Kedua mata Airin terasa sangat berat, seperti di timpa oleh batu bata berlebihan sih hanya saja memang itu faktanya. Suhu ruangan kantor yang dingin juga semakin memicu matanya untuk terpejam. Dia menundukkan kepala hingga ke meja dan memejamkann keduanya berusaha untuk meredam kantuknya dan bisa bekerja dengan maksimal.
“Pak. Izin ke bawah. Mau beli kopi.” Airin mengangkat satu tangan kanannya dan berbicara dengan suara lantang.
Pak Ahmad yang sedang mengetik pun kaget mendengar suara keras dari karyawannya. Dia menatap Airin dan mengangguk. sebenarnya dia ingin mencegah karyawannya untuk keluar ketika sedang bekerja hanya saja melihat kantung mata yang ada di bawah mata wanita itu membuatnya tidak tega dan terpaksa mengizinkannya.
Airin berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift yang baru saja terbuka. Dia langsung masuk dan memencet tombol lantai satu, di sana ada kantin yang menyediakan banyak makanan dan minuman. Harganya pun murah dan jika akhir bulan ada diskon yang membuat karyawan senang.
Satu es Americano sudah siap, dia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah dua belas, tidak lama lagi istirahat akan tiba dan dia memutuskan untuk duduk santai di kursi kantin.
“Airin! Jangan kabur!” seru Revan dengan kencang, untung saja tidak ada pembeli lain selain dirinya hika tidak wajahnya sudah memerah karena malu.
“Lo kenapa menghindar dari gue?” tanya Revan dan memutuskan untuk duduk di hadapan wanita itu.
Airin memutar matanya dengan malas dan bersedekap sambil melihat Revan dengan tatapan kesal. “Gue takut sama lo. Lo kayak psikopat.”
Revan tergelak mendengar perkataan Airin. “Gue bete aja lo malah deket sama Theo bukannya gue. Tapi sekarang nggak kok. Lo mau deket sama siapa pun itu urusan lo.”
Airin mengangguk setuju kemudian meminum es Amerikanonya. “Lo udah pesan?”
Revan menggelengkan kepala. “Gue pesan dulu ya,” ujarnya dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Airin.
Mereka berdua memang selalu seperti itu. Bertengkar kemudian akan berbaikkan dengan sendirinya. Kadang Tendi juga tidak paham dengan hubungan persahabatan Airin dan Revan. Biasanya dalam persahabatan jarang sekali ada yang bertengakar dan sekalinya bertengkar akan langsung hancur karena biasanya masalahnya terbilang rumit dan menyakiti salah satunya.
Revan kembali dengan membawa es Amerikano dan duduk di depan Airin. Jika tahu dia akan berbaikan dengan lelaki ini semalam dia tidak akan menyelesaikan tugas Luna yang sangat membuatnya pusing. Wanita itu kembali meminumnya sampai habis dan yang tersisa hanya es batunya saja.
“Kemari parah lo nempel terus sama Luna.”
“Gara-gara lo juga!”
Keduanya tertawa karena lucu mengingat kejadian kemarin, Revan yang berubah 180 derajat dan Airin yang sangat ketakuta. “Tapi sumpah! Gue kemarin taku banget lihat lo Van.”
“Tapi sekarang nggak kan?” tanya Revan dia tidak mau Airin terus menerus menjauh darinya.
Airin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Nggak lah. Tapi janji jangan kayak gitu lagi. Nggak lucu tahu.”
Revan terkekeh pelan dan mengangguk. Dia juga berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan seperti itu lagi. Kesalahannya kemarin tidak boleh terulang kembali jika ia kembali seperti itu maka Airin akan semakin menjauh darinya.
Luna yang berada tidak jauh dari mereka mengepalkan kedua tangannya, cemburu melihat interaksi mereka yang kembali seperti itu.
“Kak Luna, dipanggil Pak Ahmad,” Luna tidak akan kalah, dia harus memisahkan Airin dan Revan sejauh mungkin.
Airin yang mendengarkan perkataan Luna langsung berdiri dan segera berjalan menuju ke ruangannya. “Ada apa Lun?”
Luna mengangkat kedua bahunya. “Kurang tahu Kak.”
Airin pun langsung berjalan ke dalam lift meninggalkan Revan dan Luna yang masih berada di sana. “Kak Revan tuh kenapa terus deket sama Kak Arin sin?” gerutunya kepada Revan yang akan menyusul Airin ke atas. Pergelangan tangan Revan dicekal membuat cowok itu kesal dan segera menghempaskan tangan Luna agar menjauh darinya.
“Bukan urusan lo,” jawabnya dingin sampai menusuk hati Luna dan membuatnya terdiam menatap punggung Revan dari belakang.
Rasa kantuk Airin sudah sirna tidak ada lagi yang bisa menghambatnya dalam bekerja. Hanya saja tadi kenapa Luna berbohong? Jelas-jelas Pak Ahmad tidak memanggilnya. Ketika ia bertanya kenapa atasanya itu mamanggilnya dia memasang wajah bingung dan sialnya dia malah diberi tugas tambahan.
Dari kejauhan kedua matanya bisa menangkap tubuh Luna yang sedang duduk dikerjanya dan keduanya matanya fokus menatap layar komputer, jika di deskripsikan posisi meja mereka bertiga tuh sejajar. Airin-Revan-Luna. Antara Revan dan Luna di pisah oleh jalanan untuk karyawann berlalu-lalang maka dari itu Airin bisa dengan mudah melihat pergerakan Luna.
Ah, dia tahu apakah Luna cemburu kepadanya maka dari itu dia berbohong? Bisa jadi sih. “Airin?” bisik Revan dan membuat Airin menatapnya.
“Nanti malam ada acara?” sambungnya dan membuat dia mati kutu. Airin tidak mau terlalu dekat dengan Revan karena dia tidak mau memberi Revan harapan, jika Revan tidak memiliki rasa kepadanya dia pasti sangat mau diajak keluar. Apalagi sahabatnya itu sangat royal dan suka sekali mentraktirnya makan.
“Kayaknya nggak bisa. Badan kurang fit. Ajak Luna aja.”
Ide bagus! Dia bisa sekalian menjodohkan mereka berdua kan? Jika berhasil bisa dipastikan Luna akan memberikan apa yang dia mau.
“Luna!” Revan panik ketika Airin memanggil nama Luna. Dia tidak mau jika gadis itu jadi besar kepala dan semakin menaruh rasa suka kepadanya.
“Malam ini ada acara nggak?” tanya Luna. Revan sudah menggelengkan kepala agar sahabatnya itu tidak meneruskan niat jahatnya.
Luna pun berbalik dan memasang senyuman manisnya. “Nggak tuh.”
“Tuh Van, Luna nggak sibu. Revan mau ngajak nonton film. Tenang semua biaya ditanggung sama yang ngajak. Bener nggak Van.”
Revan menggaruk kepalanya dan menundukkan kepala. Saat ini seluruh mata tertuju kepadanya bahkan Pak Ahmad tidak menegur sama sekali biasanya atasannya itu paling anti ada drama-dram kolosal kayak gini. Mendadak laki-laki itu rindu kepada omelan atasannya itu.
“Nanti gue WA nama mall nya.”
Airin tergelak dan semua yang ada di sana pun tersenyum penuh arti. Pak Ahmad pun menegur semuanya dan menyuruh agar segera kembali bekerja.
Revan menatap Airin yang terus menerus tertawa. Kedua matanya tidak sengaja menangkap kantong mata hitam yang membuatnya sedikit terganggu.
“Semalam lo nggak tidur?” tanya Revan penasaran.
“Tidur tapi nggak nyenyak.”
Kedua alis Revan menyatu perasaannya berubah menjadi tidak enak. Apakah Theo mengganggu Airin dan membuat wanita itu tidak bisa tertidur? “Kenapa?”
Airin tersenyum. “Tengah malam Marvel nangis kenceng banget, dia demam jadi gue urus dia deh.”
“Di kamar lo?” api cemburu mulai tumbuh di hati Revan, tidak mungkin kan Airin datang ke kamar duda anak satu itu di tengah malam jika benar dia ingin sekali menghajarnya sampai mampus.
Airin terdiam, kemudian memasang wajah serius. “Kepo! Fokus kerja Van!”
**