Louise menyesap anggurnya, berlama-lama ketika memandangi barisan orang di depannya yang sedang mengantre giliran untuk membayar. Tempat itu sesak. Panasnya terasa seperti di neraka. Seisi ruangan dipadati oleh sejumlah pengunjung yang terus berdatangan dari pintu masuk. Hanya ada satu pintu, maka itu adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar. Orang-orang rela berdesakan di dalam ruangan sempit hanya untuk membeli beberapa makanan siap saji yang dipajang pada rak-rak yang besarnya tidak seberapa. Pelayannya tidak terlihat ramah, siapapun tidak akan sanggup tersenyum sepanjang hari ketika berada di dalam sana. Louise dapat menyadarinya, wajah mereka memerah tiap kali mendengar bel berbunyi saat pelanggan masuk melewati pintu toko. Belum lagi mereka harus terkurung dengan seragam, celemek,

