Malam Pertama

1398 Kata
Tamu-tamu yang semula sili berganti berdatangan kini sudah sepi. Hanya ada orang-orang terdekat David yang masih ada di sana. Seperti Farez, Catherine, para pelayan, dan pengawal yang bekerja dengan David. Setelah memastikan tamu pulang, kini mereka yang telah bersiap untuk pulang. Chaterine berpamitan lebih awal, disusul oleh David dan Alena kedua mempelai itu meminta diantar oleh Farez menuju mansion, sedangkan para pelayan diantar oleh para pengawal yang bertugas. “Daddy, ini susah sekali,” rengek Alena yang tidak kunjung berjalan, dikarenakan tidak ada yang memegang ujung gaunnya sehingga kesusahan. Apalagi, seharian penuh dia memakai high heels, kakinya terasa sangat pegal. David melirik Alena yang digandengnya. “Lalu aku harus apa?” tanya David. “Daddy di belakangku, pegang ujung gaun itu baru aku bisa jalan,” jawab Alena. David tampak berpikir, dia tidak mau jika harus memegang ujung gaun, dan berjalan menguntit Alena. Dia mempunyai sebuah ide menarik, senyum simpul ciri khasnya tercetak jelas, seraya menatap wajah Alena penuh arti. “Daddy!” tegur Alena, karena David tak melakukan apa yang diinginkannya. “Aku ini bukan pelayanmu, Baby,” ucap David membuat Alena mendelik tak suka. Tiba-tiba tubuh Alena terangkat ke atas, David menggendong Alena ala bridal style. Alena yang kaget refleks mengalungkan lengannya di leher David. Alena yang sudah lelah, dia memilih untuk diam tanpa protes, karena protes pun tidak akan ada gunanya, David pasti akan kekeh, apalagi pria itu bilang bahwa dirinya bukan pelayan Alena. Farez yang sejak tadi menunggu di dalam mobil melihat jelas drama kedua insan tersebut. Melihat David yang menggendong Alena, dia segera menekan tombol untuk membuka pintu otomatis. David pun tidak kesusahan saat masuk ke dalam mobil, meski masih menggendong Alena. “Hah, kau berat juga, Baby,” ucap David seraya membenarkan duduknya dan Alena. “Apa kau sedang mencibirku, atau mengataiku gendut?” tanya Alena menatap David tajam. “Bukan begitu, tapi—“ “Tapi kau menyusahkan, gadis kecil,” potong Farez cepat, membuat Alena sebal pada kedua pria itu. “Daddy sama Om Farez menyebalkan sekali,” ucap Alena seraya mengerucutkan bibirnya. “Berhenti memanggilku ‘Om’ atau aku potong lidahmu itu!” tegas Farez, seraya menyalakan mesin mobil, dan melajukannya. “Coba saja kalau bisa, karena Daddy tidak akan membiarkanmu memotong lidahku!” cibir Alena. David hanya tersenyum menanggapi Alena, memang gadis yang baru saja resmi menjadi istrinya itu benar. David tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Alena, meskipun David juga tahu bahwa Farez hanya bercanda, pria itu juga menganggap Alena sebagai adiknya sendiri. Sementara Farez, lebih baik diam mengalah, karena berdebat dengan Alena tidak akan ada habisnya. Kini tidak ada percakapan di antara mereka, Alena yang sudah lelah sejak tadi memutuskan untuk tidur di mobil. Awalnya dia menyandarkan kepalanya pada kursi, hingga matanya benar-benar terpejam. Karena David merasa kasihan dengan istrinya, dia membenarkan tidur Alena untuk bersandar di bahunya. “Apakah di markas ada masalah, Rez?” tanya David. “Kita harus menghabisi para tawanan itu secepatnya. Kabar terakhir mereka mempunyai alat komunikasi yang disembunyikan, dan sepertinya mereka telah meminta bala bantuan yang kapan saja bisa menyerang kita, dan mereka akan lolos.” Farez menjelaskan. “Ilmuwan kita sudah mengambil benda itu dan menghancurkannya. Akan tetapi, benda itu masih bisa dilacak dalam alat mereka, batasnya hingga esok hari. Kemungkinan besar, jika hari ini aman, maka besok akan terjadi penyerangan besar,” ucap Farez sedikit khawatir. Farez mengatakan yang sebenarnya terjadi di markas mereka. Akan tetapi, Farez terpaksa mengatakannya sekarang karena benar-benar darurat. Padahal Farez sudah menutup mulutnya untuk tidak membicarakan hal itu pada David, karena David menjelang hari bahagianya. Farez merasa bersalah, dia malah mengatakannya tepat di hari bahagia David. “Seharusnya kau tidak perlu menutupi hal sepenting ini dariku, Rez,” ucap David seraya memandang lurus ke depan. “Maaf, aku memang salah. Tetapi, kau fokuslah dengan Alena, malam ini akan menjadi malam panjang bagi kamu dan Alena,” goda Farez. “Tidak mungkin aku melakukan itu sekarang. Keselamatan markas, dan menghabisi para tawanan itu kini yang utama. Jika tidak, maka nyawa kita yang akan terancam. Keselamatan banyak orang lebih penting daripada urusan pribadiku yang satu ini,” jawab David. “Kau benar juga, tapi bagaimana dengan Alena? Apa kau akan meninggalkannya di malam pertama pernikahanmu ini?” tanya Farez seraya mematikan mesin mobilnya. Tak terasa kini mereka telah sampai. “Aku akan mengajaknya,” jawab David santai. “Bukakan pintunya! Kau bersiaplah dengan pakaian khusus, pukul 12 malam kita ke markas!” tegas David membuat Farez melongo. “Cepat buka pintunya!” perintah David. Dengan cepat Farez memencet tombol otomatis seehingga pintu mobil pun terbuka. Farez masih mencerna ucapan David yang akan mengajak Alena ke markasnya. Dia menatap David yang sedang berusaha menggendong Alena masuk ke dalam mansion. Farez membayangkan bagaimana reaksi Alena ketika David mengajaknya ke markas saat malam pertama mereka? Farez merinding membayangkannya. Mengingat perkataan David yang menyuruhnya untuk bersiap, akhirnya Farez turun dari mobil masuk ke mansion untuk segera membersihkan tubuhnya. Alena membuka kedua matanya yang semula terpejam, dia melihat sekeliling kamar tersebut penuh dengan hiasan bunga yang indah. Alena menelisik kamar tersebut dengan matanya, tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya. Aroma mint menyengat dalam indra penciumannya, Alena baru ingat bahwa ini adalah kamar David. Alena bergidik, dia menatap tubuhnya yang masih dibalut dengan gaun pernikahan, dia baru ingat bahwa sekarang Alena telah syah menjadi istri seorang CEO bernama David Wilson. “Apa mulai sekarang aku harus tidur dengannya?” tanya Alena seraya bergidik. “Tentu saja,” jawab seseorang yang sudah jelas Alena ketahui siapa pemilik suara itu. David ke luar dari kamar mandi, tubuhnya hanya dililit oleh handuk membuat Alena menutup matanya. David tersenyum jahil. “Tidak perlu seperti itu, nanti juga kau akan melihat semuanya, Baby,” ucap David. Alena langsung menatap tajam ke arah suaminya. “Dasar m***m!” teriak Alena. “Mandilah! Aku sudah siapkan air hangat untukmu. Kita harus bersiap, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” David berbicara pada Alena seraya melenggang ke dalam ruang ganti pakaian. “Pergi?” tanya Alena yang masih bingung dengan ucapan David. Karena Alena merasakan lengket pada tubuhnya yang lelah selama seharian penuh menerima sapaan dari para tamu undangan, dia memutuskan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Alena menutup pintu kamar mandi, dia dengan susah payah membuka gaun pengantinnya. Setelah selesai membuka seluruh pakaiannya, Alena berendam di dalam air hangat yang telah disediakan oleh David. “Tadi saja dia bilang bukan pelayanku, tapi dia sekarang menyiapkan air hangat untukku,” cibir Alena. Alena menyelesaikan ritual mandinya, dia segera ke luar dari kamar mandi. David sudah selesai memakai bajunya, tetapi yang Alena heran baju yang dikenakan David bukanlah baju tidur, tetapi setelan jas yang dilapisi jaket anti peluru. Alena juga kebingungan, karena dia ingat bahwa semua baju ada di kamar yang semula ditempatinya. “Semua bajumu ada di dalam lemari itu, tetapi untuk sekarang pakailah baju ini!” David menyodorkan pakaian dengan setelan yang sama dengannya. Alena menatap David tak mengerti. “Kenapa harus memakai baju ini?” tanya Alena. David yang menyodorkan pakaian menjadi tak fokus. Sebagai seorang pria tentu saja dia merasa tertantang ketika melihat istri di hadapannya hanya menggunakan handuk. Alena yang sadar David menatap dirinya dari atas hingga bawah, segera merebut pakaian itu, dan berlari ke dalam ruang ganti. “Aku harus sabar menahannya,” gumam David. Beberapa menit kemudian, Alena ke luar dari ruang ganti langsung menghampiri David. Alena kembali dibuat heran oleh David, pasalnya pria itu sedang memegang dua buah pistol berjenis desert eagle, yang Alena ketahui bahwa senjata itu sangat mematikan. “Daddy,” panggil Alena sedikit bergetar. “Yes, Baby?” tanya David seraya melirik Alena. “Kita mau ke mana?” tanya Alena. David tidak menjawab pertanyaannya, membuat Alena sedikit risau. “Peganglah ini, simpan di balik jaketmu. Kau tahu bukan bagaimana caranya menggunakan benda itu?” tanya David. Alena mengangguk. “Aku tahu, pernah mencoba punya papah dulu,” ucap Alena. “Bagus. Ayo kita pergi, Farez sudah menunggu kita di bawah!” Alena yang masih bingung dengan semuanya, dia diam tak bergeming. Akan tetapi, tangan kekar menariknya dengan lembut menuju ke luar kamar. Akhirnya Alena mengikuti David berjalan ke lantai bawah, tampak Farez telah menunggunya dengan pakaian yang sama. Alena semakin risau, sebenarnya apa yang akan dilakukan kedua pria itu sehingga melibatkannya? Alena takut akan ada hal-hal buruk yang akan menghampirinya. “Tenanglah. Kita akan bersenang-senang di luaran sana.” Farez berusaha menenangkan Alena. “Bersenang-senang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN