Elea mengerjapkan mata. Masih tidak percaya dengan indera pengdengarannya sendiri. Ingin melanjutkan bicara ia menarik napas dulu. berjalan mondar-mandir kesana-kemari. Tidak menyangka kalau nomor ponsel yang diberikan oleh Safira bukan nomor telepon asal. Tapi benar-benar tersambung pada Nicho. Pokoknya tanpa perlu menebak dan berpikir lagi, ia yakin seribu persen kalau ini adalah Nicho yang berkenalan dengannya tempo hari di Mall.
“Eng … e … Nic … Nicho, aku ….”
“Ini Siapa?”
“Ini aku. Elea.” Sebutnya pelan dengan tarikan napas panjang dan berharap langsung diingat. Ia yakin Nicho ingat. Meski benaknya penuh tanya. Kenapa kemarin saat bertemu di gedung tempat meeting, pria itu malah pergi mendadak saat hendak dihampiri.
“Elea?” tanya suara di seberang sana. Kedengaran seperti merasa asing.
“Iya, ini aku. Eng ….” Elea bingung merangkai kalimat yang tepat untuk menjelaskan. Terselip sedikit rasa malu. Kenapa Nicho ini tidak langsung ingat? Rasanya ingin menjelaskan detail perkenalan mereka malam itu tapi masih canggung.
“Elea?” Pria itu bertanya sekali lagi dengan suara yang kedengaran semakin kebingungan.
“Iya, di Mall. Di depan bioskop. Waktu itu kamu menabrak aku sampai pop corn ku tumpah semua. Kamu ingat?” setelah mengatakannya pipi Elea terasa panas dan bersemu. ‘Aduh, masa sih harus dijelasin banget?’ batinnya.
“Oh, iya.” jawab suara di ujung telepon sana.
Elea lansgung merasa lega. jawaban singkat barusan membuatnya rasanya seperti naik roket. Mendadak terbang sampai ke Venus dan melayang-layang tak karuan.
‘Yes! Berarti ini beneran Nicho yang aku cari!’ pekiknya dalam hati.
Sekarang bayangan mata elang nan indah itu menari-nari dalam isi kepalanya. Mendadak grogi bukan main. Serasa sedang biacara secara langsung. Ingin bicara apa lagi seterusnya jadi bingung. Serasa linglung. Tapi Elea harus tetap menjaga kesadarannya. Kalau tidak, obrolan ini bisa kacau. Dan impian untuk bisa bertemu lagi bisa buyar.
“Eng … iya, ini aku. Kamu apa kabar?” tanya Elea setelah bisa menguasai kegugupannya.
“Baik. kamu?”
“Aku Alhamdulillah baik. Eng … kemarin, kamu datang ke gedung Global lantai sepuluh? Kenapa langsung pergi?” tanya Elea. Sekuat tenaga ia mengumpulkan kepercayaan diri.
“Gedung Global?” Pria itu lagi-lagi kedengaran bingung. “Oh, eng … iya.”
“Ok, gak apa-apa kok, mungkin kamu sedang banyak urusan.” Ucap Elea. “Ehm, kapan kamu ke gedung Global lagi?”
“Hah?”
“Eng … maksudku ….” Elea salah tingkah. Merasa pertanyaannya terlalu agresif. Seharusnya ia tidak langsung mencecar seperti itu. Meski hatinya menggebu tak karua ingin segera bertemu lagi. Tapi obrolan ini bisa saja tidak berlanjut kalau Nicho ilfil. “Gak, maaf. Oh iya, ini sudah jam makan malam, kamu gak makan?” tanyanya kemudian mengganti topic pembahasan.
“Oh, iya. Ini aku baru aja mau makan malam. Kamu sendiri gimana? Sudah makan malam?”
Pertanyaan dari pria itu membuat Elea senyum-senyum tak karuan. Rasanya ingin memakai gaun Cinderella dan menari-nari di depan kaca.
“Eng … i-iya, ini mau makan setelah telepon.”
“Oh, kalau begitu sebaiknya kamu makan saja dulu. Gak baik lho telat makan. Bisa sakit.”
“Iya … i-iya.” Bibir Elea makin kaku bergerak. Belum-belum pria ini sudah begitu manis dan perhatian. Begitu manis sikapnya semanis wajahnya yang terekam dalam ingatan Elea.
“Ok, kalau begitu kamu sebaiknya makan malam dulu sekarang ya, saya jug mau makan malam. Mungkin besok atau lain waktu kita bisa bicara lagi.”
“Iya, iya.”
Ragu-ragu tapi Elea akhirnya menyentuh layar ponsel untuk mengakhiri panggilan telepon itu.
“Yeeeeeaaaaayyyy!” sekarang dia bersorak kegirangan bukan main. Berlari ke depan cermin. Memandangi wajahnya sendiri dengan perasaan tidak percaya. “Ini beneran barusan aku ngobrol lagi sama Nicho? Suaranya sama persis dengan yang kenalan sama aku di Mall malam itu. iya, aku yakin banget. Yakin! Dan tadi dia bilang, besok-besok kita bisa bicara lagi? Wuaaaaaaaaa!” untuk kesekian kalinay Elea bersorak. Sekarang rasanya lupa dengan rasa lapar. Tidak ada selera ingin makan sama sekali. Hanya ingin tersenyum di depan cermin atau memeluk guling lalu berguling kesana-kesini di atas kasur. Atau melompat-lompat tak seperti pegas sepanjang malam.
“Sudah nih telponnya? Si Zakia emang udah balik dari Belanda?” tanya Nurdin ketika Nicho tiba di meja makan. Sejak tadi ia tidak menyentuh piring sama sekali. Menunggu sahabat sekaligus bos nya itu datang lebih dulu. Nurdin memang mendapatkan tempat istimewa. Dia tidak diperlakukan sebagai sopir. Melainkan seperti saudara bagi Nicho. Maklum saja Nicho sebatang kara saat ini.
“Bukan Zakia.” Jawab Nicho singkat sambil emmbuka piring di hadapannya.
“Silahkan tuan, mau disiapkan makan malam sekarang?” seorang bibi menghampiri sebelum obrolan mereka berlanjut. Ada beberapa makanan yang harus disajikan hangat dan baru akan disiapkan ketika Nicho sudah tiba di meja.
“Iya, silahkan Bi,” ucap Nicho.
“Eh, bukan Zakia? Kirain Zakia, lu sampai nunda makan malam begitu.” Nurdin lanjut bertanya.
“Iya, awalnya gue bingung ‘kan itu nomor siapa? Nomor baru. Dan anehnya, kenapa bisa telepon ke nomor ponsel gue yang itu. sedangkan nomor itu cuma lu dan Zakia yang tau. Itu nomor yang private banget. Makannya gue sempat kira itu Zakia. Mungkin pakai nomor baru atau gimana kan, eh ternyata bukan.”
“Terus, siapa?”
“Cewek. Aneh. Hahahaha,” Nicho malah terbahak.
“Wah, parah nih, berani telponan sama cewek. Emntang-mentang Zakia belum balik.” Ledek Nurdin.
“Bukan gitu Din, gue gak tega aja mau menolak teleponnya. Kedengarannya dia kayak mencari seseorang gitu. Dan kedengaran polos banget. Kasian. Lagian dia ngobrolnya gak aneh-aneh kok,”
“Hati-hati Nic, lu itu bukan orang biasa. Banyak cewek mau ngejar.”
“Ah, apaan sih lu, emang gue bukan orang biasa apaan? Superman? Bat Men? Gue sama-sama makan nasi kayak lu.”
“Ah, lu kebiasaan kalau dibilangin. Pokoknya hati-hati. Lain kali kalau ada telepon asing dan aneh, jangan ditanggapi.” Nurdin memang selalu demikian. Menjaga Nicho seperti adiknya.
“Santai aja kali, cuma telepon. Cuma cewek. Bukan gangster.” Bantah Nicho yang memang sering susah dinasihati.
“Ya justru awalnya cewek. Kita gak tahu belakangnya.”
“Udah deh Din, santai aja. Lagian kayaknya gue butuh teman ngobrol juga sih selain lu. Lu kan belakangan ini sering ngelamun dan sibuk. Kalau gue rasa sih, cewek ini kedengarannya baik. dan gak punya niat macam-macam. Jadi bisa juga buat gue jadikan teman. Lagian Zakia belum jelas kapan bakal balik dari Belanda. Bisa mungkin tahun depan atau dua tahun lagi. susah juga untuk komunikasi. Gak masalah kan, kalau cuma buat teman.”
“Aduh Nicho, jangan aneh-aneh deh, kalau mau teman cewek gue aja deh yang cariin. Gue seleksi orang yang baik. Jangan random gitu lu,”
“Udah sih Bro santai aja. Ini Cuma telepon doang. Gak ada yang perlu di khawatirkan.”
Obrolan dua pria ini berakhir tanpa titik temu.