Bermalam

2759 Kata
Mahesa kembali menengguk alkohol dengan merk Baileys irish cream membuat Banyu dan Yeremias menggelengkan kepalanya sekaligus merasa was-was karena lelaki ini minum di bar “blue cafe”, di cafe ini segala bentuk minuman beralkohol dilarang. Kalau ada yang ketahuan, tidak hanya pelanggan, staf cafe juga akan dikenai sanksi karena telah kecolongan hal seperti ini. “Udah kenapa Hes, ini masalah hidup dan mati gue,” ucap Banyu hiperbola, ia takut jika sang manager tiba-tiba datang lalu melihat Mahesa bermabuk ria di depan meja bar akan membuatnya dipecat karena tidak memperingatkan lelaki itu. “Ini kadar alkoholnya cuma sedikit, Bay.” Jawab Mahesa sembari mengangkat botol alkohol yang sedari tadi ia minum diam-diam membuat Banyu langsung panik takut ketahuan. Mahesa tidak mabuk, lelaki itu tidak akan mabuk hanya dengan alkohol yang berkadar 17% itu, ia hanya meminum ini untuk membantu pikirannya kembali segar, lebih tepatnya untuk mengusir rasa bersalah Mahesa karena telah membentak Asha tempo lalu. “Lo yakin gak mau minta maaf sama Asha?” tanya Yeremias, mereka berdua tau penyebab Mahesa seperti ini tidak lain dan tidak bukan adalah si mahasiswa baru, perempuan yang terkenal pemberani serta sangat manis itu. Mau, Mahesa mau meminta maaf. Lelaki itu bahkan langsung menuju asrama Asha saat pagi hari setelah pulang dari acara camping, namun di sana hanya ada Maya, gadis itu berkata bahwa Asha dan Brian sedang izin beberapa hari untuk tidak masuk kuliah. “Dia udah balik asrama,” lanjut Yeremias membuat Mahesa seketika menoleh meminta penjelasan lebih. “Tadi gue liat Brian ke ruang dosen, kayaknya mau ngumpulin tugas. Lo tau sendiri kan kalau ada Brian pasti ada Asha,” jelasnya lalu mendapat anggukan dari Mahesa dan Banyu. Semua orang sudah tau akan hal ini, Brian dan Asha adalah satu paket yang sulit untuk dipisahkan, bahkan ada yang pernah menganggap mereka sepasang kekasih. Tanpa ba-bi-bu, Mahesa langsung berdiri dan menitipkan minumannya ke Banyu lalu langsung pergi menuju asrama milik Asha. Namun belum genap sepuluh langkah, pria itu kembali lagi menemui kedua temannya. “Kalau dia nggak mau maafin gue gimana?” Yeremias mengernyit, sejak kapan temannya ini merasa kecil hati seperti ini. “Amer sayang,” jawab Banyu menepuk pundak lelaki itu pelan kemudian diikuti Mahesa yang mengangguk paham dan kembali pergi menuju asrama Asha. “Bulol banget ya,” celetuk Banyu melihat punggung Mahesa yang mulai menghilang. “Iya kayak lo,” jawab Yeremias sembari tertawa membuat Banyu ikut tertular tawa yang keluar dari mulut manis Yeremias. Terhitung sudah 5 menit Mahesa hanya berdiam diri di depan pintu kamar sebuah asrama bernomor 17. Mahesa sudah tidak bisa menghitung berapa kali helaan nafas yang keluar dari mulutnya. Ini adalah kamar asrama milik Asha, ia pernah kesini sebelumnya namun entah kenapa saat ini ia tiba-tiba merasa gugup. Mahesa berpikir apakah Asha sekarang masih tidur? Atau ia sedang menonton televisi? Atau bahkan bagaimana jika nanti Asha membuka pintu kemudian menampar pipi Mahesa dan mengusirnya? Mahesa ngeri sendiri membayangkan hal itu terjadi. Ceklek!! Ah sial, Mahesa belum sempat mengetuk pintu namun seseorang dari dalam sudah membuka pintu terlebih dahulu hingga menampilkan sosok gadis yang masih memakai piyama tidur berwarna merah muda dengan motif beruang madu sambil membawa satu kantung besar berwarna hitam yang lelaki itu yakini adalah sampah. “Eh, kak Mahesa nga–“ “Maaf!” belum sempat Asha meneruskan perkataannya, Mahesa sudah lebih dulu meminta maaf dengan mata yang enggan menatap Asha karena malu. Sungguh menggemaskan, pikir gadis yang saat ini sedang menahan senyumnya. “Maaf gue bentak lo waktu itu, lo mau maafin gue kan?” lanjut Mahesa. Asha benar-benar penasaran kemana hilangnya Mahesa dengan ego selangit serta kalimat-kalimat cueknya waktu itu, kenapa sekarang malah berganti dengan Mahesa yang banyak bicara dan wajah menunduk takut. “Kak Mahesa nggak salah kok, kata bunda emang akunya aja yang bandel.” Mendengar hal itu, Mahesa langsung mengangkat kepalanya dan menatap Asha tepat di iris hitamnya, tak ada kebohongan di sana. Saat Brian bercerita dengan menggebu-gebu tentang bagaimana perlakuan Mahesa yang membentak Asha saat di perkemahan kemarin, bunda memang hanya tersenyum singkat lalu menjewer telinga Asha karena terlalu bandel, jika bunda ada di posisi Mahesa, bunda sendiri pasti akan memarahi Asha. “Kaki lo udah sembuh?” tanya Mahesa sembari melihat kaki Asha yang masih terbalut celana piyama. “Udah sembuh kok, cuma kegores, nggak perlu sampai di amputasi,” canda Asha dilanjutkan dengan cengiran manis yang menampilkan deretan gigi putihnya membuat Mahesa mau tak mau ikut tersenyum samar. Setelah percakapan canggung antara keduanya, walaupun hanya Mahesa yang merasa canggung sedangkan Asha hanya senyum-senyum tidak jelas karena senang Mahesa menemuinya saat ini, ia pikir setelah kejadian itu Mahesa akan kembali membencinya, namun pemuda itu justru meminta maaf kepada Asha. Mahesa dan Asha kini telah sampai di mall yang pernah mereka berdua kunjungi waktu itu, lelaki itu sengaja meminta Asha untuk menemaninya membeli sebuah hadiah ulang tahun untuk sang adik, Gema. Mendapat ajakan dari Mahesa membuat Asha senang bukan kepalang, ia harus menjadikan hari ini hari yang paling terbaik untuk menebus segala kesalahannya dengan tidak membuat Mahesa dalam masalah atau ia akan kembali menyalahkan dirinya sendiri. “Gema umurnya berapa deh kak?” tanya Asha mencoba berbasa-basi karena ia ingin seperti pasangan lain yang membicarakan hal penting sampai tidak penting padahal Asha tau bahwa mereka bukan pasangan. Mahesa mengangkat kedua tangannya lalu membentuk angka enam pada jarinya kemudian kembali berkutat pada deretan mainan anak laki-laki. Asha menghembuskan nafasnya, Mahesa yang sedingin es kutub akhirnya kembali lagi. “Iron man atau Baby Yoda?” Mahesa bertanya sambil membawa dua dus berisi action figure berbeda karakter tersebut. Harganya yang Asha rasa sama-sama mahal membuat gadis itu menengguk ludahnya, untuk anak usia 6 tahun apa tidak berlebihan dibelikan barang semahal ini? Beli robot-robotan di pasar saja sudah cukup bagi Asha. “Yang Iron man aja kak,” jawab Asha, kalau bisa memilih yang lain sih gadis itu lebih baik menyuruh Mahesa untuk membelikan adiknya sepaket buku tulis. “Kenapa harus Iron man?” Asha tampak berpikir, lalu kembali menatap dua benda yang masih dipegang oleh Mahesa secara bergantian. Iron man terlihat lebih gagah daripada mainan aneh berbentuk alien hijau itu. “Aku nggak tau Baby Yoda itu siapa, nanti Gema nangis kalau dapet alien, jadi Iron man aja soalnya ganteng.” Tak disangka, penjelasan bodoh Asha justru membuat gadis itu semakin terkejut saat tau harga action figure Iron man mark 50 itu mencapai 10 juta, dan Mahesa dengan tenang mengeluarkan kartu kreditnya. “Mahal banget kak, ganti alien aja!” bisik Asha saat Mahesa akan memasukan pin kartunya yang jelas tidak akan dihiraukan oleh lelaki itu. Bayangkan saja, Gema yang masih kecil itu dibelikan mainan seharga 10 juta sedangkan Asha pernah meminta mainan Barbie yang bisa bicara saja bundanya enggan untuk membelikan. “Sini,” Mahesa berkata sembari mengangkat tangan kiri Asha, gadis itu bingung kenapa Mahesa tiba-tiba melepas jam tangan yang melingkar di tangannya kemudian kembali memasangkan jam tangan berwarna hijau army ke tangan kecil itu. Asha berusaha sebaik mungkin untuk menahan dirinya agar tidak salah tingkah, ia tidak ingin berteriak di dalam mall, ia ingin bersikap layaknya perempuan paling cuek sedunia padahal pipinya sudah sangat merona saat itu. Merah di pipinya tidak akan hilang jika Mahesa terus menatap gadis itu dan jam yang melingkar di tangannya secara bergantian, otaknya masih berhenti di adegan saat Mahesa memasangkan jam tersebut ke tangannya. Bayangkan saja jika seseorang yang sangat kamu idam-idamkan melakukan perbuatan yang menurutmu sangat romantis ini, apa hati kamu masih aman? Kalau hati Asha tentu saja sudah menggelinding di lantai mall sedari tadi. “Gue lihat-lihat lo selalu pake jam itu, jam lo cuma satu ya? Ini gue beliin biar bisa ganti." Mahesa tetaplah Mahesa, egonya yang ternyata masih selangit langsung menghilangkan senyuman di bibir gadis itu. Secara tidak langsung Mahesa berkata bahwa Asha tidak memiliki uang untuk membeli arloji baru, padahal itu jam couple pemberian Brian. Ah, sepertinya Mahesa tidak pernah memperhatikan barang-barang couple milik Brian dan Asha. Mahesa berjalan mendahului Asha sambil tersenyum samar saat melihat gadis itu memajukan bibirnya seperti anak kecil hingga membuat Mahesa berpikir bahwa Asha adalah gadis berusia 9 tahun yang terjebak dalam tubuh 19 tahun. Di satu sisi, meskipun Asha cemberut, sebenarnya hatinya masih tetap berbunga-bunga karena Mahesa yang terkenal pelit itu diam-diam memperhatikannya dan membelikan ia sebuah jam, Asha suka apapun yang lelaki itu lakukan. *** Mereka berdua kini pulang menuju asrama Asha ditemani oleh warna jingga yang menyelimuti langit Jakarta, ini kali pertama Asha berjalan-jalan dengan naik motor bersama Mahesa, dan rasanya ternyata berlipat kali lebih menyenangkan daripada naik mobil. “Mau naik ke flyover apa lewat bawah?” tanya Mahesa sembari menoleh kecil ke arah Asha yang menikmati langit sore berharap gadis itu dapat mendengar suaranya. “Naik flyover aja boleh nggak?” Asha balik bertanya yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala oleh Mahesa. Asha sangat suka jika berada di ketinggian, ia merasa bisa dekat dengan langit yang sedang dalam fase menampakkan keindahannya seperti sekarang. Ketika Vespa matic yang ditunggangi dua sejoli itu mulai naik ke flyover, mata Mahesa tak sengaja menangkap perilaku kecil gadis dibelakangnya yang tersenyum sumringah sembari menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti tidak ingin melewatkan satu pun yang ia lihat. “Liatin apa sih sampai se seneng itu?” celetuk Mahesa membuat Asha langsung mengarahkan pandangannya ke arah spion, mata mereka berdua pun bertemu. Tanpa disadari, kedua pipi bulat Asha memerah malu ketika melihat wajah Mahesa lewat spion motor itu, Dengan segera Asha langsung menjatuhkan kepalanya ke punggung Mahesa berusaha untuk menutupi rasa malunya sehingga kembali membuat Mahesa gemas akan kelakuan gadis kecil yang duduk di belakangnya ini. Asha kemudian memutuskan untuk mampir dulu di apartemen Mahesa karena lelaki itu bilang memiliki beberapa modul mengenai mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak yang mana gadis tersebut lumayan lemah dalam hal itu. Setelah memarkirkan motornya di parkiran sementara yang terletak di depan apartemen, Mahesa dan Asha masuk lalu memencet lift dengan nomor 5, lantai paling tinggi sekaligus kamar apartemen yang biaya sewanya paling mahal. Setelah menempelkan kartu akses ke platform magnet sebelah pintu yang kemudian terbuka, Mahesa dan Asha langsung dikejutkan dengan banyaknya air yang keluar dari apartemen milik lelaki itu, “s**t! Ini AC bocor apa gimana,” gerutu Mahesa. Asha ingin tertawa sekarang karena Mahesa berpikir bahwa air sebanyak ini berasal dari Air Conditioner yang bocor, sungguh tidak masuk akal. Asha lalu mengekori pemuda itu untuk masuk ke dalam apartemen dan mencari dimana sumber kebocoran berada setelah sebelumnya melepas sepatu mereka di luar, Mahesa tidak ingin apartemennya bertambah kotor jika masuk dengan mengenakan alas kaki. Dugaan Asha benar bahwa bukan Air conditioner yang bocor, melainkan sebuah pipa wastafel yang bocor di dekat dapur, dengan cepat Mahesa kemudian menutup katup air yang terhubung ke pipa dan segera membuka kran wastafel berniat untuk menghabiskan seluruh air yang masih tersisa di dalam pipa. Setelah selesai dengan adegan dramatis yang lumayan membuat setengah badan Mahesa basah, lelaki itu teringat akan sesuatu dan langsung kembali berlari ke depan meninggalkan Asha yang mencoba tetap seimbang di tengah licinnya lantai. “Sial!” lagi-lagi Mahesa mengumpat saat pintu kamarnya terbuka, pemuda itu memang selalu membiarkan pintu kamar terbuka dengan alasan karena ia hanya tinggal seorang diri disini, jadi tidak akan ada yang mengacak-acak tempat tidurnya. Buku-buku yang berada di rak paling bawah sudah setengah basah, karpet bulu yang berada di bawah tempat tidurnya kini juga sudah seperti bulu anjing yang baru saja mandi. Mahesa cukup bersyukur karena telah menyisikan buku untuk kelas besok ke atas kasur sejak pagi tadi sehingga tidak ada yang terkena air. “Tukang ledeng jam segini mana ada,” gerutunya saat jam dinding di kamar pemuda itu menunjukkan pukul 6 sore, Mahesa kemudian mengambil buku-buku yang setengah basah untuk ia keringkan dengan hairdryer di ruang tengah, tempat Asha menunggu lelaki itu. Asha melihat pergerakan Mahesa yang kesana-kemari seperti mencari sesuatu, sedangkan Mahesa mungkin lupa jika Asha masih berada disini. Tak lama kemudian mata gadis itu mengernyit saat melihat Mahesa membawa pengering rambut dan siap untuk mengeringkan buku-bukunya. “Eh kak jangan!” cegah Asha berusaha mengambil alih pengering rambut tersebut. “Nanti kalau kering jadi keriput, mending di taruh di freezer aja,” jelasnya membuat Mahesa menampilkan wajah tak percaya sekaligus bingung. Asha tak banyak menjelaskan karena setelah berbicara, ia langsung mengambil plastik yang berada di meja ruang tamu dan segera memasukkan buku-buku itu ke dalam plastik lalu memasukkannya secara vertikal ke freezer kulkas berukuran tidak normal milik Mahesa. “Lois Warme, seorang ahli desain interior yang nyaranin mending di masukin ke dalam freezer daripada di keringin pakai pengering rambut,” jelas Asha dengan wajah bangganya seakan telah mendapat penemuan baru di depan Mahesa yang masih setia menampilkan wajah datarnya. “Terus kakak mau tidur di tempat basah kayak gini?” tanya gadis itu. Pertanyaan bodoh, pikir Mahesa. Tapi ia sendiri juga bingung akan tidur dimana, di kost Banyu yang sempit sudah pasti ada Yeremias. Jika ia pergi ke tempat kost Yeremias, itu cukup jauh dan cukup horor, Yeremias saja jarang untuk tidur di sana. Mahesa juga ada kelas pagi, ia tidak ingin telat. “Ah aku tau!” ucap Asha saat melihat raut wajah Mahesa yang menyiratkan bahwa lelaki itu juga bingung akan tidur dimana nantinya. *** Tok! Tok! Tok! Entah ketukan ke berapa yang Asha berikan untuk pintu bercat cokelat sehingga akhirnya dapat membuat pemiliknya membuka pintu itu. “Lama banget sih, Bri!” alih-alih memberi salam, Brian malah mendapat sapaan ketus dari Asha karena lama membukakan pintu. Setelah menatap Asha, tatapannya kemudian beralih ke lelaki yang berada di belakang Asha lengkap dengan sebuah tas ransel dan tas laptop yang ia jinjing, wajahnya sama sekali tak menunjukkan keramahan. Mata lelaki itu mengernyit tak suka, “Ngapain Mahesa kesini?” Ah, sepertinya Asha harus mengajarkan Brian sopan santun untuk menyapa seseorang yang notabene seniornya ini. “Pipa apartemennya bocor, dia boleh nginep disini dulu kan Bri?” jelas Asha yang semakin membuat Brian menatap lelaki itu tak suka. “Daripada ranjang sebelah kosong terus angker, mending biarin Kak Mahesa tidur disini semalem,” lanjut Asha. Brian memang menempati asrama itu sendirian karena sebenarnya ia juga tak ada niat untuk tinggal di asrama sebelumnya, sebelum Asha yang tiba-tiba rewel ingin pindah ke asrama dan membuat Brian mau tak mau ikut pindah juga. Setelah mendapat anggukan malas dari Brian, Asha langsung memekik senang dan pamit kepada kedua adam itu untuk kembali ke asrama karena ada tugas yang belum ia kerjakan. Kini tinggal Brian di ambang pintu dan Mahesa yang masih di depan pintu, lelaki yang lebih muda darinya tidak segera mengajaknya masuk dan justru menatap Mahesa dengan tajam sambil berpikir sejak kapan Asha kembali dekat dengan lelaki ini. “Kenapa liatin gue kayak gitu? Kalah ganteng lo?” tidak sampai 4 menit, Brian sudah berhasil dibuat emosi oleh Mahesa. “Masuk,” ucap Brian singkat lalu memberi sedikit ruang untuk Mahesa agar segera masuk dan menutup pintunya. Kata ‘masuk’ terdengar jelas di telinga Mahesa dengan nada yang sama sekali tidak ramah sehingga terkesan seperti berkata ‘pergi aja lo dari sini’. Hari mulai malam, Mahesa yang baru saja keluar kamar mandi untuk membersihkan badannya melihat Brian duduk di meja belajar yang terletak di samping ranjang berkutat dengan laptop dan buku tulisnya. “Lo suka sama Asha ya?” celetuk Mahesa yang terlalu tiba-tiba membuat Brian menghentikan aktifitasnya. “Tapi kayaknya dia ga ada perasaan yang sama deh,” lanjutnya, Brian langsung berdiri menghampiri Mahesa dengan tangan yang terkepal kuat. “Maksud lo apa sih, b*****t!” Mahesa sangat senang jika berurusan dengan lelaki bersumbu pendek seperti Brian saat ini. Lelaki dengan rambut yang masih basah itu duduk di tepi ranjang sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, membiarkan Brian penasaran dengan kata-kata yang akan ia ucapan. “Gue pernah denger kata-kata dari film yang gue tonton,” jawabnya lalu kembali berhenti seakan memang sengaja memberi jeda untuk mengulur waktu, ia berdiri menatap datar wajah Brian yang beberapa senti lebih tinggi darinya. “Menjalani hidup dengan berharap tanpa mengetahui kebenarannya, kadang bisa terlalu kejam dan sakit. Tapi disini lo udah tau kebenarannya dan masih berlagak seperti orang buta,” ucapan Mahesa yang cukup menusuk hatinya itu membuat Brian menarik kerah kaos sang senior dan bersiap melayangkan pukulannya. “Gue ingetin barangkali lo lupa. Tembok asrama ini tipis, jadi kalau kita adu jotos terus tetangga kamar denger, gue gak bisa jamin lo bakal selamat dari sanksi,” ujarnya santai. “b******k!” Brian melepaskan tangannya, mendorong Mahesa dengan kuat hingga lelaki itu terhuyung beberapa langkah ke belakang, lalu pergi begitu saja meninggalkan Mahesa di dalam kamar. Mahesa hanya tersenyum puas menatap kepergian Brian, ini akan menjadikan ceritanya semakin seru, Brian harus segera mendapatkan patahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN