“Gue memang bebasin lo mau ngapain aja. Tapi nggak gini.”
Ucapan Ares memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti. Bella hanya menguap kecil, lalu menatap Ares dengan acuh tak acuh. Sikap menyebalkan itu membuat Ares jengkel.
“Gue relain diri nikah buat nutupin skandal kita. Terus sekarang lo malah bikin skandal baru. Lo masih waras, kan?” oceh Ares mulai frontal.
“Lo udah denger klarifikasi dari Farrel?”
“Udah!” sambar Ares ketus. “Kenapa lo nggak bilang kalo lo ciuman sama dia?”
“Buat apa juga gue bilang? Lo kan nggak mau tau urusan gue.”
“Nggak gitu sistemnya!” tukas Ares sebal. Ia mencondongkan tubuh pada Bella yang duduk di hadapannya. “Denger. Memang bener, terserah lo dan terserah gue. Tapi lo juga harus tau batasannya.”
Bella memutar bola matanya dengan malas. “Kalau kayak gitu, bukan terserah lagi namanya. Sebenernya mau lo apa sih? Kalo lo emang cemburu dan ngarep lo jadi the only one-nya gue, bilang. Jujur aja. Paling gue ketawain.”
Sebuah kepercayaan diri yang luar biasa. Ares hanya tertawa pendek dengan sinis. Sepertinya Bella sedang berhalusinasi. Mana mungkin Ares menyukainya? Ares punya Anya. Si super model yang jelita, setia, dan baik hati. Mustahil ia akan goyah pada Bella.
Yeah, setidaknya itu yang ada di pikiran Ares. Pemuda itu lupa kalau beberapa hari yang lalu, ia nyaris goyah pada Bella. Tapi bicara soal batasan, Ares sangat serius. Bukan karena ia menyukai Bella. Ini tentang nama baik mereka.
“Lo tau kan itu sebuah hal yang impossible?” balas Ares pedas. “Gue harap, lo inget alesan kita menikah. Dan gue menaruh kepercayaan gue ke elo. Tolong, tolong banget… lo tetep jaga nama baik lo. Lo yang buat skandal, gue juga bisa kena. Apa kata nitijen ntar? Istri Ares selingkuh!”
Mendadak kedua mata Bella membesar. Ia menatap Ares lekat-lekat.
“Emang lo ada rencana buat kenalin gue ke publik?” tanya Bella berusaha keras tidak terdengar penuh harap.
“Nggak.”
Seketika alis Bella menukik. “Ya terus ngapain lo bikin narasi kayak gitu?!”
“Just in case, Bella!” sambar Ares cepat. “Suatu hari nanti publik juga tau. Mereka bakal mempertanyakan kapan kita nikah! Terus kalau ketauan lo punya foto skandal sama Farrel setelah nikah sama gue, lo mau jadi bulan-bulanan media?”
Bella terdiam.
“Gue kayak gini juga demi kebaikan lo. Gue peduli sama lo,” sambung Ares lagi.
Sorot mata Bella melunak dan melembut. “Lo beneran peduli sama gue?”
“Selama lo masih jadi istri jadi-jadian gue, mau nggak maulah. Lo pikir gue beneran peduli? Gue peduli karena apapun yang lo lakukan bakal berimbas ke gue. Sampai di sini, lo paham kan?”
Jujur, hati Bella cukup tertusuk mendengarnya. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan Ares. Semua ini terjadi karena rencananya sendiri. Jadi kalau ada yang harus disalahkan, mungkin Bella akan menyalahkan hatinya sendiri. Kenapa bisa jatuh cinta dengan brutal pada Ares?
“Bulan depan gue mau ke Bali,” kata Ares mengalihkan topik.
“Pergi aja. Nggak usah balik.”
“Gue pergi sama Dasha, manager gue. Lo jaga apartemen gue baik-baik,” titah Ares tidak peduli pada ocehan jahat Bella.
“Dih, ngapain? Gue bukan satpam,” tukas Bella kesal. “Gue mau balik ke rumah Kak Dikta. Gue nggak mau sendirian di sini.”
“Ok. Terserah lo. Yang penting lo janji sama gue, jangan macem-macem lagi. Lo harus inget, ada nama baik keluarga dan gue yang harus lo jaga.”
Harusnya Bella kesal mendengar ucapan posesif Ares. Namun jiwa bucin brutalnya melayang terbang melewati awan, lalu berseluncur ria di atas lengkungan pelangi. Ia suka dengan Ares yang posesif. Di titik ini, tiba-tiba ia merasa jadi pasangan betulannya Ares. Ah, sungguh membahagiakan. Sayangnya, ia tidak bisa memperlihatkan ekspresi bahagia itu. Ia harus pura-pura kesal lagi agar semuanya terlihat natural.
“Terus lo sendiri ngapain ke Bali berdua doang sama Dasha? Kalian ada hubungan di belakang gue?” serang Bella tiba-tiba mengacaukan situasi.
“Gue akuin Dasha cakep. Tapi pemikiran lo jangan cetek. Gue sama Dasha pure hubungan profesional,” sahut Ares meluruskan pemahaman Bella. Sejenak kemudian ia menyadari sesuatu: untuk apa dia melakukan klarifikasi? Ia buru-buru menambahkan, “Btw, gue ada hubungan sama siapapun itu, nggak penting juga buat lo. Yang penting kita sama-sama bisa jaga image.”
“Gue juga cakep kok.”
Sontak Ares menatap Bella dari ujung rambut sampai ke mata kaki. Sejak awal bertemu, Ares sudah mengakui kecantikan Bella. Namun first impression yang terlanjur hancur membuat Ares pantang pantang memuji.
“What’s the point?” ucap Ares datar.
“Gak ada. Cuma mau bilang kalo gue juga cakep.”
“Lo butuh validasi dari gue?” kejar Ares.
“Dih, ngapain? Tanpa validasi dari lo juga gue tetep cakep.”
“Terserah.”
“Lo udah kayak cewek aja. Bilangnya ‘terserah terserah’ mulu,” ejek Bella.
“Karepmu wes!” celetuk Ares akhirnya keluar juga sisi Suku Jawanya.
“Nggak ngerti.”
“Pekok.”
“Da belegug atuh da sia mah!” balas Bella langsung bangkit dari sofa. “Males gue ngomong sama lo. Bawaannya darah tinggi.”
“Ya bagus kalo males. Jangan sampe lo jatuh cinta ke gue kayak di drama-drama Korea.”
Jlebbb!
Ucapan Ares yang itu menohok hati Bella sedalam-dalamnya. Jangan jatuh cinta katanya? Hahaha… Bella tertawa pedih dalam hati. Pada akhirnya ia hanya berlalu dengan senyum sinis. Namun saat ia berbalik, senyum sinis itu tergantikan oleh raut wajah sedih nan memelas.
“Tapi gue udah terlanjur jatuh cinta sama lo, Ares….”
Ingin sekali Bella mengatakan itu. Sayangnya, ucapan itu hanya tertahan di dalam batinnya.
***
Nala sibuk dengan ipad-nya ketika satu panggilan masuk memecah keheningan. Ia menengok. Dalam hitungan detik, ia tersenyum cantik. Secepat kilat ia menjawab panggilan itu.
“Halo, Kak Dikta,” sapa Nala.
“Hei, Nala. Ganggu nggak?”
“Enggak kok, Kak.”
“Syukur deh kalo nggak ganggu,” sahut Dikta lembut. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Maaf ya yang kemaren mendadak batal.”
“Iya, Kak. Nggak apa-apa.”
“Lusa kamu bisa nggak?” tanya Dikta.
“Bisa apa ya, Kak?” balas Nala bingung
“Jalan-jalan ke Pantai Mutiara atau PIK. Kali ini nggak akan batal dadakan deh. Gue janji.”
“Bisa, Kak! Bisa!” angguk Nala mendadak bersemangat. “Kita ketemuan di mana? Mau ketemuan langsung di sana aja?”
“Gue jemput aja. Lo mau jemput di mana? Di kampus atau di apartemen?”
“Kampus aja deh, Kak.”
“Oke. Ajak Bella sama Ares juga, ya,” pinta Dikta yang membuat Nala seketika bingung.
“Oh? Sama Bella Ares juga?”
“Tolong ajak mereka. Gimana pun caranya, mereka harus ikut. Oke?”
Kening Nala mengernyit. Ia masih kebingungan, tapi tentu saja ia tidak akan melepaskan kesempatan bagus untuk kencan dengan Dikta. Uhm, mungkin sedikit berlebihan kalau dibilang kencan. Ia dan Dikta tidak punya hubungan spesial. But who knows in the future, Dikta akan jadi jodohnya.
“Iya, Kak. Nanti aku coba ajak Bella.”
“Makasih ya. See you,” pamit Dikta dengan suara lembutnya.
“Good night, Kak. Have a nice dream.”
“You too….”
Nala mengakhiri panggilan dan meletakkan ponsel. Sekarang ia bingung, kenapa Dikta memaksanya mengajak Bella dan Ares? Tapi ada satu hal yang terasa akan lebih sulit. Bagaimana caranya mengajak seorang Ares yang sibuk syuting?
Mendadak Nala pening. Tanpa pikir panjang, ia segera mengirim pesan untuk Bella.
Nala : Lusa lo sama Ares harus ikut gue jalan-jalan sama Kak Dikta ke Pantai Mutiara. HARUS BISA. Gue nggak mau tau gimana caranya lo ngajak Ares. Pokoknya jangan sampai gue gagal nge-date sama kakak lo . Kalo lo sama Ares nggak bisa, gue bakal bocorin kejahatan lo ke Kak Dikta.
Pesan pun terkirim. Baru saja ia bangkit dari kursi, ponselnya kembali berbunyi. Tadi Dikta, sekarang adiknya. Hufth, Nala yakin, kali ini Bella akan mengamuk padanya. Ah, peduli amat dengan amukan Bella! Nala sudah melakukan banyak hal untuk membantu eksekusi rencana Bella. Wajar kan kalau ia menuntut balasan? Lagipula ini hanya hal kecil. Masa iya sih Bella dan Ares tidak bisa ikut? Pokoknya harus bisa!
“Ha—”
“Udah gila lo ya mau bongkar rahasia gue?!”
Lengkingan suara Bella membuat Nala menjauhkan ponselnya. Beberapa detik kemudian, ia kembali menempelkan benda itu di telinganya sambil mencoba tersenyum. “Kalo nggak gitu, lo nggak akan berusaha semaksimal mungkin buat ngebujuk Ares, hehehe.”
“Oke, fine! Gue bakal pastiin Ares bisa ikut double date lusa! Awas lo ya kalo sampe bocorin ke Kak Dikta!”
“Rahasia lo aman kok asal mau kerjasama,” balas Nala enteng.
“Ya udah! Gue ngomong sama Ares dulu!” kata Bella lalu mengakhiri panggilan.
Bella pun keluar kamar dengan wajah masam. Sepanjang langkah, bibirnya terus menggerutu kesal. Ia menuju kamar Ares, lalu mengetuk pintu.
“Masuk,” sahut Ares dari dalam. Begitu Bella masuk, alis Ares terangkat. “Belum tidur lo? Kenapa ngetok pintu?”
Tadinya Bella masih akan berwajah masam. Namun saat mengingat ancaman Nala, seketika ekspresinya melembut. Kali ini ia harus mengerahkan seluruh kemampuan berdiplomasi dan kemampuan sugarcoating-nya untuk mengajak Ares. Well, tidak terlalu buruk sebenarnya. Justru ini kesempatan bagus bagi Bella untuk membuka topeng sok jual mahalnya. Bella pun tersenyum tipis sambil mendekati Ares yang duduk bersandar pada bantal di ranjang. Ia duduk di tepi pembaringan. Masih dengan senyuman manis. Namun semanis-manisnya senyuman itu, tetap saja aneh di mata Ares.
“Lo kenapa dateng-dateng senyum?” selidik Ares dengan mata menyipit. Ia menjulurkan tangan dan menempelkannya di pipi Bella. “Suhu badan lo normal. Lo kesambet?”
Darah Bella berdesir. Sentuhan di pipi itu mungkin terasa biasa saja bagi Ares. Tapi bagi Bella… ia bersumpah, rasanya lututnya nyaris meleleh! Ia suka sentuhan itu. Hangat dan lembut. Ia sampai lupa berkata-kata. Kedua bola matanya justru terkunci pada wajah tampan Ares. Untuk beberapa saat, ia terpaku.
“Hey!” tegur Ares tiba-tiba menepuk pipi Bella.
Seketika Bella tersadar. “Apa sih lo?!”
“Lo dateng-dateng senyum gak jelas. Mana ngeliatin kayak gitu. Sumpah, lo bikin gue merinding!” jawab Ares bergidik sambil menarik kembali tangannya. “Lo nggak kesurupan kan?”
Bella menarik napas panjang. Ia kembali tersenyum. “Enggak. Gue normal.”
“Bella yang gue tau nggak akan senyum-senyum sok baik kayak gini.”
“Gue marah, salah. Gue senyum, salah juga. Terus gue harus kayang gitu?” balas Bella mulai judes lagi.
“Nah!” Tiba-tiba Ares menjentikkan jari. “Ini baru Bella. Kenapa?”
“Anjir lo.”
“Lo mau ngomong apa? Gue tau lo pasti ada maunya kali ini,” tembak Ares tepat sasaran.
“Kak Dikta ngajak kita jalan-jalan lusa. Gue harap sih lo bisa. Kalo nggak bisa, gue maksa. Lo harus bisa. Lagian lo kan mau ninggalin gue ke Bali. Anggep aja itu buat kompensasi selama lo ninggalin gue.”
Ares terdiam sambil memperhatikan Bella yang merajuk. Diam-diam ia tersenyum melihat tingkah kekanakan Bella yang… sebenarnya cukup menggemaskan. Entah kenapa, ia merasa kalau Bella tidak terima ditinggalkan sendirian. Wah, sayang sekali Ares tidak bisa mengajak Bella. Tidak mungkin kan ia mempertemukan Bella dan Anya? Ia hanya tidak ingin membuat situasi rumit.
“Sebenernya gue nggak masalah sih lo nggak ikut. Tapi kalo lo nggak ikut, ntar Nala batal kencan sama Kak Dikta. Gue nggak mau matahin hati sohib gue. Jadi, gue mohon banget pengertian lo. Lo mau kan ikut jalan-jalan?” pinta Bella penuh harap.
“Gue mau tapi ada syaratnya.”
“Ya udah. Apa syaratnya?”
Tarikan napas panjang Ares menyahut ucapan Bella. Ada yang mengganggu pikiran Ares perihal pembajakan ponsel. Bukan bermaksud jahat, tapi intuisi Ares berbisik bahwa Bella lah pelakunya. Selain itu, ada hal lain yang ia ingin tahu. Sepertinya ini momen tepat bagi Ares.
“Jawab pertanyaan gue dengan jujur. Lo ngebajak hape gue?” selidik Ares.
Di luar dugaan, Bella justru mengangguk tanpa beban. “Iya. Gue yang ngebajak. Udah kan? Berarti lo ikut jalan-jalan.”
Reaksi Bella membuat mata Ares membesar. Ia tidak menyangka jawaban Bella akan seenteng itu. Ia hanya mendengus pelan, lalu tertawa bodoh. Sungguh ia tidak mengerti. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bella.
“Kenapa ngebajak hape gue? Lo pengen tau apa?”
“Pengen tau lo punya rencana jahat apa lagi setelah ngejebak gue,” sahut Bella mantap sambil tersenyum penuh kemenangan. Oh, rupanya ia sudah menyiapkan jawaban jauh-jauh hari. Bisa dibilang, ini adalah bagian dari rencananya yang membuat posisi Ares sebagai pelaku (palsu) semakin terpojok. Bagusnya lagi, semesta mendukung rencananya. Dengan mudah ia menyisipkan agenda licik itu dalam permintaan Dikta.
“Hhhh….”
“Hape lo isinya kerjaan semua. Gue harap, lo bener-bener nggak berniat jahat lagi ke gue.”
Ares memijat pelipisnya. Semua ucapan Bella terasa tidak benar baginya. Seperti ada yang salah dan mengganjal, tapi ia memilih untuk tidak menanggapi.
“Udah, kan? Jadi lo fix ikut jalan-jalan,” oceh Bella.
“Satu pertanyaan lagi,” sambar Ares cepat.
“Oke. Satu aja, ya!”
Ares menatap Bella lekat. Ia mencondongkan kepalanya pada gadis itu. Bella bergeming. Ia tidak mundur karena ia suka dengan kedekatan itu. Namun ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ares mendadak begini? Perasaan Bella jadi tidak enak. Pasti ada pertanyaan mematikan dari Ares.
“Lo harus jawab pertanyaan sambil ngeliat mata gue. Biar gue yang menilai lo jujur atau enggak,” tutur Ares lalu memegang dagu Bella. “Liat mata gue.”
Alamak! Lagi-lagi darah Bella berdesir. Ia menelan ludah. Kedua bola mata kecoklatan Ares membuatnya hanyut. Ia bak terhipnotis, terpesona pada ketampanan suami jadi-jadiannya itu. Dengan suara bergetar, Bella berkata, “Lo mau nanya apa?”
Seolah mengerti dengan bahasa tubuh Bella yang terpesona, Ares semakin mendekatkan kepalanya pada sang gadis. Ia bertanya pelan, “Lo masukin apa ke makanan dan minuman gue beberapa hari kemaren?”
Bella nyaris mau kabur begitu mendengar pertanyaan Ares. Tidak ada jalan selain bohong atau jujur. Sejenak suasana hening. Bella tidak langsung menjawab sehingga membuat Ares semakin yakin akan dugaannya. Ares semakin mendekati Bella hingga ujung hidung keduanya nyaris bersentuhan.
“Lo masukin obat perangsang kan?” tuduh Ares pelan. “Jujur aja. Gue nggak akan marah.”
Bella menelan ludah. Posisi yang terlalu dekat membuat ia tidak fokus. Bukannya melihat bola mata Ares, ia justru melihat ke arah bibir pemuda itu.
“Kenapa malah ngeliatin bibir gue?” senyum Ares merasa di atas angin. Jarinya mulai mengelus bibir merona Bella hingga tatapan gadis itu mulai sayu. “Mau gue gigit?”