"Ehm, iya pak. Boleh saja." Tak punya pilihan selain mengangguk-anggukkan kepala. Kaki Marsha mengikuti langkah lebar kepala sekolahnya. Hatinya kebingungan, mengapa mendadak? Sedangkan kelas mereka amburadul jika masalah tentang tata tertib di sekolah. Marsha harus apa? Ia tidak mau menjadi yang disalahkan karena belum meminta izin kepada mereka. "Sekarang habis ini pelajaran apa?" Marsha memainkan rok abunya, ia merasa segan dengan aura wibawa yang terpancar dari Surya, kepala sekolahnya yang menegurnya ketika ia melewati ruang Tata Usaha. Dimana tempat wakil dan kepala sekolah untuk mengurus segalanya tentang SMA Prima Bumi.. "Oh, mapel kimia, Pak," jawab Marsha. Dia mengalihkan atensi ke lapangan basket. Luas lapangan persegi panjangnya bisa dipakai buat seribu orang lebih. Biasa

