Senyum masih belum pudar dari wajah cantik Kang Tae Ri mengingat masa-masa sebelum ia terkenal, yang juga masa-masa sebelum Kim Hyun So memimpin perusahaan keluarganya.
Namun, senyum itu perlahan menjadi garis tipis. Mengingat masa lalu yang kelam dan suram yang terus menerus menghantui dalam tidurnya, juga mengikuti kemanapun ia pergi. Dengan terpaksa dia membiarkan tubuhnya menjadi pemuas nafsu para petinggi di agensi tempat ia menjadi trainee.
Tidak hanya para petinggi, juga para kenalan para petinggi, meski ia tidak sendiri diperlakukan seperti itu, tapi trauma masih mengikutinya, salah seorang temannya sesama trainee bahkan ada yang bunuh diri, dan itulah motivasi ia mencoba melalukan hal yang sama.
Ia menggeleng pada diri sendiri, sekarang yang ia harus pikirkan adalah bagaimana kesibukan masing-masing menghadirkan semacam jarak yang makin lama semakin besar diantara mereka.
Kang Tae Ri tidak terlalu yakin dengan perasaannya lagi. Ia tidak berdebar lagi ketika mendengar suara laki-laki itu, Bahkan sekarang ia sudah tidak takut lagi kehilangan Kim Hyun So, ia sudah cantik dan kaya. Tidak seperti dulu, pikirnya.
"Tunggu sebentar," ujar Kim Hyun So membuyarkan lamunan Kang Kang Tae Ri sebelum menghilang kedalam kabin.
Dia punya hadiah kecil untukku lagi, tebak Kang Tae Ri.
"Aku akan menunggu seperti anak baik."
Dan benar saja, Kim Hyun So kembali dengan membawa sebuah tas kecil dan kembali duduk di kursinya tadi. "Ini adalah kebahagiaan pertama," katanya sambil menyodorkan tas tersebut kepada Kang Tae Ri.
Dengan pura-pura terkejut dan berseri-seri, mengunakan keterampilan aktingnya selama bertahun-tahun, Kang Tae Ri menerimanya. "Apa ini?" tanyanya sambil melihat kedalam tas.
"Buka saja," jawab Kim Hyun So dengan nada biasa-biasa saja bahkan agak acuh tak acuh.
Dengan masih dalam kepura-puraan, Kang Tae Ri mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas, sebuah kotak perhiasan. Tidak sabaran, ia buka kotak itu. Sebuah kalung berlian yang berkilauan seperti perasaannya.
Kim Hyun So memang sering menghadiahinya dengan barang-barang mahal, membawa ke tempat-tempat romantis yang hanya Kim Hyun So bisa melakukannya.
Tapi yang membuat Kang Tae Ri bingung, lelaki itu tidak pernah melakukan apa-apa padanya, hanya pelukan dan sesekali menciumnya. Dia lebih merasa di perlakukan dekorasi yang akan dia bawa sesekali keluar dan diberi hadiah mahal. Bertahun-tahun hubungan mereka, dia bahkan tidak pernah memperkenalkan pada keluarganya.
Kim Hyun So sudah berdiri di belakang kekasih cantiknya untuk memasangkan kalung itu, namun tiba-tiba saja ponsel Kang Tae Ri yang berada di meja berdering memprotes. Lantas Kang Tae Ri mengembalikan kalung itu ke asalnya dan memilih menerima telepon.
"Apa?" tanya Kang Tae Ri tidak percaya, dia bahkan berdiri kaget, seolah-olah memastikan kembali pendengarannya sendiri. "Apa aku sedang bermimpi?" teriaknya dengan suara penuh kebahagiaan.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Kang Tae Ri berbalik memandang Kim Hyun So dengan wajah berseri-seri. "Aku diterima audisi sutradara Amerika," umumnya sambil memekik bahagia, lalu melompat kekanak-kanakan memeluk kekasihnya.
Tidak percuma ia tidur dengan sutradara dari Amerika itu.
Dan terlupakan sudah berlian pemberian Kim Hyun So.
***
Bali, Indonesia. Tiga hari kemudian.
"...Sekarang jam sepuluh," teriak Mila di depan pintu yang masih tertutup rapat sejak tiga jam terakhir ia bolak-balik ke sana.
"Lo minta gue bangunin jam delapan, udah dari jam tujuh gue bolak balik sini." Ia menarik nafas dalam-dalam sambil melirik jam dinding. "Dan sekarang sudah jam sepuluh, YUARA WENG," ulangnya lagi dengan nada lebih keras dan tegas. "Lo bakalan..."
Teriak melengking Mila terhenti oleh bunyi gedebuk keras disusul erangan dan u*****n dibalik pintu.
Mila agak khawatir. "Astaga Yua, Lo Ngapain di dalem? Jangan bilang lo mau ngancurin rumah gue."
Tiba-tiba pintu di depannya terbuka keras dan sontak Mila terlonjak kaget.
"Gue jatuh dari tempat tidur, Kanvret."
Dan tak kalah kagetnya Mila dengan kemunculan spektakuler singa megar yang langsung menggaung keras sambil memegangi pundak, kemungkinan besar mendarat lebih dahulu di lantai ketika berguling bangun.
"Lantai gue nggak apa-apa, kan?" tanya Mila mencoba melihat kebelakang sang singa.
"a***y bener dah punya temen. Sayang lantai dari pada temen sendiri," gerutu Yuara Weng.
"Yee, gue lebih khawatir sama lantai gue lah. Masa di seruduk banteng ngamuk saking stresnya gagal dijebol."
"Diem nggak. Gue sumpelin sendal lo lama-lama." Singa berbentuk Yuara Weng itu menyibak rambut kusut panjang yang menutupi wajahnya menampakkan mata berat merah bengkak, kemungkinan besar ia menangis lagi sepanjang malam. "Jam... jam berapa tadi?" tanyanya cepat dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Galak amat sih, kaya singa PMS," cetus Mila lalu melirik jam tangannya sekilas. "Sekarang jam Se-pu-luh." eja Mila bersedekap pura-pura marah.
Ia lebih kepada khawatir dan iba melihat teman paling tegar dan paling kuat sekuat Hercules namun harus tersakiti oleh penghianatan Tania yang bahkan tidak bisa membunuh semut.
Sekuat dan setegas apapun seorang wanita, tetap saja akan menjadi makhluk lemah paling rapuh saat patah hati. Apalagi dikhianati calon suami sendiri.
"Njirrr, coconut," aungnya lagi. Singa berbentuk Yuara Weng melesat berbalik cepat mengabaikan betapa lelah sahabatnya berusaha keras membangunkannya. "Njir, matilah gue."
"Nggak usah sok dramatis deh lo," kata Mila.
"Lo nggak tahu bos gue kaya apa seremnya. Kaya pocong, kuntilanak, genderowo, dompet tanggal tua, emak-emak sen kiri tapi belok kanan, lo gabungin deh tu jadi satu. Serem abis! Sumpah deh! Gue nggak boong," ujar Yuara Weng.
"Ya mana hamba paham, hamba kan maba." sahut Mila.
"Maba kepala lo peang," kutuk Yuara.
Mila hanya mampu melongo melihat pertama kali Yuara Weng berpenampilan paling kacau dalam seminggu ini, setelah dua hari yang lalu ia nangis bombai, meraung-raung tak henti-hentinya seakan kehidupannya telah berhenti hanya karena pernikahannya dengan Oliver Prasetyo, cowok yang merasa dirinya paling ganteng sejagat, batal.
Rambut panjang pirangnya kusut dan megar tak ubahnya seperti singa jantan. Piyama garis-garis yang dipakainya tidak simetris, sebelah lengan bajunya tergulung hingga siku, menyingkapkan beberapa bekas cakaran di lengannya yang sudah mulai mengering.
Ia benar-benar jauh lebih kacau daripada sebelumnya, padahal kemarin dia cukup menikmati bali seakan hari dimana ia memergoki calon suaminya tidak pernah terjadi.
Didorongnya pintu itu agar terbuka lebih lebar. Mata Mila terbelalak, kamar itu tak kalah kacau dibandingkan penghuninya.
Koper terbuka lebar dengan sejumlah barang separuh keluar. Selimut sepertinya dilempar asal teronggok lesu di kaki meja. Sejumlah kertas lepas berserakan di lantai.
"Harusnya Lo siram aja Gue, kalau bisa pakai air es, biar melek nih mata," cecar Yuara sambil membuka gaduh lemari, gantungan-gantungan baju berceceran di lantai bersamaan aungan tak jelasnya.
Jelas sekali ia mencoba menyembunyikan kekecewaan dan rasa sesak di dadanya.
Mila bersedekap geleng-geleng kepala. "Lo aja kebo!" katanya ringan. Bisa-bisanya menyalahkan orang lain di atas kesalahannya sendiri.
Bagaimana tidak kebo, Yuara baru bisa mendaratkan punggung di kasur sekitar jam enam lewat lima belas menit setelah menyelesaikan pekerjaannya yang menggunung, juga sebab beberapa jam sebelumnya ia mewek lagi.
Dia merasa sudah cukup menangisi kebodohan dan sikap keras kepalanya.
"Eh, lo kok kesetanan. Otak lo nggak pindah gara-gara jatuh barusan, kan?" tanya Mila masih Khawatir.
"Aelah. Bantuin napa?" Yuara balas bertanya.
Andai Ia tidak keasyikan menjelajahi Bali, primadona pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di mata dunia itu, terlena dengan segala keunikan kesenian dan budayanya yang menjanjikan, dia pasti tidak perlu bergadang untuk kejar tayang menyelesaikan materi presentasi untuk siang nanti di kantor Jakarta, tapi ia juga bersyukur hanya dengan begitu ia bisa sedikit melupakan sedikit goresan luka di hatinya.
Dia berusaha melupakan semuanya, tapi semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas semuanya. Hanya ketika dia sibuk, dia merasa teralihkan.
Kediaman Mila yang nyaman dan tentram memisahkannya dari hiruk pikuk kesibukan rutinitas melelahkan pekerjaannya.
Ditambah nina bobo gemercik air yang di hasilkan air terjun buatan di kolam ikan tak jauh dari kamar yang ia tempati berada, serta aroma wewangian bunga yang khas, setidaknya bisa membantu menenangkan pikirannya yang kacau balau dan hancur berantakan.
"Males gue. Capek," tolak Mila tanpa ragu-ragu.
"A elah! Gini amat sih punya temen. Nasib. Nasib. Yang satu bawa kabur laki gue, yang lain nyiksa gue. Aduh, ey!" keluh Yuara Weng dramatis.