“Saat itu aku berusia dua belas tahun. Aku, kakakku dan ibuku berbagi satu tempat bersama-sama. Dengan kondisi kakakku, kami benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Aku selalu menyalahkan diriku untuk itu. Aku nyaris bisa merasakan bagaimana rasanya ketika aku menatap matanya. Aku tidak pernah melihat emosi seperti itu sebelumnya. Semuanya.. buyar. Seperti cahaya yang disorot dari kejauhan, seperti kabut. Tangannya dingin, aku bisa merasakannya. Dia mengenakan sweter merah milik ibu kami, entah bagaimana, dia sangat menyukainya. Dia bilang dia merasa cantik dengan pakaian itu.. itu aneh, tapi ibuku melarangku untuk mengatakan apapun.” Lantai kayu yang dilapisi karpet flanel berwarna merah tua kini menjadi pusat perhatiannya. Udara hangat di dalam ruangan dengan dinding bercat abu-abu mera

