantarnya kembali ke rumah Bunda.
“Baru pulang kok senyum-senyum,” goda Bunda di ruang tamu saat melihat anak semata wayangnya baru masuk.
“Tadi diantar cowok, Bu. Makanya senyum-senyum gak jelas,” timpal Mbak Sri yang bertugas membuka gerbang rumah agar Asha bisa masuk ke dalam.
Gadis itu kembali menanggapi godaan mereka berdua dengan senyuman aneh. Meletakkan sepatu yang baru ia lepas ke dalam rak, dan segera berlari ke kamar atas untuk membersihkan diri.
Meski melewati drama yang cukup memalukan, batin Asha justru mulai bertekad untuk meluluhkan hati Mahesa setelah perjalanan singkat sore ini.