“Apa yang kau lakukan di rumahku?” Louise menganga saat mendengar pertanyaan itu, mulutnya siap untuk mengucapkan sesuatu, ia sudah merasa cukup siap untuk menegaskan pada Ed bahwa rumah itu bukan miliknya. “Rumahmu? Ini rumahku juga!” “Rumah kita,” sahut Ed akhirnya. “Ya.” Ed mendengus. Tatapan Louise mengawasinya ketika laki-laki itu melangkah mengitari sebuah meja bundar di tengah ruangan. Punggungnya menegak dengan kaku, tapi Ed tampak santai. Ia mengenakan sweter biru gelap kesukaannya dan celana hitam panjang. Rambutnya masih basah dan wajahnya tampak besih setelah bercukur. Louise memejamkan mata saat mendengar aroma krim cukur yang familier menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Ia kemudian membuka kedua matanya dengan cepat hanya untuk menyaksikan Ed menuang anggur ke dalam dua

