Di layar ponselnya, menunjukkan hampir tengah malam dan Berin belum bisa tidur. Beberapa kali perempuan itu menguap lalu mengusap matanya. Walau lebih dari satu kali Berin menguap, tapi rasanya matanya susah untuk ia pejamkan. Berin sudah memaksa untuk tidur, cuma yang dilakukannya berakhir berpindah-pindah posisi tidur. Awalnya di tengah, pindah ke ujung, lalu merubah posisi menjadi duduk kemudian menghela napas panjang.
Berin memutuskan untuk pergi ke bawah mengambil air minum. Ia butuh sesuatu yang bisa menenangkan perasaan dan pikirannya. Entah kenapa, Berin merasakan kepalanya seperti penuh. Berin jadi gelisah, ingin bercerita, tapi ia bingung ke mana ia harus pergi. Sementara hubungannya dengan teman-temannya sedang tidak baik. Khususnya Analis.
Ia mendudukkan bokongnya ke salah satu kursi mini bar di dapur. Ia meletakkan segelas s**u hangat. Berin memegangi gelasnya, menggenggamnya agak erat sehingga bisa merasakan kehangatan dari gelas yang ia pegangi.
Berin menarik napas sekali lagi kemudian mengembuskannya. Kalau tahu begini, Berin tidak mau memperdalam perasaannya kepada seorang lelaki. Padahal sudah jelas dari awal ia mengetahui kalau Doma adalah lelaki beristri. Tapi cintanya kepada lelaki itu justru membutakan mata Berin.
Sekarang, setelah ia tahu kalau istri Doma adalah Analis, Berin merasa bersalah. Namun, untuk melupakan perasaannya kepada Doma begitu saja—setelah apa yang ia lakukan agar bisa menarik perhatian lelaki itu, Berin merasakan malu. Ia malu jika pada akhirnya Berin dicap sebagai perempuan yang tidak punya harga diri. Bisa-bisanya berani mengejar suami orang. Apa lagi suami temannya.
"Akh," erang Berin menundukkan kepalanya.
Ia merasakan kepalanya berdenyut, juga berat, ketika Berin mengangkat dagunya perlahan, ia melihat papanya tahu-tahu muncul di sampingnya, membuat Berin nyaris berteriak karena terkejut.
"Papa," ujar Berin memegangi dadaanya. "Nggak ada suara apa-apa dari belakang. Tahu-tahu muncul di samping aku."
Lelaki tua itu mengerutkan dahinya. "Papa udah panggil kamu, tapi kamu nggak nyahut. Kenapa? Lagi ada masalah?"
Papanya mengambil duduk di samping kursi Berin. Perempuan itu melirik papanya diam-diam. Ia meraih susunya yang hampir dingin, meneguknya perlahan, sambil menunggu papanya bersuara lagi.
"Kenapa, Ber? Ada masalah?" tanya papanya lagi.
Berin menarik gelasnya menjauh dari bibirnya. Ia menggelengkan kepalanya lesu. "Nggak, kok. Aku nggak bisa tidur karena habis nonton film horor."
Tentu saja yang dikatakan Berin hanyalah sebuah alasan. Mana mungkin ia mengatakan masalah yang ia hadapi kepada sang Papa. Kalau papanya tahu, Berin bisa dimarahi habis-habisan.
Terdengar bunyi decakan, papanya menggeleng melihat tingkah putrinya. "Kamu dari dulu itu penakut. Udah Papa bilang, kan... jangan nonton film horor! Kalau udah parno gini, kamu masuk kamar mandi aja mana berani."
Berin hanya menanggapi omelan papanya dengan cengiran.
"Mendingan kamu cari suami deh, Ber. Biar ada yang nemenin kamu kalau lagi parno kayak gini," celetuk papanya.
Berin mengerucutkan bibirnya sebal. "Emang cari suami itu gampang, Pa?"
"Gampang dong! Kamu ini cantik, berpendidikan, anaknya baik. Masa cari suami aja nggak bisa?"
"Dih!" Berin mendengkus.
"Papa serius lho, Ber," kata papanya. Lelaki itu menurunkan satu kakinya ke lantai. "Atau, ada lelaki yang kamu suka tapi kamu nggak berani bilangnya? Coba bilang sama Papa. Siapa tahu Papa bisa bantu supaya kamu sama lelaki itu jadi lebih dekat."
Berin ragu. Ia ingin menyebut nama Doma. Akan tetapi, kemungkinan untuk mendapatkan lelaki itu sangat kecil. Atau bahkan, tidak akan pernah mungkin.
***
"Gimana, Ma?" Doma memindahkan ponselnya ke telinga kanannya.
Ia sedang mengobrol dengan mamanya di telepon. Analis baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Masih memasang ekspresi sebal, perempuan itu merangkak naik ke atas ranjang sambil melirik Doma sinis. Bayangkan saja, sih! Mereka sungguh tidak jadi pergi berkencan. Sudah tahu Analis ngambek, Doma bahkan tidak berusaha membujuknya.
Woah. Astaga. Analis lupa. Kalau Doma tidak pernah peduli padanya. Mau Analis marah atau ngambek, Doma akan membiarkannya, tidak bertanya, apa lagi mau membujuknya.
Doma memberi isyarat kepada Analis agar tidak berbicara. Dari gerakkan bibir Doma yang tidak mengeluarkan suara, Analis mengetahui bahwa orang yang sedang menelpon suaminya ada Ibu mertuanya.
"Kapan Mama mau ke sini memangnya?"
Analis perlahan bangun lalu duduk kembali. Ia mendekatkan telinganya ke ponsel milik Doma. Doma meliriknya sepintas, kemudian menarik bahu perempuan itu sampai berpindah ke pelukannya.
Analis tersentak, ia sontak mengangkat kepalanya. Ia berusaha mempertahankan kekesalannya. Namun, begitu Doma mengusap puncak kepalanya sambil tersenyum tipis, Analis luluh begitu saja. Hanya karena Doma tersenyum padanya, ia jadi tidak bisa marah lagi.
Halah! Menyebalkan.
"Hm, iya, Ma." Doma menarik ponselnya menjauh, pantas mengakhiri panggilan teleponnya.
Analis duduk dengan tegak, berpindah duduk di depan Doma, lantas bertanya, "Itu mamanya Pak Doma, ya?"
Doma mengangguk. Ia meletakkan ponselnya ke meja nakas. "Iya. Mama saya bilang kamu ke sini."
"Ke rumah ini maksud Bapak?"
"Iya. Katanya, Mama mau nginap beberapa hari."
Analis langsung mengaduh. Doma mengerutkan dahinya sambil menatap Analis yang berubah panik.
"Kenapa?" tanya Doma bingung.
"Kalau mamanya Pak Doma nginap di rumah ini. Saya harus ngungsi sementara dong," keluh Analis. "Orang tua Pak Doma tahunya, kan, saya calon istri Bapak. Bukan istri Bapak."
Ah, ya. Kenapa Doma baru menyadarinya. Ia menanggapi usul mamanya untuk menginap di rumahnya selama beberapa hari dengan tenang. Ia bahkan tidak kepikiran soal Analis.
Doma telah mengenalkan Analis kepada kedua orang tuanya. Tapi, sebagai calon istri, bukan istrinya. Doma sengaja mengatakan begitu. Kalau mamanya tahu kapan ia menikahi Analis dan apa alasan di balik keputusannya, ia takut membuat mamanya marah dan kecewa.
"Saya baru sadar waktu kamu bilang," gumam Doma. Lelaki itu mengatakannya dengan tenang, tidak panik sama sekali seperti Analis.
"Saya tinggal sama Metya aja deh, Pak," kata Analis. Orang pertama yang ada di kepalanya adalah sosok Metya. Ia bisa tinggal bersama Metya untuk beberapa hari.
"Temen kamu itu?" tanya Doma.
Metya? Apa Metya yang disebut Analis adalah Metya yang sama—disebutkan Rinjani sebagai adik iparnya?
"Iya." Analis mengangguk cepat. "Nggak mungkin saya masih tinggal di sini, sementara mamanya Pak Doma nginap di rumah. Mamanya Bapak, kan, tahunya saya sebagai calon istri. Apa katanya nanti kalau saya tinggal di sini padahal kita belum menikah?"
Doma menggenggam tangan Analis. "Nanti saya antar kamu ke rumah Metya, ya. Makasih karena udah pengertian sama kondisi saya."
"Kita, Pak." Analis segera mengkoreksinya. "Kalau mamanya Bapak tahu yang sebenernya, saya pasti kena omelan juga. Saya malah takut mamanya Bapak nggak suka lagi sama saya kalau tahu cerita yang sebenernya."
"Jangan khawatir," gumam Doma menenangkan. "Saya akan atur semuanya."