Terjadi perang dingin antara Revan dan Airin untung saja lelaki itu tidak menjalankan aksinya ketika mereka ada di kantor. Mungkin malu? Bisa jadi karena citra Revan di kantor ini terkenal dengan karakternya yang sopan, ramah dan selalu menghargai waniita. Ketika makan siang pun Airin selalu bersama dengan Luna, gadis itu adalah satu-satunya tameng yang bisa melindunginya dari Revan.
“Kak Airin lagi menghindari Kak Revan ya? Pantesan dari pagi jadi pengikut aku,” ujar Luna membuat Airin memutar bola matanya. Kalau bukan karena Revan dia tidak akan berdekatan dengan Luna pasalnya gadis itu seperti kotoran sapi yang sangat dihindari oleh Revan.
Makan siang kali ini Airin hanya membeli salad dan jus jambu sama dengan makanan yang dibawa Luna hari ini. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di pojok kantin menghindari kerumunan dan yang utama adalah Revan.
“Kak Airin semua ini nggak gratis lo?”
Kedua halis Airin menyatu penasaran dengan maksud dari ucapan Luna. Apakah dia harus membayar Luna dengan uang? Setahunya gadis itu berasal dari kalangan atas dari rumornya sih Ayah Luna mempunyai stasiun televisi nasional akan tetapi sampai sekarang Airin tidak tahu apakah gosip itu benar atau tidak.
“Berapa?”
Sebelum menjawab Luna meminum jus jambunya kemudian menatap lekat kepada Airin. “Aku belum kerjain laporan deadlinenya besok. Kak Airin bisa tolong kerjain? Aku kan sekarang udah tolongin Kak Airin masa Kakak nggak bisa bantu aku?”
Airin memutar bola matanya dengan raut wajah kesal. Laporan keuangan miliknya saja masih menumpuk dan sekarang ia harus mengerjakan bagian Luna. Dulu ketika ia dan Revan masih akur setengah tugas miliknya selalu dikerjakan oleh Revan dan sekarang dia harus mengerjakannya sendiri. Apakah dia harus baikan lagi dengan Revan agar terbebas dari tugas milik Luna?
“Kirim aja ke email gue” Airin tidak bisa kembali dekat dengan Revan apalagi setelah melihat perubahan lelaki itu yang menurutnya sedikit membuatnya takut.
Luna tersenyum puas kedua tangan lentiknya mengambil jus yang tinggal sedikit dan meminumnya. Malam nanti ia akan sibuk maskeran kemudian tidur dengan cantik tidak akan bergelut dengan komputer dan kertas-kertas yang isinya membuat kepala sakit.
Revan tidak bisa mendekati Airin karena Luna akan selalu bersama dengan sahabatnya itu entah dari kapan mereka berubah menjadi dekat seperti itu, bahkan ketika di dalam ruangan wanita itu tidak merespon sama sekali perkataanya wanita itu berubah menjadi batu yang tidak berbicara sedikit pun.
“Luna, laporan kamu belum selesai juga? Ingat deadline!” tegur Pak Ahmad. Airin yang mendengarkan menghela nafas kesal malam ini dia harus bergadang untuk mengerjakan laporang milik orang lain.
“Besok Pak,” jawab Luna dengan suara lembutnya. Airin ingin sekali muntah mendengarkan hal itu, Luna pikir mengerjakan laporan gampang? Nggak! Butuh beberapa hari.
Airin melihat Luna berbalik dan menatap kepadanya kebetulan meja Luna berada di depannya. Gadis itu tersenyum manis dan mengedipkan sebelah kanan matanya. Ia memutar bola matanya dengan malas dan kembali fokus mengetik. Kepalanya mendadak menjadi pening membuat kedua tangannya menyentuh kepala dan meremasnya berharap rasa pusingnya menghilang.
Suara notif WA Web berbunyi Airin tersenyum senang setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Theo. Sebenarnya itu pesan dari Marvel anak itu tidak mungkin kan memiliki handphone sendiri.
Kak Theo:
Rin, kata Marvel kamu pulangnya bisa agak sorean? Dia mau ke Mall beli mainan.
Airin:
Aku pulangnya sore. Lagi nggak ada kerjaan.
Kak Theo:
Serius? Kalau nggak bisa nggak papa.
Airin:
Tenang aja Kak :)
Ketika awal bulan divisi keuangan tidak akan terlalu sibuk. Pulang pun tidak malam hari seperti di akhir bulan. Sore ini saja Airin sudah berada di depan kantor bersama dengan Airin yang sedang menunggu jemputan Theo dan Marvel. Anak itu ingin membeli mainan dan ingin dirinya yang menemaninya ke Mall.
“Kak jangan lupa ya laporannya dikerjain.”
“Iya bawel.” Airin akan berencana untuk bergadang, besok pagi bisa dipastikan ia akan sakit kepala karena tidak tidur.
“Itu tugas dari tanggal berapa sih?” tanya Airin penasaran. Pak Ahmad bukan tipe orang yang menugaskan sesuatu secara mendadak. Pasti kerjaan itu sudah lama diamanahkan kepada Luna.
“Akhir bulan kemarin,” jawab Luna santai sambil memainkan handphonenya.
Airin mendengus kesal, kemudian tersenyum senang ketika mobil Honda Jazz berwarna meras sudah ada di depannya.
“Gue duluan.”
Luna menatap Airin dengan tatapan aneh. Sejak kapan seniornya bisa basa-basi seperti itu, biasanya juga kalau pulang langsung pulang kadang jika berpapasan dengannya pun Airin tidak akan menyapanya duluan.
“Hai Marvel,” ucap Airin dengan wajah berseri. Marvel yang sedang duduk di depan pun segera pindah ke belakang dengan dibantu oleh Daddynya.
“Tante Airin, Marvel ingin beli pesawat yang besar. Marvel tuh sebenarnya punya tapi ketinggalan di Singapur.”
Airin tersenyum mendengar cerita dari Marvel. Dia segera menutup pintu belakang dan duduk sambil memangku keponakannya.
“Marvel suka pesawat?”
Marvel mengangguk dengan penuh antusias. “Kalau Marvel udah dewasa kayak Daddy Marvel akan buat pesawat, nanti Tante naik pesawat Marvel ya.”
Airi mengangguk dia senang sekali melihat keceriaan keponakannya. Mobil pun menjauh dari kantor meninggalkan Revan yang menatap benda itu dengan tatapan tidak suka. Lelaki itu sangat terbakar oleh api cemburu, dia tidak menyangka kakak dan adik bisa merebut wanita yang sangat ia cintai.
Sejak kecelakaan yang menimpa Tendi Airin mendadak menjadi gadis pemurung, bahkan kegiatannya ke Mall tiap akhir minggu hilang begitu saja. Ia lebih memilih tidur di ranjang sampai berharap mimpi buruknya menjadi mimpi indah. Dia selalu berdoa agara bisa kembali seperti dulu dan sekarang Tuhan sudah mengabulkannya. Mereka bertiga tersenyum tanpa henti, mencari mainan, makan bersama, mendengarkan cerita Marvel ketika di Singapur. Kemudian senyuman itu berlanjut hingga ke rumah.
Endang tersenyum lebar melihat kebahagiaan terpancar dari raut wajah Airin. dia bersyukur karena Marvel bisa mengubah kesedihan menantunya menjadi sebuah senyuman bahagia.
“Kalian itu serasi tahu. Kenapa nggak dinikahin aja sih Teh,” ucap adik perempuan Endang.
Airin yang mendengarkannya tersenyum kikuk kemudian menyalami adik mertuanya yang bernama Elis. Beliau memang selalu berbicara tanpa dipikir dulu untungnya Airin sudah mengenali sifatnya jadi dia tidak kaget mendengarnya.
“Nggak boleh lah Lis,” jawab Endang, dia tidak pernah ada keinginan untuk menikahi Airin dan Theo walaupun ia masih menginginkan Airin untuk tetap menjadi menantunya.
“Nggak dosa Teh. Daripada Airin nikah sama lelaki lain? Nanti The Endang di tinggal sama Airin mau?”
Endang tersenyum simpul kemudian merangkul Airin yang duduk di sampingnya. “Walaupun Airin nikah sama lelaki lain, Airin akan tetap jadi anaknya Ibu.”
**