Semenjak kejadian dari rumah sakit kemarin, Jena semakin cuek ke Leon. Leon paham, mungkin ia sudah sangat menyusahkan buat Jena.
Hari ini Mami datang menjenguk, Leon. "Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya mami
"Lumayan," jawab Leon. "Mau mami kupasin apel?"
"Engga usah mi, biar Leon kupas sendiri, lagian yang yang patah kaki Leon bukan tangan Leon."
Mami tersenyum, lalu mengusak rambut Leon. "Kamu anak baik Leon, mami senang punya kamu. Jena semenjak kehilangan adek nya, ia jadi seperti itu." Leon yang tadinya sedang mengupas apel, langsung terhenti saat mami membahas Jena.
"Gimana mi?"
Mami tersenyum "kamu kepengen banget denger tentang mbak mu," Leon hanya nyengir saja.
"Jena asli nya engga cuek dan sekasar itu. Jena itu anaknya manja, dulu Jena punya adek, adek nya cowok. Nama nya Jendral. Jendral itu orang yang paling di sayang Jena. Bahkan mami aja kalah dari Jendral, saking sayang nya Jena ke Jendral. Tapi kejadian yang ga mengenakan terjadi, waktu itu Jendral melakukan kesalahan, Jendral tanpa sengaja merusak proposal perusahaan milik papi nya Jena, waktu itu karena tersulut emosi, papi nya Jena menghukum Jendral di gudang. Papi nya Jena lupa, kalau Jendral punya ketakutan pada kegelapan, Entah bagaimana keadaan Jendral disana. Tapi saat gudang di buka, Jendral sudah tak sadarkan diri. Dari situ, Jena tidak pernah ber interaksi dengan papi nya, bahkan Jena masih tak sudi untuk bertemu papi nya sendiri."
"Terus, kemana Jendral sekarang?" Tanya Leon.
"Meninggal, setelah seminggu Jendral dirumah sakit, Jendral di nyatakan meninggal dunia. Tapi setelah ini jangan pernah bahas-bahas Jendral di dekat Jena, nanti Jena nangis lagi... gamau mami," ucap mami.
"Oke mi, Pertanyaan terakhir nih mi, kenapa mbak Jena ga suka sama keberadaan Leon?"
Mami diam saat mendengar pertanyana yang di lontarkan Leon.
===
Jena tengah sibuk dengan laptop di depan nya, tiba-tiba saja ponsel nya berbunyi, Jena langsung mengangkat telfon—yang diketahui telfon tersebut berasal dari pacarnya.
"Hi babe!" Sapa Tama diseberang sana
"Hi too babe," balas Jena
"C'mon, kamu kenapa? Kok balasnya lemes gitu ih,"
"Ini, aku lagi nyelesain tugas dari dosen, dosen nya nagih-nagih mulu." Ucap Jena
"Yaudah kamu kerjain itu dulu, aku tutup ya..."
"Eh! Jangan ihh, biarin aja, sini sekalian ngobrol-ngobrol berdua." Terdengar suara kekehan diseberang sana.
"Tutup aja ya, aku juga mau ke kantor papa nih," ucap Tama. Apa boleh buat? jika itu mengenai papa nya...
"Yaudah deh, dahh,"
"Dadahh, love you." Sambungan telfon pun terputus. Jena menghela napas, ia menyandarkan punggung nya ke kursi yang ia duduki.
Jena mengalihkan pandangan nya ke atas nakas samping tempat tidur nya. Disana ada foto, jendral kecil dan dirinya yang sedang tersenyum.
Ia menatap foto itu dengan lamat, sambil mengingat memori lama nya, tapi tiba-tiba bayangan Leon muncul. tanpa aba-aba, Jena mengumpat "s****n!"
===
Sekarang Leon sedang duduk dibangsal nya, sebentar lagi Jena akan datang, ia harus menyiapkan diri. Walaupun ada mami, Jena akan tetap menyalah-nyalahkan Leon.
"Nak, kamu kok melamun." Leon tersadar dari lamunan nya. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hehe, cuman kefikiran catatan di sekolah. Pasti banyak!"
"Tenang aja, nanti bisa minta diajarin ke mbakmu." Leon hanya tersenyum ke arah mami, guna merespon perkataan mami, yang ia rasa tak mungkin bagi nya.
Tak lama setelah itu, pintu ruang inap Leon terbuka, dan nampaklah Jena dengan muka datar nya datang.
"Salam nya mana ARJENA!" Sindir mami. "Assalamualaikum,"
Mami geleng-geleng melihat kelakuan Jena. "Jen, ajak Leon jalan-jalan."
"Gimana cara nya mau ajak jalan-jalan, dia aja ga bisa jalan," ucap Jena. Mendengar itu amarah mami memuncak.
"Arjena..."
"Lagian anak kandung mami Jena atau dia sih?! Anak pungut juga, apa yang mau dibanggain!"
Amarah mami memuncak, "ARJENA ADITAMA! mami ga pernah ajarin kamu berbicara seperti itu! Cepat bawa Leon jalan-jalan atau kartu kredit kamu mami sita!"
Jena berdecak sambil merotasikan bola mata nya, ia mendekat ke bangsal Leon sambil kembawa kursi roda. "lo turun sendiri atau gue yang gendong?!"
"L-leon turun sendiri aja mbak..." Jena memperhatikan Leon yang terlihat kesusahan turun dari bangsal, ia berdecak lalu menggendong Leon ala bridal styel lalu mendudukkan nya di kursi roda.
Leon dan mami terkejut dengan perlakuan Jena. Sedangkan Jena tetap memasang wajah datar nya. Menurut nya Leon sama sekali tidak berat, anak itu jarang makan.
"Jena bawa dia jalan-jalan dulu ya."
Mami mengganguk, Leon yang berada di kursi roda masih shock atas apa yang dilakukan mbak nya.
Jena mulai membawa Leon berkeliling rumah sakit, sunyi Jena maupun Leon tidak ada yang berbicara. Tapi tiba-tiba saja Jena bertanya pada Leon. "Cita-cita lo apa?"
"Dokter?"
"Ok fiks, gue engga suka dokter. Apa yang lo mau atau suka, bakal gue benci."
Saat sedang membawa Leon pergi mencari angin, mereka berjumpa dengan segerombolan anak laki-laki—salah satu nya adalah Gibran, teman Leon.
"Leon!"
"Wihh rame ya," ucap Leon saat melihat teman-teman nya.
"Yoi, kita datang mau jenguk lo nih," Jena tetap mengawasi mereka, hingga akhirnya Jena menyerahkan Leon ke Gibran. "Lo bawa Leon jalan-jalan sambil ngobrol noh, gue sibuk!"
Jena lalu pergi dari sana, teman-teman Leon sendiri tak heran dengan kejadian tadi. Karena hal itu sudah biasa terjadi.
===
"Jen, diam aja lo, kenapa?"
"Gatau gue overthink aja gitu." kata Jena
"Overthink kenapa tuh?" Tanya Ariel
"Gue overthink aja gitu, kalau Tama lagi sama cewek lain." ucap Jena. Nana yang sedari tadi asik bermain ponsel langsung menyudutkan pendengaran nya ke Jena dan Ariel.
"Apanih, overthink kok engga ngajak-ngajak!"
"Lo nya aja yang sibuk sama ponsel mulu, siapa sih? Abi ya?" ucap Ariel. Jen terkekeh mendengarnya.
"Yeu! Engga ya ... ini teman sekelompok gue nanya tentang materi."
"Eh, kalian ngerasa aneh ga sih sama Tama dan kawan-kawan?" Tanya Jena
"Aneh kenapa?"
"Aneh aja gitu anjir, gue ingat aja gitu kata Ariel kalau Ares jarang ngabarin, terus sering ilang-ilangan. Terus Abi sampai sekarang belum pacaran sama Nana, Tama juga sekarang sibuk banget katanya. Ga ngerasa gitu mereka cuman main-main aja?"
Ariel dan Nana diam, mereka mencerna apa yang dikatakan oleh Jena. "Bisa jadi, hahaha," ucap Nana
"Entahlah, intinya kita harus waspada aja, takutnya emang beneran kan." Kata Ariel, Jena dan Nana mengangguk.
"Kita bertiga dekat karena Tama dan kawan-kawan. Kalau kita bertiga udah engga ada ikatan sama mereka, kita bakal tetap gini ga?"
"InsyaAllah bisa, udah deh Arjena! Overthink mulu,"
"Hahahaha..."
###
jangan lupa follow akun ini ya ^^
happy reading