Rinai keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih murung. John yang sejak pagi tadi menunggu Rinai dengan cemas dan khawatir semakin menatap iba hantu perempuan itu. Rinai tak menyapa John ataupun melemparkan senyumnya pada John. Dia hanya diam dan menempatkan dirinya di samping John. John menoleh dan mendongak menatap Rinai yang diam itu. Dengan gerakan yang ragu, Johnmembawa tangannya untuk menyentuh lengan Rinai pelan. Walau tangah itu tak bisa merasakan sensasi kulit Rinai, tetapi bagi John, tabrakan Antara aura itu membawakan perasaan lain bagi John. “Kak Rinai,” panggil John pelan. Rinai menoleh dan membalas tatapan dari mata kosong John dalam diam. “Kak Rinai baik-baik aja?” Tanya John. Rinai sebisa mungkin membalas pertanyaan John dengan senyum tipisnya. Setidaknya, b

