Mobil yang ditumpangi oleh Retta dan kakaknya memasuki pekarangan rumah mereka. Retta mengernyitkan keningnya ketika sang kakak membawanya pulang ke rumah mereka, bukannya ke apartement Retta. Bagas mematikan mesin mobilnya dan melepas seatbelt yang dikenakan. “Mengapa pulang ke rumah?” Tanya Retta yang kini juga melepaskan seatbeltnya. Bagas menaikkan sebelah alisnya tinggi, tatapannya mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan oleh adiknya itu sangat tidak masuk akal. “Memangnya kau mau pulang kemana lagi? Rumah mu kan memang di sini. Jangan bilang kau melupakan rumah mu sendiri karena terlalu betah tinggal di asrama.” Tuduh Bagas. Retta merotasikan matanya jengah. Betah apanya, yang ada Retta merasa tersiksa berada di sana. “Kalau aku betah, aku tidak akan meminta pengajuan untuk

