BAB 1 : Obat tidur

1782 Kata
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya, Karin tidak dapat memejamkan matanya. Ia baru saja merapikan mukena dan sajadahnya menaruhnya di meja kecil di samping tempat tidurnya. Karin melirik jam dinding di depannya, sudah pukul 02.40 ia mengambil botol yang berisi obat tidur, duduk di kasurnya dan memandang lekat-lekat botol obat itu. "Haruskah aku minum obat ini lagi? Sampai kapan??". Tanyanya pada diri sendiri. Sudah hampir dua tahun ini Karin mengkonsumsi obat tidur, ia mengalami gangguan tidur atau insomnia. Padahal tubuhnya sudah lelah sekali setelah seharian bekerja tapi tetap matanya enggan terpejam. Karin sering meminta saran dari orang-orang di sekitarnya agar dapat tertidur pulas tapi ia tidak pernah memberi tahu mereka bahwa ia sedang mengalami gangguan tidur tersebut, ia tidak ingin orang-orang tahu bahwa ia memiliki masalah bahkan ia pun tidak berani ke dokter untuk mengecek kondisinya. Obat tidur yang biasa ia minum pun ia dapat dari temannya yang seorang apoteker yang bekerja di apotek dekat tempat kerjanya. "Kak Melda, biasanya kalo kakak susah tidur ngapain sih?". Tanya Karin pada Melda rekan kerjanya sesama office girl. "Kalo gue sih dengerin lagu-lagu atau sholawat gitu pake headset nanti juga tidur sendiri". Jelas Melda sambil melahap makan siangnya. Karin pun mengikuti kebiasaan Melda tapi tidak pernah berhasil, yang ada matanya semakin terbelalak bahkan nangis ketika ia memutar lagu-lagu sedih. Karin juga pernah mengikuti saran Bu Heni, penjual nasi uduk yang biasa ia beli sebelum berangkat kerja. "Kenapa matanya Rin?". Tanya bu Heni ketika Karin memesan satu bungkus nasi uduk dan bakwan goreng kesukaannya. "Emang keliatan bengkak banget ya Bu?". Karin balik bertanya sambil ngaca di gerobak nasi Bu Heni. "Iya bengep gitu". "Lagi gak bisa tidur aza bu, kata temen sambil dengerin lagu aza, eh bukannya tidur malah nangis-nangis denger lagu sedih". Karin menjelaskan. "Kalo susah tidur coba wudhu dulu, ngaji, dzikir, baca doa atau baca surah-surah Al Quran yang kamu hafal Rin, itu saran Pak Ustadz tempat ibu ngaji loh. Tapi ibu sendiri jarang lakuin, abis ibu selesai sholat isya juga udah pules, cape Rin". Katanya sambil tersenyum. Hasilnya sama, matanya benar-benar tidak dapat tertutup. Setiap Karin memejamkan matanya nafasnya terengah-engah, sesak bahkan ia sempat tidak sanggup bernafas dan anehnya semua membaik ketika ia kembali membuka matanya. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyergap setiap ia menutup matanya, ia takut kalau ini terakhir kalinya ia menutup mata dan tidak akan dapat membukanya kembali. Sampai akhirnya ia menyerah dan tergantung pada obat tidur. Malam ini Karin kembali meminum obat tidurnya sambil berpikir sebenarnya apa yang sudah ia alami beberapa tahun yang lalu sehingga ia mengalami insomnia ini, Karin pun hanyut dalam pikirannya. *** Alarm di handphone Karin berbunyi, semakin lama semakin kencang volumenya. Karin terbangun lekas mematikannya, ia takut mengganggu penghuni kost yang lain. Karin selalu jadi orang pertama yang bangun dan menggunakan kamar mandi. Kost tempat tinggal Karin ini ada 5 kamar dengan 1 kamar mandi dan dapur yang terletak di belakang. Agak repot memang kamar mandi bareng seperti ini, harus sabar mengantri dan tak ayal selalu ada permasalahan diantara penghuni perkara kamar mandi ini apalagi semenjak Mba Sari penghuni baru datang sebulan lalu. "Weyy... Lo tidur di kamar mandi? Lama amat ga keluar-keluar?". Teriak Mba Siska penghuni senior di sini. Tidak ada sahutan. Mba Siska semakin kesal dan mengetuk dengan keras pintu kamar mandi. Pintu terbuka, ternyata Mba Sari. "Sabarlah... Gak liat nih cucian gue banyak". Teriak Mba Sari sambil membanting ember cuciannya. "Ya lo mikirlah, ini kamar mandi bareng gak bisa seenaknya lo pake sendiri". Nada Mba Siska tidak kalah tinggi. "Eh denger ya gue baru pindahan, cucian gue banyak jadi wajarlah gue pake kamar mandi lebih lama, lagian ini hari minggu gak ada yang berangkat kerja jadi gak buru-buru". "Justru karena lo anak baru jadi harus paham peraturan di sini, gak bisa seenaknya lo lama di kamar mandi, gak ada alesan. Emang lo kata semua penghuni sini libur hari minggu? Gue tetep kerja, gue juga kebelet, emang lo pikir orang kebelet mesti tau hari apa? Jangan songong lo jadi anak baru". Karin yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dari dapur jadi sedikit tertawa mendengar ucapan Mba Siska. Karin melihat Mba Sari yang cemberut menenteng embernya keluar. Semenjak kejadian itu mereka berdua memang jadi kurang akur, jujur kondisi itu sedikit mengganggu baginya. Karin merasa mulai tidak nyaman tinggal di kostnya. Karin merentangkan tangannya, ternyata ia tertidur di kursi. Semenjak minum obat tidur memang ia sering mendapati dirinya bangun di mana saja, terkadang di lantai, pernah juga di depan pintu. Mungkin karena efek obatnya yang membuat Karin tiba-tiba tidur tanpa ia sadari. Karin masih enggan beranjak dari kursi, badannya masih lemas baru sekitar dua jam ia tertidur. Karin mencoba membuka matanya yang masih perih, terlihat tulisan di buku di atas meja di depannya. 16 Maret 2019, hanya itu, tidak ada kelanjutannya. "Sebenarnya aku mau nulis apa sih". Gumamnya dalam hati sambil mencoba mengingat, ia ingat setelah minum obat ia membuka buku catatannya, ingin menulis sesuatu tapi ia lupa dan akhirnya tertidur. "Udah jam lima lebih, nanti telat kerja lagi". Karin bergegas membawa peralatan mandinya menuju kamar mandi. Tepat pukul 06.00 Karin keluar kamar kostnya berjalan keluar membeli nasi uduk untuk sarapan, Karin langsung memesan satu bungkus. "Kamu tuh Rin kalo gak bengkak, hitam-hitam itu mata, masih susah tidur Rin?". Tanya Bu Heni tiba-tiba. "Eng-enggak koq bu, aku tidur. Kadang-kadang memang gak bisa tidur". karin terbata, takut kalau Bu Heni akhirnya tahu ia mengidap insomnia. "Memang dia berisik mulu ya? Bikin penghuni kost yang lain susah tidur". "Dia siapa sih bu?". Tanya karin penasaran. "Tanya aza coba sama Neng Lina, tuh orangnya dateng". Bu Heni mengangkat wajahnya menunjuk Lina yang berjalan menuju Karin. "Hayoh...Ngomongin aku ya?". Lina menepuk bahu Karin. "Tuh...Tanya aza langsung". Kata Bu Heni sambil sibuk melayani pembeli. "Itu kata Bu Heni ada yang suka berisik di kost kita, emang siapa sih teh?". Karin masih penasaran. Lina meletakkan telunjuk di bibirnya, menyuruh Karin mengecilkan suaranya. "Itu si Siska, kalo malem suka berisik gitu, aku lagi tidur pules suka keganggu". Ucap Lina sedikit berbisik. "Berisik gimana? Koq aku gak pernah denger?". "Ya jelaslah, kamar kamu kan paling ujung, kamaraku persis sebelahan sama dia jadi aku denger jelas banget. Mau aku tegur tapi kamu tau sendiri kan dia orangnya kayak gimana? Aku tuh males ribut". "Ya udah lapor aza sama Ibu kost". Karin memberi saran. "Males aahh... Kamu tau kan Siska itu masih keponakannya Ibu kost. Makanya dia belagu gitu, mentang-mentang yang punya kost sodaranya". Ada raut muka kesal di wajah Lina. "Nih, punya kamu Rin". Bu Heni menyodorkan bungkusan. Karin menyerahkan selembar uang lima ribu. "Teh, aku duluan ya". Karin pamit. Lina mengangguk. Karin pulang menuju kostnya di seberang jalan. *** Karin mengintip lewat jendela kamarnya, menatap langit, mendung. Ia mengambil payungnya, memasukannya ke dalam tas. Karin siap berangkat kerja. Setiap berangkat kerja ia harus berjalan selama lima belas menit untuk sampai di halte bus, terkadang ia iri dengan teman-teman kostnya yang lain, yang setiap pergi sudah ditunggu ojek online di depan gerbang kost. Tidak perlu cape berjalan kaki, cukup tiga menit sudah sampai di jalan raya, namun ongkos empat belas ribu rupiah sangat mahal bagi ia yang hanya seorang office girl atau petugas cleaning service disebuah perusahaan otomotif. Sebenarnya gaji cleaning service di kantornya sekitar 3 juta rupiah namun Karin yang hanya lulusan SMP hanya mendapat gaji 2 juta rupiah, menurut HRD-nya ada perbedaan gaji sesuai dengan ijazahnya. Gadis berusia 19 tahun itu pun mengerti, baginya sudah diterima bekerja pun ia sudah sangat bersyukur. Bus yang biasa Karin naiki datang, ia bergegas masuk, lumayan padat penumpangnya, ia berdiri berpegangan pada handle grip. Jalur ke kantor Karin merupakan jalur macet, perjalanan yang seharusnya hanya sekitar dua puluh menit bisa molor menjadi satu jam. Makanya Karin harus berangkat jam setengah tujuh walau masuk kerjanya jam delapan. Karin memang kehabisan waktu di jalan, Melda teman dekatnya di kantor selalu menyuruhnya agar ia mencari tempat kost sekitar kantor agar tidak terlalu jauh jaraknya namun Karin memikirkan harga kost yang mahal-mahal di sana. Kost Karin saat ini tiga ratus ribu sebulan saja sudah terasa berat baginya, belum untuk transportasi, biaya makan dan keperluan lainnya. Walaupun hidup sendiri tapi seringkali gajinya sebulan habis tak tersisa, tidak ada uang untuk ditabung. Karin tiba di halte tujuannya, jarak halte ke tempat kerjanya hanya 100 meter. Ia keluar halte, angin berhembus kencang. "Dingin banget...tapi di sini gak hujan". Gumam Karin. Ia menarik lengan bajunya, melihat jam tangannya, pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. "Syukurlah gak telat". Karin menghela nafas panjang. Sepanjang perjalanan tadi ia cemas, takut terlambat karena jalanan macet parah ditambah hujan juga cukup deras, bus yang ia naiki jadi melaju lebih lambat. "Daarrr!!!". Melda menepuk kedua bahu Karin dari belakang. "Astaghfirullah!!!". Karin yang tengah sibuk merapikan lokernya teriak kaget. Ia berbalik. "Isshh...Ka Melda nih ngagetin aza". Karin cemberut. Melda terkekeh. "Tadi chat katanya dateng telat, ternyata lebih dulu kamu datengnya Rin". "Iya soalnya tadi macet banget, aku pikir bakalan telat makanya aku chat kakak jaga-jaga". "Makanya udah gue bilangin berkali-kali cari kost sini aza jadi gak perlu ketakutan dateng telat mulu". "Kost yang Kak Melda tunjukin kemaren aza harganya satu juta dua ratus sebulan, bisa gak makan aku kak. Kakak enak rumah belakang kantor, gak perlu kost, gak keluar ongkos. Enak banget jadi kakak". "Hhmmm... Ngiri ya?". Melda meledek Karin yang mulai kesal. "Ya udah nanti gue cariin lagi deh kost'an yang lebih murah deket sini ya?!". Bujuk Melda. "Ya terserah Ka Melda deh, liat jam tuh, waktunya kerja". Karin dan Melda pun bersiap memulai pekerjaannya. Di pantry seperti biasa Karin sibuk membuat minuman untuk para karyawan dan juga atasannya. Melda muncul dengan menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Rin, kalo udah selesai gue tunggu di bawah ya, pel sama sapu udah gue siapin". Terang Melda. Karin hanya mengangkat jempolnya sambil tersenyum. Tuk...Tuk...Tuk... Suara sepatu hak tinggi terdengar, ternyata Lala si Sekertaris cantik tengah berlari kecil menghampiri Karin. "Minuman buat Pak Boss yang mana Rin?". Tanyanya sambil melihat semua nampan-nampan yang berisi gelas dan cangkir di meja. "Yang ini Mbak". Sahut Karin menunjuk cangkir putih di nampan coklat kayu. "Tambah satu lagi ya, kemarin mintanya apa ya, lupa deh". Lala mencoba mengingat sembari menyalakan Tab-nya yang sedari tadi dia genggam. "Teh pake s**u, susunya dikit aza". Ucap Lala sambil membaca catatan di Tab-nya. "Oh ya nanti kamu taro di meja saya aza ya, biar nanti saya yang bawa masuk ke ruangan Pak Boss". Perintah Lala selanjutnya. "Siap Mbak". Karin mengangguk. Ia tipe orang yang penurut tanpa banyak tanya. Lala pergi meninggalkan pantry dengan senyum yang terus mengembang. Hari ini lobby terlihat ramai, seluruh staf dan karyawan berkumpul. Tak lama mobil Porsche biru berhenti di depan pintu lobby. Satpam membukakan pintu mobil, muncul pria muda dengan wajah tampan, berkulit putih dan postur tubuh tinggi ditunjang dengan badan yang atletis membuatnya nyaris sempurna. Dia membuka kacamata hitamnya, mengenakan setelan jas warna biru navy, kemeja putih dengan kancing atas terbuka membuat tampilannya semakin menawan. Ia berjalan didampingi pria paruh baya namun masih terlihat gagah, dia adalah Pak Harsya Budiman, pemilik perusahaan ini. "Selamat datang Mas Arya". Pak Rafli salah satu manager di kantor menghampiri lalu menjabat tangan Arya si pria tampan itu. Arya tersenyum tipis membuat para karyawan perempuan yang sedari tadi melihatnya semakin terpesona, mereka berdecak kagum seperti baru melihat seorang pangeran. Mpok Wati salah satu office girl yang mengintip dibalik tembok tak kalah terpesona menatap Arya. "Cakep banget dah aahh". Serunya sambil matanya tetap tertuju pada Arya yang berjalan menuju ruangan direktur. "Ada apa sih Mpok? Koq rame banget". Melda datang mengagetkan Mpok Wati. "Liat noh, ganteng banget kan?". Mpok Wati menunjuk dengan gagang pel yang dia pegang. "Gak jelas Mpok, gak keliatan, banyak banget orang. Emang siapa sih?". Melda berusaha menjinjitkan kedua kakinya namun tetap tak terlihat. "Itu anaknya Pak Boss, katanya mulai hari ini dia jadi direktur di sini". Jelas Mpok Wati. "Oh... Jadi dia yang dari kemaren rame digosipin cewek-cewek di kantor". Melda paham karena sudah dari seminggu yang lalu para karyawan terutama karyawan wanita yang membicarakan kalau di kantor akan kedatangan direktur baru, anak Pak Harsya yang tampan dan lulusan luar negeri. *** Jam makan siang tiba, hampir semua karyawan sudah meninggalkan kantor, termasuk Karin, Melda dan rekan-rekan cleaning service lainnya. Mereka sibuk memilih tempat makan dan akhirnya berpisah untuk mencari menu favorit masing-masing. Tinggal Karin dan Melda, keduanya memang memiliki selera makan yang hampir sama makanya mereka lebih sering makan berdua. Hari ini mereka memilih makan soto, Soto Babeh favorit mereka karena selain varian menu yang banyak di sana, rasanya juga enak, harganya pun jauh lebih murah dibanding tempat makan lainnya, cocok untuk karyawan seperti Karin. Pesanan datang, Melda langsung melahap soto daging kuah santan yang dia pesan, meski masih panas sepertinya Melda tidak perduli. Karin terheran melihatnya, ia hendak menasehati Melda namun Melda seperti paham apa yang akan dikatakan Karin. "Sorry Rin, gue makan buru-buru ya soalnya gue disuruh Bu Mayang belanja ATK, tau sendiri toko bukunya jauh dari sini". Melda berbicara dengan mulutnya yang masih penuh. "Mana list belanjaannya banyak banget lagi". Melda mengeluarkan gulungan kertas yang cukup panjang dari saku bajunya. "Nih, liat kan? Sial gue hari ini dapet jadwal beresin ruangannya". Cerocos Melda. "Yee... Ga boleh gitu Ka, kan Bu Mayang baik. Dia suka kasih tips yang lumayan kan". Karin mengingatkan. "Ehh... Iya juga ya". Melda nyengir. Keduanya lanjut makan. Karin tinggal sendiri menghabiskan makanannya, lima menit yang lalu Melda pergi setelah membayar semua makanan, hari ini dia yang traktir katanya. Melda memang sudah seperti Kakak kandung bagi Karin, dia orang yang paling peduli pada Karin. Karin mengeluarkan kertas dari saku celananya, melihat titipan orang-orang kantor, ia paling senang kalau mendapat tugas seperti ini karena biasanya mereka akan memberikan upah, lumayan untuk menambah uang saku. Karin membaca satu persatu pesanan, ada yang nitip cemilan dan minuman di minimarket. "Ehh Bu Diana nitip beli vitamin nih di apotek berarti bisa sekalian beli obat tidur aku". Karin berbicara dalam hati, ia ingat semalam obat tidurnya yang terakhir ia minum. Semua daftar titipan orang kantor hampir beres, tinggal ke apotek. Karin menyebrang jalan menuju apotek yang biasa dia datangi. Apoteker di sana bernama Intan, Karin sudah mengenalnya cukup lama, dulu mereka bertemu secara tidak sengaja, kini mereka semakin akrab. Itulah mengapa Karin bisa mendapat obat tidurnya dengan mudah walau tanpa resep dokter. Peristiwa tiga tahun silam teringat kembali, awal mula Karin dan Intan bertemu. Hari itu cuaca sedang panas, matahari sangat terik. Karin sedang duduk di angkutan umum memegang amplop coklat berisi Ijazah dan surat lamaran kerja. Sudah seminggu ini ia bolak-balik mencari pekerjaan, semua lowongan kerja sudah ia datangi namun belum ada yang mau menerimanya, alasannya selalu sama karena Ijazah SMPnya, semua persyaratan kerja minimal lulusan SMA atau SMK. Karin nyaris putus asa, ia tertunduk lesu. Seorang gadis mengenakan almamater hijau dan kerudung hitam naik, dia membawa setumpuk map. Wajahnya tampak cemas, dia terus celingukan melihat jalan depan, duduknya pun gelisah seperti terburu-buru. Karin yang sedari tadi melamun menjadi fokus memperhatikan gadis yang duduk di depannya itu. Di sebelahnya ada pria dengan jaket tebal membawa tas ransel di depannya. Semenjak gadis itu naik, pria itu pun jadi tidak duduk tenang, tangannya seperti bergerak-gerak, Karin mulai curiga. Tak lama pria itu menyuruh supir berhenti, Karin melihat dengan jelas dompet warna merah dimasukkan ke dalam ransel yang dibawa pria itu. Karin reflect berteriak "Copet!!!". Si pria yang hendak membayar ongkos pun langsung lari secepat kilat, seketika Karin loncat dari mobil angkutan. Ia berlari mengejar si pencopet, postur tubuhnya yang kecil kurus membuat ia mudah berlari dengan cepat menyusul si pencopet. Karin berlari sambil berteriak "copet...copet...!!!". Si pencopet berlari ke arah pasar, saat itu pasar sedang ramai sehingga banyak yang memperhatikan mereka, orang-orang yang ada disekitar pun ikut mengejar. Si pencopet terus masuk ke dalam pasar, menaiki tangga, masuk pertokoan, banyak barang-barang yang berjatuhan tertabrak si pencopet tapi Karin bisa menghindarinya, ia terus berlari sambil berloncatan, turun lagi masuk ke dalam pasar yang becek, si pencopet menoleh, Karin masih gigih mengejarnya. Si pencopet mulai kelelahan akhirnya dia mendapati jalan buntu, pencopet terdesak, Karin yang berada tepat di belakangnya langsung merebut tas ransel namun si pencopet dengan cepat mendorong Karin, ia terjatuh namun tangannya tetap menarik tas ransel itu, si pencopet menendangi Karin agar ia melepaskan tasnya. Wajahnya terkena tendangan si pencopet. Tak lama massa datang, pencopet lari ketakutan dan meninggalkan tasnya. Massa lanjut mengejar pencopet itu. Karin berhasil mengambil ransel si pencopet, nafasnya terengah-engah, ia mencoba berdiri, sempoyongan, tiba-tiba ia melihat sekelilingnya gelap dan akhirnya tak sadarkan diri. Karin membuka matanya, ia hanya melihat atap berwarna putih, matanya berkeliling, Karin mendapati gadis berkerudung hitam itu ada di sampingnya, dia tersenyum. "Alhamdulillah... Akhirnya kamu bangun". Sambil masih tersenyum. "Saya di mana?". Tanya Karin. "Ini di rumah sakit, kamu pingsan tadi. Kata dokter karena kamu kelelahan, pasti gara-gara ngejar pencopet itu, sama luka lebam di pipi kanan kamu". Dia menunjuk luka Karin. Karin bangun mencoba duduk. "Pelan-pelan, sini saya bantu". Gadis itu membantu membangunkan Karin dan meletakkan bantal agar Karin duduk dengan nyaman. "Oh ya, saya Intan. Intan Permatasari". Dia mengulurkan tangan. Karin membalas uluran tangannya. "Saya karin". Ucapnya singkat. "Makasih banyak ya kamu udah nolong saya, Alhamdulillah dompet saya selamat, pencopetnya juga sudah diamankan polisi. Saya gak tau kalo gak ada kamu, pasti saya sudah kehilangan dompet saya dan...". Intan tidak meneruskan ucapannya. "Dan apa? Kenapa?". Tanya Karin. "Ahh sudahlah, lain kali aza ya ceritanya, yang penting kamu sehat dulu". Intan mengusap tangan Karin. Dua hari Karin dirawat di rumah sakit, selama di sana Intan merawatnya, semenjak itu mereka jadi lebih akrab saling bertukar nomer Handphone dan memberikan alamat masing-masing. Dua minggu setelah kejadian Intan mengajak Karin bertemu di rumahnya, Karin pun datang. Intan tinggal dengan nenek dan kakeknya, mereka menyambut Karin dengan ramah, mempersilahkan Karin dan Intan mengobrol berdua. "Ngobrolnya di kamar saya aza yukk". Intan menarik tangan Karin masuk ke kamarnya. Mereka mulai asyik bercerita. Ternyata Intan sudah tidak punya ibu, ibunya sudah lama meninggal, ketika dia masih kelas dua SMP dan ayahnya menikah lagi menitipkan Intan pada Nenek dan Kakeknya. Awalnya ayahnya masih sering mengunjunginya, membiayai sekolahnya namun ketika Intan SMA ayahnya mulai jarang datang bahkan untuk biaya sekolah pun mesti Intan pinta dulu hingga saat akan kelulusan SMA ayahnya tidak ada kabar lagi, Intan mencoba mendatangi rumahnya dan bertanya pada tetangganya, mereka bilang ayah dengan ibu tirinya pindah keluar kota. Intan marah dan kecewa ternyata ayahnya tidak menepati janjinya untuk membiayai kuliahnya, Intan ingin melanjutkan kuliah farmasi, menjadi apoteker memang cita-citanya dari kecil. Untunglah kakek dan neneknya memahami keinginan Intan, mereka menjual beberapa aset yang mereka miliki untuk biaya masuk kuliah dan akhirnya Intan bisa kuliah fakultas farmasi di universitas yang dia inginkan. Waktu berlalu, Intan menjalani masa-masa kuliah yang menyenangkan namun semua tidak selalu berjalan sesuai keinginannya. Kakek Intan mengalami kecelakaan, mobilnya tabrakan. Berbulan-bulan kakeknya dirawat di rumah sakit dan tidak dapat berjalan, hanya mengandalkan kursi roda. Usaha toko kainnya pun mulai mengalami kebangkrutan karena tidak ada yang mengurus ditambah uang modal dan pendapatan habis untuk biaya rumah sakit. Hingga beberapa cabang tokonya harus tutup dan dijual. Saat akan menghadapi waktu wisuda Intan sempat kebingungan, dia belum ada uang untuk membayar biaya-biaya kelulusannya, Intan juga tidak mungkin meminta pada kakek dan neneknya yang kondisinya sedang kesulitan seperti itu. Akhirnya Intan memberanikan diri datang menemui keluarga ayahnya dan meminta kontak serta alamat ayahnya. Untungnya mereka mau memberikannya walau selama ini Intan memang tidak pernah dekat dengan keluarga dari ayahnya itu. Dulu orang tua Intan menikah memang tanpa persetujuan dari keluarga ayahnya, saat kenal dengan ibunya Intan, ayahnya sudah dijodohkan dengan kerabat keluarga mereka namun ayah Intan menolak dan memilih menikahi ibunya hingga keluarga ayahnya tidak suka pada keluarga ibunya Intan. Intan berhasil menemui ayahnya dan menceritakan keadaannya saat itu pada ayahnya. Ternyata selama ini usaha ayahnya pun gulung tikar semua habis terjual, ibu tiri Intan mau memberikan modal dengan syarat ayahnya harus berhenti menemui Intan dan pindah keluar kota. Mau tidak mau ayah Intan harus menurutinya karena memang dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Namun bagaimanapun ayahnya tetap menyayangi Intan, dia memberikan sejumlah uang yang Intan perlukan, ayahnya meminta maaf, menyuruh Intan agar jangan dulu menghubunginya dan memohon agar Intan dapat memahami kondisi ayahnya. Intan mencoba mengerti dan saat pertemuan dengan Karin itu adalah batas hari terakhir pelunasan biaya untuk wisudanya. Sehingga Intan terlihat cemas saat itu, dia ingin buru-buru sampai ke kampusnya dan untunglah uangnya selamat hingga akhirnya dia bisa ikut wisuda. Sejak itu Intan merasa hutang budi kepada Karin. "Jadi begitu Rin ceritanya, makanya saya terima kasih banget sama kamu, kalo gak ada kamu mungkin saya udah kehilangan uang saya dan gak jadi ikut wisuda". Intan mengakhiri ceritanya. "Gak usah berlebihan gitu kak, itu kan udah Allah yang ngatur. Aku cuma jadi perantara buat bantuin kakak". Karin menepuk punggung tangan Intan yang sedari tadi tidak melepaskan genggamannya pada Karin. Mereka pun saling tersenyum. *** Langit semakin gelap, sesekali terdengar suara petir. Karin masuk ke dalam Apotek, mengambil dua strip vitamin dan satu botol obat batuk titipan Bu Diana. Ia meletakkannya di meja kasir. "Hai Rin!". Sapa kasir yang bernama Meta itu ramah. Semua pegawai di Apotek ini memang sudah mengenal Karin, selain karena ia teman baik Intan, Karin pun sering sekali datang membeli obat-obatan titipan orang-orang kantornya. "Mbak, Kak Intan nya mana?". Tanya Karin yang sedari tadi mencari sosok Intan namun tak kunjung melihatnya. Meta menoleh ke belakang, matanya tertuju pada pintu yang bertuliskan "Khusus staf dan karyawan". "Paling di ruangannya. Ehh tuh dia dateng, panjang umur Intan". Seru Meta. Sebelumnya Karin sudah mengirim pesan text pada Intan jadi Intan memang sudah tahu kalau Karin akan datang hari ini. "Nih obat kamu ya Rin". Intan menyerahkannya pada Meta untuk dihitung. Karin melihat raut wajah Intan yang murung, tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum senang menyambut kedatangan Karin. "Oh iya, makasih ya Kak". Intan hanya mengangguk. Karin pun berpikir sebenarnya apa yang terjadi pada Intan? Sampai murung seperti itu? ia ingin sekali menanyakannya namun akhirnya ia urungkan. "Ini struknya dipisah kan Rin?". Ujar Meta menyadarkan Karin. "Oh iya Mbak, obat aku pisah ya". Meta memberikan dua lembar struk dan Karin membayarnya. "Makasih Mbak". Karin pun pamit. Ia melihat Intan yang segera masuk ke ruangannya. "Kak Intan tunggu". Seru Karin. Intan menoleh dan menghampiri Karin. "Ini minuman buat kakak". Karin memberikan minuman botol rasa green tea kesukaan Intan. "Makasih ya Rin". Intan mengambilnya sambil tersenyum lesu. "Oh ya, nanti pulang kerja tunggu aku ya. Ada yang mau aku omongin sama kamu". Ada nada sedih pada suara Intan. "Ok Kak, nanti aku telpon ya kalo aku udah pulang". Intan mengangguk lemah. Semua sikap Intan membuat Karin semakin penasaran. Mungkin dia mau bercerita nanti, pikir Karin. Hujan turun tiba-tiba, Karin yang sedang berjalan di dekat gerbang kantor pun langsung berlari, ia pikir percuma berteduh hanya tinggal beberapa langkah lagi ke pintu masuk lobby. Karin masuk, sendal jepit yang biasa ia pakai saat istirahat jadi sangat licin setelah basah terkena air hujan, beberapa kali Karin hampir terpeleset namun ia masih bisa menyeimbangkan badannya, tapi semakin lama Karin semakin kesulitan berjalan dan akhirnya "Bugh!!!". Karin terjatuh dengan bokongnya mendarat terlebih dahulu. Barang-barang yang ia bawa pun jatuh berserakan. "Aawww...". Pekik Karin kesakitan. Seketika Karin melihat sekelilingnya. "Duhh... Untung pas di tempat sepi, gak ada orang jadi gak malu-maluin". Gumam Karin. Karin mencoba bangun sambil mengusap bokongnya yang sedikit sakit. "Karin, ngapain lo?". Mpok Wati datang. "Eh, ini Mpok belanjaan saya jatoh". Karin memunguti barang-barang yang jatuh dan memasukkan kembali ke dalam plastik. "Ada-ada bae lo, bisa jatoh segala". Ucap Mpok Wati dengan logat khas betawinya. Karin hanya nyengir lalu pamit, ia tidak sadar kalau obat tidurnya jatuh dan tidak sempat ia ambil. Waktu istirahat telah usai, semua karyawan kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Arya baru tiba di kantor usai makan siang dengan salah satu kliennya. Sebagai Direktur baru dia sudah memiliki jadwal pekerjaan yang begitu padat. Arya berpapasan dengan Mpok Wati ketika berjalan hendak menuju ruangannya di lantai dua. Mpok Wati tersenyum senang, akhirnya dia bisa melihat Arya dengan jelas, dia jadi salah tingkah dan akhirnya hanya bisa mengganggukan kepalanya namun Arya tak bereaksi dan terus berjalan melewati Mpok Wati. Ketika Arya hendak menaiki lift, dia melihat ada botol obat tergeletak di depan pintu lift, Arya mengambilnya, "Alprazolam" tulisan pada botol itu. Dia sangat familiar dengan obat itu, Arya pun segera memasukannya pada saku jasnya. Sampai di ruangannya dia segera membuka laci mejanya, botol obat yang sama ada di situ. "Obat punyaku ada ternyata, terus ini punya siapa?". Tanyanya penasaran. Entah kenapa tiba-tiba Arya merasa panik, dia seperti takut kalau sampai ada orang yang tahu kalau dia mengkonsumsi obat ini. "Apa ada orang yang tau? Apa ada orang yang sengaja taruh obat ini karena dia tahu ini obat yang biasa aku minum? Lantas kalo begitu apa maksudnya?". Tiba-tiba banyak pertanyaan muncul di otaknya. "Tapi tunggu dulu, jangan-jangan ini obat punya karyawan sini? Berarti dia konsumsi obat yang sama denganku. Jangan-jangan Ibu yang tadi...". Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Semakin memikirkannya, dia semakin kebingungan. Akhirnya Arya pun memanggil ajudannya yang bernama Akbar yang selalu mendampingi kemanapun dia pergi. Ajudannya yang hampir sebaya dengan ayahnya itu masuk ke ruangannya. "Pak Akbar tadi liat kan ibu cleaning service yang ketemu saya didekat lift?". Tanya Arya. "Iya Mas saya liat". Jawab ajudannya. "Tolong Bapak cari dia, kalau sudah ketemu suruh ke ruangan saya". Arya memberikan perintah. "Baik Mas". Ajudannya pun keluar. Sore menjelang, kantor mulai sepi tapi masih ada beberapa karyawan yang tetap sibuk di mejanya, memang setiap harinya selalu ada yang lembur. Karin membereskan sampah-sampah lanjut mengambil gelas juga peralatan makan lainnya yang tergeletak di meja-meja karyawan lalu mencucinya di dapur. "Tumben sendirian Rin, Melda ke mana?". Tanya Arief satpam kantor yang bertubuh gemuk itu. Karin mengedarkan pandangannya, mencari Melda. "Tadi di sini Mas, kayaknya buang sampah ke belakang. Ada perlu apa?". Karin balik bertanya. "Aahh gapapa, cuma nanya aza kan biasanya selalu berdua sama kamu.Oh ya nanti bilangin ke Melda salam dari saya ya". Arief tersenyum malu. Karin tertawa geli. "Ya ampun, ternyata mau titip salam. Kirain ada perlu apa. Iya..iya... nanti aku bilangin". Karin masih tertawa. Arief pun keluar dengan wajah tersipu malu. Selalu saja ada kejadian unik saat bekerja yang menjadi hiburan bagi Karin membuat ia betah bekerja di sini. Selain itu orang-orang kantor pun sangat baik tidak pernah ada yang merendahkannya walau ia hanya seorang petugas cleaning service. Tak terasa sudah dua tahun ia menjalani pekerjaan ini, susah senang sudah ia alami di kantor ini. Tugasnya sudah selesai hari ini, tadi Karin sudah berpamitan dengan Melda di pintu keluar. Untunglah waktunya pulang kerja hujan sudah reda. Karin mengambil handphonenya, mencari nomer Intan. "Assalamu'alaikum Kak, aku udah pulang nih. Kak Intan di mana?". "Waalaikumsalam, kita ketemu di halte bus ya Rin. Tunggu di sana". Jawab Intan di balik telpon. "Ok kak". Karin menutup telpon. Baru sekitar lima menit Karin duduk di dalam halte, Intan datang. "Anter aku beli buku ya Rin, kamu gak sibuk kan?". Intan langsung bertanya. "Gak koq kak, aku kan emang gak pernah ada kegiatan abis pulang kerja. Ya udah yukk". Karin menggandeng lengan Intan. Mereka pun menunggu bus yang menuju toko buku langganan Intan. Intan sibuk memilih buku, Karin pun asyik membaca di kursi yang disediakan. Satu jam mereka di toko buku, Intan mengajak Karin makan. Hari ini dia tidak sempat makan siang, kejadian tadi memang membuat pikirannya sedikit terganggu sehingga dia tidak selera untuk makan namun sekarang perutnya terasa perih sekali, dia kelaparan. Mereka masuk ke restoran cepat saji. Selesai pesan, mereka membawa makanannya dan memilih tempat duduk. Sofa empuk dekat jendela menjadi pilihan mereka. "Oh ya kak, makasih ya obat yang barunya. Itu lebih mantep, aku jadi cepet banget tidur tanpa sadar". Karin tertawa kecil. Wajah Intan kembali murung setelah mendengar ucapan Karin. "Justru sebenarnya aku mau ngomongin masalah itu sama kamu Rin". Intan menghela nafas. "Memang ada masalah apa sih Kak?". Karin cemas. "Jadi tadi tuh ada rapat kalau bulan depan di Apotek bakal ada pengawas. Tugasnya itu periksa semua obat-obatan yang masuk dan keluar. Aku bisa kena masalah Rin kalau begini terus". Intan tampak panik. "Begini gimana? Masalah apa kak?". Karin masih belum mengerti. "Rin, obat yang aku kasih ke kamu itu obat jenis Benzodiazepin, golongan obat penenang yang harus diberikan dengan resep dokter, gak bisa dibeli sembarangan". Intan mencoba menerangkan dengan hati-hati agar Karin mengerti. "Terus gimana dong kak?". Karin makin bingung. "Kalo aku kasih obat itu terus ke kamu tanpa resep dokter, semua orang pasti kena imbasnya Rin, Apotek aku pasti dibekukan izinnya dan aku sendiri selain sudah pasti dipecat, aku bisa dihukum Rin, dipenjara". Intan meluapkan semua yang dia risaukan sejak tadi. Karin tertegun mendengar penjelasan Intan. Ternyata seberat ini masalahnya, pantas saja Intan benar-benar tampak berbeda hari ini. "Di sisi lain aku juga kasian sama kamu Rin, kamu itu penolong aku dan...". "Gak usah ngerasa hutang budi kayak gitu kak, aku juga bisa kerja di kantor sekarang berkat kakak". Karin memotong ucapan Intan. "Ya, itu sih cuma kebetulan aza. Awal aku kerja di apotek lewat depan kantor kamu dan baca pengumuman loker yang syaratnya minimal lulusan SMP, aku langsung inget kamu". Intan mencoba mengingat kejadian waktu dulu. "Sama kak, aku juga kebetulan liat pencopet yang ambil dompet kakak". Karin tidak mau kalah. "Ya ok kita saling membantu tapi sekarang masalahnya aku gak bisa bantu kamu lagi Rin, aku juga tau kamu udah ketergantungan obat itu. Satu-satunya jalan kamu harus ke dokter Rin, harus!!!". Intan menekankan kalimat terakhirnya. Intan menatap Karin yang tertunduk dan matanya mulai berkaca. "Aku punya temen Psikiater, nanti aku bantu kamu ketemu dia. Kamu jangan khawatir Rin, aku selalu ada buat kamu". Intan mencoba menenangkan Karin. Sepanjang perjalanan pulang Karin hanya melamun, ia terus teringat perkataan Intan yang menyuruhnya untuk berobat ke dokter. Haruskah? Apa separah itu? aku gak mungkin menyusahkan Kak Intan, membuat dia dalam masalah, tapi aku juga gak bisa dapet obat itu kalo bukan dari Kak Intan. Segala rasa berkecamuk dalam benak Karin, tanpa sadar ia sudah sampai di depan kostnya. Karin melangkah masuk. "Tumben pulang malem Rin?". Irma yang kamar kostnya sebelahan dengan Karin menyapa. Karin tidak mendengar, ia masih terhanyut dalam pikirannya. Irma menepuk lengan kiri Karin. Karin tersadar. "Eh iya Kak, eh Ma". Karin meralat ucapannya, ia tahu kalau Irma tidak suka dipanggil kakak karena menurutnya mereka sebaya hanya selisih umur satu tahun. "Kamu sakit? Pucet gitu mukanya". Irma khawatir. "Gak koq, aku masuk dulu ya". Karin membuka kunci pintu kamarnya dan segera masuk meninggalkan Irma yang masih tertegun menatapnya. Karin menjatuhkan badannya di atas kasur, seketika ia teringat obatnya. Ia membuka tasnya, mencari-cari tapi tidak ada, ia mencoba mengingat kejadian tadi siang di kantor. Waktu ia jatuh dan mengambil barang-barang yang ikut terjatuh juga. Setelah itu Karin mengantarkan semua barang pesanan ke orang kantor lalu ia segera menemui kepala bagian yang saat itu memanggilnya. Karin ingat ia belum sempat taruh obatnya di loker. Terus ke mana obat itu? Jangan-jangan hilang waktu terjatuh? Kalo gak ada obat itu gimana? Karin menangisi kecerobohannya. *** Bersambung ke Bab 2
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN