Theo berjalan ke tengah rumah bersama dengan koper besar hitam miliknya. Dia menatap sendu kepada keluarganya yang sedang tenang sarapan di pagi hari. Mereka semua tidak ada yang sedih dengan kepergiannya ke Singapore bahkan anaknya dengan tenang memakan sayur katuk yang terlihat sangat lezat.
“Makan dulu Theo. Masih lama, nanti Ayah antar,” ucap Bakti karena merasa kasihan kepada anaknya yang berdiri tidak jauh di dekat mereka.
Theo mengangguk dan duduk di depan Airin. “Anterin dulu Airih Yah. Nanti baru ke bandara,” jelasnya dan dibalas gelengan tidak setuju dari adik iparnya.
“Aku bawa mobil sendiri Yah, nanti siapa yang jemput aku? Kak Theo kan nggak ada di Indonesia.” Airin tidak mau jadi membebankan Ayah untuk menjemputnya, apalagi di grup ramai sekali karena sepertinya divisi keuangan akan kembali lembur.
“Marvel hari ini sama Nenek dulu ya,” ujar Airin sambil mengusap rambut Marvel dengan lembut. Anak itu hanya diam sambil menekuk wajahnya.
Airin Theo dan Bakti sudah berangkat yang tersisa hanya Endang dan Marvel. Biasanya jika ada Theo anak itu akan nempel bersama dengan Daddynya sekarang dia hanya diam sambil membaca buku cerita. Endang membawa segelas jus jambu yang bagus untuk kesehatan Marvel. Cucunya juga sangat menyukai jus itu. Mereka berdua sedang berada di belakang rumah menikmati cahaya matahari dan hembusan angin sejuk. Neneknya sedang menikmati majalah busana edisi terbaru sambil berbaring di kursi panjang.
“Nenek kalau Tante Airin jadi Momy aku bisa?”
Kuping Airin terasa panas. Kedua matanya menatap curiga kepada seluruh teman-temannya yang ada di sini. Apakah mereka diam-diam suka membicarakannya? Kenapa? Apa yang mereka bicarakan? Dia pun mengangangkat kedua bahunya tanda tidak peduli.
Tanpa disengaja kedua mata Airin melihat Luna yang tersenyum bahagia ketika Pak Ahmad membicarakan sesuatu kepadanya. Tidak biasanya gadis itu mendapatkan pujian dari atasannya biasanya hanya omelan dan saran yang akan dikeluarkan Pak Ahmad kepada Luna.
Airin tidak boleh iri dengan pencapaian orang lain, dia harus fokus mengerjakan laba rugi untuk tahun ini. Hanya saja dia masih memikirkan perjalanan Theo ke Singapur, apakah dia sudah tiba? Sedari tadi tidak ada satu pun pesan dari Theo laki-laki itu seperti di telan bumi hilang tanpa jejak.
“Airin gue masak! Nanti makan siang bareng ya?” bisik Revan dan membuat Airin sedikit mengalihkan fokusnya kepada lelaki itu.
“Masak apa?” tanya Airin dengan mata tetap fokus menatap layar komputer, Pak Ahmad akan mengamuk jika ada bawahannya yang tidak fokus bekerja.
“Empek-empek.”
Bibir Airin terbuka sampai membentuk huruf o sangking terkejutnya. Dia menjadi tidak sabar menantikan empek-empat yang dibuat langsung oleh sahabatnya itu. Revan sangat jago memasak dan bisa dipastikan masakan itu tidak gagal.
“Gue jadi nggak sabar Van! Pedas nggak?”
Ketika kedua matanya manatap Revan cowok itu mengangguk yakin dan membuat air liur milik Airin terasa jatuh ke bawah. Wanita itu sangat suka pedas tidak ada masakan yang gagal menurutnya jika makanan itu pedas.
Endang dan Marvel sedang makan siang bersama dengan ayam goreng dan kecap manis yang membuat rasa ayam semakin lezat.
“Nenek, kalau Tante Airin jadi ibu Marvel nenek setuju nggak?”
Endang terpaksa menggelengkan kepalanya. “Marvel, harusnya Marvel tanya ke Tante Airin, bukan ke Nenek. Nenek nggak tahu jawabannya.”
Marvel terdiam, dia mana berani menanyakan hal itu kepada Tantenya. Dia akan coba cerita ke Daddy nya dia juga ingin mengetahui jawaban dari Daddynya.
“Nek, Daddy sudah sampai di Singapur?”
Endang mengangguk karena tadi Theo baru saja menghubunginya bahwa dia sudah tiba di apartemen yang ada di Singapur. Mendengar kabar dari Theo membuat perasaanya menjadi lega. Mengetahui anaknya akan naik pesawat sedikit membuatnya khawatir apalagi dengan kejadian Tendi sebelumnya.
“Daddy kamu udah sampai, dia udah ada di kantornya sekarang.”
Marvel tersenyum tipis kemudian melanjutkan acara makannya. Dia akan menanyakan pertanyaan itu setelah Daddynya tiba. Atau dia tanya Tante Airinnya dulu?
Airin dan Revan sedang berada di kantin, sesuai janji laki-laki itu mereka akan memakan empek-empek buatannya. Walaupun dia bukan asli orang Palembang hanya saja ia sangat mahir membuatnya tentu saja karena ibu dan tutorial dari Youtube.
Airin memakan setengah dari empek-empek itu dan ia campur dengan kuahnya, lidahnya terasa melayang bahkan kedua matanya terpejam menikmatinya. “Enak banget Van, lo memang pantasnya jadi Chef bukan kerja kantoran kayak gini.”
Revan tergelak kemudian mendekatkan jus jeruk yang tadi ia pesan kepada wanita yang sedang duduk di hadapannya. “Thanks, gue bisa ajarin lo. Makanya kapan-kapan lo datang ke rumah gue nanti kita masang bareng.” Tentu saja dia memasak ini hanya agar Airin datang ke rumahnya. Sudah lama wanita itu tidak berkunjung terakhir berkunjung bersama dengan Tendi .
“Nggak ada waktu Van. Lo tahu sendiri kita kerja sampai malam terus, hari minggu lebih milih di rumah karena senin harus kerja lagi,” jelas Airin sambil memakan lagi empek-empek itu.
Revan menghela nafas kesal. “Lonya aja yang malas.”
Airin terkekeh kemudian mengalihkan perhatiannya kepada handphone yang ada di meja. Seharian ini ia tidak membuka ponsel pintar ini karena sibuk mengerjakan laporan yang mendadak dari Pak Ahmad. Dia kangen sekali kepada Marvel anak itu sedang apa ya? Kalau ada Theo biasanya dia akan mengirim pesan lewat Daddynya.
Airin juga penasaran kepada Theo, apakah dia sudah sampai dengan selamat di sana? Daripada penasaran dia pun mengirim pesan kepada kakak iparnya itu.
Airin
Udah sampai Kak?
Theo
Udah ini lagi di kantor. Titip Marvel ya Rin.
Airin merengut kesal dia benci jika ada kalimat sensitif seperti itu. Titip itu kayak Theo nggak akan balik lagi ke Indonesia dan itu membuat dirinya kembali mengingat Tendi.
Airin
Nggak! Kak Theo harus urus Marvel! Harus balik lagi ke sini. Jangan lama di Singapurnya
Theo tertegun membaca pesan terakhir yang diberikan Airin kepadanya. Entah kenapa perasaanya berubah menjadi campur aduk. Ingin rasanya ia segera pulang dan bergabung lagi bersama keluarganya.
Sekertaris Theo pun muncul dan mengingatkan atasannya agar segera menghadiri rapat yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Sebelum bergabung dengan karyawannya di ruang rapat dia mengetikkan sebaris pesan kepada Airin.
Theo
Siap laksanakan!
Airin tergelak membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Theo kepadanya. Dia merasa seperti kapten yang sedanng bertugas di medan tempur dan Theo sebagai anak buah yang harus siap melaksanakan semua perintahnya. Akibat pesan itu juga Airin mengabaikan kehadiran Revan yang sepertinya sudah panas oleh api cemburu
**