4. Teman Lama

1077 Kata
Chapter 4 Teman Lama Di depan pintu masuk Basketball City, Nichole langsung menemukan Maddy yang berdiri tidak jauh dari empatnya berdiri. Wanita berambut cokelat itu mengenakan dres pendek berbahan katun dan dipadukan dengan sneakers putih, berdiri sendirian di samping meja resepsionis. Betapa menyenangkannya memiliki kebebasan, pikir Nichole muram. Nichole melambaikan tangannya kepada Maddy seraya melangkah mendekati temannya itu, sementara Maddy tersenyum lebar dan menyongsong kedatangan Nichole. "Aku merindukanmu," kata Nichole seraya memeluk Maddy. "Aku juga merindukanmu," kata Maddy seraya memeluk Nichole. "Seharusnya kau memberitahu kami kalau kau kembali hari ini beberapa hari sebelumnya agar kami bisa menyambut kedatanganmu. Tidak seperti ini," lanjutnya seraya melepaskan pelukannya. Nichole menggeleng. "Aku suka memberimu kejutan." Maddy mengamati sekitarnya. "Apa tidak masalah kau berkeliaran di sini?" bisik Maddy. Nichole menyeringai sembari melepaskan pelukannya. "Jangan khawatir." "Terakhir kau mengunggah kegiatanmu di media sosial adalah dua tahun yang lalu, aku bahkan tidak pernah tahu kabarmu." Maddy menatap Nichole dan memutar bola matanya. "Apa tidak nyaman menjadi cucu presiden?" "Aku hanya tidak memiliki sesuatu yang spesial untuk dibagikan ke media sosial," jawab Nichole sembari tersenyum, menutupi jika sebenarnya dirinya tidak ingin kehidupannya diketahui publik setelah kakeknya menjadi presiden karena khawatir akan memancing opini publik. "Ya. Sejak dulu kau memang tidak terlalu peduli dengan media sosialmu." Maddy mengedikkan bahunya dan Nichole tersenyum. "Omong-omong, selamat atas gelar cumlaude-mu." "Terima kasih," kata Nichole dan tersenyum. "Itu patut dirayakan. Bagaimana?" "Itu... bukan sesuatu yang besar." Maddy mendengus. "Bukan sesuatu yang besar bagaiamana?" Masih ada yang lebih besar lagi yang harus ia raih, tetapi Nichole bukan orang yang biasa membagi isi pikirannya dengan orang lain meskipun Maddy adalah teman baiknya. Ia lebih memilih membicarakan cita-citanya dengan kelurganya. Nichole menatap Maddy dengan serius. "Jadi, bagaimana aku harus merayakannya?" "Kita pikirkan nanti. Sekarang, ayo kita masuk dan kita beri kejutan pada Harvey," kata Maddy seraya menggandeng Nichole. Bertemu Harvey setelah tiga tahun mereka tidak berjumpa membuat Nichole sedikit merasa gugup, apalagi Harvey sekarang bukan lagi Harvey yang dulu. Harvey yang sekarang memiliki banyak penggemar dari penjuru Amerika dengan ketenaran yang dimilikinya sementara dirinya? Selain statusnya sebagai cucu presiden Amerika Serikat, ia tidak memiliki sesuatu yang spesial. "Omong-omong, siapa dia?" Maddy berbisik pada Nichole. Pria tinggi besar berkulit gelap dengan setelan jas hitam dan kemeja putih mengenakan walkie talkie mini yang terpasang di telinganya sungguh terlalu mencolok. Di Cambridge, Fred tidak pernah mengenakan atribut lengkap seperti itu. Fred hanya mengenakan setelan jas setiap kali Nichole keluar rumah dan mengemudikan mobil untuknya, juga membukakan pintu mobil untuknya. Fred juga tidak pernah berdiri terlalu dekat dengannya, tetapi Fred selalu memastikan jika Nichole aman. Sementara di Amerika tentu saja Fred harus mengenakan pakaian dan atribut lengkap. "Dia bodyguard-ku," jawab Nichole malas. "Jangan hiraukan dia." Maddy melirik Fred kemudian mengedikkan bahunya lalu berkata, "Kau pasti risi." Maddy benar. Nichole ingin sekali memberikan skor 100 kepada Maddy. Ia memang sangat risi terutama pada Max yang pada hari pertama sudah berdebat dengannya, bahkan tatapan Max seolah sedang menentangnya. Berani sekali, Fred saja yang sudah dua tahun mengekorinya tidak pernah berani membalas tatapannya apalagi menentangnya. Oleh sebab itu ia memilih Fred yang pergi bersamanya masuk ke dalam gedung olah raga dan memerintahkan Max untuk tetap berada di dalam mobil. Sialan, batin Nichole kesal dan berpikir akan mengadukan pada kekeknya jika dirinya tidak menyukai agen Secret Service yang satu itu. Nichole berdehem. "Omong-omong, bagaimana studimu?" tanya Nichole pada Maddy. "Aku tidak melanjutkan pasca sarjana, aku lebih tertarik terjun ke dunia hiburan," jawab Maddy. "Seperti ibumu?" Maddy mengangguk sembari tersenyum semringah. Ibu Maddy adalah seorang aktris yang tersohor pada masanya dan setelah menikahi ayah Maddy yang merupakan putra dari salah satu politikus yang berpengaruh di Amerika, ibu Maddy memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisannya. "Nah, itu Harvey," ujar Maddy seraya melambaikan tangan kepada Harvey yang sedang berlatih di tengah lapangan basket sayangnya Harvey tidak menyadari kedatangan mereka. Dari pinggir lapangan Nichole masih bisa melihat Harvey dengan jelas. Rambut Harvey bergaya cepak, kulitnya mengilap bersimbah keringat, lengannya berotot, dan masih seperti dulu. Penuh semangat dalam setiap gerakan di tengah lapangan basket. "Kau sering ke sini?" tanya Nichole, pandangannya tidak melepaskan Harvey walaupun hanya satu detik. "Ya. Terkadang, kebetulan pacarku satu tim dengan Harvey," jawab Maddy. Nichole menoleh kepada Maddy. "Jadi, kau sudah punya pacar?" Maddy tersipu. "Sebenarnya kami belum jadian sih, tapi dia sudah beberapa kali mengajakku makan malam." "Dia belum menyatakan cinta?" tanya Nichole sembari menatap Maddy yang tersipu. "Aku menunggunya." "Kenapa kau tidak menyatakan terlebih dulu?" Maddy tertawa. "Tidak. Itu memalukan, sebagai seorang wanita aku ingin dikejar. Menyatakan cinta terlebih dulu? Yang benar saja." Nichole tidak mengerti dengan aturan seperti itu dalam percintaan, ia tidak memiliki pengalaman berpacaran dan ia juga tidak ingin ambil pusing. "Jadi, yang mana calon pacarmu?" "Jason!" teriak Maddy sambil mengangkat tangannya dan seorang pria di lapangan membalas lambaian tangan Maddy. "Itu dia," kata Maddy seraya tersenyum lebar karena pria yang dipanggil mendekat. "Dia meninggalkan lapangan, dia pasti sangat menyukaimu, Maddy," kata Nichole. Maddy tidak menyahut karena Jason sudah sangat dekat, gadis itu hanya tersenyum. "Aku akan menyelesaikan latihanku sebentar lagi, apa tidak masalah?" tanya Jason seraya Membenarkan kaus tanpa lengannya yang basah oleh keringat. "Bukan masalah," jawab Maddy sembari tersenyum. "Oh, iya. Ini Nichole Elingthon, kau seharusnya tahu dia." Jason mengalihkan pandangannya pada Nichole dan ekspresinya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Hai, kau tidak pernah menceritakan kalau kau berteman dengan cucu presiden kita." "Di juga teman Harvey," kata Maddy. "Teman di sekolah menengah atas," imbuh Nichole sebari tersenyum. "Kenapa tidak memanggil Harvey?" "Tidak. Tidak perlu," kata Nichole. Namun, Jason justru memanggil Harvey dengan suara yang nyaring dan berhasil membuat Harvey menoleh. Tatapan Nichole dan Harvey beradu dan menyadari kehadiran Nichole, Harvey melangkah ke pinggir lapangan. "Nichole?" kata Harvey sembari tersenyum lebar. "Kau Di New York ternyata?" "Hai," sapa Nichole sembari tersenyum lembut kepada Harvey yang menyapu keringatnya di keningnya menggunakan bahunya. "Sudah empat tahun kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Harvey seraya mengulurkan tangan, berniat untuk berjabat tangan Nichole. Nichole menjabat tangan Harvey. "Aku sangat senang karena di hari pertamaku di New York bisa bertemu kalian." "Jadi, kau baru kembali dari Inggris?" tanya Harvey. "Yeah, dan aku berencana melanjutkan kuliahku di sini," jawab Nichole. "Benarkah?" tanya Maddy antusias. "Ya. Aku berencana melanjutkan Pascasarjana di Columbia University," kata Nichole sambil tersenyum. "Omong-omong, apa ada teman kita yang kuliah di sana?" Harvey dan Maddy saling bertatapan beberapa saat lalu Maddy berkata, "Aku tidak ingat. Mungkin kau harus bertanya di grup sekolah." "Kau tidak ada di grup, bukan?" Tanya Harvey dan Nichole mangngguk. "Aku akan memasukkanmu ke dalam grup nanti." Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN