Pagi hari..
Sinar matahari pagi yang menyilaukan membangunkan Anna dari tidur nyenyaknya. Ia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa dirinya tak berada di kamarnya yang dulu, ia berada di kamar Thomas, suaminya. Dan sekarang kamar ini juga miliknya, milik mereka berdua.
Anna ingin mengubah posisinya menjadi duduk, namun ia merasa ada yang memeluk pinggang rampingnya lalu ia menolehkan kepalanya ke kiri untuk melihat siapa yang memeluknya dan terlihatlah Thomas yang masih tertidur dengan lelap.
Anna menatap wajah suaminya lekat-lekat, 'Tampan' pikirnya. Ia terus memandangi suaminya sampai puas dan mengarahkan tangannya untuk mengusap pelan wajah suaminya.
Thomas merasa ada yang menyentuh wajah tampannya, lalu ia menggeliat dan membuka matanya. Dilihatnya mata hazel milik Anna yang menatapnya intens.
"Selamat pagi sayang." Sapa Anna lembut.
"Selamat pagi juga sayang." Balas Thomas dengan senyum manisnya yang membuat semua wanita yang melihatnya akan meleleh, termasuk Anna.
Cuuppp
Thomas mengecup bibir Anna singkat.
"Morning kiss." Ucap Thomas setelah mengecup bibir Anna.
Anna terkejut dengan tingkah suaminya, yang menurutnya sangat romantis membuat pipinya merona seketika.
Thomas sangat gemas melihat istrinya yang merona karna dirinya. Iapun mencubit pipi Anna yang merona.
"Untukku mana?" Tanya Thomas menggoda Anna.
Tanpa pikir panjang Anna langsung mengecup bibir Thomas lalu ia berlari ke kamar mandi karna ia malu dengan tingkahnya yang menurutnya nakal.
Thomas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya, sangat lucu menurutnya.
Thomas tinggal 45 menit lagi, Tio akan mengambil alih tubuh kita. Ucap Tommy memulai mindlink.
'Iya Tommy, aku tau itu. Kita tak bisa berbuat banyak. Semoga mate kita datang ke ruang kerjaku, secepatnya. Agar mate kita tau apa yang sebenarnya terjadi'. Balas Thomas pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.
Ya.. semoga saja. Kita hanya bisa berharap sekarang. Jawab Tommy putus asa dan memutuskan mindlink.
***
Tak lama Anna keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Iapun melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Eh..!" Pekik Anna saat 2 lengan kekar melingkar di pinggangnya.
"Maaf sayang.. aku membuatmu terkejut." Lirih Thomas.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku harus terbiasa akan hal ini." Balas Anna ia menarik kepala Thomas untuk bersandar pada bahunya. Thomas tak membantah, iapun menghirup dalam aroma tubuh Anna dan ia sangat menikmati aroma tubuh istrinya, sesekali ia mengecup leher, bahu dan pipi Anna.
Setelah selesai dengan kegiatannya Thomas bertanya..
"Kamu... masih ingat dengan janjimu.. kan?"
"Iyaaa.. sayaaang.. aku masih ingat." Jawab Anna memainkan rambut Thomas.
"Mandi sana!" Suruh Anna pada Thomas.
"Aku ingin mandi bareng kamu". Balas Thomas manja.
"Tapi aku udah mandi jadi-" Ucapan Anna terpotong.
"Tinggal mandi lagi apa susahnya sih!" Potong Thomas cepat lalu membopong tubuh Anna ke kamar mandi.
"THOMAASSS!!". Teriak Anna kesal karna ia dibawa untuk mandi lagi.
Terdengar decakan dan desahan setelah Thomas dan Anna memasuki kamar mandi. (Maklum pengantin baru belum puas.. #plakk).
****
Anna keluar dari kamar mandi bersama dengan Thomas.
"Kamu kenapa sayang? Wajahmu terlihat pucat." Ucap Anna khawatir melihat wajah Thomas yang semakin lama semakin pucat.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Thomas serak dan lemah.
"Tidak tidak kamu sedang kenapa-kenapa sekarang! Kamu pakai baju terus istirahat!" Tegas Anna yang diangguki oleh Thomas.
Anna mengambilkan Thomas baju, celana beserta underwerenya. Ia juga membantu suaminya berpakaian karna Thomas sempat kesulitan saat memakai baju kaos yang ia ambilkan. Thomas benar-benar tak bertenaga.
Setelah Thomas selesai berpakaian, Anna membantu Thomas untuk berbaring di kamar dan menyelimutinya.
"Aku ambilkan makanan untuk sarapan sebentar." Ucap Anna yang diangguki oleh Thomas. Lalu ia pergi ke dapur untuk mengambilkan Thomas makanan.
.
.
.
.
Tak lama kemudian Anna kembali dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas s**u. Anna menutup pintu kamar dengan satu tangan sebelum menghampiri suaminya. Setelah menutup pintu kamar Anna menaruh nampan yang ia bawa di nakas yang berada di samping ranjang.
"Sayang, bangun! kamu harus sarapan dulu setelah itu kamu bisa lanjut istirahatnya". Anna membangunkan Thomas dengan menggoyangkan bahu Thomas pelan. Anna berhasil membangunkan suaminya. Terbukti karena Thomas mulai menggeliat kecil sampai ia membuka matanya dan ternyata iris matanya berwarna merah, menandakan kalau dia bukan Thomas melainkan Tio, other sidenya.
Tio melihat Anna terkejut dan melihat sekelilingnya dan menyadari kalau dirinya berada di kamar Thomas. 'Kenapa matenya Thomas bisa berada di sini? Tidak memakai seragam maid juga. Ah, karena dia berada di sini aku bisa mengambil alih tubuh Thomas lagi. Thomas memang bodoh! Aku sudah bilang padanya kalau ia bertemu dengan matenya maka aku bisa mengambil alih tubuhnya' batinnya memerhatikan Anna dari atas ke bawah.
"Ah, hai Anna. Kita bertemu lagi." Sapa Tio, sambil mengubah posisinya yang awalnya berbaring menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang.
Anna mengernyit bingung tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh 'suaminya.'
"Apa maksudmu? Aku hanya pergi mengambil sarapan untukmu.. kenapa kamu berkata seolah-olah kita tak bertemu selama beberapa hari." Balas Anna sambil mengambil bubur dan hendak menyuapi Tio.
Kali ini Tio yang terlihat bingung karena ucapan Anna. Melihat Anna yang hendak menyuapi dirinya ia langsung bergerak cepat.
"Aku akan makan sendiri". Ucap Tio dengan nada dinginnya. Iris matanya yang merah menatap Anna tajam sambil melirik pintu kamar.
"Keluarlah!" Usir Tio tanpa melirik Anna sedikitpun.
"Kamu mengusirku? Aku ini istrimu!" Anna menatap Tio jengah. Anna bingung 'kenapa sifat Thomas bisa berubah drastis dalam waktu kurang dari 5 menit?' Batinnya.
'Istri?'. Batin Tio kemudian ia melirik leher Anna dan melihat tanda bulan sabit dan bintang.
"Tanda itu." Gumam Tio yang dapat didengar oleh Anna.
"Kamu yang membuatnya semalam. Kita sudah menikah Thomas. Kita menikah kemarin". Jelas Anna mambuat Tio tak bisa berkata-kata.
'Haha.. apa aku tak salah dengar? Itu berarti tubuh ini sudah menjadi milikku seutuhnya. Karena aku tidak akan pergi lagi.. dan Thomas ucapkanlah selamat tinggal pada matemu'. Batin Tio, ia menyeringai.
"Ah, begitukah? Tapi, aku ingin sendiri saat ini. Jadi, bisakah kamu keluar sekarang." Pinta Tio, lebih tepatnya mengusir Anna secara halus.
Anna sangat ingin mengeluarkan amarahnya mendengar ia diusir untuk kedua kalinya namun, ia mengingat bahwa kondisi 'suaminya' sedang tidak baik ia memilih untuk mengalah daripada terus berdebat.
"Baiklah. Aku keluar." Ujar Anna. Lalu keluar dari kamar itu. Ia akan kembali ke kamarnya yang dulu.
Dalam perjalanannya menuju kamarnya, ia hanya memikirkan perubahan sikap Thomas yang sangat tak wajar. Dan..
BRUUUKK
Anna menabrak seseorang, ia menabrak Andrian.
"Ah, luna maaf saya tidak-"
"Kau tak salah Andrian. Yang salah itu aku, aku berjalan sambil melamun". Potong Anna cepat sebelum Andrian menyelesaikan kalimatnya.
"Ah, baiklah luna. Kalau boleh saya tahu, apa yang anda pikirkan?". Tanya Andrian mengikuti Anna yang berjalan pelan di depannya.
"Bukan apa-apa". Jawab Anna tak ingin memberitahu Andrian apa tang telah terjadi.
Andrian mengerti tak ingin bertanya lebih lanjut mengenai apa yang dipikirkan oleh Anna.
"Hmm.. kalau begitu anda mau pergi kemana?" Tanya Andrian karena ia baru menyadari kalau jalan yang mereka lalui adalah jalan menuju kamar para maid.
"Aku mau ke kamarku yang dulu. Aku ingin bertemu dengan sahabatku. Kau pergilah, pasti kau punya banyak pekerjaan". Jawab Anna tersenyum tipis.
"Tidak, luna. Biarkan saya mengantar anda sampai menemui sahabat Anda". Tawar Andrian.
"Terserah kau saja". Pasrah Anna.
.
.
.
.
Anna sampai di depan pintu kamarnya. Dilihatnya kamar Lina yang berada tepat di samping kiri kamarnya terlihat sepi.
'Ah, ini masih pagi. Ia pasti masih bekerja.' Batin Anna menatap pintu kamar Lina yang tertutup rapat.
"Luna. Sepertinya sahabat Anda masih bekerja. Apa anda tidak mau kembali ke kam-"
"Aku akan menunggunya di dalam. Kau pergilah."
"Baik, luna. Saya pamit." Pamit Andrian berlalu meninggalkan Anna.
Setelah Andrian pergi, Anna langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju kasur dengan gontai mengingat apa yang baru saja terjadi.
Anna duduk di pinggir kasur, kejadian saat 'suaminya' mengusirnya selalu terputar ulang membuat bulir bening itu menetes dari matanya.
"Apa aku telah melakukan suatu kesalahan? Kenapa ia mengusirku lagi?". Tanya Anna di sela tangisnya, ia menahan isakannya.
Anna tenanglah, mungkin Thomas tidak ingin terlihat lemah di hadapan kita sehingga ia meminta kita pergi. Ujar Nithy memindlink Anna, agar Anna bisa berfikir positif.
'Entahlah Nithy. Sekarang pikiranku sedang kacau. Aku tak bisa berfikir positif sekarang'. Ucap Anna lalu memutuskan mindlink.
.
.
.
.
.
.
4 Jam pun berlalu, selama itu pula Anna mencoba untuk menenangkan pikiran dan hatinya, mencoba untuk berfikir positif dan berhenti menangis. Tapi, usahanya sia-sia ia tidak bisa melakukan semua itu, semakin ia berusaha semakin ia terpuruk. Wajahnya menjadi kacau, rambutnya berantakan, matanya membengkak, pipinya memerah karena mengusap air matanya dengan kasar, dan bibirnya pucat pasi karena ia tidak sarapan, padahal ini sudah waktunya makan siang.
TOKTOKTOOKK
"Anna, apa aku boleh masuk". Tanya seorang wanita yang mengetuk pintu kamar Anna.
Anna mengenali suara itu, itu suara Lina. Dengan cepat ia mengusap pipinya yang basah dan mencoba menyisir rambutnya dengan tangannya namun itu tak membuahkan hasil malahan itu membuat rambutnya semakin berantakan.
"I.. ya. Masuk aja Lin. Pintunya tidak ku kunci kok". Balas Anna dengan suara serak. Anna merutuki suaranya yang baru saja keluar.
Tak lama pintu kamar Anna terbuka dan terlihatlah sosok Lina yang muncul dari balik pintu. Lina belum melihat bagaimana keadaan Anna karena ia menutup pintu terlebih dulu. Setelah selesai dengan urusan pintu Lina berbalik, alhasil ia terkejut melihat keadaan Anna yang sangat berantakan.
"Astaga! Anna apa yang sudah terjadi?! Kenapa kamu seperti ini?". Tanya Lina syok ia bahkan lupa kodrat Anna yang telah menjadi seorang 'Luna' , ia berlari menghampiri Anna yang duduk di pinggir kasur.
Anna langsung memeluk Lina lalu menceritakan apa yang telah terjadi, menceritakan semua hal yang membuatnya berfikir keras.
.
.
.
Malam hari..
Anna berjalan melewati lorong-lorong mansion pack silvermoon untuk menuju kamarnya dan Thomas. Ia sudah tak memikirkan kejadian tadi pagi yang membuatnya menangis berjam-jam lamanya. Ia berfikir Thomas ingin istirahat sendiri di kamar karena tak ingin diganggu siapapun termasuk dirinya yabg berstatus sebagai istri dari Thomas.
Anna telah sampai di depan pintu, tanpa berniat untuk mengetuk terlebih dulu ia langsung membuka pintu kamar tersebut dan melihat..
'Suaminya' alias Tio sedang berciuman dengan wanita lain, tak lama ciuman Tio turun ke leher wanita itu. Ia membulatkan matanya tak percaya dengan yang dilihatnya. Tak puaskah kamu melakukan 'itu' bersamaku semalam? Batin Anna melihat 'peristiwa' yang ada di hadapannya.
"APA TANG KALIAN LAKUKAN?!!". Teriak Anna marah. Ya, dia sangat marah saat ini.
Si wanita tampak terkejut melihat kedatangan Anna yang tiba-tiba tanpa suara. Sontak ia langsung menjauhkan Tio yang masih menciumi lehernya.
Sedangkan Tio hanya melirik Anna sekilas. Iris merahnya menatap Anna dingin seolah-olah ia merasa terganggu atas kehadiran Anna yang mengganggu aktivitasnya.
"Bukankah kamu sudah melihatnya!". Jawab wanita itu menatap Anna sinis.
"KAU!!". Anna menunjuk wanita itu.
"Dasar w************n!! Apa kamu tidak tahu orang ada di sampingmu itu sudah menikah?!". Umpat Anna dan bertanya sinis.
"Saya sudah tahu luna. Tapi, kalau alpha yang meminta saya untuk 'memuaskan' dirinya bagaimana saya bisa menolaknya". Jawab wanita itu tersenyum lebih tepatnya menyeringai.
"Haha.. kau benar-benar w************n. Tentu saja kamu bisa menolaknya jika kamu memiliki harga diri yang tinggi". Ucap Anna merendahkan wanita itu.
"Cukup Anna! Jaga ucapanmu!!". Ucap Tio membela wanita yang saat ini masih berada di sampingnya.
"Hah.. sekarang kamu membela w************n itu dari pada aku yang berstatus sebagai mate dan istrimu?!!". Tanya Anna dengan nada tingginya.
"Tentu saja". Jawab Tio santai.
"Cukup sudah! Aku muak denganmu Thomas!! Aku benci padamu!!". Teriak Anna pada Tio.
BRAAAKK
Anna menutup pintu dengan kasar saat melirik wanita di samping Tio menyeringai kepadanya.
.
.
Tio melirik wanita di sampingnya dengan malas.
"Kamu melakukan tugasmu dengan baik. Pergilah". Ucapnya tanpa berniat untuk melihat wanita itu lebih lama.
Wanita itu mengangguk lalu menghilang, ternyata wanita itu adalah wanita yang dibuat Tio dari sihirnya.