Dream

1027 Kata
Anna terbangun dari tidur nyenyaknya. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa tidur dengan tenang tanpa dibangunkan untuk bekerja, dimarahi karena melakukan kesalahan, dan harus mempersiapkan ini itu. Kehidupan normalnya kembali seperti dulu. 'Akhirnya kehidupan normalku kembali." Batin Anna senang sambil menggeliat kecil. Setelah itu, ia langsung pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. . . . . Tiga puluh menit pun berlalu ia segera memakai bajunya dan berdandan tipis setelah itu ia keluar untuk menemui orang tuanya yang sudah berada di ruang makan. "Pagi ayah, ibu." Sapa Anna kepada Viole dan Rainha. "Pagi sayang." Balas mereka bersamaan. "kemari sayang. Kita sarapan bersama." Ajak rainha sambil melirik kursi yang ada di hadapannya. Anna hanya tersenyum lalu duduk di kursi tempatnya sebelum kejadian buruk itu menimpanya. Mengingat hal itu membuatnya tersenyum miris. 'Beginikah mirisnya kisah hidupku? Diserang, dijadikan maid, menikah, dan dibuang.' Batin Anna ia merasa kalau matanya sudah mulai memanas ia pun dengan cepat menyuapkan makanan yang sudah disiapkan maid sebelumnya. ******* Pack Silvermoon Tio menghentikan aktivitasnya yang sedang mengamati tumpukan dokumen yang ada dihadapannya. Ia menghela napas berat. "Kenapa aku juga harus bekerja menggantikannya. Tumpukan dokumen ini membuatku kesal!" Tio hendak membuang dokumen itu, namun ia urungkan karena ada seseorang yang mengetuk pintu. Toktoktokk! "Masuk." Balas Tio kesal. Ia yakin orang yang mengetuk pintu adalah Andrian. Tak lama pintu terbuka dan terlihatlah Andrian di balik pintu. Ia pun segera masuk lebih dalam. "Maaf mengganggu alpha." Ucap Andrian sopan. "To the point saja!" Kesal Tio. "Luna, apakah anda tak berniat mencarinya?" Tanya Andrian membuat Tio menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa mencarinya jika dia masih berada di mansion ini." Jawab Tio santai lalu mengambil salah satu dokumen yang ada di hadapannya. "Sudah saya duga. Anda tidak tahu luna ada di mana." Putus Andrian. Tio menatapnya tajam. "Apa maksudmu?!" Tanya Tio berdiri dan menggebrak meja. "Luna tidak berada di sini alpha, ia berada di pack redmoon." Jawab Andrian menjelaskan Tio. "Penjaga bilang, luna sudah memberitahukan hal itu pada anda. Tapi, ternyata anda tidak mengetahui hal itu sama sekali." Lanjut Andrian dengan nada meremehkan. Yah, karena dia sudah tahu kalau yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Thomas. Tio terdiam membisu tak bisa berkata apa-apa. Ia terlihat seperti merasa bersalah? Entahlah, ekspresinya tak bisa dijelaskan. "Keluar!" Usir Tio. Membuat Andrian mau tak mau keluar dari ruangan itu. Tio menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Andrian. "Apa aku salah dengar? Dia seperti meremehkanku tadi?" Gumamnya duduk dan melanjutkan kegiatannya membaca tumpukan dokumen yang masih setia berada di hadapannya. . . . Malam hari.. Akhirnya Tio selesai dengan kegiatannya membaca tumpukan dokumen itu. Ia pun merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk. "Ah, kenapa si Thomas itu menjadi seorang alpha?! Bikin repot saja!" Gumamnya mendelik kesal sampai tatapan matanya tertuju pada buku diary Thomas. "Apa mungkin dia sudah membaca pesan ancaman dariku?" Tanyanya entah pada siapa. Tio mengambil buku diary itu dan langsung membuka halaman terakhirnya, namun bukan halaman terakhir yang terbuka melainkan halaman kedua terakhir yang telah berisi balasan Thomas(baca part 'My Mate Hate Me'). Tio tersenyum devil membaca balasan itu, ia pun menaruh buku itu tanpa berniat membalas balasan Thomas. Sampai ia mengingat percakapan dirinya dengan Andrian beberapa saat yang lalu. "Pack Redmoon? Bukankah aku sudah menaklukkan pack itu? Lalu bagaimana– ah, pasti Thomas yang memberikan pack itu kembali kepada mertuanya." Tio pun keluar dari ruang kerjanya menuju ke kamar dan melakukan ritualnya sebelum tidur, mandi. . . . Tio keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya. Ia mengacak rambutnya yang masih basah dengan tangan kosong. Ia berjalan ke arah cermin dan menatap pantulan dirinya di sana lebih tepatnya pantulan Thomas. "Balas dendamku akan segera tercapai. Bersiaplah! Kau merasakan sakit saat matemu me-rejeckmu!" . . . Pack Redmoon.. 7 hari berlalu begitu cepat dan hampa bagi Anna. Akhir-akhir ini ia sering berdiam diri di kamarnya bahkan untuk makan pun Anna enggan menuju ruang makan sehingga para maid lah yang membawakan makanan untuk nya. Hal itu membuat Rainha khawatir dengan keadaan putrinya. Ia pun menggantikan maid yang sudah berada di depan pintu kamar Anna sambil membawakan makanan untuknya. Toktoktokk.. Rainha mengetuk pintu kamar Anna dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang nampan yang berisi makanan untuk Anna. "Masuk saja. Pintunya tidak terkunci." Balas Anna dari dalam. Mendengar itu Rainha langsung menarik kenop pintu lalu mendorongnya. Setelah masuk, ia menutup pintu dan berjalan menuju nakas di samping kiri kasur Anna dan menaruh nampan yang sejak tadi ia bawa. Anna tidak menyadari kehadiran ibunya. Saat ini ia sedang duduk di jendela kamarnya sambil melihat pemandangan di luar sana. "Sayang." panggil Rainha lembut sambil memegang bahu kiri Anna. Anna tersentak. Ia pun segera berbalik dan melihat siapa yang memegang bahunya. "Ibu." Ucap Anna setelah melihat Rainha yang menatapnya tersenyum. Rainha mengelus puncak kepala Anna dengan sayang. "Makan dulu, ini udah siang." Ujar Rainha sambil melirik makanan yang ia taruh di nakas. Anna mengangguk lalu berjalan dan duduk di pinggir kasurnya. Rainha pun mengikuti Anna dari belakang. "Kapan Thomas datang ke sini? Apa dia tidak merindukanmu? Kamu lebih lama di sini daripada bersamanya. Apa telah terjadi sesuatu?" Tanya Rainha setelah Anna menghabiskan makanannya. Anna diam cukup lama, ia sedang berpikir apa alasan yang tepat agar ibunya tidak mengkhawatirkannya. "Hmm.. begini bu, Thomas memberiku waktu untuk bersama dengan ayah dan ibu karena merasa bersalah dengan apa yang ia perbuat dulu." Jelas Anna berdusta. "Kalau kamu ada masalah cerita pada ibu ya. Jangan memendamnya sendiri." Ujar Rainha memeluk Anna dan langsung dibalas oleh Anna. Sebenarnya ia tahu kalau anaknya sedang berbohong padanya. Namun, ia memberikan Anna waktu untuk menceritakan masalahnya nanti setelah ia sudah siap. "Kalau begitu ibu keluar dulu kasian ayahmu di ruang kerjanya sendirian." Ucap Rainha pamit yang mendapat decakan dari Anna. "Ckckckck.. memangnya ayah masih kecil apa?" Balas Anna sinis. "Kamu tahu sendiri bukan, ayahmu manjanya seperti apa." Ucap Rainha dan keluar dari kamar putrinya. "Yah, aku sangat tahu bu. Sangat sangat tahu!" Gumam Anna sendiri. Anna menghirup oksigen cukup banyak dan menghembuskannya. Ia melakukan itu selama berulang-ulang. "Seandainya mateku bisa seperti ayah yang selalu menginginkan ibu kapanpun dan di manapun. Sepertinya itu adalah mimpiku yang tak akan pernah terwujud." Pikir Anna lalu terlelap tenggelam dalam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN