Foto di dinding

1149 Kata
Yuara Weng makin menggila ketika menemukan lebih banyak lagi foto kebersamaannya dengan mantan calon suami sialan itu. Kenangan mereka yang duduk berduaan di taman, Oliver yang menutup mata Yuara dengan tangannya besar, Oliver yang usil mengambil berkasnya sehingga Yuara berusaha keras menggapainya. Semua itu menambah asam di lukanya. Ia sudah ratusan mill dari laki-laki b******k itu, tapi kenangan bersamanya masih terus mengikutinya dan tidak mau pergi bagai arwah gentayang. Tidak ingin berlama-lama dengan kepedihan itu, Yuara langsung keluar dari sana sebelum ia lebih gila lagi, ia kunci kamar itu dan bersumpah tidak akan ke sana lagi. Ia lalu berlari ke dapur dan mencuci wajahnya di wastafel. Yuara Weng merasa berkali-kali lebih lelah setelah paparan kenangan masa lalu di kamar sebelumnya, ia butuh merebahkan diri, dengan hati-hati ia lalu memasuki kamar yang lain. Di kamar itu ada setumpuk berkas di meja rias. Mau tak mau Yuara yang kelelahan penasaran memeriksa tumpukan berkas yang terlalu mencurigakan tersebut, alangkah terkejutnya ia, di sana ada data-data pribadi laki-laki yang pernah dikencaninya. Ia tertawa dalam tangis haru. Mungkin karena ada seseorang yang selalu memperhatikannya tanpa syarat. Ibunya, Kim Myon So, pasti penguntit profesional. Lihat saja, bahkan ukuran pakaian dalamnya juga ada di sana. Dia selalu merasa bahwa dirinya di tinggalkan, merindukan kasih sayang keluarga sendirian, tapi semuanya ternyata demi keselamatannya. Dikamar itu juga ada tumpukan foto-fotonya. Dilihat dari waktu pengambilan foto-foto tersebut, Yuara meragukan bahwa ibunya melakukan selama ini. Ada orang lain. Mungkin orang suruhan ayahnya, pikirnya. Sebab ada beberapa foto yang Yuara yakin diambil beberapa bulan lalu. Bisa dibilang Yuara sangat menyukai apartment ibunya, kecuali bagian yang ada unsur-unsur kenangan dengan si sialan Oliver, sederhana tapi tetap hangat. Meski lebih luas dari yang Yuara sangka. Ketika Yuara membuka lemari, ternyata sudah disiapkan banyak pakaian baru yang diperuntukkan kepada Lee Se Ra. "Untuk yang tersayang Lee Se Ra, bukan Yuara Weng" katanya lirih sambil membaca pesan di kartu-kartu yang digantung di setiap pakaian. Di bawah pesan itu selalu bertuliskan kombinasi angka yang sama. Mungkin tanda tangannya, pikir Yuara. Yuara Weng agak tidak mengerti sekarang. Mengapa datang ke Korea Selatan malah membuat dihadapkan banyak masalah yang rumit dan membuat makin sakit kepala. Dia tidak pernah tahu bahwa Xu Ming Weng adalah pamannya. Jika saja Lee Ki Ho, ayah kandungnya, tidak memberi tahu dia akan selalu berada dalam kegelapan. Tanpa tahu siapa dia. Sungguh dia merasa semua tidak sederhana. Xu Ming Weng adalah orang jepang dan memiliki ayah keturunan China dan menikah dengan wanita Indonesia, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Korea Selatan. Ia pernah ke Jepang, ke rumah keluarga Ayahnya di sana, dan bertemu neneknya, Yoshino Hitomi, dan tidak ada hubungan keluarga dengan keluarga Korea Selatan mana pun. Pagi sabtu, Sekretaris Min sudah berada didepan apartment Yuara, bersetelan rapi meski hari sabtu sekalipun. Secara pribadi ia akan mengantar dan menemani majikan uniknya itu, walau gagasan itu ditentang Yuara awalnya. Tapi, Yuara mulai mawas diri. Dia orang asing di negaranya sendiri. Bahasanya terlalu kaku, tidak mengikuti perkembangan zaman. Jika ia menolak, maka sekretaris Min akan mendapat ganjaran atas penolakannya. Di gym ia disambut Ma Dong-Seok yang sepat belajar di bidang MMA di Amerika. Laki-laki itu tinggi besar dan sudah pasti berotot mengenakkan Kaus tanpa lengannya mempertontonkan otot terlatih miliknya. "Kita akan mulai sesi latihan anda, pertama kita akan..." "Tidak" sergah Yuara terlalu cepat dari yang ia sadari "Sejujurnya aku tidak datang untuk latihan pemula, aku ingin langsung bertanding saja hari ini. Tidak masalah dengan siapapun itu" Jelasnya dengan lebih lembut, yang moga-moga bisa memperbaiki penolakan tidak sopan barusan. Pelatih Ma Dong Seok melongo tidak percaya "Anda pernah bertanding sebelumnya?" hanya sebuah pertanyaan yang mampu meluncur dari mulutnya, meski ia sebenarnya penasaran akan hal lain. "Beberapa kali. Secara amatiran. Aku memang jarang melakukannya, tapi sekarang aku sangat-sangat membutuhkannya. Pikiranku sedang kacau balau, jadi aku perlu mengeluarkan segalanya" Bagi Yuara, dihajar seseorang sama dengan menerbangkan segala masalahnya. Tapi bagi pelatih Ma, Yuara yang mungil, kecil, bermata bulat besar dan tampak manis, seperti anak sekolah, terlalu sayang untuk mendapat sedikit pukulan di tubuhnya. Pelatih Ma Dong Seok melirik kearah Sekretaris Min, yang juga tampak kebingungan ,meminta persetujuan, menyadari dirinya di tatap dengan pertanyaan sekretaris Min hanya balas dengan anggukan kecil tak jelas "Baiklah, kita mulai dengan pemanasan" kata Pelatih Ma Dong Seok pada akhirnya, walau masih agak ragu, lalu memberikan tali loncat yang telah diatur selama dua menit, dengan mudah Yuara Weng melakukannya. "Apa lagi?" tanya Yuara Weng melemparkan tali itu ke matras. "Sepertinya anda sudah sering melakukannya. Anda bisa memilih sendiri" "Aku akan pull-up" Dengan mudah ia melakukan pull-up sebanyak dua puluh kali lebih. ××× Kim Hyun So bukan seorang yang gila olahraga atau terobsesi dengan tubuh penuh dengan otot, tapi melalui latihan keras semacam itu dia mulai menemukan banyak manfaat. Staminanya lebih baik dari pada orang lain meski dia harus lembur berhari-hari di kantornya. Dan juga dia bisa melepaskan stresnya menjadi keringat. Dia menjadi rutin berolahraga dan melakukan seni bela diri. Setelah latihan yang intens dia berhenti sejenak dan duduk di pinggiran memikirkan bagaiman harus menghadapi perjodohannya tapi pikirannya malah teralihkan. Kim Hyun So memperhatikan ketika pelatih Ma Dong Seok memasuki gym bersama dua orang. Salah satunya seseorang yang pernah di ditemuinya di rapat. Tapi, yang menarik perhatiannya adalah wanita yang datang bersama mereka, wanita itu berkulit agak kecoklatan, rambut hitam panjangnya diikat tinggi. Dia kecil, wajahnya sangat cantik apalagi matanya yang besar, membuatnya tampak mengemaskan dan polos. Wanita kecil lucu itu tampak bercakap akrab dengan Ma Dong Seok, lalu Ma Dong Seok memberitakan tali untuk lompat tali. Palingan dia bakal menyerah dalam setengah menit, pikir Kim Hyun So meremehkan. Tapi ia salah besar, sebab wanita itu tampak dengan mudah melayangkan badan, seperti sudah terlalu sering melakukannya. Ia juga tak nampak kehabisan nafas sedikitpun. Di wajah mengemaskan wanita itu tampak ekspresi bosan ketika ia melempar tali ke matras, tapi malah membuatnya nampak lucu, ia tampak berbicara sebentar dengan Ma Dong Seok, sedang laki-laki yang bersamanya tadi hanya memperhatikan dari dekat tanpa berkata apa-apa. Kim Hyun So sedang meneguk minumannya saat ia lihat wanita itu akan melakukan pull-up. Ia terus memperhatikan dengan seksama ketika wanita itu mengangkat kedua tangan kecil, meraih palang besi yang ada di atasnya, menggenggam palang itu erat. Baru kali ini ia begitu takjub melihat wanita yang melakukan pull-up dengan mudah. Tanpa sadar ia menghitung dalam hati. Oh, god! Tubuh kurus yang tampak rapuh itu bahkan bisa melakukan pull-up sebanyak dua puluh dua kali. Tentu saja, kejadian langka itu tidak menjadikan Kim Hyun So penonton satu-satunya yang memperhatikan wanita itu. Mereka menatap dengan mata-mata kagum, lebih tepatnya mereka terkejut setengah mati. Tapi, sepertinya wanita tidak mengetahui jika semua pandangan tertuju padanya. Sangking terkejut serta kagum, Kim Hyun So sampai tidak menyadari bahwa Ma Dong Seok sudah berada di hadapannya. "Kenapa?" tanyanya terkesiap. "Kau sudah pemanasan?" tanya Ma Dong Seok. Kim Hyun So mengangguk mengiyakan "Tentu" cetusnya setengah sadar. "Aku memintamu untuk jadi lawan tandingnya sekarang. Tak perlu terlalu keras, lawan dia main-main saja"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN