Membersihkan Kulkas

493 Kata
Aku menatap nanar kulkas yang sudah dipenuhi telur serangga, bau apek serta bekas makanan yang sudah berjamur dimana aku tidak ingat mengapa aku tidak membuangnya? Ini lah kulkas yang sudah sebulan lebih tidak aku pakai, yap aku harus memilih antara menggunakan AC atau Kulkas. Tiga bulan belakangan ini aku memilih menggunakan AC. Kini aku harus hidup di kondisi yang harus menghemat bahan makanan, oleh karena itu aku tidak menggunakan AC dan harus membersihkan kulkas terlebih dahulu sebelum memakainya. Yap... membersihkan kulkas yang sudah 3 bulan tidak dibersihkan. Siang itu sangat panas, baru saja mengeluarkan rak telur, beserta rak-rak lainnya yang ada di dalam kulkas. Belum setengah jalan aku sudah sangat kesal mengelap dinding kulkas yang sudah bisa dibilang koloni telur serangga. Jijik! Bau apek! Gerah! Terdengar konyol tapi saat itu aku benar-benar kesal, sampai aku tidak sadar membuat suara "iuh!" atau "ck!" dengan intonasi yang penuh emosi. Aku pun mulai kasar mengelap dinding kulkas, memeras kainnya dengan jijik. "Sini aku aja! Kamu sana gih ngadem dulu di depan kipas angin!" ucapnya sambil tangannya mencoba meraih kain yang ada di tanganku. "Gak! Gak usah!" aku juga tidak mengerti mengapa aku kesal dengan dia karena tidak membantuku membersihkan kulkas. Padahal aku yang berjanji kepadanya untuk membersihkan kulkas dari beberapa hari yang lalu. "Ck! Sana gak?!" dia mengancam sambil merebut kain dari tanganku. Dia mengelap kulkas sekarang. Aku mundur, duduk di depan kipas angin. Akhir-akhir ini aku mudah dibuat sesak nafas, dan marah-marah jika gerah. Aku juga tidak mengerti mengapa setiap kali marah itu dating harus ada objek yang harus aku salahkan. Aku melihatnya melanjutkan membersihkan kulkas, mengelap tiap sudut yang sulit dibersihkan. Dia sangat teliti, aku mungkin akan membiarkannya kotor jika sulit dijangkau untuk dibersihkan. "Sini, gantian lagi. Aku udah oke, udah kena angin", pintaku saat gerah di otak, hati dan di tubuh ini sudah mulai hilang. Dia tidak menjawab, masih asyik mengelap bagian dalam kulkas. Seketika, aku merasa gagal untuk mengatur emosiku untuk kesekian kali. Aku pun tidak habis pikir tentang emosi negatif yang gampang sekali hinggap di pikiranku. Rasa gagal yang baru saja hinggap tadi dengan cepat berkembang menjadi bayangan-bayangan dialog dimana dia sudah tidak sanggup lagi berada di dekatku dan pergi meninggalkan diriku begitu saja. "SELESAAIII!" Ucapnya sambil menunjukkan kulkas yang sudah bersih, dengan muka yang sangat sumringah seperti pesulap yang mengejutkan penonton karena atraksinya berhasil. Bayangan jahat yang barusan berkembang di pikiranku hilang seketika. Aku menatap wajah sumringahnya itu, kemudian mataku basah. Dia cepat menyadari bahwa aku hampir menangis. Ia cepat-cepat mencuci tangannya kemudian menghampiriku. "Kok nangis?" Tanya nya sambil mengelap keringat yang ada di dahiku. Aku diam, menunduk dan menyeka air mata yang mulai turun ke pipi. Kemudian ia berdiri, berjalan menuju kulkas. "Pssst! Liat sini" kemudian ia menjentikan jarinya ke kulkas, membuka pintu kulkas "Tadaaaaa! Hebat kan?" Aku tersenyum, menghampirinya. "Kamu mau aku buatkan matcha dingin?" "Mau dooong! Buatin ya?" kali ini nadanya sedikit manja. Aku mengangguk. Dia selalu bisa, membebaskan aku daripikiran-pikiran negative yang terlalu berlebihan. Terima kasih! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN