Menyembuhkan Demam

1249 Kata
Caitlin membawa mobil pribadi sebagai transportasi berangkat pulang ke mana pun. Pagi ini, mobilnya ia parkirkan di depan pintu masuk yang mana jelas itu tidak seharusnya dilakukan, banyak lahan parkir yang masih kosong bisa digunakan. Secara tergesa, Caitlin membawa Bevrlyne ke ruang kepala sekolah. Dikarenakan tubuh Bevrlyne yang agak lemah, ia agak sulit untuk memapahnya. Untunglah pada saat itu Belverick datang tepat waktu lalu membantu memapah Bevrlyne. “Aku tak menyangka bahwa keadaannya jauh lebih parah dari yang kukira.” Belverick berbicara tak percaya saat melihat keadaan Bevrlyne yang sudah begitu lemah. Saat ini mereka sedang berjalan secepatnya di lorong untuk menuju ruangan kepala sekolah. “Kenapa kita tidak membawa putriku ke rumah sakit saja? Aku tidak tega memaksanya berjalan seperti ini.” Caitlin terdengar sangat tidak setuju dengan gagasan untuk membawa Bevrlyne ke sekolah dalam keadaan seperti ini. Belverick menggelengkan kepalanya. “Andaikan ini demam biasa, maka aku bisa memintamu membawanya ke rumah sakit, tapi ini adalah sesuatu yang berbeda.” Caitlin jelas tidak mengerti dengan apa yang coba Belverick sampaikan padanya. “Apa maksudnya?” tanyanya. “Biar kujelaskan nanti.” Setelah itu, Belverick segera memangku Bevrlyne lalu berlari sebisanya tanpa membuat ia tersanndung atau sampai celaka. “Kenapa tidak kau lakukan sejak tadi?” Caitlin memprotes ketika melihat pria yang menjadi kepala sekolah itu sudah berada cukup jauh di depan, ia segera berlari menyusul temannya itu. Ketika mereka masuk ke dalam ruangan yang sudah diubah menjadi ruang rawat. Benda-benda yang seharusnya berada di dalam ruangan kepala sekolah benar-benar sudah lenyap. Caitlin merasa bahwa ia memasuki ruangan lain, ia menganggap mereka telah salah masuk ke dalam ruangan. Kantor kepala sekolah yang dirinya ingat tidak memiliki pemandangan yang seperti ini. Di dalam ruangan itu tak terdapat jendela, tak ada barang-barang khusus yang menyimpan berkas atau sesuatu yang penting seperti biasa. Ruangan yang dilihat adalah tempat yang lebih mirip dengan laboratorium di mana seluruhnya berwarna putih dan terdapat sekat kaca yang membatasi daerah luar dengan ruang operasi. Tubuh Bevrlyne dibaringkan di atas ranjang luas yang terlihat empuk dan nyaman. Di samping ranjang ada seorang wanita muda berambut hitam panjang dengan pakaian kulit yang ketat. Ia seperti seorang yang hendak berkendara sepeda motor besar dengan pakaian bergaya seperti itu. “Lalu, apa maksud dari semua ini?” tanya Caitlin yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia masih tidak percaya bahwa ruangan kepala sekolah bisa berubah seperti ini. Bagaimana caranya? Rasanya ini tidak masuk akal, soalnya untuk membuat ruangan yang seperti ini, diperlukan waktu lebih dari satu bulan untuk menyelesaikannya, sementara ia sendiri tahu bahwa kemarin ruangan yang menjadi kantor kepala sekolah masih tampak normal seperti biasanya. “Dengar, ini mungkin akan membuat kau tak percaya, bahkan menganggapku sedang mengatakan lelucon, tapi apa yang akan kusampaikan adalah sesuatu yang serius.” Belverick berjalan ke samping Caitlin. “Jadi, anak ini yang terkena serangannya?” tanya wanita yang memperhatikan Bevrlyne tanpa melakukan apa-apa, Bevrlyne dan Caitlin segera menoleh ke arah wanita yang keberadaannya tidak mereka sadari karena terlalu fokus memandangi perubahan kantor kepala sekolah yang sekarang. Wanita itu segera memegang pergelangan tangan Bevrlyne seperti memeriksa denyut nadinya. “Ya, segera tangani dia dengan baik.” Belverick menjawab lalu memerintahkan si wanita yang sudah memulai tugasnya walau sebelum diperintah. “Aku tak menyangka bahwa keadaannya akan separah ini.” Wanita itu mengembalikan posisi tangan Bevrlyne ke tempatnya lalu berjalan menuju meja di mana terdapat alat-alat yang dirinya perlukan untuk melakukan pengobatan. “Siapa dia?” tanya Caitlin, sudah banyak kenalan Belverick yang sudah dirinya kenali, tapi wanita ini? Ia merasa agak asing. Apalagi postur tubuhnya yang tinggi, cantik, berkulit putih serta rambut hitam pekat mengilap, sama persis seperti yang Bevrlyne miliki. “Dia adalah orang yang kumaksud, namanya adalah Rexalia.” Belverick mengenalkan si wanita yang ternyata bernama Rexalia. Sementara si pemilik nama sama sekali tidak menanggapi meski namanya disebut, ia sudah menyiapkan semua benda yang dibutuhkan di atas baki lalu menaruh baki itu di atas meja. “Nama yang asing.” Caitlin berkomentar pelan. Rasanya hampir tidak ada nama seperti itu di beberapa negara, selain itu postur tubuh dan segala penampilannya tidak mirip dengan ciri khas negara mana pun. Caitlin juga sadar bahwa pupil mata Rexalia berwarna hitam pekat, warna yang mustahil dimiliki oleh manusia karena tidak ada pigmen gelap pada pupil pada semua mata manusia di seluruh dunia. Caitlin tidak sadar bahwa mata Bevrlyne dan Belverick juga memiliki warna yang sama gelapnya dengan mata Rexalia. “Bicaranya nanti saja, aku harus segera mengurus anak ini. Racunnya sudah menyebar dan merusak seluruh tubuhnya.” Rexalia menyela membuat semuanya terkejut. “Jika tidak keberatan, aku akan memulai pengeluaran racunnya dan tolong kalian menunggu di luar saja.” Sambil bergerak bekerja, Rexalia berbicara agak cepat, secara halus ia mengusir Belverick dan Caitlin dari tempatnya akan bekerja. “Racun? Racun apa?” tanya Caitlin yang langsung kaget, ia tidak memedulikan usiran dari Rexalia ketika mendengar bahwa pada tubuh anaknya terdapat racun. “Baiklah, kuserahkan anak itu padamu. Ayo, Cait.” Belverick patuh lalu hendak menuntun Caitlin mundur keluar dari ruangan kaca itu, biar mereka menunggu dan melihat pekerjaan Rexalia di luar saja. “Aku akan berusaha.” Rexalia membalas cepat tanpa menoleh. Tentu Caitlin tidak mau terima begitu saja, ia sangat panik dan khawatir saat mendengar ada racun di dalam tubuh Bevrlyne. “Tunggu dulu, jelaskan padaku kenapa bisa putriku keracunan? Apa ada yang salah?” tanyanya penuh kekhawatiran, sementara Bevrlyne sendiri tampak biasa saja pada saat mendengarnya, seperti sudah mengira bahwa kondisinya yang seperti itu disebabkan oleh sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya dari monster yang menyerang dirinya satu minggu yang lalu. “Kita bicarakan semua ini nanti setelah dia mengurus putrimu. Untuk sekarang biarkan dia bekerja.” Belverick mencoba memberi perhatian pada Caitlin yang bahunya ia pegang untuk ditarik mundur. “Tapi ....” “Caitlin, percaya pada temanku, putrimu akan diurus dengan baik.” Atas bujukan Belverick, akhirnya Caitlin mau mundur ke luar dinding kaca yang membatasi daerah operasi dengan daerah untuk menunggu. Pintu kaca ditutup rapat, Belverick memutuskan duduk di atas kursi yang posisinya memunggungi kaca transparan itu, smentara Caitlin memandangi putrinya dengan menempelkan dua tangan pada kaca itu. Bevrlyne yang melihat ibunya memantau dengan tatapan penuh kekhawatiran langsung tersenyum berusaha memberi tahu pada ibunya bahwa dirinya baik-baik saja saat ini. Setelah itu ia mengalihkan tatapannya pada Rexalia. “Bagaimana bisa kau tahu bahwa aku terkena serangan?” tanya Bevrlyne saat Rexalia sedang memyambung sebuah alat seperti lampu neon dengan pipa elatis tepat di atas tubuh Bevrlyne dengan jarak sekitar tiga puluh senti. Bevrlyne menanyakan ini karena merasa heran. Seingatnya, hanya dirinya dan Velgard saja yang tahu kejadian malam hari tepat satu minggu yang lalu. “Itu cerita yang panjang, untuk saat ini kau hanya perlu tahu bahwa aku di sini untuk membantumu.” Rexalia membalas, ia sepertinya belum bersedia untuk menjawab dan menceritakan hal yang membuat dirinya bisa tahu semua itu. Bevrlyne memahami itu, maka ia segera mengalihkan topik. “Apa lukaku parah?” “Sebenarnya serangan itu tidak parah, tapi racun yang makhluk itu berikan padamu membuat kondisi tubuhmu begitu parah. Ini akan menjadi operasi yang cukup lama, aku harap kau bisa menahannya.”Rexalia menuturkan sambil kedua tangannya tidak berhenti bekerja, ia sudah selesai memasang benda yang entah apa fungsinya, tapi setelah selesai, ia memgangkat benda itu sehingga ketinggiannya sekitar satu meter di atas tubuh Bevrlyne. Apabila benda itu mengeluarkan cahaya, maka sekujur tubuh Bevrlyne akan tersinari cahayanya. “Begitu rupanya.” “Aku akan membuka bajumu, boleh?” Rexalia meminta izin ketika ia akan memulai merawat tubuh Bevrlyne.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN