006. Gagal Romantis

1835 Kata
Kedekatan intens dan intim itu tidak berhenti. Bella. Meskipun ia setengah mati menginginkan Ares, tapi ia masih berlagak tidak ingin menyentuh pemuda itu duluan. Pokoknya Bella masih bertahan dengan aktingnya! Walaupun hasrat dalam dirinya sudah meronta-ronta dan tangannya nyaris menyentuh otot kencang di perut Ares. Ia pasif. Tapi ia membiarkan Ares menjajah dirinya. Darahnya semakin berdesir karena sentuhan dari pemuda itu. Ia memejamkan mata. Di saat bersamaan, Ares membuka kaos. Tubuh atletisnya itu pun mulai mendekap Bella lagi. Mata Bella terbuka. “Lo mau apa?” tanya Bella berusaha terlihat polos dan innocent. “Makanan penutup gue ketinggalan di sini.” “b******k lo,” maki Bella pelan. Namun Ares keburu membungkamnya lagi dengan satu kecupan panas. Akhirnya level gengsi dan kepura-puraan Bella turun drastis. Bella sudah tidak tahan lagi. Ia mulai mengambil alih kendali: menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ares, lalu menyesap kulit lembut pemuda itu. “Bel, please jangan di situ. Besok gue syuting!” tahan Ares sedikit panik. Sesapan Bella terhenti, tapi wajahnya masih tenggelam di leher Ares yang hangat. “Bacot,” gerutu Bella sok galak. “Lo boleh cium gue di mana pun,” bisik Ares dengan tangan yang mulai nakal menjamah perut Bella. “Tapi jangan di leher, ya.” Akhirnya Bella mengikuti permintaan Ares. Wajahnya mulai turun, mengarah di collar bone Ares dan semakin turun. Di balik juteknya, sungguh, Bella bahagia akhirnya bisa memiliki Ares seutuhnya malam ini. Dadanya berdebar-debar. Hasratnya semakin naik. Ia sudah tidak bisa mengendalikan diri. Sampai akhirnya…. Degg! Bella berhenti mengecup tubuh Ares. Raut wajahnya perlahan berubah. Ia mematung cukup lama hingga Ares kebingungan. “Kok berhenti?” tanya Ares bingung. Rahang Bella mengeras. Sejak tadi fokusnya tidak berubah. Terpaku pada satu area, tepatnya pada beberapa tanda merah yang ada di d**a Ares. Bella menatapnya dengan marah. “Lo habis make out sama siapa?” Sontak Ares menatap dadanya sendiri. Oh, sial! Rupanya kissmark dari Anya yang menghentikan aksi Bella. Ares pun menarik napas panjang. “Penting gitu gue make out sama siapa?” balas Ares. Bella tidak menyahut, tapi tatapan tajam penuh amarahnya tidak berkurang. “Kan gue udah bilang, kita jalan masing-masing. Jangan ikut campur urusan gue,” sambung Ares dengan datar. Ia menghentakkan tubuh Bella ke arahnya. “Tapi karena kita suami istri, nggak salah dong kalo gue tidur sama lo?” Raut wajah Bella semakin mengeras. Ia menatap Ares dengan tatapan penuh kebencian. “Lo emang b******k….” “Gue nggak b******k. Jujur, gue nggak mau ngelakuin ini sama lo. Tapi gue lagi panas banget dan lo tetiba peluk, terus nyusul gue ke kamar. Lo masih mau nyalahin gue?” Bella menepis tangan Ares dengan kasar. “Oke. Terserah lo mau make out atau tidur sama siapa pun,” desis Bella marah. “Tapi jangan pernah sentuh gue setelah lo bersenang-senang sama cewek lain. Jijik gue!” Bella melangkah dengan hentakan kuat. Sebelum ia mencapai pintu, ia berbalik lagi dan menatap Ares dengan kilatan kemarahan. “Lupain yang tadi. Anggep nggak pernah terjadi. Hasrat lo bukan tanggung jawab gue.” Setelah bertitah tegas, Bella keluar dari kamar dan membanting pintu. Ares terpaku dalam keheningan kamar. Dengusan kesal meluncur. Ia mengacak-acak rambut dengan frustrasi, lalu duduk di pinggir ranjang dengan wajah muram. Hasratnya masih tinggi dan tubuhnya masih panas. Ia masih butuh pelampiasan! Dengan berat hati, Ares meraih ponsel. Ia mencoba menghubungi seseorang. “Halo….” “Halo, Anya. Kamu belum tidur?” sapa Ares lembut. “Belom. Lagi packing buat besok. Kenapa, Sayang?” “Aku masih kangen kamu,” jawab Ares pelan. “Aku nginep di sana, ya?” “Ih, tadi pas aku tanyain katanya ga bisa. Kok dadakan banget sih?” “Gara-gara video call tadi, aku jadi kepikiran kamu terus….” Anya tertawa pelan dari seberang sana. “Ya udah, sini. Aku tunggu, ya.” “Mau aku bawain apa, Babe?” “Nggak usah. Liat kamu aja udah lebih dari cukup buat aku, Res,” balas Anya lembut. Hati Ares agak perih mendengarnya. Perlahan ia menyahut, “Aku ke sana sekarang, ya….” “Oke, Sayang.” Ares mengakhiri panggilan. Ia bergegas mengenakan kembali pakaiannya, kemudian berjalan keluar dari kamar. Ia sempat tertegun sejenak saat melihat Bella yang duduk sambil minum di sofa. Keduanya bertatapan. Bella dengan sorot mata penuh amarah dan Ares yang terlihat datar-datar saja. Tanpa berkata apa pun, Ares keluar dari ruangan itu. Rahang Bella mengeras lagi. Sakit hati dan amarah di dadanya kian membuncah. Ia tidak tahu tujuan Ares. Tapi sepertinya ia tidak ingin tahu. Setidaknya untuk saat ini. Bella hanya ingin menata hatinya dulu sebelum berlanjut ke ide gila lainnya. *** Farrel Anggakusuma. Si adik tingkat manis nan tampan itu sibuk bernyanyi dengan gitar di ruangan organisasi jurusan. Dengan suara yang indah, sebenarnya ia bisa memikat hati mahasiswi lain. Tapi hati tidak bisa berbohong. Bagi Farrel, Bella adalah gadis terindah yang mampu meluluhkan hati. “Farrel,” panggil Bella tiba-tiba muncul. Seketika Farrel berhenti bernyanyi. Senyum manisnya berseri melihat Bella. “Iya, Kak?” “Aku mau ngomong,” ucap Bella serius. “Iya, Kak. Mau ngomong apa?” “Tiket yang kamu tawarin kemarin masih berlaku nggak?” “Masih, Kak! Masih banget! Kakak jadi mau pergi sama aku ke acara itu?!” sahut Farrel bersemangat. Bella tersenyum kecut. “Iya. Acara malmingku batal. Jadi aku mau ke konser aja.” “Oke, Kak Bel! Siap!” kata Farrel meletakkan gitarnya. “Jadi aku jemput di mana? Aku belum tau alamat Kak Bella.” Bella agak terkejut. Ia tidak menyangka Farrel akan langsung tancap gas bertanya alamat. Ia belum menyiapkan jawabannya. Rasanya tidak mungkin ia memberikan alamat apartemen Ares. “Ntar aku kasih. Aku lupa alamatnya,” kilah Bella cerdas. “Kak Bella nggak hapal alamat sendiri?” “Lupa-lupa inget. Daripada salah kan, mending aku kasih ntaran yak.” Farrel mengangguk. “Aku boleh chat Kak Bella di luar urusan tugas, kan?” “Boleh. Tapi mungkin aku slow response.” Senyum lebar Farrel merekah. “Gapapa, Kak. Yang penting dibales aja.” “See you, tomorrow ya,” kata Bella berusaha mengakhiri percakapan. “Hati-hati, Kak.” Bella tersenyum tipis, lalu meninggalkan tempat itu. Sambil berjalan, ia mengirim pesan untuk Nala. Arabella : La, lo dimana? Nyaris sepuluh menit kemudian Nala membalas pesan Bella. Nala : Di depan ruang dosen. Baru kelar konsul. Bella segera mengetik balasan. Arabella : Gue tunggu di parkiran. Gue udah di mobil. Ponsel Bella bergetar lagi. Nala hanya menjawab ‘oke’. Ia pun menunggu dengan sabar di kursi kemudi seraya mendengarkan lagu. Selang lima menit kemudian, barulah Nala muncul. Gadis berkulit putih pucat itu bergegas menghampiri mobil Bella. “Mau langsung balik?” tanya Nala memasuki mobil. “Ah, enggak!” tolak Bella mentah-mentah. Sikap Ares yang b******k semalam membuat hati Bella jengkel lagi. Wajahnya tertekuk muram sekaligus kesal. “Kenapa lo?” heran Nala. “Rencana gue kacau! Sialan tuh cowok!” maki Bella memukul setir mobil hingga Nala terkejut. “Wait…. Lo jadi masukin obat perangsang di dessert box itu?” “Iya!” balas Bella berapi-api. “Gue udah ciuman sama dia! Dia udah buka baju. Tinggal nananinu ena ena aja!” Nala kebingungan. “Terus???” “Di d**a dia ada bekas cupangan! Aaarrghhh! Gimana gak kesel gue, Nalaaaa…,” keluh Bella gregetan sendiri. “Lo bayangin perasaan gue! Dia lakik gue! Tapi malah enak-enakan sama cewek lain di luar sana! b*****t emang!” Nala mengangguk-angguk paham. Reaksi santai Nala membuat Bella semakin kesal. “Kok lo lempeng aja sih?!” “Terus gue harus gimana?” tanya Nala. “Ya ikutan marah kek! Maki-maki Ares kek! Apa kek! Women support women lo manaaaa???!!!” protes Bella berapi-api. Nala memutar bola matanya dengan jengkel. Kadang ia tidak mengerti kenapa masih betah bertahan dengan Bella dan segala kerandomannya. Ia jelas tahu bagaimana cara Bella mendapatkan Ares. Nala merasa sangat jahat bila ikut-ikutan menghujat pemuda itu. “Intinya, lo udah ngelakuin itu belom?” Nala berusaha mengalihkan kemarahan Bella. “Enggaklah! Kissmark-nya baru banget! Gak sudi gue gituan sama cowok yang habis dijamah cewek lain. Jijik!” “Ceraiin aja kalo jijik.” “Mulut lo ye. Nggak gitu konsepnya,” gerutu Bella. “Ya terus mau lo gimana? Kalo lo nggak mau sama cowok yang udah nananinu sama cewek lain, ya udah. Lagian sejak awal lo harus tau konsekuensi memaksakan kehendak. Lo juga tau kan dunia hiburan itu kayak gimana. Cowok ganteng selevel Ares yang tongkrongannya di night club, nggak mungkinlah masih polos.” Bella mendengus kesal. Ia tidak menampik pendapat Nala. “Gue nggak peduli soal itu. Gue cuma nggak mau gituan sama cowok yang baru banget mesra-mesraan sama cewek lain. Ya minimal ada jeda kek biar gue nggak ngerasa seburuk ini.” “Oke.” Bella meraih air mineral dan meneguknya hingga habis. “Udah marah-marahnya?” celetuk Nala. Bella menggeleng dengan judes. “Belum. Gue mau balas dendam sama Ares. Kalo dia bisa kayak gitu, gue juga bisa!” “Hah? Lo mau ngapain lagi, Bellaaaa?” Bella tersenyum miring. “Nggak apa-apa.” Mata Nala menyipit. “Lo suspicious banget, sumpah.” “Gue mau kencan sama Farrel malem minggu nanti. Hehehe,” jelas Bella terkekeh. “Farrel? Adek tingkat kita yang manis kayak gula itu? Yang ngejar-ngejar lo itu?” “Iya.” “Aduh, lo jangan cari perkara dong, Bel. Kalo ketauan gimana?” “Ares bilang, gue dan dia hidup masing-masing. Gak boleh ikut campur. Gue bebas ngelakuin apa pun. Jadi lo tenang aja. Aman,” sahut Bella yakin. Nala menarik napas dalam-dalam. Sulit sekali memang bicara pada si kepala batu Bella ini. Tapi di luar sifat kepala batunya, Bella adalah gadis yang baik di mata Nala. Setidaknya itu yang membuat Nala bertahan dalam pertemanan gila dengan Bella. “Malem minggu gue ke tempat lo ya. Gue mau kasih alamat lo aja buat Farrel. Dia mau jemput gue katanya,” sambung Bella. “Lo atur aja. Gue pusing.” *** “Cut!” Setelah sutradara berteriak, syuting hari itu pun resmi selesai. Ares duduk. Ia menyambar botol minuman dan menghabiskannya. Joe (sahabatnya) menghampiri Ares. “Res, gue mau nanya,” kata Joe duduk di samping Ares. Ares mengangguk sambil meletakkan botol. “Tanya apa?” Joe malah celingak-celinguk sejenak. Seperti memastikan bahwa tidak akan ada yang menguping. Sikap aneh Joe membuat Ares mengernyitkan dahi. Joe mendekatkan wajahnya pada Ares, seolah akan menyampaikan sebuah rahasia negara. “Lo inget pernah post foto tidur sama cewek di close friend instastory?” tanya Joe berbisik pelan. Degg! Seketika jantung Ares terasa berhenti berdetak. Padahal seharusnya ia tidak perlu sekaget itu. Jelas-jelas ia tahu bahwa Joe adalah viewers instastory itu. Tapi tetap saja… Ares kaget karena tidak menyangka Joe akan menanyakannya hari ini. Padahal foto itu sudah lewat seminggu. “Iya, gue inget. Gue pikir lo udah lupain story gue yang itu. Lo jangan cepu, ya.” “Gue nggak cepu. Gue juga nggak simpen foto itu. Tapi please kasih tau gue, lo nggak selingkuh dari Anya, kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN