Daddy's

2344 Kata
Beruntung asrama yang Asha tempati menyediakan satu set dapur di setiap lantainya dengan maksud agar para mahasiswa yang tidak ingin membeli makanan dari luar bisa memasak di dalam asrama. Sejak subuh tadi, Asha sudah berkutat dengan bahan-bahan makanan didepannya, bermodalkan YouTube dan resep dari bunda yang ia dapat setelah sepuluh kali menelepon, Asha sekarang sudah siap memasak. Berhubung sedang tidak ada kelas, gadis itu berinisiatif untuk membuatkan bekal kepada kedua lelakinya. Satu untuk Brian yang hari ini disibukkan dengan masalah kantor cabang papanya yang mau tak mau mengharuskan lelaki itu kembali berkutat dengan kegiatan kantor, dan satu lagi untuk Mahesa yang sedang ada kelas pagi. Setelah lebih dari satu jam, Asha kini selesai dengan dua buah bekal nasi bento di hadapannya. 2 potongan sosis berukuran sedang, masing-masing satu telur dadar, satu nugget, tumpukan sayuran warna warni dan tak lupa juga gadis itu juga membentuk nasinya dengan bentuk salah satu karakter animasi anak bernama Big Hero 6. Walaupun terkesan seperti memberi bekal anak TK, tapi nyatanya dua lelaki itu memang masih seperti anak TK yang bertengkar akibat berebut mainan jika saling bertemu. Asha dengan segera berjalan ke arah kamar Brian sembari membawa bekal yang sudah ia bungkus rapi di dalam paper bag berwarna merah muda itu. Tiga kali ketukan dan pintu terbuka, menampilkan sosok Brian yang sudah siap dengan kemeja kantor berwarna hitam, rambut yang ia tata rapi dan tas laptop yang lelaki itu jinjing. Sangat sempurna untuk menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita. “Wah istri aku udah nyiapin bekal aja nih, makasih ya sayang,” goda Brian saat melihat Asha berdiri di depan kamar asramanya membuat gadis itu hampir saja menjambak rambut Brian kalau tidak ingat bahwa lelaki itu akan ada meeting pagi ini. “Porsinya gue tambah dikit karena pasti lo gak akan sempat sarapan pagi ini, nanti siang habisin ya! Tenang aja, makan banyak satu hari gak akan bikin ABS lo ilang,” omel Asha sembari membenarkan letak dasi Brian, persis seperti pasangan suami istri yang menikah muda akibat perjodohan. “Iya istriku, mas berangkat dulu ya,” ujar Brian kembali menggoda Asha membuat gadis itu mengacungkan jari tengahnya yang dibalas tawa oleh lelaki tersebut. Setelah memberi bekal untuk Brian, Asha kembali berlari menuju kamar asramanya untuk berganti baju. Kondisi kamar asrama saat ini sepi karena hanya ia yang ada di dalam, Maya selalu memiliki kebiasaan menginap di rumah orang tuanya jika tidak ada kelas. Gadis itu memilih untuk memakai celana boyfriend berwarna biru muda dengan Hoodie berukuran besar berwarna hitam, Hoodie yang sama dengan milik Brian. Asha memutuskan untuk berjalan kaki menuju kampusnya, toh jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Ia ingin berolahraga dengan berlari kecil dari asrama menuju kampus lewat jalan tikus, jalan yang pernah ia lewati bersama Mahesa tempo lalu. Sebenarnya jalan itu tidak layak disebut jalan tikus karena masih muat untuk dilewati mobil walaupun kondisinya yang lumayan rusuh dan sepi. Gadis itu berjalan cepat dengan memainkan handphonenya untuk mengirim chat kepada Mahesa sambil sesekali melirik sana sini sembari berdoa agar tidak ada begal atau orang jahat yang tiba-tiba mengambil barang-barangnya. @ashafile. [Kak, Asha bawa nasi bento buat kakak makan siang nanti!] Mahesa yang sedang fokus mencatat materi dari powerpoint di depan kelasnya dikejutkan dengan ponselnya yang berdering menandakan ada sebuah pesan masuk disana. Lelaki itu tersenyum kecil saat membaca pesan dari Asha. @Mahesa [Oh ya? Gak sabar, lo dimana sekarang?] Baru saja Asha ingin membalas pesan Mahesa, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya ke belakang dengan kuat membuat gadis itu terkejut dan hampir melemparkan handphonenya. Seorang lelaki berpakaian abu-abu putih yang terlihat lusuh dan berantakan kini berdiri di depan Asha sambil menyatukan kedua telapak tangannya berniat untuk meminta maaf. Mereka berdua berada di bawah pohon beringin besar dengan Asha yang siap siaga berteriak jika anak sekolah itu melakukan pelecehan padanya. “Maaf ya mbak, kita mau tawuran. Mbak tunggu di sini dulu ya, nggak sampai 10 menit kok, kalau maksa lewat nanti yang ada mbaknya yang cantik ini malah kena pukul sama anak-anak,” tutur anak itu membuat Asha melongo tak percaya, baru kali ini ia menemukan lelaki yang minta izin sebelum tawuran. Tanpa menunggu jawaban dari Asha, anak laki-laki itu langsung berlari ke depan dan detik berikutnya terdengar jelas suara teriakan khas tawuran dan beberapa bunyi benda balok seperti kayu, samurai, dan batu yang saling berbenturan. Asha sontak merapatkan dirinya di balik pohon itu berusaha agar tidak terkena lemparan batu. Di sisi lain, Mahesa masih menunggu jawaban dari Asha sambil sesekali mendengarkan sang dosen yang sedang membahas tempat magang bagi mereka nantinya. Tak lama kemudian, handphone Mahesa kembali berbunyi, menampilkan sebuah pesan masuk yang detik berikutnya membuat mata lelaki itu terpaku saat membacanya. @ashafile. [Masih dijalan, Asha kejebak tawuran. Tunggu ya, kata mereka 10 menit lagi selesai kok.] “Nah, Mahesa apakah kamu sudah mempunyai rencana mau magang dimana?” tanya Dosen itu namun tak dihiraukan oleh Mahesa hingga membuat sang dosen kembali memanggil namanya, bahkan Yeremias pun ikut memanggil Mahesa yang duduk di depannya namun tetap tak ada jawaban. Lelaki itu masih fokus dengan pesan dari Asha dan yang terjadi berikutnya adalah .... “Mahes—“ “Anjing!” umpat Mahesa lalu berlari keluar kelas meninggalkan orang-orang yang menatap kepergian Mahesa dengan terkejut, apalagi sang dosen yang wajahnya langsung berubah menjadi merah padam. Mahesa yang buat salah, satu kelas yang tiba-tiba diberi kuis mendadak. Lelaki jangkung tersebut berlari secepat mungkin keluar dari lingkungan kampus menuju gang tikus yang memang menjadi langganan anak STM tawuran itu. Mahesa tak habis pikir, dari segala cara untuk sampai ke kampus, kenapa Asha lebih memilih untuk berjalan kaki melewati gang tikus tersebut. Gadis itu benar-benar sangat susah ditebak, ada saja hal yang membuat Mahesa terkejut. “Uhm– mommy?” Asha kembali dikejutkan saat melihat anak laki-laki berusia sekitar 2 tahun berada di belakang sambil menarik-narik hoodie-nya membuat Asha mau tak mau berjongkok untuk melihat jelas wajah anak itu. “Hai, kamu siapa?” tanya Asha dengan lembut tak mau membuat anak kecil ini menangis. “Mommy!!!!” tak disangka, anak itu justru berteriak gembira sembari merangkul erat Asha yang saat ini masih bingung karena dihadapkan dengan dua kejadian dalam satu waktu. Asha berharap ini semua hanya mimpi. Mahesa kini telah sampai di depan gang tikus itu. Benar dugaannya, dari sini ia bisa mendengar suara segerombolan anak laki-laki yang saling bersahutan membuat Mahesa kembali berlari untuk mencari keberadaan Asha. Semakin dalam semakin rusuh, itulah yang dapat Mahesa lihat ketika beberapa anak saling baku hantam dan melempar batu, Mahesa tidak ingin terlibat tawuran ini, ia hanya ingin menemani Asha yang pasti sedang ketakutan saat ini. “Kak Mahesa!!!” lelaki itu mendengar suara wanita yang ia yakini adalah Asha menyerukan namanya bersamaan dengan matanya yang menangkap sosok Asha dibalik pohon beringin sembari melambaikan tangannya dan menggendong anak kecil. “Daddy!!!” anak itu ikut berseru kepada Mahesa, membuat lelaki tersebut mengernyit bingung, siapa anak kecil yang berada dalam gendongan Asha dan kenapa anak itu memanggilnya dengan sebutan Daddy? Belum sempat Mahesa melambaikan tangannya ke arah Asha, tiba-tiba sebuah tonjokan keras di pipinya membuat badan lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang, akhirnya dengan sangat terpaksa Mahesa ikut andil dalam tawuran itu. Ia tidak memihak siapapun, tapi ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa mendekat ke arah Asha dan anak kecil yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Ketika suasana semakin memanas, bunyi sirine polisi membuat beberapa dari mereka berlari tunggang langgang berusaha menghindar dari kejaran polisi. Mahesa yang masih berduel dengan salah satu anak STM berbadan gempal tak sadar akan hal itu, ia baru sadar ketika anak yang akan ia tonjok itu berlari menjauh dan detik berikutnya Mahesa diringkus oleh dua orang anggota kepolisian. “Sudah kuliah kok masih ikut tawuran, jangan-jangan kamu yang selama ini jadi pelopor tawuran disini,” omel salah satu polisi sembari memborgol tangan Mahesa agar lelaki itu tidak memberontak atau bahkan kabur. “Mommy, Daddy dibawa pulici!” pekik anak laki-laki yang sedang berada dalam gendongan Asha dengan heboh membuat gadis itu ingin sekali membekap mulutnya. Asha juga bingung apa yang akan ia lakukan saat ini, tidak mungkin ia menghubungi papa Mahesa mengingat hubungan ayah dan anak itu terkesan buruk. Melihat mobil polisi yang membawa Mahesa itu menjauh, dengan segera Asha memesan taksi online dan menyusul Mahesa menuju kantor polisi, masih bersama anak kecil menyebalkan ini. *** Kini Asha telah berada di kantor polisi dengan anak laki-laki bernama Juno yang duduk di pangkuannya. Dari dalam taksi hingga sampai kantor polisi, Juno terus berteriak mencari daddynya, Asha sendiri tidak tau siapa ayah dari anak kecil yang tak sengaja bertemu dengannya tadi. Namun anehnya, saat bertemu dengan Mahesa dengan wajah babak belur, Juno dengan senang hati menunjuk lelaki itu sebagai ayahnya membuat Mahesa semakin tidak paham dengan apa yang terjadi disini. “Jadi, ini anak kalian berdua?” tanya petugas kepolisian itu membuat Mahesa dan Asha dengan kompak menjawab tidak. Petugas kepolisian itu kembali menggelengkan kepalanya, berusaha sabar menghadapi pasangan muda ini, ia kemudian beralih menatap Juno yang sedang asik bermain bulpoin di atas meja. “Orang tua kamu dimana?” tanyanya halus. Juno yang mendengar perkataan dari polisi itu kembali menunjuk Asha dan Mahesa secara bergantian lalu menatap sang polisi dengan tatapan polos, “Itu daddy sama mommy Juno!” ucapnya dengan lantang karena sudah tiga kali Juno diberi pertanyaan semacam ini, dan jawabannya masih sama, Juno bosan. “Jangan-jangan kalian belum menikah?” tanya polisi itu penuh selidik karena tingkah laku Mahesa dan Asha yang terkesan tak peduli dengan Juno. “Ya emang belum menikah,” jawab Mahesa dengan tenang karena faktanya mereka berdua memang belum menikah, pacaran saja tidak. “Jadi ini hasil dari hubungan haram kalian?” Sudahlah, citra Mahesa sudah sangat jelek di depan polisi ini, Asha juga sudah lelah menjelaskan apa yang terjadi. Sedangkan Juno, tanpa dosa terkikik geli sambil terus menyebut Mahesa dan Asha sebagai Daddy dan mommynya. 30 menit berlalu, Mahesa sudah diobati oleh Asha yang kemana-mana selalu membawa kotak P3K, buku-buku tangan Mahesa yang memar juga sekarang sudah dilapisi plaster bermotif bunga. Mahesa tidak diizinkan pulang sebelum walinya datang, dan mungkin tidak akan datang karena lelaki itu enggan untuk menelepon papanya hingga membuat Asha memutar otak, berusaha mencari cara agar Mahesa bisa pulang. “Permisi,” ucap orang yang ditunggu-tunggu oleh Asha. Itu adalah Brian, dengan wajah lelah sekaligus khawatir ia langsung memberhentikan meeting setelah mendapat telepon dari Asha. Gadis itu bilang Mahesa dibawa oleh polisi akibat tawuran, Brian sungguh tidak peduli akan hal itu. Yang ia pedulikan adalah Asha, gadis itu tidak bisa pulang atau pergi kemana-mana karena Juno selalu menempel kepada Mahesa, memanggilnya daddy dan akan menangis jika diajak menjauh dari Mahesa, Juno tidak ingin daddy dan mommy barunya berpisah. “Perkenalkan saya Brian, pengacara saudara Mahesa,” ya, dengan berbekal jasnya tadi, ia sekarang menyamar sebagai pengacara Mahesa membuat Mahesa sendiri mengernyit bingung, saat ini ia hanya bisa pasrah dengan cara Asha dan Brian. “Daddy!!” Ya tuhan, apalagi ini, pikir Brian saat Juno berlari ke arahnya sembari meminta gendong sekaligus memanggilnya daddy membuat polisi tadi semakin menatap penuh selidik ke arah tiga anak muda yang berada dihadapannya kini. “Jadi siapa orang tua Juno?” “Suadara Mahesa dan Asha adalah orang tua kandung Juno, mereka menikah paksa dua tahun yang lalu karena perjodohan,” jelas Brian. Sungguh, lelaki itu sejujurnya enggan berkata seperti tadi, ia berdoa semoga kata-katanya tidak akan menjadi kenyataan di kemudian hari. Setelah menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, Mahesa akhirnya dibebaskan. Mereka bertiga kini menatap Juno, ternyata masih ada satu masalah lagi, pikir mereka. Setiap ditanya dimana orang tua Juno, anak itu selalu menjawab dengan pertanyaan yang sama seperti di kantor polisi tadi. Bedanya sekarang ia memiliki dua daddy, Mahesa dan Brian. Hari yang sudah siang mengharuskan mereka bertiga berhenti sejenak di taman, tidak ingin pergi ke rumah makan karena penampilan Mahesa yang acak-acakan takut dikira orang gila. Brian membuka bekal nasi bento dari Asha tadi dan Mahesa juga membuka bekal yang sama membuat kedua lelaki itu kembali saling tatap, berusaha membunuh satu sama lain lewat tatapan mereka. Sedangkan Asha sekarang sedang mengejar Juno yang berlarian di taman, menangis, dan meminta es krim namun jelas tidak Asha turuti karena Juno sudah tiga kali makan es krim sejak di kantor polisi tadi. “Thanks udah bebasin gue,” ujar Mahesa membuka suara membuat Brian hanya menganggukkan kepalanya malas. Jika disuruh memilih, Brian lebih suka membiarkan Mahesa bermalam di sel tahanan daripada bebas seperti saat ini. “Asha pernah bilang ada yang datang setelah pergi, gue pengen mengambil peran sebagai orang yang pergi,dan lo orang yang datang di kehidupan Asha,” lanjut Mahesa. Brian benar-benar tidak mengerti apa maksud dari datang dan pergi yang Mahesa katakan, lelaki itu mengira Mahesa mabuk akibat terkena bogem mentah dari anak STM tadi. “Tapi nggak sekarang,” Mahesa yang suka menjeda perkataannya sendiri membuat Brian hilang selera makan dan akan mencercanya dengan berbagai u*****n sebelum suatu teriakan dari Asha mengagetkan mereka berdua. “Juno!!!” Mahesa dan Brian langsung berlari menuju sumber suara, menemukan Asha yang mematung dan Juno yang digendong oleh seorang lelaki dengan wanita yang juga menggendong anak laki-laki persis Juno disampingnya. Itu pasti orang tua sekaligus saudara kembar Juno. “Jadi kalian bertiga yang menjaga Juno selama hilang tadi?” tanya lelaki itu membuat Asha menganggukkan kepalanya disusul dengan Mahesa dan Brian yang sebenarnya tidak ikut andil apa-apa dalam hal menjaga Juno. “Ini Juna saudara kembar Juno, saya lupa bahwa memiliki anak kembar. Setelah membeli s**u di supermarket tadi, saya hanya menggendong Juna dan tidak ingat bahwa masih ada Juno yang tertinggal,” jelas ibu kedua anak kembar itu membuat mereka bertiga menahan tawanya, Asha tiba-tiba membayangkan jika nanti ia memiliki anak kembar, apakah ia juga akan lupa dengan salah satu diantara mereka? “Bubye mommy dan dua daddy Juno!!!” kini ganti Juna yang berteriak sedangkan Juno sudah tertidur di gendongan ayahnya yang asli. Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, sekarang tinggal Asha, Mahesa, dan Brian yang berjalan menuju mobil. Tak ada yang ingin membuka suara karena hari ini cukup melelahkan bagi mereka bertiga, Asha berjalan di depan disusul dengan kedua lelaki yang berjalan dibelakangnya sambil sesekali kembali melemparkan tatapan sinis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN