------------------
Gedung aula dipenuhi manusia berpakaian kebesaran khas orang wisuda. Semuanya terlihat sama seperti diciptakan Tuhan dari cetakan yang sama.
Senyuman terus mengembang dari bibir semua orang. Bahagia. Sudah pasti.
Hari bahagia itu telah tiba. Kirei dinyatakan lulus dengan nilai cumlaude. Pencapaian yang luar biasa. Cantik, anggun, dan pintar tentunya.
Nama Kirei dipanggil oleh guru besar di universitas itu. Kirei dipanggil ke atas podium untuk menerima penghargaan.
Hati gadis itu sungguh sangat merasakan kebahagiaan tiada tara. Pun dengan ibu dan adiknya yang ikut dalam acara tersebut. Tak terkecuali dengan Jordan.
Segala harapan dan cita-cita rasanya tinggal selangkah lagi. Tak mungkin juga perusahaan incaran Kirei akan menolak gadis sepintar dirinya.
"Selamat ya, Sayang." Bu Tiwi memeluk dan mengecup kening Kirei.
"Selamat ya, Mbak Kirei. Puji ikut senang." Puji--adik Kirei satu-satunya--memeluk kakaknya itu.
"Makasih ya, Bu, Dek. Semua ini gak akan terjadi tanpa fukungan dari Ibu dan Adek Mbak yang cantik ini." Kirei mengacak-acak rambut Puji.
"Iih, Mbak Kirei ... rambut aku berantakan 'ni ... udah dandan cantik-cantik gini kok di rusak." Bibir Puji mengrucut.
"Hehe ... maaf, maaf ... habisnya Mbak gemes banget sama kamu, Dek."
Bu Tiwi menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian ini, ya, masiiih aja seperti anak kecil."
Mereka tampak bahagia. Bercanda dan tertawa bersama.
"Oya, Mas Jordan mana ya, Bu? Bukannya tadi dia sama Ibu dan Puji?" tanya Kirei sembari mencari keberadaan kekasih hatinya.
"Oh, iya ... Ibu sampai lupa sama Nak Jordan. Tadi dia izin ke toilet dulu. Sebentar lagi pasti datang. Naaah, itu orangnya datang. Panjang umur Nak Jordan ini." Bu Tiwi menunjuk ke arah Jordan yang berjalan mendekati mereka.
"Sayang, selamat ya ... Mas ikut bahagia banget," ucap Jordan setelah berada di depan Kirei.
"Iya, makasih Mas Jordanku yang paling ganteng, baik, dan pengertian hehehe."
"Dasar modus," lirih Puji yang ternyata masih terdengar oleh Kirei.
"Apa katamu?" Kirei melihat ke arah Puji.
"Ah, nggak," jawab Puji sembari cekikikan.
"Berarti sekarang udah siap, dong, jadi Nyonya Jordan?" Jordan berbisik di telinga Kirei, menggoda.
Bola mata Kirei mengembang karena terkejut. "What?"
Kirei melihat ke wajah Jordan dengan cepat. Ia melihat ekspresi wajah Jordan yang mulai menggoda.
"Maas, inget aku--"
"Iya, iya, aku inget ... gak usah dijelasin lagi. Orang aku cuma bercanda." Jordan tertawa.
"Dasar ya, Mas ini." Kirei memukul pelan pundak Jordan.
"Kalian lagi ngomongin apa, sih?.Kok kayaknya seru banget? tanya Bu Tiwi.
"Iya, gak jelas banget," sahut Puji.
"Diem lu anak kecil! Ah, kita gak ngomongin apa-apa kok, Bu. Iya, kan, Mas?
"Eh, iya, Bu."
"Yasudah, kalau begitu sekarang kita lanjut foto-foto seperti yang lain, yuk!" ajak Bu Tiwi.
"Oh, iya, sampai lupa."
Mereka semua mengisi waktu luang dengan acara foto-foto. Foto yang akan tergantung di dinding sebagai kenang-kenangan. Moment indah akan keberhasilan.
******
Siang telah berganti malam. Acara wisuda tadi siang sungguh melelahkan. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Kirei untuk pergi makan malam romantis dengan Jordan.
Jordan sengaja mengajak Kirei dan keluarganya untuk makan malam di luar. Merayakan kelulusan Kirei. Namun, Bu Tiwi dan Puji menolak ikut dengan alasan kecapaian sehingga hanya Jordan dan Kirei yang pergi.
"Mas, indah banget pemandangannya. Makasih ya, Sayang," ucap Kirei saat telah berada di tempat tujuan.
Jordan sengaja mengajak Kirei ke atas bukit. Di mana ada area luas seperti lapangan rumput di tepi tebing yang akan memberikan pemandangan lampu kerlap-kerlip jika malam telah tiba.
"Sama-sama, Sayang."
Jordan sengaja mendekorasi area itu sendiri. Menggelar tikar di rumput dengan makanan yang telah dipesan sebelumnya. Tentu saja semua itu ditata mendadak karena Jordan nembawa serta semua barang dan makanan di dalam mobil.
******
Jordan dan Kirei duduk berdua beralaskan tikar. Mereka menyantap hidangan dengan ditemani cahaya rembulan.
Selesai menyantap hidangan, mereka duduk berdampingan sembari melihat ke arah tebing. Sejauh mata memandang. Cahaya berkilauan di bawah sana. Seperti negeri di atas awan.
Untuk beberapa menit mereka terdiam. Terdiam menikmati indahnya ciptaan Tuhan.
"Mas," Kirei membuka suara.
"Hmmm," gumam Jordan.
"Maafin aku, ya?"
"Maaf untuk apa, Sayang?"
"Maaf karena keegoisanku, rencana pernikahan kita--"
Jordan menutup bibir Kirei dengan jari telunjuknya. "Ssst, jang bicara kayak gitu. Mas ngerti kok."
Kirei tersenyum simpul. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan lelaki sebaik dan sepengertian Jordan.
"Hmm, gak usah dibahas lagi ya. Sekarang coba sini, kita rebahan di sini! Lihat ke langit sana! Bulannya indah banget." Jordan merebahkan diri. Terlentang di atas tikar.
Tanpa ragu, Kirei pun ikut berbaring di samping Jordan. Ia melihat ke atas. Benar kata Jordan. Indah sekali.
"Sayang, coba ceritakan sama Mas. Kapan mau mulai ngelamar pekerjaan? Perusahaan bonafid mana yang mau dituju?" tanya Jordan.
"Besok kayaknya aku udah mulai interview, Mas. Sebenarnya aku udah direkomendasiin ke perusahaan itu dari kampus. Ternyata pihak perusahaan tertarik sama aku dan emang lagi cari lulusan fresh graduate."
"Wah, hebat deh calon istri Mas ini. Kamu belum jawab perusahaan mana itu?"
"Oh, iya lupa. Abraham Company."
Jordan tertegun. Ia tidak menyangka jika kekasihnya akan masuk ke perusahaan milik ayahnya.
Kirei tidak tahu jika laki-laki di depannya adalah pewaris tunggal perusahaan itu. Yang Kirei tahu, Jordan adalah seorang manajer pemasaran di sebuah perusahaan rotan.
Yang Kirei tahu. Jordan merintis karier dari nol. Hidup Jordan selalu sederhana. Tak pernah bermewah-mewahan. Bahkan mobil Honda Mobilio yang ia gunakan meriupakan inventaris dari kantor tempat ia bekerja.
"Mas, kok, diem aja? Mana reaksinya?"
"Ah, lupa ... iya Mas bahagia dan ucapkan selamat. Nanti Mas kalah dong sama kamu," goda Jordan.
"Iih, Mas apaan sih ngomong kayak gitu?"
Kirei menggelitik tubuh Jordan. Lelaki itu kegelian dan beresksi membalas menggelitik tubuh Kirei. Mereka berdua tertawa bersama. Berguling berdua di atas tikar.
Kirei dan Jordan berhenti saling menggelitik. Kini, manik mata keduanya saling menatap. Penuh cinta dan hasrat memiliki.
"Gadis fresh graduate-ku," bisik Jordan di telinga Kirei.
Pelan tapi pasti. Jordan mengulum bibir ranum milik gadisnya. Kirei membalas ciuman itu. Mereka saling mengulum.
"Ehmmm, ah, ehmmm ... ssstttt," Kirei mendesis saat Jordan menuntut lebih.
Jordan menciumi leher jenjang Kirei dan meninggalkan tanda kepemilikannya di sana.
Mereka berdua berguling-guling di atas tikar dengan ditemani sinar rembulan.
Dinginnya angin malam seolah tak dirasakan oleh mereka berdua.
Jordan dan Kirei terbuai oleh suasana.
Seperti biasa. Malam ini pun mereka habiskan dengan bermain gulat sampai puas. Jordan menyeringai setelah hasratnya tersalurkan.
*****
Keesokan harinya ....
Kirei telah berdandan rapi memakai baju kantoran. Wangi lavender menguar ke seluruh ruangan. Gadis cantik itu berjalan berlenggok ke arah ruang makan.
"Bu, Kirei berangkat dulu ya?" Kirei salim pada Bu Tiwi yang tengah menikmati sarapan bersama Puji.
"Loh, sarapan dulu, Nak, baru berangkat," ucap Bu Tiwi.
"Enggak, Bu. Kirei udah telat."
"Ya sudah, kalau gitu bawa roti ini aja. Pokoknya kamu harus sarapan dulu!" perintah Bu Tiwi.
"Iya, iya, Bu ... Kirei bawa rotinya. Nanti Kirei makan di jalan. Kirei pamit, Bu, Puji."
"Iya, Mbak. Semangat ... moga beruntung," sahut Puji menyemangati.
Setiba di perusahaan Abraham Company, Kirei dipersilakan masuk ke ruang HRD untuk di-intetview.
"Selamat bergabung di perusahaan kami. Besok Anda bisa langsung mulai bekerja," ujar manajer HRD itu.
"Terima kasih banyak, Bu. Sekali lagi terima kasih."
Kirei dan Bu Lulu--manajer HRD--saling berjabat tangan.
Hati Kirei sungguh bahagia tiada tara. Tidak menyangka. Ia yang seorang fresh graduate bisa langsung diterima di perusahaan impiannya.
Bersambung ....
JANGAN LUPA MASUKKAN KE DAFTAR PUSTAKA YAAA ... AGAR GAK KETINGGALAN TIAP UPDATE EPISODENYA. TERIMA KASIH ?