“Alena, wake up!” David menepuk pipi sang istri. “Hei, wake up!” Kini David sedikit mengencangkan tepukannya, barulah Alena merasa terganggu. Alena menggeliat, membuka matanya secara perlahan. “Ada apa, Daddy?” tanya Alena dengan suara seraknya. David menarik tubuh Alena agar duduk, Alena berdedak sebal. Wanita itu mengambil ponselnya yang tergeletak, membukanya untuk melihat jam. Alangkah terkejutnya dia, karena jjam masih menunjukan pukul 2 dini hari. Alena mengerutkan keningnya, seolah bertanya apa yang terjadi pada David. “Cepat cuci muka, kita akan pergi ke markas!” perintah David membuat Alena menatap tajam ke arahnya. “Untuk apa?” tanya Alena. “Kau membangunkanku jam 2 dini ha—“ Ucapan Alena terpotong ketika ada bibir kenyal yang mengecup bibirnya, dia tidak bisa berkata-k

